Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 238



Pagi telah tiba...


Pelangi masih bermalas-malasan untuk bangun dari tidurnya, karena ini masih hari libur. Jadi kesempatan untuknya berlama-lama di tempat tidur, tak apa melewati sarapan pagi pikirnya.


Ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk diabaikannya. Ia lebih memilih tetap memejamkan matanya yang masih mengantuk.


Kembali ponselnya berdering setelah beberapa saat berlalu, kali ini sudah berdering untuk yang kedua kalinya. Dengan terpaksa Pelangi membuka matanya sedikit menyipit, dilihatnya nama Joe memanggil di layar ponselnya. Seketika matanya terbuka lebar dan menyentuh layar untuk menerima panggilannya.


"Ha,hai.. Kau, sudah bangun?" Sapa Joe di ujung ponselnya ketika Pelangi menerima panggilan teleponnya.


"E,eh.. Aku, ehhem. Aku baru bangun," Jawab Pelangi kikuk. Entah kenapa dia jadi sedikit gugup, padahal mereka berbincang hanya di telepon.


"Hah, dasar pemalas."


"Apa pedulimu?"


"Kau mau bertemu?" Tanya Joe spontan.


Pelangi terkejut akan pertanyaan Joe yang tiba-tiba ingin mengajakny bertemu.


"Baiklah, di tempat biasa." Jawab pelangi menyanggupi.


"Hem, pukul 10 nanti kita bertemu disana."


"Oke."


"Eh, tunggu, Langi..." Joe memanggilnya kembali saat di ketahuinya Pelangi akan mematikan ponselnya.


"Hem, ya?"


"Jangan lewatkan sarapan mu, nanti kau sakit."


"Ah, ya. Tentu, kau juga. Bye..."


Bip bip bip...


Pelangi mengakhiri panggilan telepon Joe untuknya pagi ini. Kemudian dia menatap langit-langit kamar nya sejenak, dia tersenyum sendiri tersipu malu. Kemudian berubah malas dan dingin kembali.


"Jangan senang dulu, Pelangi. Kau harus menegaskan bagaimana hubungan kalian akan berlanjut." Ujarnya, lalu kemudian segera beranjak bangun dengan cepat ketika menyadari jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


"Ya ampun, ku pikir masih jam 6 pagi. Yang benar saja si Joe menyuruhku sarapan jam segini, ih. Nyebelin!!!" Kemudian Pelangi bergegas menuju kamar mandi.


Setelah selesai berbenah diri, dia keluar kamar dengan menuruni anak tangga untuk mencari ku. Yang kini tengah berada di dekat kolam untuk menemani si kembar berenang.


"Ma..." Panggil Pelangi dengan manja.


"Eh, kau sudah bangun Nak? Huh, lagi-lagi kau melewati sarapan pagi mu, mama dan bibi sudah berkali-kali mengetuk pintu mu cukup keras. Tapi sepertinya kau begitu lelap,"


"Maaf, Ma. Pelangi sungguh ingin menikmati detik-detik akhir liburan panjang. Setelah kembali masuk sekolah aku tidak akan lagi menikmati kasur ku di pagi hari lebih lama." Jawab Pelangi sambil meraih sepotong roti bakar isi selai strawberry, yang ku sediakan untuk si kembar.


"Akhir-akhir ini kau sering melewati sarapan pagi mu, itu tidak baik. Nanti kau gendut, tidak cantik lagi."


"Ih, mama. Pelangi gak mau gendut, mulai besok aku gak akan telat bangun lagi, Ma."


"Hemm... Baiklah, tapi ngomong-ngomong apa ada rencana di luar hari ini?" Tanya ku padanya, saat ku lihat dia memakai setelan baju yang lebih manis dan rapi.


"Ah, ya. Ehm, Pelangi izin keluar ya Mi. Aku ada urusan sebentar diluar, boleh?"


Aku menatapnya diam, melihatnya sedikit ada yang berubah dari ekspresi raut wajahnya.


"Boleh, hati-hati di jalan. Perlu uang jajan?"


"Enggak deh, Ma. Papa udah kasih black card seminggu yang lalu, ups..."


"Apa??? Oh ya ampun, dasar papa mu itu. Suka sekali memanjakan anak-anak berlebihan, ingat Nak. Jangan boros, oke."


"Siap bos," Jawab Pelangi dengan posisi tangan memberikan tanda hormat bak sedang upacara bendera.


Lama kami saling berbincang banyak hal kemudian, hingga Pelangi melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia beranjak berdiri dari posisi duduknya sejak tadi, berpamitan untuk pergi dengan semangat. Seolah terburu-buru sekali ingin segera sampai di tempat yang akan dia tuju.


🌻🌻🌻


Tiba di sebuh cafe Lucas, Pelangi dan Joe memang selu memilih cafe Lucas sebagai tempat bertemu dan nongkrong berdua di kala senggang tanpa ketiga sahabatnya.


Pelangi sudah duduk di tempat biasa, ruangan khusus yang sedikit memojok. Tempat itu memang sudah di ketahui sejak awal menjadi tempat pilihan Pelangi dan para sahabatnya, oleh sebab itu hanya boleh di tempati oleh mereka saja.


"Hai.." Sapa Joe saat Pelangi sudah duduk lebih dulu dengan sebuah menu yang sejak tadi di bolak balik tanpa henti.


"Ha,hai.." Sambut Pelangi dengan kikuk, dia terlihat sedikit gerogi. Ketika Joe langsung saja duduk di dekatnya.


"Maaf, aku sedikit terlambat."


"Hem, gapapa. Aku juga belum lama sampai kok, hehe."


Kemudian keduanya hening tanpa kata, saling canggung dan berusaha tetap senyaman mungkin menyembunyikan rasa gerogi diantara mereka.


"Hah, perasaan apa ini?" Joe menghela nafasnya sedikit panjang.


"Maksudmu?" Tanya Pelangi heran.


"Ya, kita saat ini. Terkesan baru bertemu saja, tidak bisakah kita seperti biasanya?"


"Dih, sejak tadi yang gerogi bukannya kau Joe?"


"Eh, enak aja. Kamu tuh, yang sengaja selalu mengalihkan pandangan mu dari ku. Iya kan?"


"Jadi ngajakin ketemuan cuma buat begini?" Tanya Pelangi dengan nada dingin.


Perlahan Joe meraih kedua tangan Pelangi untuk di genggamnya. Joe melempar senyuman hangat ketika Pelangi mengerutkan kedua alisnya memandanginya.


"Langi, maafkan aku. Ku mohon jangan marah lagi, jangan salah paham lagi pada Maria. Plis, aku dan Maria hanya teman biasa saja. Tidak ada yang special, hubungan kami hanya sebatas antara kakak dan adik lebih tepatnya."


Pelangi menaikkan salah satu alisnya ke atas menatap wajah pacarnya itu.


Mungkin memang aku yang berlebihan. Cemburu padanya dan Maria yang jelas-jelas dia lah yang selalu manja dan genit pada Joe. Sementara Joe hanya menganggapnya teman biasa.


"Baiklah, aku juga bosan jika hubungan kita yang baru saja berjalan beberapa bulan sudah harus retak hanya karena orang ketiga. Aku juga minta maaf, Joe. Aku terlalu egois dan tidak mempercayaimu."


"Mari kita mulai lagi hubungan kita untuk tetap utuh, saling percaya dan jauh lebih sempurna. Kita harus saling menjaga hubungan ini untuk tetap baik ke depannya, kau mau berjanji bukan?" Ucap Joe menegaskan.


Pelangi mengangguk tanda setuju.


"Eh tapi, Joe.. Ada sesuatu yang ingin aku tegaskan padamu."


"Aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi aku adalah seorang wanita. Sekeras dan sedingin apapun hatiku, cuek dengan keadaan, tapi aku juga memiliki satu kelemahan. Aku tidak menyukai ada wanita lain yang bersikap begitu lengket pada laki-laki ku, terlebih laki-laki itu adalah pacarku. Bukan kah aku berhak meminta laki-laki itu menghargai statusku?"


Joe sedikit tertegun. Ia tidak menyangka jika Pelangi akan mengeluarkan kata seperti itu, selama ini yang di ketahuinya Pelangi selalu enjoy dan cuek dalam hal urusan berpacaran. Namun kali ini, tidak. Sepertinya dia mulai mengerti menjalin hubungan pacaran yang sesungguhnya, poin utamanya adalah saling menghargai status serta posisi masing-masing.


"Aku mengerti, baby. Lagi pula saat ini, aku hanya mencintaimu. Di mataku hanya kau yang terpenting dan paling utama, kau percaya aku kan, Langi?" Tanya Joe dengan wajah memelas.


"Hmm... Kita lihat saja nanti, apakah kau sungguh bisa di percya, Joe?"


"Astaga.. Langi, jadi kau tidak mempercayaiku lagi?"


"Hahaha, aku hany bercanda. Kenapa kau merasa aku mengancammu barusan hah?"


Cup!!!


Joe memulai aksinya lagi, mengecup singkat bibir Pelangi. Mencuri kesempatan kala Pelangi lengah dari keadaan, kemudian Pelangi merasa malu dibuatnya. Joe menariknya dalam dekapan, tak tanggung-tanggung Pelangi melingkarkan tangannya pada tubuh Joe.


Mereka kembali berbaikan seperti sedia kala. Mereka kembali saling berbincang ria, bersenda gurau, saling mengejek sesekali, hingga ponsel Joe berdering. Dilihatnya dari layar ponsel Joe, Abel meneleponnya. Joe mengerutkan kening, tak seperti biasanya ketika Joe kuar Abel meneleponnya.


"Halo, iya Mi. Ada apa?" Tanya Joe setelah menerima panggilan telepon tersebut.


Kemudian Joe beranjak bangun dari duduknya dengan ekspresi terkejut.


"Ya ampun, ada-ada aja sih tu anak." Jawab nya lagi.


"Ehm, baiklah mami. Aku akan pulang bersama Langi sekarang." Jawabnya dengan tergesa-gesa kemudian mematikan panggilan tersebut.


"Ada apa, Joe?" Tanya Pelangi panik.


"Ehm, maukah kau ikut kerumah hari ini, Langi?"


"Iya, tapi ada apa Joe? Yang barusan menelepon tante Abel bukan?"


"Hah, ini soal Maria. Anak itu bikin repot saja,"


Mendengar nama Maria, Pelangi berubah ekspresi masam di wajahnya.


"Jadi dia masih dirumah?"


Joe mengangguk ragu.


"Ayolah, Langi. Jangan marah lagi, saat ini hanya aku yang bisa menghentikannya menangis."


Kembali Pelangi menaikkan alis nya tinggi-tinggi.


"Memangnya kau baby sisternya?"


"Maka itu aku mengajakmu kerumah agar kau mempercayaiku. Ini tidak seperti yang kau pikirkan saat ini."


Hah, baru saja baikan. Harus dibuat kesal lagi kah? Entah kenapa aku merasa dia sengaja berulah untuk menarik perhatian Joe ketika bersamaku bukan???


"Baiklah, ayo." Jawab Pelangi menyanggupi.


🌻🌻🌻


Memasuki halaman rumah Joe, Pelangi mengikuti mobil Joe dari belakang untuk memarkir mobilnya di halaman rumahnya kini. Joe keluar dari mobil lebih dulu lalu bergegas masuk, Pelangi menyusulnya kemudian tanpa Joe menolehnya lebih dulu.


"Joe, hah... Mami sungguh tidak tahu lagi harus pakai cara apa untuk membuatnya berhenti menangis seperti anak kecil." Ujar Abel menjelaskan saat Joe memasuki ruangan. Kemudian langsung mencari Maria dia kamarnya.


"Halo, tante." Sapa Pelangi kemudian.


"Eeh, jelitaku... Pelangi, uh sayang." Sambut Abel kemudian memeluk dan menempelkan kedua pipinya pada pipi Pelangi.


"Maafkan tante, sayang. Sudah mengganggu kencan kalian hari ini, itu karena tante sudah tidak betah dengan sikap manja Maria." Bisik Abel dengan suara lirih pada Pelangi.


"Ehm, gapapa tante. Lalu dimana Maria saat ini? Ada apa dengannya, tante?"


"Hah, sebenarnya ini sangat memalukan. Dia hanya tergores pisau buah sedikit, lalu berdarah. Tapi itu membuatnya histeris hingga hampir saja jatuh pingsan. Dia terus saja menangis tanpa henti, tante capek mendengarnya menangis seperti anak kecil."


Gila gak sih, hanya luka goresan kecil begitu dia sampai histeris sampai hampir pingsan? Bukan kah itu sungguh konyol?


"O,oh.. Baiklah, lalu apakah aku boleh melihat Maria, tante?"


"Tentu boleh dong, sayang. Dia di kamar, Joe sudah menghampirinya."


Joe menghampirinya ke kamar? Jadi mereka saat ini berada dalam satu kamar? Astaga, Joe. Kau kelewatan!!!


"Oke deh, tante. Aku pergi melihatnya dulu," Jawab Pelangi dengan memaksa melempar senyumannya di balik kekesalan yang kini menyelimutinya.


Dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa Pelangi menuju kamar tamu yang Abel tunjukkan tadi, kamar itu tertutup. Padahal Joe dan Maria berada di dalam nya, itu semakin membuat Pelangi kembali seperti terbakar di hatinya. Lalu dia sentuh gagang pintu kamar itu, ada perasaan sedikit takut. Bagaimana jika terjadi hal yang tak ingin Pelangi lihat kembali, karena hatinya belum usai betul dari rasa amarah pada Joe sebelumnya.


Helo, Pelangi. Ayo cepat buka pintunya, apa yang kau pikirkan lagi? Jangan membayangkan hal yang buruk dulu, yakin saja. Joe di dalam hanya untuk menenangkan Maria saja.


Bathin Pelangi berkecamuk dengan sendirinya. Oleh karena itu dia menekan gagang pintu perlahan untuk membantunya membukakan pintu kamar, Pelangi menarik nafasnya dalam-dalam. Ketika dilihatnya Maria memeluk tubuh Joe, sedangkan Joe mengelus lembut rambut Maria yang bergelombang.


"Sudah, jangan nangis lagi. Tidak apa, ini hanya luka goresan kecil. Lagi pula kau ini jangan sok sok-an deh mau potong buah sendiri. Kan ada mami, atau si mbok." Ujar Joe menenangkannya.


"Itu karena aku kesal, kau tidak mengajakku ikut serta keluar jalan-jalan. Kau pergi begitu saja," Jawab Maria merengek manja. Sedang Pelangi masih enggan bersuara, langkahnya masih mematung di tempat. Mulutnya bagai terkunci melihat Joe begitu hangat memperlakukan Maria dalam dekapannya penuh kasih sayang.


Tapi tidak kah mereka menyadari atau mendengar suara pintu kamar ini terbuka? Mereka terlalu asyik berdua dengan posisi berpelukan mesra.


"Hah, maafkan aku. Bukan kah aku sudah memberitahumu malam tadi, jika hari ini aku ada kencan dengan pacar ku. Aku harus menemuinya dulu. Tidak bisakah kau jangan berulah sehari ini saja?"


"Joe, aku sudah harus kembali esok lusa. Harusnya kau lebih peduli dan menghabiskan waktu dengan ku saja, karena disini aku hanya memilikimu sebagai teman."


"Iya, iya. Besok aku akan mengajakmu jalan-jalan sepuasnya, sudah jangan menangis lagi."


"Sungguh? Kau janji, Joe?" Tanya Maria dengan riang terdengar dari nada suaranya. Pelangi kembali menarik nafasnya dalam-dalam.


"Iya, aku janji. Jika begitu lepaskan dulu pelukan mu, diluar sedang ada pacarku. Pelangi, aku tidak mau dia salah paham nantinya.


"Apa? Jadi kau membawa gadis itu datang kemari?" Tanya Maria kesal.


"Kau mulai lagi, Maria. Kita sudah mengadakan kesepakatan dalam hal ini, jangan membantahnya lagi. Dia pacar ku!!!" Jawab Joe tegas kemudian berusaha meregangkan pelukan Maria. Namun Maria menolaknya, justru semakin mempererat lingkaran kedua tangannya pada pinggang Joe.


Pelangi mulai geram.


"Joe!!!" Panggilnya kemudian. Tampak Joe sedikit gelagapan melepas Maria begitu saja, dan menoleh kebelakang. Joe terkejut, dia tidak percaya jika Pelangi akan menyusulnya masuk juga ke kamar itu.


"Langi, aku..."


"Gak sopan, bisa gak ketuk pintu dulu. Lagi pula untuk apa kau ikut masuk ke kamar ini hah?" Maria menegurnya dengan nada membentak.