Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 299



Malam yang di lalui Pelangi detik ini terasa lebih panjang, terasa jauh lebih lama, terasa lebih panas di sekujur tubuhnya, padahal ini musim dingin di kota tempatnya tinggal saat ini. Ketika harus duduk berempat, dengan Lisa, Exelle juga Lucky, tak banyak yang dibicarakan. Hanya Lisa dan Exelle yang sejak tadi terus mengoceh hingga akhirnya jam menunjukkan mereka harus menghentikan obrolan mereka dan waktunya tidur.


"Sampai jumpa di kampus pertama besok, jangan tidur larut malam, jika Lisa mengajakmu banyak bicara abaikan saja." Pesan Exelle ketika sudah berpamitan pulang.


"Ih, Exelle. Kau menyebalkan, awas saja kau. Hei, cowok cuek. Kau jangan sampai tertular sifat dia yang suka menyela." Balas Lisa, Pelangi hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Hati-hati di jalan, Ex." Ujar Pelangi tersenyum hangat lalu melempar pandangannya ke wajah Lucky yang masih saja enggan menatap wajah Lisa dan Pelangi.


.


.


.


.


.


Menjelang waktu pagi, Pelangi dan Lisa sudah siap dengan pakaian rapi dan bersih, tidak mencolok, serta tidak menampakkan lekuk tubuh mereka.


Hari ini akan ada tes ulang persyaratan terakhir sebagai mahasiswi di kampus terbaik itu. Tentu saja, meskipun mereka sudah mendapatkan beasiswa dengan nilai tertinggi, tidak mudah menjadi dokter dan lulusan dari kampus itu.


Pesan singkat dari Kevin, tentu dari ku dan Irgy sejak tadi sudah mendarat di ponsel Pelangi. Untuk menyemangatinya dan memberikan doa ucapan, namun tak satupun dia sempat membalasnya.


"Ada apa, Princess cold?" Tanya Lisa dengan pelan ketika Pelangi masih duduk di depan cermin, menatap lekat wajahnya yang sedikit murung.


"Sa, ini tes terakhir persyaratan kita untuk sah menjadi calon dokter di kampus itu. Ini hanya tes fisik saja bukan? Tapi..."


"Aku mengerti apa yang kau ragukan kali ini, percayalah. Kita pasti akan lulus, jangan lagi memikirkan hal yang sudah terlewatkan. Tak ada yang terjadi saat Joe akan menodaimu, aku bisa memastikan itu. Dan beruntung, kau harus berterimakasih pada Exelle. Dia sudah menyelamatkanmu dari Joe yang licik, hah... Mengingat itu semua, aku jadi menyesal tidak bisa ikut menghajarnya."


"Aku belum sempat mengucapkan dan berterimakasih padanya. Semalam aku sedikit gugup dan terkejut, melihatnya datang dengan saudaranya yang cuek itu."


"Oh, kau gugup? Kau pikir aku bagaimana? Aku justru hampir saja pingsan. Dia unik, tampan dan menggemaskan di balik kecuekannya itu. Dia pasti orang yang sangat romantis tentunya, aku bisa melihatnya dari caranya yang selalu lemah lembut dan santun." Ujar Lisa dengan terus memuji, kedua bola matanya menghadap ke atas seakan dia sedang terhanyut dalam lamunan khayalan cinta.


"Aaah, kau ini. Pagi-pagi sudah mengkhayal, ayo kita segera ke kampus." Ajak Pelangi menghentikan aksi khayalan tinggi sahabatnya itu.


Saat keluar kamar, dilihatnya bibi Yasmin sedang menyiapkan kotak sarapan untuk Pelangi dan Lisa. Buru-buru dia membungkusnya dalam satu tas kecil.


"Bi, kami berangkat ke kampus. Kami sarapan diluar saja." Pamit Pelangi.


"Eh, nona-nona. Bibi sudah menyiapkan sarapan untuk kalian, kalian jangan jajan sembarang di luar. Tuan Kevin sudah menekankan bibi semalam untuk tidak terlambat membuat sarapan pagi kalian. Ini sudah bibi siapkan, semoga cocok di lidah kalian. Kalian mungkin belum terbiasa dengan makanan disini, jadi bibi buatkan sarapan sesuai selera kalian saat dirumah." Jelas bibi Yasmin dengan memberikan satu tas kantong berisikan dua kotak makanan.


"Aaaah, bibi Yasmin membuatku terharu. Aku jadi rindu masakan mami," Lisa merangkulnya dengan manja.


"Bi, terimakasih banyak ya. Maaf jika kami begitu membebani bibi." ujar Pelangi dengan meraih tas kantong tersebut.


"Nona, ini sudah menjadi tugas bibi. Berterimakasihlah pada tua Kevin, beliau sangat peduli dan menjaga kalian meski dari kejauhan."


"Ah, sepertinya aku akan jatuh hati pada om Kevin." Jawab Lisa lagi.


"Kami berangkat dulu ya, Bi. Bye..." ujar Lisa melambaikan tangan.


"Hati-hati nona-nona." balas bibi Yasmin.


Kemudian Pelangi dan Lisa sudah keluar dari lift lalu melangkah bersama hingga di halaman bawah.


"Good morning."


Kata sapaan selamat pagi dari seseorang yang tak terduga, sedang duduk manis di sebuah mobil mewah convertible berwarna putih, melambaikan tangan dengan senyuman lebar.


"Wow, Exelle terlihat tampan sekali dengan gaya seperti itu?" Lisa terperangah melihat Exelle yang sedang duduk di mobil mewah itu. Ada Lucky yang kemudian memiringkan sedikit kepalanya untuk menoleh ke arah Pelangi dan Lisa berdiri.


"Oh my God. Wajahnya yang putih bersih seakan menyilau ke arah mataku, dia lebih tampan. My Lucky..." Kembali Lisa berucak dengan dua kaki menari-nari. Mendengar kata Lucky, Pelangi terhentak menoleh ke arah Lisa. Hatinya kembali bergetar, namun di abaikannya ketika melihat Lisa demikian, lalu Pelangi berjalan lebih dulu mengabaikan Lisa di belakang.


"Hai, cewek galak. Aku sengaja menunggumu sejak tadi, menahan dingin yang menusuk hingga ke tulangku. Aku tidak ingin kau kedinginan berjalan kaki menuju kampus meski itu tidak jauh." Exelle berkata lagi dengan gombalan khasnya.


"Cih, kau sungguh memberikanku sarapan pagi yang menggelikan, Ex. Dasar gombal!" Ujar Pelangi dengan membuka pintu mobil itu tanpa menunggu aba-aba dari Exelle dahulu, lalu dengan cepat Lisa menaikinya pula dengan mendorong Pelangi dan menggesernya hingga dia kini terduduk tepat di belakang Lucky.


"Ayo, kita berangkat. Aku sudah kedinginan dan tidak sabar ingin segera sampai di kampus impianku." titah Lisa dengan nada bicara tergesa-gesa.


Lalu kemudian Exelle memencet sebuah tombol di depannya untuk menutup atap mobilnya kembali. Karena cuaca pagi ini sungguh membuat mereka hampir sesak.


"Hei, cowok cuek. Kau belum menyapaku, sapa aku dong. Iih, dasar." Cetus Lisa pada Lucky.


"Se,selamat pagi." Jawab Lucky dengan kikuk, memiringkan badannya lalu setengah membungkuk.


"Kyaaaa... Terimakasih, melihat tingkah mu itu aku merasa seperti seorang puteri kerajaan saja. Kau begitu santun, berbeda dengan yang saudaramu yang di sebelah itu, huh." Lisa kembali mengomel setelah terkesima akan sapaan Lucky untuknya.


"Dih, apakah aku kurang santun menyapa kalian tadi?" Tanya Exelle membalas ocehan Lisa.


"Kau bukan menyapa, tapi sedang membaca puisi nasional ketika melihat kami tadi."


"Pffft..."


Sontak Pelangi dan Lucky menahan tawa bersamaan. Dengan cepat Exelle dan Lisa menoleh melihat mereka satu sama lain.


"Ups, maaf. Aku tidak tahan mendengar kalian selalu saja seperti tikus dan kucing setiap kali berbicara. Selalu saling mengejek, entar malah jadian loh." Jawab Pelangi dengan santai. Lucky justru semakin geli menahan tawanya di depan.


"Pelangi... Apa kau memintaku berpacaran dengan sahabatmu? Lalu bagaimana dengan perasaan ku padamu?"


Lucky yang sejak tadi menahan tawa terhenti seketika saat Exelle menyebut nama Pelangi. Hatinya pun merasa bergetar dan sesak. Tiba-tiba saja menjadi hening di dalam mobil.


"Hah, hahaha, hahaha. Apaan sih, ogah banget aku menjadi pacarmu, Ex." Lisa mendengus kesal memecah keheningan tadi.


"Hahahaha, aku hanya bercanda. Astaga, kenapa wajah kalian memerah begitu." Balas Pelangi terus menggoda mereka. Hingga akhirnya mereka pun sampai di halaman kampus yang sejak tadi tak sabar ingin mereka segera sampai.