Because, I Love You

Because, I Love You
#80



"Siska, kamu atur ulang semua jadwal saya mulai besok sampai minggu depan. Tolong juga, kamu pesankan saya tiga tiket ke New York sore ini." Ucap Rendy dengan datar.


"Baik Pak. Em..maaf, tapi Pak Rendy ke New York ada urusan apa ya Pak? Apakah urusan pekerjaan?" Tanya Siska yang selalu ingin tau dan terlihat senang karena merasa ingin diajak pergi ke New York oleh Rendy.


Rendy menghela nafasnya dan menatap Siska dengan wajah yang berubah dingin. Membuat Siska mengerjap dan seketika merinding karena takut dengan sorot mata Rendy yang tiba-tiba menjadi marah. "Lakukan aja perintahku dan jangan banyak bertanya!" Ucap Rendy penuh penekanan disetiap katanya.


"Hem ba baik Pak. Permisi." Jawab Siska dengan tergagap karena ketakutan dan segera pergi keluar dari ruangan Pak Presdir tampannya yang selalu galak kepadanya. Entah mengapa Siska juga masih tidak sadar dengan kekepoannya.


Rendy menghela nafasnya lalu menyandarkan punggungnya kesadaran kursi kebesarannya.


Suara Olivia yang meminta tolong kepadanya benar-benar membuatnya tidak bisa merasa tenang juga fokus kerja.


"Rendy..tolong aku...


"Aku mohon Ren, cuma kamu yang bisa menolong aku..


Suara Olivia sambil menangis terdengar seperti sangat ketakutan dan meminta tolong kepada Rendy, tentu saja Rendy tidak bisa untuk tidak mempedulikannya.


Bagaimana pun juga, Olivia wanita yang pernah sangat dia cintai dan membuat hari-harinya selalu menyenangkan selama hampir empat tahun.


Meskipun Rendy telah dibuat sangat kecewa dan sakit hati oleh Olivia, untuk benar-benar tidak peduli terhadapnya itu sangat sulit.


Memang dia sudah selalu berusaha menyingkirkan Olivia dari hati dan pikirannya, tapi tetap saja bayangan Olivia terkadang masih saja muncul.


Selama hampir empat tahun mereka menjalin hubungan dan selama itu tidak pernah ada masalah. Rendy begitu mencintai Olivia dan apapun yang diinginkan wanita itu, pasti Rendy akan berusaha menurutinya kecuali satu, yaitu tidur dengannya.


"Bos!"


Seketika Rendy tersadar dari lamunannya saat Beni masuk dan memanggilnya.


"Kamu udah dapet infonya?"


"Belum semua Bos. Ini kamu baca dulu."


Beni menyerahkan berkas berisi informasi tentang Olivia.


Tadi pagi setelah mendapat telepon dari wanita itu, Rendy langsung menghubungi Beni dan memintanya untuk mencari tau informasi tentang Olivia.


"Ben, dia beneran diculik?" Tanya Rendy dengan menatap Beni.


"Bukan diculik Bos. Menurut informasi, Olivia dijebak lalu disekap oleh mantan pacarnya yang memiliki kepribadian ganda."


Rendy mengernyit merasa tidak mengerti. "Maksudmu? Yang jelas kalo ngomong!"


"Begini Bos, menurut informasi lagi kalo mantannya itu mudah bersikap baik, sangat lembut dan romantis kepadanya. Tapi, dia juga tiba-tiba bisa marah tidak jelas begitu saja bahkan sampai tega menyiksa pacarnya sendiri. Mungkin karena itu Olivia pergi meninggalkannya." Ucap Beni memberi penjelasan kepada Rendy.


"Dan mungkin, akan sulit kalo kamu membawa Olivia dari sana. Laki-laki itu merupakan anak dari seorang mafia yang ditakuti disana Bos." Lanjut Beni.


Rendy hanya diam tampak berfikir sambil mengusap rahangnya. Dia kemudian meraih ponselnya dan mencari nomor kontak milik Andreas. Begitu tersambung, Andreas langsung menyapanya terdengar sangat senang.


"Hallo bro! How are you? What happen? Tumben, tiba-tiba telepon aku?"


"Bisa kita ketemu? Ada hal penting yang mau aku omongin." Tanya Rendy dengan datar.


"Oke, kamu dimana? Apa masih diperusahaan? Aku bisa kesana menemuimu." Jawab Andreas terdengar antusias.


"Kita ketemu diluar aja, nanti aku share location." Ucap Rendy kemudian menutup teleponnya setelah di iyakan oleh Andreas.


"Ben, aku udah pesan tiket untuk tiga orang ke New York sore ini." Ucap Rendy sambil bangkit berdiri meraih jasnya lalu memakainya dan berjalan pergi keluar.


"Kalo gitu, aku akan bersiap Bos." Ucap Beni sambil berjalan mengikuti Rendy.


Karyawan terlihat berhamburan karena ini jam makan siang. Mereka beriringan pergi ke kantin untuk makan siang disana.


"Selamat siang Pak Rendy!"


"Selamat siang Pak Presdir!"


Seru mereka menyapa Bos besar perusahaan tempat mereka bekerja.


"Siang." Balas Rendy dengan melempar senyum ramahnya.


Langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan Kirana dan dua teman baiknya.


"Selamat siang Pak Rendy." Rossa dengan cepat melangkah kedepan sambil menarik lengan Kirana kebelakang dirinya dan tersenyum merekah menatap Rendy membuat Kirana terhuyung dan hampir terjungkal kalo Yolanda tidak merangkulnya.


"Selamat siang Pak." Sapa Yolanda kemudian.


"Siang Pak..Rendy." Sambung Kirana sangat canggung.


"Siang." Balas Rendy sambil tersenyum ramah dan sedikit memiringkan kepalanya menatap Kirana yang kemudian terlihat membuang muka.


Saat ini, Rendy berencana tidak ingin mempedulikan Kirana dulu. Sebenarnya, siang ini dia ingin mengajak Kirana makan siang dan kembali membicarakan tentang hubungan mereka. Tapi ternyata, dia memilih untuk tidak membicarakan dulu dan memberikan Kirana waktu untuk berpikir.


Dia kemudian kembali melangkah keluar bersama Beni dan berpisah diparkiran karena dia ingin bertemu dengan Andreas, sedangkan Beni harus bersiap untuk keberangkatan mereka ke New York sore ini.


................