Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 269



Pelangi tertawa terpingkal-pingkal setelah melihat Exelle pergi menuju toilet dengan terburu-buru sembari memegangi perut dan bagian bokongnya.


Tak lama kemudian terdengar suara dering ponsel di atas meja, Pelangi terkejut mencari-cari darimana datangnya suara itu. Dan ternyata Exelle membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja di atas meja.


"Dasar ceroboh!" ujar Pelangi tanpa menerima dan mengetahui panggilan tersebut.


Pelangi hanya melihat ke arah lorong menuju toilet, namun Exelle tak kunjung pula datang. Kemudian ponselnya kembali berdering, lagi-lagi Pelangi tidak berani menggubris panggilan di ponsel Exelle.


"Aaah, Exelle begitu lama sekali. Ponsel nya sejak tadi berisik, sepertinya itu panggilan mendesak." Ucap Pelangi melihat ke kanan dan ke kiri. Exelle masih belum juga muncul dari toilet.


Sesaat kemudian kembali lagi terdengar suara dering ponsel Exelle, dengan terpaksa Pelangi berniat menerimanya. Karena takut itu sangat penting yang mengharuskan Exelle pergi. Di raihnya ponsel milik Exelle, lalu kemudian terlihat nama 'Brother' memanggil yang tak lain adalah Lucky.


Eh, apakah ini saudara Exelle di LN?


Gumamnya dalam hati.


"Halo..." Jawab Pelangi kemudian.


Tidak ada jawaban untuk merespon Pelangi.


"Halo... Ini dengan teman Exelle, dia.. Ehm, sedang di toilet." Jawab Pelangi lagi.


Dan di kejauhan sana, Lucky seolah bergetar mendengar suara Pelangi. Meski dia tida tahu siapa yang sedang menjawab panggilannya saat ini.


"E,eeh... Maaf, aku mengganggu kalian lagi."


Kau tahu, pelangi pun merasakan hal yang sama. Mendengar kata maaf dari respon nya di ujung ponsel itu, Pelangi termangu sesaat.


"Ha,halo..." Jawab Lucky kembali.


"Ah, ya. Eh, tidak apa. Maaf, aku dengan lancang menerima panggilan kakak. Karena sejak tadi ponsel Exelle terus berdering, ku pikir itu penting."


"Ehm.. Terimakasih, aku hanya ingin mengobrol dengannya. Maafkan aku, jadi lebih sering mengganggu kencan kalian."


"Hei, tidak. Kami tidak sedang berkencan, hanya... Eh, sekedar makan biasa. Sebenarnya kami hanya sahabat, tidak lebih dari itu." Jelas Pelangi dengan gugup.


Sial, kenapa aku salah tingkah begini sih... Jantungku serasa terhenti setiap mendengar suara dan nada bicaranya.


Hati Pelangi bergumam, begitu pula dengan Luckydi kejauhan sana. Serasa bergetar, berkali-kali dia menarik nafasnya dalam-dalam ketika berbicara dengan Pelangi.


"Ehm, baiklah. Aku hanya sekedar menebak saja, maafkan aku jika salah berbicara."


"Hei, kenapa kau selalu meminta maaf sejak tadi. Kau tidak salah, sudahlah jangan begitu. Kau kaku sekali, hihi."


Mendengar Pelangi cekikikan di balik ponsel nya, secara tak terduga bibir Lucky pun seolah sedang di tarik untuk tersenyum tipis tanpa dia minta.


Eh, ada apa dengan ku?


Tanya nya dalam hati. Lalu kemudian dia merasa semakin bergetaran dan salah tingkah sehingga tanpa berucap apapun lagi, Lucky langsung mematikan panggilannya begitu saja.


"Eh, dia matikan begitu saja?" Tanya Pelangi setelah menyadari tiada suara apapun lagi. Lalu Pelangi meletakkan kembali ponsel itu di atas meja seperti semula tadi.


Dan beberapa menit kemudian, Exelle baru lah muncul kembali. Ia berjalan dengan sedikit kikuk. Wajahnya sedikit memerah, menatap Pelangi sedikit malu.


"Ada apa dengan mu? Kau baik-baik saja? Apakah perutmu sudah membaik?" Pelangi langsung menghujaninya dengan banyak tanya.


"Yah, sudah sedikit baikan. Tapi aku malu padamu." Jawab Exelle dengan membuang pandangannya pada Pelangi.


"Apaan sih? Soal buang gas tadi? Hahaha..." Pelangi tertawa dan langsung menebaknya.


"Tuh, kan. Kau lagi-lagi mentertawaiku. Aku benar-benar tidak sengaja, tolong jangan meledekku lagi."


"Hahaha, ya ya. Baiklah, eh aku hampir saja melupakannya. Sejak tadi ponsel mu terus berdering Ex, dan aku terpaksa menerimanya. Aku takut itu sedikit mendesak untuk mu."


"Oh ya? Apakah itu saudaraku yang memanggil?"


"Hem... Hubungan mu dengannya sepertinya sudah sangat baik. Tapi apa kau betah berbicara dengannya yang begitu kaku?"


"Wah, kalian ngobrol begitu lama ya? Apakah kalian membicarakan ku di belakang?" Tanya Exelle dengan sengaja menggoda Pelangi.


"Dih, apaan sih. Aku hanya ingin tertawa saat dia selalu mengucap kata maaf di setiap ucapannya."


"Hahaha, ya begitulah. Dia sangat kaku, aku harus merubahnya saat tinggal disana bersamanya." Jawab Exelle dengan santai namun serius. Ucapannya ini membuat Pelangi mengerutkan keningnya.


"Kau.. berniat untuk tinggal di LN, Ex?" Tanya Pelangi seketika.


"Ehm... Itu baru rencana. Aku ingin melanjutkan kuliah ku di LN, aku sudah membicarakan hal ini dengan papa ku. Aku ingin sekali melepas semua kerinduan ku pada papa yang selama ini sudah ku anggap mati."


Pelangi tampak murung. Exelle melihat dan menangkapnya sebagai kesedihan karena harus berjauhan dengannya.


"Hei, cewek galak. Apa kau akan bersedih saat kita berpisah nanti?" Tanya Exelle dengan nada serius.


"Cih, GR Lu ya." Jawab Pelangi mengelak.


"Hahaha, ngaku aja deh. Itu akan mengurungkan niatku demi kamu, Pelangi."


"Eeeh, bukan. Bukan begitu, pergi saja. Lanjutkan niatmu, lakukan apa yang menurutmu terbaik Ex. Aku tidak ingin menjadi penghalang bagimu, lagi pula ini adalah keinginan terbesarmu bukan?"


"Tapi Pelangi..."


"Apa lagi?"


"Kapan.. Kau.. Akan memberiku kesempatan untuk menjad pacarmu?"


"Haduh... Lagi-lagi kau membahas ini, Ex."


"Berikan aku alasan dan jawaban yang bisa ku terima."


"Ex, saat ini kita sudah berada di puncak untuk menuju kelulusan yang terbaik. Jika pun bisa, mari kita pergunakan kesempatan ini untuk belajar dengan baik dan fokus pada ujian kelas saja. Kau tahu bukan, cita-cita dan impian terbesarku saat ini apa?"


"Aku tahu. Tapi bagaimana dengan Joe?"


"Joe? Ada apa lagi dengannya?"


"Aku tahu dia masih mencintaimu, bagaimana kau akan terus menolaknya? Apakah kau akan memberikan alasan yang sama dengannya? Sedangkan dulu kalian sudah pernah saling mengisi dalam hubungan berpacaran."


"Aku akan memberikan alasan yang sama. Kau puas?" Jawab Pelangi setelah menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menyadari bahwa jauh di lubuk hatinya, Joe tetaplah sebagai sahabat Pelangi. Bukan mantan kekasih walah mereka sempat menjalin hubungan sebagai pacar kala itu.


"Bisakah aku tetap berharap jika suatu hari, kau akan menerimaku sebagai pacarmu?" Tanya Exelle kembali, kali ini dia memandang wajah Pelangi begitu lekat. Sehingga Pelangi sedikit salah tingkah.


"Aku.. Aku tidak tahu."


"Apaan sih, dasar gombal. Eh, kau tahu? Melihat sikap mu ini, entah kenapa aku berpikir kau dan Joe hampir memiliki kesamaan dalam menggombali setiap cewek. Hahaha, apakah kalian satu species?"


Exelle sedikit kebingungan ketika Pelangi berkata demikian. Karena kenyataannya memang lah seperti itu, Joe dan Exelle saudara kandung satu ayah. Tapi Exelle tidak ingin mengakuinya dahulu di depan Pelangi, ia takut jika Pelangi akan menjadikan itu alasan untuk semakin menolaknya.


"Heh, bagaimana itu mungkin? Aku jauh lebih tampan dari Joe mu itu. Aku juga jauh lebih setia dan bisa di percaya."


"Hahaha, ya ya baiklah. Apapun itu, terserah kalian saja. Karena kalian ternyata sangat mirip, hihi." Pelangi kembali berkata demikian.


Lalu kemudian mereka beranjak pergi dari restoran itu karena hari sudah mulai sore.


🌻🌻🌻


POV Joe dan Exelle


Setelah mengetahui Joe akhirnya sudah sadarkan diri, Exelle sedikit lega meskipun hampir semalaman suntuk dia berpikir. Bagaimana cara untuk meminta maaf dan mengakhiri kesalah pahaman ini.


Pagi itu, Exelle berniat untuk bolos dari sekolah lalu pergi datang mengunjungi Joe dirumah sakit. Sudah tentu tanpa sepengetahuan opa dan oma nya, hanya kedua teman dekat Exelle yang mengetahui serta membantunya izin absen di sekolah.


Tiba dirumah sakit, Exelle dengan ragu melangkah masuk ke dalam ruangan tempat Joe di rawat. Dan kebetulan hanya ada Joe sendiri di ruangan itu, dengan sengaja Abel dan suaminya membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri secara jantan.


"Joe..." Panggil Exelle dengan lembut ketika dilihatnya Joe memejamkan matanya.


"Aku datang lagi. Bisakah kita bicara sebentar?"


Perlahan Joe membuka matanya ketika menyadari terdengar suara yang tak asing lagi baginya. Namun kemudian, setelah menyadari siapa yang kini berdiri di sampingnya Joe terkejut lalu ekspresi wajahnya berubah kesal.


"Untuk apa lagi kau datang hah? Apa kini kau berniat ingin membunuhku kembali?" Ujar Joe dengan menggertakkan gigi atas bawahnya.


"Joe, pikiran mu itu terlalu buruk pada ku. Aku kemari ingin meminta maaf padamu." Jawab Exelle.


"Heh, minta maaf? Dengan membuatku seperti ini, kau hanya meminta maaf? Kau hampir membunuhku. Kau lupa itu?"


"Tapi itu bukan salahku. Saat itu kau tergelincir bukan? Dan aku bahkan sempat ingin membantumu menghindar dari kecelakaan itu, tapi... Sudah terlambat."


"Alaaah. Tidak usah banyak alasan, kau sengaja melakukannya dan kini kau puas bukan?"


"Aku menyesalinya, Joe. Kau tidak tahu betapa saat itu aku sangat takut. Aku tidak ingin mau mengalami hal buruk seperti yang sudah dialami mendiang mama ku."


"Pulang lah. Aku muak melihatmu disini." Titah Joe dengan membuang wajah nya dari pandangan mata sayu Exelle.


"Joe, ku mohon. Maafkan aku, lupakan semua kesalah pahaman ini." Ucap Exelle kembali.


Dalam hati Exelle bergumam...


Andai kau tahu Joe. Mendengar dan mengetahui bahwa kita saudara satu ayah, itu lebih membuatku menyesal dan kesal. Kenapa harus kau? Aku sakit menahan ini semua sendiri. Aku ingin mengatakannya, tapi aku tidak ingin egois dengan kondisimu saat ini.


"........."


Joe masih terdiam tanpa kata.


"Joe, apakah aku harus merayumu seperti aku merayu seorang perempuan?" Ujar Exelle kemudian, ia mencoba mencairkan suasana dan mencoba akrab dengan menggoda Joe seperti itu.


Joe melirik Exelle dan menatapnya kembali dengan geram.


"Apa kau sungguh ingin meminta maaf padaku?"


Exelle mengangguk dengan wajah berbinar penuh harap.


"Jauhi Pelangi, dan kau harus membantuku membuatnya kembali padaku sebagai pacar."


"Tidak. Itu tidak akan pernah aku lakukan." Jawab Exelle membantah dengan tegas.


Joe menyeringai.


"Hanya sebatas itu kau meminta maaf pada ku, setelah kau membuatku hampir kehilangan nyawaku."


"Maaf, Joe. Aku tidak bisa menukar semua yang terjadi padamu dengan perasaan Pelangi. Aku tidak akan merelakannya, aku juga mencintainya."


"Kau cowok yang picik, Ex. Pertama kau merayu dan berusaha menarik perhatian Pelangi. Kemudian Maria sahabatku, lalu kau juga menggoda mami ku."


"Cukup Joe! Sudah ku bilang berkali-kali, aku dan mamimu tidak ada hubungan apapun."


"Kau memang pintar mengelak. Kenapa kau tidak merubah dirimu sebagai wanita saja hah?"


"Joe!!!" Teriak Exelle lepas kontrol.


"Hei. brengsek kau. Pelankan suaramu, apa kau benar-benar ingin menantangku yang lemah begini hah?" Bantah Joe dengan mengumpatnya kemudian.


"Maafkan aku, Joe. Cukup, jangan selalu merendahkan ku."


"Jika begitu lepaskan Pelangi."


"Tidak untuk itu." Bantah Exelle denga tegas.


"Jika begitu. Selamanya aku akan menganggap apa yang terjadi dengan ku saat ini, adalah percobaan pembunuhan darimu. Aku bisa saja melaporkan mu ke pihak yang berwajib. Tapi sepertinya itu terlalu lemah bagiku sebagai seorang lelaki. Sedangkan kau... Heh, hanya berdiri di balik kekuasaan yang selalu kau pamerkan pada Pelangiku."


"Teruslah, Joe. Teruslah kau menghina dan merendahkan ku jika itu bisa membuatmu merasa lega dari kesalah pahaman ini."


"Apa kau sungguh berpikir seperti itu? Woah, kau sungguh picik."


"Terserah kau saja, bagaimana kau akan berpikir Joe. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku tidak pernah membenci atau berniat membunuhmu."


"Kau mau menantangku lagi hanya untuk memenangkan hati Pelangi?"


"Tidak. Aku bukan anak kecil yang harus melakukan hal memalukan seperti itu, hanya untuk merebut hati seorang wanita special seperti Pelangi."


"Aaakh, kau terlalu sombong." Lagi-lagi Joe mengumpatnya.


"Baiklah, Joe. Sepertinya, aku sia-sia datang kemari hanya untuk memohon maaf darimu. Nyatanya, kau tetap salah paham padaku seperti itu."


"Pergi dari ruangan ini, jangan pernah kau menampakkan wajah mu kembali di hadapan ku. Aku muak dengan laki-laki yang berani menggoda wanita-wanita ku."


Mendengar hal itu terucap dari bibir Joe, ingin sekali Exelle menyumpalnya saja. Bagaimana mulutnya begitu lihai bagai perempuan dalam soal mengumpat dan menyakiti lawannya. Terlebih lagi dengan bangga dia menyebut wanita-wanita ku. Siapa yang dia maksud itu? Apakah itu termasuk Maria dan ibu nya selain Pelangi?


Dalam urusan lain, mungkin aku bisa mengalah untuk mu, Joe. Mengingat papa selalu berkata padaku. Jika kau saudaraku, entah bagaimana itu bisa terjadi. Namun, tentang Pelangi. Aku tidak akan pernah mengalah ataupun berbagi.


Lalu kemudian Exelle beranjak melangkah untuk pergi keluar dari ruangan. Hati dan pikirannya kacau balau, di satu sisi dia mencoba menerima jika Joe adalah saudaranya. Dan disisi lain, Exelle sangat geram. Namun berusaha menahan diri sementara Joe masih terbaring lemah setelah mengalami koma beberapa minggu.