Because, I Love You

Because, I Love You
#123



Kirana keluar dari lift dan berjalan menuju ruangannya. Wajahnya yang selama ini terlihat muram, kini sudah ceria kembali. Bahkan Kirana tak henti-hentinya tersenyum hingga menarik perhatian dari teman-teman satu divisinya, terutama Rossa dan Yolanda.


Rossa dan Yolanda hanya saling tatap saat melihat Kirana yang masuk dengan wajah sumringah.


Kirana kemudian duduk dikursi kerjanya dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Rossa beranjak menghampirinya karena dia penasaran dengan sikap Kirana yang mendadak sudah berubah kembali. "Ki." Panggilnya.


Kirana mengangkat kepalanya menatap Rossa yang berdiri didepan mejanya. "Ada apa Ros? O ya, sorry ya, tadi aku udah marah dan pergi gitu aja." Ucap Kirana dan Yolanda memutar kursinya menghadap kearah Kirana.


"Ki, kamu baik-baik aja kan?" Tanya Yolanda merasa heran sekaligus mencemaskan teman baiknya ini.


"Aku baik-baik aja kok. Emang kenapa?" Jawab Kirana dengan kembali bertanya.


"Ini tadi pesanan kamu, aku bungkusin. Kamu makan dulu gih, keburu nggak enak." Rossa menyodorkan kresek dengan logo Cafe langganan mereka.


"Astaga, makasih banget Ros. Jadi berapa total pesananku ini?" Tanya Kirana kemudian menerima kresek itu dan meletakkannya disamping.


"Udah nggak usah. Anggep aja, aku lagi baik mau nraktir kamu karena tadi aku udah bikin kamu marah dan kabur. Lagian, kamu habis dari mana sih? Kita khawatir setengah mati sama kamu!" Sambung Yolanda yang memang mengkhawatirkan Kirana.


Kirana langsung mengulum senyumnya. "Ada deh." Jawabnya. Sebaiknya, nanti aja aku kasih tau ke mereka.


Lanjut Kirana dalam hati.


...


Sore harinya, Kirana masih fokus menatap layar komputernya karena dia masih belum menyelesaikan pekerjaannya untuk hari ini.


Sedangkan teman-temannya yang lain sudah bersiap ingin pulang.


"Ki, kamu belum selesai ya?" Tanya Yolanda sambil meraih tasnya kemudian bangkit berdiri.


"Belum nih Yol. Kamu, udah mau pulang ya?" Jawab Kirana.


"Balik yuk!" Seru Rossa sambil berjalan ke meja Kirana.


"Iya nih Ki, sorry banget ya, aku ada janji sama nyokap sore ini buat nganter belanja." Ucap Yolanda sambil melihat jam tangannya.


"Ya udah nggak apa. Kenapa harus minta maaf? Kalian duluan aja." Ucap Kirana dengan tersenyum.


"Ya udah, kalau gitu aku duluan ya Ki, Ros?" Ucap Yolanda berpamitan karena dia tidak ingin membuat ibunya marah kelamaan menunggunya.


"Ati-ati Yol!" Teriak Rossa karena Yolanda sudah melangkah pergi dengan cepat.


"Ki, kamu sebenernya kenapa sih?" Tanya Rossa yang menatap aneh pada Kirana.


Kirana mendongak dan menatap Rossa dengan mengerutkan alisnya. "Aku baik-baik aja Ros. Memangnya aku kenapa?" Tanya balik Kirana sambil menyentuh-nyentuh wajahnya sendiri.


"Aku ngerasa kamu jadi aneh." Ucap Rossa dengan serius.


"Hah? Aneh gimana sih Ros?" Kirana terbengong menatap bingung Rossa.


"Kamu udah balik ceria lagi." Jawab Rossa dengan tersenyum lebar.


Kirana menghela nafasnya. "Aku pikir kenapa. Memangnya, selama ini aku nggak ceria ya?"


"Bukan nggak ceria lagi Ki! Kamu tuh udah mirip singa betina yang lagi datang bulan!" Ucap Rossa dengan keras membuat Kirana terbelalak.


"Astaga Ros! Tega banget ya kamu. Nyamain temen sendiri sama singa betina. Mana ada singa datang bulan? Ngaco kamu ah!" Pekik Kirana kemudian tertawa.


"Habisnya, kamu sensi banget. Tiap ada yang ngomongin Pak .... em nggak jadi deh." Ucap Rossa kemudian menyengir tidak ingin melanjutkan ucapannya karena takut teman baiknya ini akan kumat sensinya.


"Ngomongin Pak Rendy maksud kamu? Nggak apa-apa lanjutin aja Ros." Ucap Kirana yang melanjutkan ucapan Rossa dengan tersenyum bahkan Rossa dapat melihat raut wajah senang Kirana saat menyebut nama Pak Rendy.


"Udahlah Ros, sebaiknya kamu pulang aja duluan sana. Aku mau nyelesein kerjaanku dulu." Ucap Kirana yang sudah kembali fokus pada pekerjaannya.


...


Akhirnya pekerjaan Kirana hari inu sudah selesai. Dia mengankat kedua tangannya keatas, merenggangkan tubuhnya kemudian melihat jam sudah hampir jam delapan malam.


Kirana segera merapikan mejanya. Setelah itu dia melihat ponselnya yang ternyata mati karena lupa mengecas. "Yaaah mati." Dia meraih tasnya kemudian beranjak pergi.


Saat keluar dari lift di lantai bawah, dia melihat seorang wanita yang berjalan masuk menuju lift ekslusif.


Eh itu..itu kan perempuan yang waktu itu aku lihat dirumah sakit? Dia yang meluk-meluk Mas Rendy.


Gumam Kirana dalam hati kemudian dia melihat sosok Rendy keluar dari lift saat pintu lift terbuka.


"Aaaaa my lovely brother!" Teriak Nayla dengan riang begitu melihat Rendy keluar dari lift ekslusif dan langsung memeluk kakaknya.


Kirana yang melihatnya pun sangat terkejut. Dia mundur dan berdiri dibalik pilar untuk bersembunyi. "My lovely brother?" Gumamnya sangat pelan lalu sedikit menjulurkan kepalanya mengintip Rendy yang membalas pelukan perempuan itu dengan tersenyum. Dibelakang Rendy, ada Beni.


"Aku seneng banget akhirnya ingatan kak Rendy udah kembali. Kita harus merayakan ini!" Seru Nayla penuh semangat.


"Apaan sih kamu dek! Nggak usah lebay deh." Ucap Rendy setelah melepaskan pelukannya.


Kirana tambah terkejut mendengar panggilan Rendy terhadap perempuan yang Kirana belum tau siapa dia. "Dek?" Pekiknya dengan suara tertahan dan mata yang membola.


"Pokoknya malam ini kita makan-makan! Kalau nggak besok Kak Rendy temeni aku shopping sekalian bayarin belanjaan aku!"


Rendy hanya menghela nafasnya dalam-dalam lalu memijit pelipisnya yang seketika berdenyut. Kalau adiknya sudah memiliki keinginan, harus dituruti. Kalau tidak, pasti akan terus merengek dan marah-marah membuat Rendy sakit kepala. Menyebalkan itu adiknya.


Meskipun menyebalkan, Rendy sangat menyayangi adik satu-satunya ini. Dia juga sebisa mungking akan selalu menuruti keinginan adik kesayangannya ini.


'BRUK!'


"Awwh!" Kirana meringis kesakitan saat terjatuh karena sebelah kakinya terlilit kakinya sendiri.


Rendy, Nayla dan Beni langsung menoleh ke sumber suara dengan bersamaan. "Eh, suara apa itu?" Pekik Nayla.


"Biar aku periksa dulu." Beni segera pergi memeriksa ke arah sumber suara yang didengarnya.


Sebagian lampu didalam gedung sudah dimatikan. Ditempat Kirana bersembunyi, sudah terlihat gelap tapi masih bisa melihat benda yang ada disekitar.


Mendengar suara derap langkah yang mendekat, Kirana pun menjadi panik. Dia dengan cepat bangkit dan pindah berjongkok ke belakang pot besar didekat pilar tersebut sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


"Siapa disana?" Teriak Beni sambil terus memeriksa sekitar.


Dirasa tidak ada apa-apa, Beni berbalik dan melangkah pergi. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat ada bayangan. Dia menoleh kesamping tapi ternyata hanya bayangan tanaman yang bergerak. Dia kembali melangkah.


Kirana sedikit menjulurkan kepalanya untuk melihat sekitar kemudian menghela nafas lega. Hampir saja dia ketahuan oleh Beni.


"Mbak Kirana."


"Hah!" Pekik Kirana karena sangat terkejut dan langsung terjengkang saat Beni memanggil dan menepuk pundaknya.


"Astaga, Mbak Kirana! Kamu nggak apa-apa? Ayo aku bantu." Beni pun segera menarik tangan Kirana dan membantunya berdiri.


Saat itu, Rendy sudah berjalan menghampiri Beni saat mendengar teriakan Kirana.


"Ki? Kamu belum pulang?" Tanya Rendy setelah menghampiri mereka.


Nayla yang ikut menghampiri dia hanya berdiri diam di samping Rendy dan menatap Kirana dengan tatapan aneh.


................