
"Pagi Lucky," Sapa ku pada anak itu ketika kami bertemu di sekolah. Sementara Pelangi hanya diam menggenggam tangan ku.
"Selamat lagi tante, apa kabar?" Balasnya menyapa ku dengan membungkukkan setengah badannya.
"Baik, Pelangi.. Ayo sapa Lucky," Jawab ku kemudian menyuruh Pelangi untuk menyapanya juga. Namun Pelangu terlihat acuh.
Lucky tersenyum lembut menanggapi sikap Pelangi. Kemudian dia meraih tas yang di gandeng oleh bibi asistennya lalu mengeluarkan kotak makanan.
"Pelangi, aku bawa 4 potong sandwich. Kita bisa berbagi nanti," Ucapnya pada Pelangi.
"Aku Tidak suka sandwich." Jawab Pelangi singkat.
"Kau belum mencobanya."
"Tidak suka ya tidak suka." Bantah Pelangi.
"E,eh nak. Tidak boleh begitu, kenapa kau marah? Lucky kan baik."
"Ma, Pelangi mau masuk aja. Bye mama..." Jawab Pelangi kemudian berlari menuju kelas.
"Eeeh Pelangi, astaga. Lucky, maafkan Pelangi ya."
"Tidak apa tante. Lucky juga akan masuk kelas, sampai jumpa kembali." Jawabnya penuh kedewasaan. Di usianya yang baru saja menginjak di usia yang sama dengan Pelangi tentu sikap Lucky menakjubkan.
Aku terpaku ketika dia sudah berjalan menuju kelas yang sama dengan Pelangi. Lalu tersadar saat wanita yang selalu mengantar dan menjemputnya mengucapkan kata pamit padaku. Segera aku mengehentikannya, dia menoleh ku.
"Eh maaf, bisakah aku bertanya sesuatu?"
Wanita itu tampak heran akan ucapan ku.
"E,eh.. Dimana orang tua Lucky, kenapa selalu kau yang mengantar dan menjemputnya? Ehm, maaf aku hanya penasaran saja.
"Maaf nona, kami harus memprivasi siapa tuan muda disini."
Gila, segitunya? Dia pikir ini dunia mafia? Astaga...
"E,eh.. Baik lah, maafkan aku. Aku hanya ingin memastikan saja, apakah orang-orang yang berada di sekitar puteri ku Pelangi adalah orang yang baik."
"Saya bisa menjamin itu nona, karena tuan muda kami sudah di terlatih sejak kecil bagaimana dia akan bersikap pada orang lain."
"Hemm, baiklah. Terimakasih ya,"
"Saya permisi dulu nona," Jawab nya kemudian berpamitan.
"........."
Aku terpaku. Tanpa jawaban, hanya mengangguk pelan menatap wanita itu memasuki mobil mewah lalu menghilang dari hadapan ku.
"Aaaarght... Aku seperti berada di dunia lain saja. Lucky itu hanya anak kecil bukan? Tapi membuatku merasa gila."
Sampai dirumah, lagi dan lagi. Aku hanya duduk santai, tanpa aktivitas lainnya kecuali membolak balik lembaran dari tiap lembaran tabloid. Nonton TV, mondar mandir gak jelas, rebahan gulang guling di kasur. Sementara jam pulang Pelangi masih beberapa jam lagi.
Ah bosannya...
Lalu ku raih ponsel dan mengutak atiknya. Hingga ku lihat begitu banyak notif dari semua akun sosmed ku, pesan pribadi yang di kirim oleh Dudut dan beberapa teman lainnya. Dan aku terfokus pada pesan pribadi dari Dudut saja, karena yang ku kenal sejak dulu dia adalah sosok laki-laki yang selalu mampu mencairkan suasana dikala bowring.
"Kau sibuk?"
Aku memberanikan diri lebih dulu mengirim pesan padanya. Dan benar saja, hanya dalam waktu hitungan menit dia membalasnya.
"***Akhirnya kau membalasnya. Aku menunggumu,"
"Maafkan aku, aku sibuk dengan statusku saat ini. Ku harap kau mengerti,"
"Iya deh iya. yang udah jadi nyonya."
"Cih, nyonya apaan. Aku belum tua, Haha."
"Iya, hanya aku yang sudah tua bukan? Tapi aku masih gagah seperti awal mengenalmu bukan?"
"Oh ya? Ya, aku percaya. Karena kita hanya kenal di dunia maya saja***,"
Kemudian lama tiada balasan darinya. Aku baru saja merasa terhibur karena menjahilinya seperti dulu.
"Lalu kenapa jika kita hanya mengenal di dunia maya saja, bukan kah kita pernah mengukir rasa yang pernah ada?"
Aku tersenyum membaca balasan itu. Kemudian kami mulai saling bercerita kehidupan kami setelah putus contac saat itu. Bagaimana kehidupan ku dan kehidupannya berjalan sampai kini, aku mulai merasa terhibur dan menjauh dari rasa bosan.
Ku lirik jam yang sejak tadi mengikat pergelangan tangan ku, sudah menunjukkan waktunya untuk menjemput Pelangi kembali.
"***Aku harus menjemput puteri ku di sekolah, kita sambung lain kali. Dan terimakasih hari ini kau menghibur sepi ku."
"Sama-sama beb, aku akan selalu bersedia menjadi tempat mu berbagi. (Emo peluk***)"
Tuhan, mereka terlihat manis...
Aku bergumam dalam hati.
"Pelangi," Panggil ku dengan setengah teriak berdiri di depan mobil ku.
"Mamaaaaaaaa..." Pelangi berteriak lalu berlari ke arah ku di susul oleh Lucky.
"Aduh, pelan-pelan. Nanti kau jatuh Nak," Ucap ku menangkapnha yang berlari sempoyongan ke arahku.
"Mama, tadi Lucky bantuin Pelangi."
Aku mengernyit menoleh ke arah Lucky yang tersenyum tersipu malu.
"Oh ya? Apa yang terjadi padamu nak?"
"Tadi ada temen resek mendorongku, lalu Lucky melawannya."
"Apa, lalu bagaimana dengan mu? Apakah ada yang terluka nak? Apakah sakit? Dimana? Yang mana?" Tanya ku dengan panik sembari melihat sekeliling tubuh Pelangi dan memutar-mutarnya.
"Gapapa ma, cuma lecet dikit." Jawab Pelangi sembari menunjuk di bagian siku tangannya yang luka dengan biru lebam.
"Ya ampun, apakah guru mu tahu hal ini?"
"Mohon maaf tante, ibu guru sudah berusaha mengobati luka Langi. Tapi dia menolak dan menangis," Jawab Lucky dengan santun, menyela untuk menjelaskan.
Aku menghela nafas panjang mendengar penjelasan Lucky sementara Pelangi menatapku dengan wajah merengek. Aku menggelengkan kepala padanya.
"Bagaimana bisa menjadi dokter hebat nantinya jika pada obat saja Pelangi takut, apakah masih sakit nak?" Tanya ku dengan lembut kemudian meniup-niup luka kecil di sikunya.
"Enggak ma, Pelangi kuat. Hehe,"
Ku peluk tubuhnya yang berusaha berkata kuat di hadapan ku meski ku tahu matanya sudah berkaca-kaca karena takut aku akan memarahinya.
"Lucky, terimakasih Nak. Kau membantu dan menjaga Pelangi seperti yang tante minta,"
Lucky membungkukkan kepalanya menanggapi ucapan terimakasih ku. Kemudian lagi-lagi dia bersikap seolah sedang menyentuh sesuatu di bagian atas daun telinga yang tertutup oleh rambutnya. Sesaat kemudian tiba wanita yang pernah ku temui setiap saat. Lalu Lucky berpamitan pulang lebih dulu.
"Lucky, besok kita bermain lagi ya." Ujar Pelangi menghentikan langkah Lucky sejenak. Lalu dia menoleh ke arah belakang dengan senyuman ceria mengangguk mantap kemudian melambaikan tangannya sebelum akhirnya mengilang di balik pintu mobil mewah yang menantinya.
"Nak, ayo kita pulang dan obati segera luka mu ini."
"Tapi ma..."
"Gak ada tapi-tapi, ayo.."
Pelangi mengangguk menurut memasuki mobil lebih dulu. Aku melajukan mobil lebih cepat dari biasanya untuk segera sampai dirumah, melihat luka Pelangi walau kecil namun terlihat kotor dan di basahi keringat nya aku sangat khawatir. Karena aku belum pernah melihatnya terluka atau tergores sedikitpun.
Tiba dirumah aku menyuruh Pelangi duduk di sofa ruang tamu, lalu bergegas dengan cepat meraih kotak P3K untuk membersihkan lukanya. Dia menurut diam tanpa kata, aku tahu dia masih menahan rasa takutnya.
"Nak, tahan ya. Mungkin agak sedikit perih,"
"Pelangi kuat kok ma, Pelangi kan dokter."
"Anak pintar, nanti saat Pelangi sudah bertugas di rumah sakit Pelangi akan bertugas seperti ini juga nantinya. Jadi tidak boleh takut dengan luka atau sakit, mengerti?"
Dia mengangguk menyimak ucapan ku, dan ku perhatikan mulai berkeringat membasahi keningnya. Wajah nya memerah seolah menahan sesuatu...
"Ada apa sayang? Apa kau kesakitan?"
Dia menggelengkan kepalanya lalu tangisnya pecah di depan ku. Aku semakin cemas, aku takut. Bagaimana saat ini, apakah harus membawanya ke rumah sakit? Tapi ini hanya luka kecil bukan? Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati.
"Sakiiit, perih ma. Huuwaaa..."
"Pffft... Astaga, hahaha. Gadis kecil mama, jadi kau menangis karena rasa perih? Kenapa menahannya sejak tadi jika ingin menangis."
"Pelangi takut mama marah.. Huhu..." Dia menjawabnya sembari menangis dengan tersedu-sedu.
Astaga Tuhan, apakah aku terlalu tegas padanya selama ini?
"Nak, dengarkan mama. Maafkan mama jika selalu tegas dan memintamu untuk tidak menjadi anak yang cengeng, kau harus mandiri dan jangan pernah merasa takut pada siapapun yang merasa mengancam dirimu. Tapi jika kau ingin menangis untuk melegakan sakitmu, menangislah. Jangan menahannya, mengerti?"
Dia menatapku dengan isakan, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Pelangi gak ngerti Ma,"
Krettekkkkk !!!
Bagaikan batu kokoh yang pecah karena hujaman sebuah pukulan mendengar jawaban Pelangi. Bagaimana tidak? Aku menjelaskan panjang kali lebar sejak tadi berharap dia mengerti. Aaakh, aku terlalu menganggap ini serius. Tapi Lucky, dia juga seusia dengan Pelangi bukan? Tapi dia pintar dan seolah paham akan semua bahasa tubuhku. IQ nya pasti tinggi sekali, huh..
Salahkah jika aku terlalu tegas dan juga timbul ambisi inginkan Pelangi bisa tumbuh menakjubkan sepertinya...???