
POV JOE
Langi, haruskah secepat ini semua berakhir hubungan kita? Kau begitu mudah berpaling pergi, tanpa melihat lagi ke belakang. Apakah hubungan ini hanyalah mainan bagimu???
Tok tok tok...
"Joe, apa kau marah padaku? Joe, keluarlah. Joe, jangan marah padaku, plis..."
Terdengar suara Maria yang terus memanggil Joe dari luar kamar dengan mengetuk pintu kamar Joe berulang kali. Namun Joe mengabaikannya walau sudah sangat berisik suara ketukan itu.
"Maria, ada apa? Kau mengetuk pintu kamar Joe terlalu berisik." Tanya Abel dengan langkah terburu-buru menghampirinya.
"Aunty, Joe tidak mau keluar dari kamarnya. Dia membentakku lagi setelah gadis bodoh tadi keluar,"
"Maria!!! Jaga bicaramu, atau nanti Joe akan semakin marah."
"Cih, aunty.. Tapi aku tidak ingin Joe marah padaku hanya karena gadis itu." Jawab Maria kembali, membantah ucapan Abel.
"Sudah sana, pergilah ke kamar mu. Aunty yang akan bicara pada Joe,"
"Aunty!!! Aku harus bicara pada Joe juga. Aku tahu cara meredakan amarahnya." Kembali Maria membentak Abel dengan suara lantang.
"Maria!!! Kau sungguh keterlaluan. Joe putera ku, aku jauh lebih memahami hatinya." Abel membalasnya dengan tatapan tajam. Membuat Maria mundur satu langkah serta mengenduskan nafasnya dengan ekspresi kesal, kemudian pergi dengan berderaian air mata.
"My boy. Buka pintu, ini mami. Maria sudah pergi, percayalah." Ucap Abel kembali setelah mengetuk pintu kamar Joe.
Tak berapa lama kemudian pintu kamar nya terbuka, dengan cepat Abel melangkah masuk ke kamar Joe. Terlihat berantakan kamar puteranya itu, Abel menghela nafas panjang menatap wajah putera si mata wayangnya murung.
"Oh, my baby boy. Ada apa sebenarnya? Katakan pada mami." Tanya Abel sembari melangkah mendekatinya yang terduduk menunduk di sisi ranjang.
"Semua sudah berakhir hanya dalam waktu sekejab, Mi." Joe menjawab nya dengan suara sedikit serak.
"What happened, Dear?" Tanya Abel dengan nada panik.
"Mami, Pelangi memutuskan hubungan kami. Semua berakhir, semua sia-sia." Kini Joe mulai bersuara parau. Dia enggan menatap wajah ibu nya. Abel kembali menarik nafasnya dalam-dalam, dia peluk tubuh puteranya erat-erat dalam dekapan. Terdengar isakan Joe yang tertahan.
"Sssttt... Oh, my baby boy. Tenang ya, jangan menangis. Cup cup cup, mungkin Pelangi sedang terbawa emosi sesaat. Kau masih bisa menemuinya saat dia sudah tenang nanti."
"Tidak, Mi. Tidak, Pelangi serius kali ini. Dan semua itu karena Maria, Mi. Dia keterlaluan kali ini, aku membencinya."
"Heei... Apa yang kau bicarakan? Jangan menyalahkannya begitu keras, kau tahu bagaimana Maria. Dia sangat manja, dan sejak kalian berteman dia begitu peduli dan hanya nempel padamu saja."
"Oleh karena itu, Mi. Ini salah ku, harusnya aku menjaga jarak dengan Maria. Karena Pelangi pasti akan cemburu melihatnya."
"Tidak, Nak. Kau tidak salah, Pelangi hanya salah paham saja. Memangnya kau tidak boleh berteman dengan yang lain, selain pacarmu? Itu egois. Mami tidak suka cara itu, lagi pula kau dan Maria hanya berteman baik bukan?"
"Tapi mami..."
"Sudah, mami tidak setuju jika kau menjauhi semua teman baik mu hanya karena takut pada pacar mu. Memangny apa yang kau perbuat? Kau hanya bersikap sewajarnya sebagai seorang teman." Bantah Abel dengan tatapan serius, di dekapnya erat-erat kedua pipi puteranya dengan telapak tangannya.
"Mami. Aku sayang sama Pelangi, Mi. Bertahun-tahun aku menunggu untuk bisa bertemu dengan nya. Aku tidak akan pernah melepaskan Pelangi begitu saja. Apapun alasan dan ucapan mami tentangnya, aku tidak peduli."
"Tidak perlu, mi. Aku akan menyelesaikan sendiri masalah ku dengan Pelangi. Mami tidak perlu ikut campur, mami urusi saja anak manja yang satu itu." Ujar Joe dengan cetus. Abel hanya terperangah dengan mulut menganga, tanpa berani membantahnya lagi. Ia tahu, jika puteranya sangat susah di atur sejak kecil jika menyangkut kepribadiannya.
Namun dalam hati Abel menggerutu kesal, ia menganggap sikap Pelangi saat ini sungguh tidak adil bagi puteranya.
Hah, kenapa seakan terulang. Sifat Pelangi begitu kental menurun ibunya, Fanny. Dia mudah salah paham dan cemburu pada wanita yang jelas bukan siapa-siapa Joe. Huh, putera ku tampan dan baik. Wajar kan jika banyak wanita yang selalu ingin berada di dekatnya...
Kemudian Abel berniat untuk pergi menghampiri Maria di kamar, yang sudah pasti sedang menangis tersedu tanpa henti. Abel hanya takut jika nanti dia akan mengadu pada kedua orang tuanya akan perlakuan Joe padanya tadi.
Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Abel memasuki kamar. Dilihatnya Maria sedang berbaring, beberapa kali tampak sedang menyeka air matanya.
"Maria..." Panggil Abel dengan lembut. Seketika Maria bangun lalu memeluk Abel dengan tangisan keras seperti anak kecil.
"Sudah, sudah... Jangan menangis lagi, baby."
"Joe jahat, dia selalu marah pada ku, Aunty. Dia berubah, dia tidak seperti saat kami di LN dulu."
"Sssst... Tidak, baby. Dia tetap lah Joe yang kau kenal, dia tetap sahabatmu. Dia hanya sedang terbawa emosi, pikirannya sedang kacau."
"Itu karena gadis bodoh itu kan, Aunty??? Sejak awal aku sudah tidak menyukainya."
"Ssssttt... Pelankan suaramu, nanti Joe dengar. Dia akan semakin marah nantinya, mau?"
"Enggak Aunty, aku tidak mau. Tapi aunty, ehm... Aku..." Maria menghentikan ucapannya dengan wajah yang berubah tersipu malu.
"Ada apa, baby?" Tanya Abel dengan menatap Maria lekat.
"Aku, aku... Menyukai Joe, aku jatuh cinta padanya setelah kami lama terpisah."
Abel terkejut bukan main, dia tidak menyangka jika kini puteranya di sukai dan dicintai dengan dua perempuan sekaligus. Ada rasa bangga, namun di sisi lain dia juga bingung harus bagaimana.
"Ta,tapi Maria. Joe sudah memiliki seorang pacar, dan dia sangat mencintai pacarnya. kau tahu itu kan?"
"Aku tahu, maka itu aku cemburu melihatnya dengan gadis bodoh itu. Dan lagian, Joe selalu di atur oleh nya. Gadis itu, huh... Berani-berani mengatur dengan siapa Joe akan dekat dan berteman."
"Maria, jangan mencoba menjadi orang ketiga diantara mereka. Itu akan sangat menyakiti hatimu nantinya, kau tidak akan memenangkan hati Joe yang sudah sejak awal dia berikan untuk Pelangi. Kau hanya belum mengenal siapa Pelangi, dia adalah gadis yang baik."
"Jadi maksud aunty, aku tidak baik?"
"Tidak, baby. Kau gadis baik, hanya saja. Sebaiknya kau mengalah, hilangkan perasaan mu untuk Joe. Joe tidak akan pernah pedulikan perasaan mu itu, Nak."
"Aunty... Pliss, aku sungguh mencintai Joe." Maria kembali memaksakan kehendaknya. Abel beranjak bangun sengan tatapan kesal.
"Kali ini, sebaiknya kau pikirkan baik-baik. Jika kau tetap memaksakan kehendakmu itu, jangan merengek pada tante. Tante tidak akan menolongmu lagi." Jawab Abel dengan tegas.
"Aunty, pliss... Aunty..." Maria mendecak kesal karena kali ini Abel mengabaikannya.
"Aaaarght... Menyebalkan!!!" Teriak Abel dengan kesal.