Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 145



"Lama tidak bertemu. Fanny," Ucapnya ketika aku terpaksa harus memasuki ruang lift bersamanya karena di ruangan itu masih ada satu karyawan lagi dengan nya. Aku tersenyum tipis menanggapi sapaannya.


"Kau akan menemui Irgy?" Sapanya lagi.


"Lalu siapa lagi?" Tanya ku dengan cetus. Membuat seorang staff karyawan di sebelahnya menatapku sejenak dengan kikuk.


"Aku hanya bertanya, kenapa kau begitu cetus?"


"Perasaan mu saja."


"Bisakah kau berpura-pura menutup mata dan telinga mu saat ini?" Ucap kHery pada laki-laki di depan kami. Yang tak lain staff karyawan disini.


"Sa,saya?" Tanya staff itu dengan gugup.


"Ya kamu, siapa lagi yang ada disini hah?" Jawab Khery dengan lantang.


"Ok ok, saya akan berpura-pura tidak mendengar dan melihat apapun disini." Jawab staff itu sembari menutup kedua telinganya.


"Dasar laki-laki pemarah." Ucapku setelah mendengar ucapan Khery yang menggertak staff tadi.


"Aku memang pemarah, dan itu semua karena mu sejak dulu Fanny. Tapi kau juga tahu marahku karena aku..."


"Karena kau memang pemarah." Jawab ku menyela ucapannya.


"Tapi walau begitu aku tidak pernah berniat menyakitimu sedikitpun,"


"Aah, kenapa ini lift lama sekali." Ucapku mengabaikan ucapan Khery. Sementara staff di depan ku sangat terlihat jelas dia sedang menahan tawa untuk tidak cekikikan.


Tak lama kemudian lift terbuka, aku terburu-buru untuk segera keluar bertubrukan dengan staff tadi.


"Fanny, tunggu sebentar aku masih ada yang ingin dibicarakan." Ucap Khery lantang berusaha menghentikan langkah ku. Aku mengabaikannya, ku dengar lirih staff tadi mengucapkan kata yang membuatku tertawa.


"Pak, sabar ya."


"Kau berani meledek atasan mu hah? Aku bisa memotong gajimu nanti."


Khery.. Khery, masih saja temprament mu menggila.


Ku ketuk pintu ruangan Irgy. Lalu memasukinya setelah terdengar perintah 'Masuk' dari suara Irgy. Dan dia terkejut melihatku datang tanpa mengabarinya lebih dulu.


"Wow, aku menganggapnya ini adalah sebuah kesengajaan terencana." Ucap Irgy setelah aku memasuki ruangannya. Kemudian berdiri menyambutku dengan pelukan dan ciuman.


"Sayang, maafkan aku. Datang tanpa mengabarimu dulu, apakah aku mengganggumu?"


"Ehm... Sedikit, Kau mengganggu iman ku." Jawab Irgy menggodaku.


"Cih, apaan sih. Aku serius, jangan bercanda dulu. Aku kemari terburu-buru karena ada hal penting, upz. Tidak, tidak terlalu penting tapi aku harus menyampaikannya padamu sekarang juga."


"Apa itu? Kemari, duduk dulu. Aku akan menyeduhkan teh dulu." Ucap Irgy sembari menuju sebuah mesin yang bisa menyeduh secangkir teh secara otomatis di ruangannya.


"Harusnya aku yang melakukannya untuk mu, atau sekretarismu."


Kembali aku mendekati dan memeluk tubuhnya dari belakang.


"Ini special untuk istriku tercinta."


"Gombal." Jawab ku singkat. Irgy tersenyum hangat mendengar jawaban ku ini.


"Ehm... Suami ku, bagaimana menurutmu jika aku memiliki sebuah kegiatan lain diluar rumah?" Tanya ku kemudian. Irgy menatapku sesaat dengan mengerutkan kedua alisnya.


"Iya, kegiatan lain. Apa kau mengizinkan jika aku menjadi seorang model?"


"Pffftt... Hahaha, model? Hahaha, sayang. Oh astaga, aku tidak pernah tahu jika istriku ini memiliki sebuah impian sebesar itu."


"Kau tertawa untuk meledekku bukan? Uugh.." Aku sedikit kesal dengan tanggapannya itu.


"Upz, bukan demikian sayang ku. Bukan, melainkan... Ini, ini bukan dirimu yang ku kenal."


"Ibu guru Pelangi menawariku untuk membantu profesi ayahnya sebagai desaigner. Dia akan mengadakan peragaan busana dan belum mendapatkan model yang pas."


Lagi lagi Irgy menatapku tanpa jawaban.


"Apa kau benar-benar ingin mencobanya?"


"Jika kau mengizinkannya. Tapi jika kau menolak, aku tidak akan memaksa."


"Dengan beberapa syarat." Jawab Irgy tegas.


Aku menolehnya dengan mengatupkan kedua bibirku. Menanti syarat apa yang akan dia lontarkan, berharap jika itu bukan hal konyol.


"Jika itu sebuah busana yang menampilkan bagian lekuk tubuh milikku ini, aku akan menggagalkan acara itu hari itu juga. Dan kau tidak boleh kelelahan, tidak boleh mengabaikan ku, tidak boleh mengabaikan Pelangi kita."


"Astaga, sayang. Ini hanya sekali waktu saja, lagi pula aku tidak akan melakukannya dalam jangka panjang."


"Walau begitu, aku tetap tak ingin setiap lekuk tubuh mu ini di lihat dan mengundang banyak hasrat laki-laki diluar sana. Kau hanya milikku, milikku, dan milikku. Apa kau mengerti?"


"Kenapa kau begitu serius hah? Jika tahu begini aku akan menolaknya sejak awal. Aku hanya butuh pendapat saja, dan untuk menolong ibu guru Pelangi. Dia sangat mengharapkan bantuan ku, apa aku salah?" Aku membantahnya dengan cetus.


"Kenapa kau marah sayang? Aku sudah mengeluarkan pendapatku bukan?" Jawab Irgy lagi.


"Tapi kau menolaknya secara jelas." Ucapku dengan suara lirih menundukkan wajah di depan nya. Kemudian Irgy menghampiriku, dan memelukku.


"Maafkan aku, ini pertama kalinya aku berat mengizinkan mu dalam mengikuti kegiatan. Karena aku tidak ingin kau menjadi pusat perhatian laki-laki lain diluar sana, aku sungguh takut kehilangan mu dan kau ternoda lagi oleh yang lainnya."


"Apa maksudmu?" Tanya ku, mendengar ucapan Irgy kali ini tiba-tiba membuatku merinding.


"Sssst... Lupakan, aku hanya tidak ingin kau tersentuh laki-laki lain walau itu hanya melalui pandangan mata. Aku tidak akan rela sayang," Jawab Irgy sembari mengecup hangat kening ku.


"Aku mengerti. Tapi aku tidak akan demikian, aku janji. Aku hanya akan membantu ibu guru Pelangi, karena dia tertarik dengan gaya pakaian ku yang setiap hari ku gunakan ketika mengantar Pelangi ke sekolah."


"Hmm... Bahkan seorang perempuan lain bisa menjadikan mu pusat perhatiannya. Lalu bagaimana aku tidak takut jika laki-laki lain akan membuatmu lupa statusmu nanti,"


"Sayaaang, berhenti menggodaku. Jangan bercanda lagi, cepat jawab. Jika kau sungguh tidak ingin aku menerimanya aku tidak akan memaksa."


"Apa kau marah jika aku menolaknya?"


Aku terdiam, mengeluhkan nafas panjang. Menundukkan wajah, menahan diri untuk tidak banyak bicara lagi. Karena aku sudah menduga hal ini sebelumnya, Sejak awal aku mengenalnya, Irgy adalah typikal laki-laki pelindung dan penyayang yang teramat sayang. Dia pun selalu protes jika aku mengenakan pakaian yang sedikit terbuka atau pas di bagian lekuk tubuhku.


Dia berbeda dengan laki-laki lain yang pernah mengenalku lebih dulu. Itu yang membuatku merasa wanita beruntung di dunia ini. Karena Irgy sungguh menjaga martabatku sebagai seorang wanita dan sebagai wanitanya. Tapi kali ini entah kenapa aku ingin memaksa, dan mencobanya.


"Sayang," Panggilnya kemudian, membangunkan ku dari lamunan.


"Aku akan menolaknya." Jawab ku spontan.


"Lakukan. Jika kau sangat ingin mencobanya." Ucapnya sangat terdengar jelas di telinga.


"Sungguh?"


Aku tidak percaya ini. Dan Irgy hanya tersenyum dengan anggukan menanggapi.


"Kau memang suami idaman." Ucap ku sembari memeluknya erat.


"Jadi sejak awal aku bukan suami idaman?"


"Tidak. Kau yang terbaik dari segalanya," Jawab ku mengecup kedua pipinya.


"Cih, begitu saja?" Jawab Irgy.


"Apa kau menantangku melakukannya disini?"


"Hey, sayang. Kau membuatku ingin segera cepat sampai dirumah," Jawab Irgy dengan wajah merona.


"Aaah, sayang. Malam ini team Alpha, aku lelah."


"Harus absen. Titik," Jawabnya terus menggodaku.


"Dasar suami mesum."


"Siapa suruh menggodaku begini."


"Astaga, ok. Ok, aku kalah. Lakukan saja semua yang kau inginkan, huh." Jawab ku kesal.