
Setelah menjalani dan menyelesaikan beberapa syarat yang harus Pelangi dan Lisa lakukan, akhirnya pun hati mereka lega hingga tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Mereka lolos dan sah sebagai mahasiswi di kampus dambaan mereka. Sontak Pelangi dan Lisa berjingkrak saling merangkul dengan hati berbunga-bunga.
"Tuhaaan, terimakasih..." Ujar Pelangi menghela nafas panjang mendekap erat surat pernyataan dia lulus tes akhir.
"Mulai hari ini, kita harus merubah semua penampilan dan sikap kita untuk semakin cantik dan anggun. Kau lihat itu, princess cold.. Penampilan mereka seakan ingin bersaing dengan kita." Ujar Lisa sembari menunjuk ke arah beberapa wanita yang duduk membentuk satu perkumpulan.
"Lisaaa, ini bukan kelas fashion. Tak perlu merubah apa kebiasaan kita, bagaimana penampilan kita."
"Aduh, ku gak mau tahu. Sepulang dari sini, kita harus menjelajahi pertokoan pakaian di seluruh kota ini. Ini musim dingin, aku kekurangan pakaian tebal untuk ku pakai." Ujar Lisa merengek manja.
"Hah, baiklah... Baiklah." Jawab Pelangi dengan nada malas.
"Eh, pangeranmu datang." Lisa menggoda Pelangi saat dilihatnya Exelle dari kejauhan berjalan di ikuti oleh Lucky. Sontak saja, beberapa wanita cantik dari setiap negara dan kota berbeda menggoda Lucky. Begitupula Exelle, karena mereka memang memiliki wajah dan postur tubuh yang pantas di sukai serta menggoda hati bagi wanita yang memandangnya.
Lisa menggigiti kuku-kuku jarinya setelah Lucky dengan gaya cool nya berjalan kian mendekat. Lagi-lagi Pelangi sedikit gugup, saat kedua matanya bertemu dengan Lucky.
"Selamat, kau sah menjadi mahasiswi di kampus yang kau impikan." Ucap Exelle setelah sampai di hadapan Pelangi.
"Makasih, Ex. Eh, tapi bagaimana kau bisa tahu jika aku berhasil lolos?"
"Ah, ayolah. Mana mungkin si cewek galak yang super jenius akan gagal disini, hihi."
"Hmm... Kali ini aku tidak akan menjitakmu, karena aku sangat bahagia. Bagaimana dengan.. ka-lian?" Tanya Pelangi dengan gugup menatap wajah Lucky.
"Hem, kami sudah sah di terima di jurusan bisnis sejak beberapa hari yang lalu. Papa yang mengurus semuanya, aku dan saudaraku ini mengambil jurusan yang sama."
"Waaah, selamat ya. Untuk kalian, hei cewek cuek. Selamat ya, kau hebat." Kata Lisa dengan senyuman genitnya.
"Makasih, cewek galak. Sa, makasih ya." balas Exelle tersenyum nyengir.
"Terimakasih." Ujar Lucky singkat dengan membungkukkan badannya setengah. Pelangi yang melihat itu mundur satu langkah dengan gesit. Hatinya kian sesak, seolah dia sedang melihat sosok yang selama ini sudah dia lupakan terkubur dalam-dalam.
"Eh, princess cold. Ada apa?" tanya Lisa terkejut melihat sikap Pelangi yang seperti itu. Pandangannya begitu tajam menatap Lucky yang juga terkejut, mengerutkan kedua alisnya. Exelle kebingungan menatap Pelangi dan Lucky bergantian.
"E,eh, ada apa? Maafkan saudara ku, cewek galak. Apa kau terkejut dengan sikapnya barusan? Haha, dia.. Ehm, dia terbiasa begitu sejak kecil karena dia..."
"Maaf, maaf jika kau terkejut. Apakah aku terlihat aneh?" tanya Lucky menyela ucapan Exelle.
Lucky... Dia... Bukan Lucky yang sama bukan? Tidak, ini tidak mungkin.
Bathin Pelangi bergetar, dalam sekejab air matanya pun mengalir dengan sendirinya. Lalu dengan cepat dia menyeka, setelah menyadari ini di depan umum.
"Pelangi, kau menangis? Ada apa?" Tanya Exelle cemas.
"Princess cold, ada apa? Jangan menangis, katakan jika ada sesuatu yang salah?" Lisa pun panik lalu merangkul kedua kedua bahu Pelangi.
"E,eh.. Ti-dak, tidak apa-apa. Aku hanya..." Ucapannya Pelangi terhenti saat melihat wajah Lisa yang penuh kepanikan.
"Hahaha, sudah lah. Aku baik-baik saja, mungkin karena aku sedikit flu. Cuaca dingin ini membuatku sampai keluar air mata."
"Apa benar begitu?" Tanya Lisa dengan lembut.
"Ikut aku, hidungmu sudah memerah." Langsung saja Exelle menarik tangan Pelangi dan di tuntunnya di belakang untuk mengikuti langkah Exelle.
"Hei, Ex. Aku baik-baik saja, kita mau kemana?" Pelangi terus meronta pelan namun tetap mengikuti langkah Exelle dari belakang. Sementara Lisa pun menarik Lucky untuk menyusul mereka, sayangnya. Lucky menepis tangan Lisa dengan lembut.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk kasar. Hanya saja, aku... Ehm, jalan lah lebih dulu. Aku akan mengikutimu dari belakang". ujar Lucky menjelaskan sengan pandangan mata ke arah bawah.
"Iih. Dasar, aku tidak akan memakanmu. Apa susahnya hanya berpegangan tangan sebentar? Dasar. Kau sangat dingin, baiklah. Ayo, kita susul mereka." Jawab Lisa dengan mendecak kesal kemudian berjalan sembari menggerutu bercampur malu akan sikap penolakan dari Lucky barusan.
Lihat saja, aku akan melatihmu agar terbiasa dengan sentuhanku nantinya. Hihi, tapi... Dia sungguh sulit, huh. Aku tidak suka dengan sikapnya yang kaku itu, iiih... Nyebelin.
Exelle sudah tiba di suatu kantin termegah di kampus ini. Dengan cepat dia memesan minuman hangat untuk Pelangi, lalu meletakkannya di kedua telapak tangan Pelangi untuk menghangatkannya.
"Bagaimana? Apakah sudah mendingan?" Tanya Exelle dengan penuh perhatian.
Ex, kau sangat perhatian. Tapi ini bukan...
"Pelangi, hai..." Panggil Exelle mengejutkan Pelangi saat dia hanya terdiam menatap sebuah asap yang mengepul keluar dari minuman hangat yang di genggamnya.
"Uh, ya? Ehm, makasih Ex. Ini cukup menghangatkan, aroma nya aku juga suka."
Tak berapa lama kemudian Lisa dan Lucky datang menyusul setelah mereka berkeliling mencari mereka berdua.
"Kalian disini ternyata, ku pikir kau sudah pergi menculik my Princess cold."
"Ya ampun, Sa. Bisa gak, kau berpikir yang baik-baik saja padaku? Aku tidak sejahat itu." Jawab Exelle dengan serius.
"Iya, iya. Aku hanya bercanda saja, kenapa kau marah begitu?"
"Maafkan aku, karena sikap anehku ini. Jadi membuatmu demikian," ucap Lucky dengan lembut.
Pelangi tertegun menatap Lucky kembali. Begitupun Lucky, yang menatapnya dengan perasaan bersalah.
Hahaha. Apakah aku sudah tidak waras? Bagaimana mungkin dia orang yang sama. Di dunia ini ada seribu atau bahkan jutaan orang yang bisa saja sama, entah itu nama ataupun sikap seseorang. Entah kenapa lagi-lagi aku mengingat masa kecilku hanya karena dengan satu nama yang sama?
"Princess cold..." panggil Lisa dengan lembut.
"Ah, ya?" Lamunan Pelangi buyar seketika dan menoleh ke arah Lisa.
"Dia sedang mengajakmu berbicara."
"Oh, ya. Ehm, gapapa. Ini tidak ada hubungannya dengan mu, jadi.. Jangan di masukkan ke dalam hati."
"Huh, baiklah. Mari lupakan saja, sebaiknya kita pulang saja. Atau bagaimana jika kita pergi jalan-jalan bersama?" lalu Exelle mengalihkan ketegangan diantara mereka.
"Wah, ide bagus. Yeay, kebetulan aku ingin sekali shopping. Jadi kita bisa pergi bersama sekarang, iya kan Princess cold?"
Sudah tentu, Lisa mulai melompat kegirangan mendengar Exelle yang mengajaknya demikian. Tak ada pilihan lain, walaupun Pelangi tak ingin berlama-lama di dekat Lucky yang membuatnya selalu merasa bergetar dan sesak.
"Hah, baiklah.. Ayo kita pergi." Jawab Pelangi kemudian.