
Rendy pun dengan terpaksa hasur menceritakan kejadian yang baru saja terjadi di perusahaannya kepada Om Fahri.
"Kasihan. Untung aja kamu masih ada disana Ren." Ucap Om Fahri ikut prihatin dengan kejadian yang dialami Kirana.
"Iya Om. Tapi, aku minta tolong, Om jangan beri tau siapapun termasuk Papa dan Mama ya Om." Pinta Rendy karena tidak ingin orang tuanya khawatir dan juga tidak ingin membuat Kirana malu kalau berita ini menyebar meski orang tua Rendy juga tidak mungkin menceritakan kejadian tersebut kepada orang lain.
"Kamu tenang saja!" Jawab Om Fahri sambil menepuk lengan Rendy dengan tersenyum.
Kemudian Om Fahri segera memeriksa kondisi Kirana yang masih belum sadar. Om Fahri menghela nafasnya kemudian berbalik dan mendekati Rendy.
"Gimana Om? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Rendy dengan menatap Om Fahri.
"Saat ini kondisinya lemah, mungkin karena dia sangat syok." Jawab Om Fahri dengan tenang.
Rendy hanya mengangguk mengerti menanggapi jawaban Om Fahri. Om Fahri memasukkan peralatan medisnya kembali ke tas kerjanya lalu menuliskan resep obat untuk Kirana dan memberikannya kepada Rendy.
"Ini resep obat untuknya!"
"Makasih Om."
Om Fahri kemudian segera berpamitan pulang karena sudah semakin larut dan ia juga butuh istirahat. Rendy mengantar hanya sampai pintu dan selanjutnya Beni yang mengantarnya sampai parkiran sekalian ia keluar ke apotek K24 membeli obat untuk Kirana juga makanan atas perintah Rendy.
Rendy masuk kedalam kamar tamu yang ia gunakan sebagai ruang kerjanya karena ia merasa gerah dan ingin menyegarkan tubuhnya dengan mandi air dingin. Ia segera mandi dan berganti pakaian kemudian keluar, duduk di ruang TV.
Ia membaringkan tubuh tinggi atletisnya disofa panjang. Tiba-tiba ia teringat dengan kekasihnya yang hingga saat ini masih belum ada kabar. Ia pun bangkit dan duduk lalu mengusap wajahnya dengan gusar.
Tak lama Beni kembali dan menghampiri Rendy yang terlihat sedang duduk diruang TV. "Bos, ini obat untuk mbak Kirana." Ucap Beni sambil meletakkan plastik bingkisan berisi beberapa obat diatas meja.
"Ben, bisa kamu bantu aku mencari tau tentang seseorang?" Tanya Rendy dengan serius menoleh menatap Beni.
"Tentang siapa Bos?" Tanya balik Beni.
Rendy meraih ponselnya dan mengirim foto Olivia ke Beni melalui pesan chat. "Aku udah kirim fotonya dan aku minta tolong kepadamu untuk mencari tau tentangnya. Dimana keberadaannya saat ini?" Ucap Rendy setelah mengirim foto dengan wajah yang tampak gelisah.
Beni merogoh ponsel disaku celananya dan membuka pesan dari Bosnya.
"Bukankah ini model dimajalah dewasa kan Bos?" Tanya Beni saat menatap foto Olivia yang dikirim oleh Rendy.
Nama Olivia Alexandria memang sudah cukup terkenal apalagi dikota metropolitan ini. Banyak lelaki hidung belang yang mengagumi kecantikan dan tubuh sexynya yang sering muncul di majalah-majalah dewasa. Olivia juga sudah beberapa kali membintangi sebuah film panas sehingga namanya semakin diingat oleh para pengagumnya.
"Dia pacarku. Sejak aku pergi ke Surabaya, dia nggak bisa aku hubungi sampai saat ini." Lanjut Rendy dengan menghela nafasnya dan wajahnya terlihat begitu gelisah.
Kenapa Bos bisa menjalin hubungan dengan cewek seperti ini? Cantik sih, tapi sepertinya nggak cocok aja sama si Bos.
Batin Beni memberi penilaian sendiri terhadap hubungan sang Bos dengan Olivia.
Menurutnya, Rendy sangat tidak cocok menjadi pacar Olivia yang notabenenya adalah seorang model di majalah dewasa yang kerap kali memamerkan tubuh moleknya.
Sedangkan Rendy adalah pria yang terlihat begitu baik, ramah dan sopan. Selain itu, Rendy merupakan pimpinan perusahaan terbesar dikota ini. Tidak ada yang tidak tau dengan perusahaan Pradipta Grup dikota ini. Apa jadinya kalau pimpinan perusahaan terbesar dikota ini ternyata menjalin hubungan dengan model cantik nan sexy yang sering muncul di majalah-majalah dewasa dengan pakaian dan pose yang begitu menggoda para kaum hawa.
"Wah, Bos benar-benar luar biasa. Punya pacar seorang model cantik dan sexy seperti Olivia Alexandria." Ucap Beni dengan menyeringai entah ia memuji atau sedang mengejek sang Bos.
"Tolong kamu jangan beri tau siapapun tentang hubunganku dengan Olivia terutama kepada Papa dan Mamaku." Ucap Rendy menatap serius Beni.
"Aku mengerti Bos." Jawab Beni. "Kalau begitu, malam ini juga aku akan mencari tau." Lanjut Beni.
"Sebaiknya besok aja. Kamu pasti juga butuh istirahat kan?" Ucap Rendy terdengar penuh perhatian membuat Beni merasa tersanjung.
"Haha..Anda tidak perlu khawatir Bos. Bagiku melacak keberadaan seseorang itu sangat mudah." Jawab Beni dengan gelak tawa membuat Rendy menyeringai dan mengangguk merasa sangat beruntung memiliki asisten pribadi seperti Beni. Mungkin ia juga harus berterimakasih kepada Papanya karena Papanya lah yang memilih Beni untuk menjadi asisten pribadinya.
"Kalau gitu terserah kamu aja. Aku percayakan sama kamu." Ucap Rendy kemudian ia membaringkan tubuh atletisnya kembali disofa karena ia merasa sedikit lega karena Beni akan segera memberi tau informasi tentang kekasih tercintanya yang beberapa hari ini telah membuatnya frustasi dan susah tidur.
Beni segera pamit kemudian pergi. Rendy pun memejamkan matanya karena ia merasa sangat lelah dan ingin beristirahat. Namun, ia teringat sesuatu. Ia bangkit dan beranjak sambil membawa plastik bingkisan berisi obat yang tadi diberikan oleh Beni. Rendy masuk kedalam kamarnya.
Saat ia membuka pintu kamarnya, ia terkejut dengan melebarkan kedua matanya. "Kirana! Apa yang kamu lakukan?" Seru Rendy sambil melangkah mendekati Kirana yang sedang beringsut disisi tempat tidur dengan tubuh gemetar.
"Jangan mendekat!" Teriak Kirana sambil menangis terlihat ketakutan saat Rendy masuk ingin mendekatinya.
Seketika Rendy menghentikan langkahnya. "Oke, aku nggak akan mendekat. Jangan takut. Kamu udah aman. Aku cuma mau kasih obat ini buat kamu dan ada makanan juga disini. Kamu makan dan minum obatnya, oke?" Ucap Rendy berusaha untuk menenangkan Kirana.
Kirana masih menangis duduk sambil memeluk kedua kakinya menatap Rendy penuh kewaspadaan.
Rendy meletakan obat dan makanan tersebut diatas laci samping televisi didalam kamarnya. Kemudian Rendy berbalik dan keluar karena ia tidak ingin membuat Kirana semakin ketakutan. Mungkin saat ini, Kirana butuh waktu untuk menenangkan dirinya setelah apa yang telah terjadi kepadanya.
Rendy bisa mengerti dan memakluminya. Kehormatan Kirana hampir saja direnggut oleh laki-laki brengsek seperti Bima. Tentu saja Kirana sangat syok dan mungkin merasa trauma dengan kejadian yang belum lama ini telah menimpanya.
................