Because, I Love You

Because, I Love You
#55



Kirana yang masih dipegang erat oleh preman yang menyeretnya hampir saja ikut tersungkur. Tapi beruntung karena ia merasakan ada yang menarik tangannya hingga ia terbangkit berdiri dan berbalik lalu jatuh kepelukan Rendy.


"Mas?" Ucap Kirana memanggil Rendy sambil mendongak menatapnya dengan perasaan yang campur aduk. Lega, gelisah, cemas, panik dan takut.


"Kamu baik-baik aja?" Tanya Rendy yang juga menatapnya.


Kirana hanya mengangguk pelan tidak sanggup menjawab dengan kata-kata.


Rendy dapat merasakan tubuh Kirana yang gemetar karena ketakutan. "Kamu masuk ke mobil dan kunci pintunya!" Ucap Rendy menyuruh Kirana dengan menatapnya dengan tatapan dingin.


"Nggak! Aku nggak mau! Aku takut!" Ucap Kirana sambil menggeleng terlihat sangat ketakutan karena tadi saat ia membangunkan Rendy, ia diseret dengan paksa oleh preman itu.


"Woy! Kurang ajar!" Teriak preman yang ditendang Rendy sambil bangkit berdiri dengan emosi.


Beni yang melihat Bosnya merasa lega dan ia kembali fokus melawan para preman yang masih mengeroyoknya.


Rendy menarik Kirana untuk berdiri dibelakangnya lalu menghela nafasnya. Kirana mencengkeram kemeja bagian belakang Rendy karena ia masih ketakutan dan panik.


"Sebaiknya kamu dan teman-temanmu cepat pergi dari sini atau akan ada polisi yang menangkap kalian semua!" Ucap Rendy dengan tegas menatap tajam preman didepannya.


Si preman seolah tidak merasa takut dan hanya menyeringai. "Kamu pikir aku takut?" Tanya si preman yang meremehkan ancaman Rendy.


Sedetik kemudian terdengar suara sirine polisi dan Rendy tersenyum sinis menatap si preman yang sudah berubah wajahnya menjadi panik dan takut.


"Polisi! Ada polisi!" Teriak preman lainnya yang sedang mengepung Beni.


"Sial! Ayo cabut!!" Umpat preman yang berdiri didepan Rendy lalu mereka semua membubarkan diri dan lari dengan terbirit-birit meninggalkan tempat itu.


Beni menghela nafas lega lalu berjalan menghampiri Rendy dan Kirana. Rendy terkekeh geli melihat para preman itu yang lari ketakutan.


Tadi setelah Kirana membangunkannya, tak lama Rendy terbangun lalu bangkit duduk berusaha menyadarkan dirinya. Kepalanya terasa berat dan sakit.


Setelah kesadarannya kembali, ia melihat Beni sedang dikepung dan dikeroyok banyak preman lalu sedikit terkejut saat pandangannya tertuju pada Kirana yang sedang digeret paksa oleh seorang preman.


Sebelum keluar dari mobil, Rendy mengambil ponselnya dan mengatur waktu alarm di ponselnya dengan suara sirine polisi untuk mengelabui para preman itu lalu meletakkan ponselnya lagi dan keluar untuk menolong Kirana.


Dan triknya benar-benar berhasil membuat semua preman lari ketakutan. Setelah semua preman pergi, bunyi alarm pun berhenti.


"Hah? Jadi, suara sirine polisi tadi dari HP kamu?" Tanya Kirana dengan melebarkan kedua matanya merasa lucu tapi ia tidak bisa tertawa. Rendy hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Kirana.


"Mbak Kirana, apa kamu baik-baik aja?" Tanya Beni dengan perhatian.


Kirana hanya mengangguk dan sedikit tersenyum.


"Syukurlah. Untung aja Bos bangun tepat waktu." Ucap Beni merasa lega.


Kirana mendengus dan melengos. Seketika, ia kembali merasa sangat kesal dan marah karena mengingat sikap Rendy yang sudah kurang ajar kepadanya tadi.


Rendy menghembuskan nafasnya kasar lalu melirik Beni.


"Ben, ayo pergi!" Ucap Rendy lalu berjalan menuju mobilnya begitu saja membiarkan Kirana seolah tidak peduli padanya.


"Bos!" Seru Beni memanggil Rendy lalu ia menoleh menatap Kirana.


"Mbak Kirana, ayo! Biar aku anter." Ucap Beni dengan ramah penuh perhatian.


Kirana mengusap pipinya yang basah terkena air mata dengan cepat lalu menoleh menatap Beni dengan memaksakan senyumnya. "Nggak usah Pak. Makasih banyak sebelumnya. Aku bisa pulang sendiri kok. Lagipula preman-preman tadi udah pergi."


"Tapi mbak, preman-preman tadi bisa muncul kapan aja." Ucap Beni yang membuat Kirana terdiam dan kembali merasa takut juga panik.


Tapi, Kirana mencoba menenangkan dirinya dan bersikap seolah ia tidak merasa takut. "Bismillah aja Pak. Ya udah, saya permisi." Ucap Kirana lalu berbalik dan melangkah dengan cepat dan dengan hati yang masih merasa tidak karuan.


Beni pun menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya melihat kepergian Kirana. Ia juga tidak bisa memaksa Kirana. "Dia sangat keras kepala." Gumamnya lalu berbalik dan menyusul Rendy yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil.


Rendy duduk bersandar dibelakang dengan lengannya menopang dipintu sambil memijit pangkal hidungnya. Ia masih merasakan pusing dan pikirannya juga masih tertuju pada Kirana.


Kenapa sekarang, ia jadi sering memikirkan Kirana dan tanpa sadar melupakan Olivia?


"Bos?" Beni memanggil Rendy.


"Hmm." Rendy menjawab dengan deheman.


"Mbak Kirana menolak untuk diantar." Ucap Beni sambil menatap Rendy melalui kaca spion didepannya.


"Lalu?" Tanya Rendy dengan menatap kearah Beni.


"Aku rasa, dia nolak karena sikap kamu yang ketus kepadanya." Jawab Beni terus terang.


"Jadi kamu mau nyalahin aku?" Tanya Rendy dengan menatap Beni tidak suka, membuat Beni terdiam tidak ingin membuat sang Bos semakin marah karena suasana hatinya saat ini sedang tidak baik.


"Udahlah Ben. Makin pusing akunya. Cepet anter aku pulang!" Lanjut Rendy yang terlihat tidak peduli dengan Kirana.


"Oke Bos." Ucap Beni. Ia segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya.


Didepan ia melihat Kirana yang berjalan ditrotoar dan ia mematikan lampu utama mobil lalu memperlambat laju mobilnya, mengikuti Kirana.


Rendy yang merasakan kalau mobilnya jadi melambat, ia mengernyit lalu menatap kedepan. Saat ia ingin memarahi Beni, pandangannya mengarah pada sosok Kirana yang terlihat berjalan sendirian ditrotoar. Ia pun tidak jadi memarahi Beni. "Ben, hentikan mobilnya!" Titah Rendy dan seketika Beni menghentikan laju mobilnya.


................