Because, I Love You

Because, I Love You
#124



"Ini sudah mau pulang." Jawab Kirana dengan wajah tanpa ekspresinya lalu melirik Nayla sekilas. "Em..kalau gitu saya permisi dulu Pak." Lanjutnya dengan formal dan sangat sopan juga memanggil Pak pada Rendy.


Tanpa menunggu jawaban dari Rendy, Kirana langsung beranjak pergi. Tapi, Rendy juga tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dia meraih pergelangan tangan Kirana membuat Kirana menghentikan langkahnya dan berbalik menatapnya.


"Kenapa nggak bales pesanku?" Tanya Rendy yang membuat Nayla langsung menatap kakaknya bingung lalu menatap Kirana.


Kirana mengerjap kemudian mencoba melepaskan tangannya dari Rendy, tapi Rendy memegangnya dengan erat dan Kirana tidak bisa melepasnya. "Maaf Pak, hape saya mati. Memangnya ada urusan apa ya?"


Rendy mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Kirana yang bicara dengan formal kepadanya. Rendy yakin, kalau kekasihnya ini pasti sedang marah. Hanya, dia masih belum menyadari apa yang sudah membuatnya marah?


Beni yang masih berdiri disana pun bisa menebak kalau Kirana sedang marah kepada Bosnya.


"Kamu marah?" Tanya Rendy dengan heran. Bukankah, seharusnya dia yang marah karena sejak sore tadi, Kirana tidak membalas pesan darinya.


"Eeeh! Tunggu tunggu!" Akhirnya Nayla pun dengan paksa melepas genggaman tangan kakaknya pada pengelangan tangan Kirana. "Ini sebenarnya ada apa ya? Kamu karyawan di sini?" Lanjutnya bertanya dengan menatap Kirana.


"Iya, saya karyawan di sini." Jawab Kirana dengan sopan.


"Oh, hanya karyawan. Dibagian apa?" Tanya Nayla menyelidik.


"Nay, kamu ngapain sih kepo banget?" Sela Rendy dengan tidak suka dengan kebiasaan adiknya ini yang selalu kepo dengan orang yang terlihat dekat dengan kakaknya apalagi seorang wanita.


Kirana pun masih terdiam. Dia hanya ingin segera pergi dari sini.


"Ya jelas kepo lah! Kak Rendy seorang Bos di sini, tapi pegang-pegang tangan karyawan perempuannya kaya gitu! Nggak seharusnya perlakuan seorang atasan kaya gitu ke karyawannya! Apalagi karyawan perempuan! Bisa-bisa mencoreng nama baik kakak tauk?!" Ucap Nayla dengan menggebu dan seketika membuat hati Kirana mencelos.


"Nay, jaga bicara kamu! Jangan sembarangan kalau ngomong!" Rendy pun memarahi adiknya.


"Em, maaf ya. Sudah malam, saya harus segera pulang. Permisi!" Sahut Kirana dengan menunduk sopan kemudian segera pergi dengan langkah cepat dan jantung yang berdegup kencang juga hati yang bergemuruh.


Selain merasa sangat cemburu dengan perempuan yang belum tau dia siapanya, hati Kirana merasa sakit dan kecewa dengan ucapan Nayla.


"Ucapannya memang benar. Bos besar, seorang pimpinan perusahaan seperti Mas Rendy, nggak seharusnya punya hubungan dekat sama karyawan sepertiku. Apalagi, kita udah menjalin hubungan bahkan udah pernah hampir nikah." Gumam Kirana dengan pelan sambil terus berjalan karena dia belum mendapatkan taksi.


Kirana kembali tersadar siapa dirinya. Kata-kata "mencoreng nama baik" yang diucapkan Nayla benar-benar membuat hati Kirana terasa sakit. Serendah itukah dirinya?


'TIN TIN TIN!'


Kirana meminggirkan jalannya saat mendengar suara klakson mobil dari belakang.


'TIN TIN!'


"Iiih ngapain sih masih bunyiin klakson?! Udah minggir juga jalannya!" Gerutu Kirana sengan kesal tanpa menoleh dan masih terus berjalan ditepian jalan.


'TIIIIIIIN!'


Seketika Kirana menghentikan langkahnya lalu mendengus dan berbalik dengan wajah galaknya siap memaki siapapun orang yang telah membunyikan klakson mobil.


Kirana segera berbalik dan melangkah lagi dengan cepat. Tapi, Rendy berhasil menahan langkahnya. Dia menarik tangan Kirana. "Kamu kenapa sih? Marah nggak jelas gini! Harusnya aku yang marah, dari tadi aku kirim pesan ke kamu, tapi nggak ada balesan dari kamu!" Rendy pun memarahi Kirana.


Kirana menatap heran dan menggelengkan kepalanya lalu menghempaskan tangannya hingga genggaman Rendy terlepas. "Marah nggak jelas kamu bilang? Sebaiknya kamu nggak perlu ngejar aku Mas! Bukannya kamu udah dijemput sama pacar baru kamu itu yang jauh lebih pantes sama kamu?! Daripada sama aku yang cuma gadis kampung dan cuma karyawan biasa diperusahaan kamu yang bisa mencoreng nama baik kamu!" Ucap Kirana dengan penuh emosi dan dikalimat terakhirnya terdengar nada suara yang bergetar karena menahan tangisnya.


Rendy mengernyit mendengarnya. Dia kemudian malah terkekeh geli. "Astaga Ki! Jadi, kamu cemburu sama Nayla?" Tanya Rendy dengan menyebut nama Nayla membuat hati Kirana semakin bergemuruh. Tapi, Kirana hanya bisa dan memalingkan wajahnya. "Ayo masuk ke mobil." Lanjut Rendy sambil meraih tangan Kirana kembali, tapi Kirana menepisnya.


"Nggak mau! Aku mau naik taksi aja!"


"Ki, jangan mulai deh. Aku baru pulih dan kamu udah marah-marah nggak jelas sama aku, kamu tega ya?"


Kirana terpaku dan terdiam. Dia pun tersadar kalau sikapnya ini mungkin sangat berlebihan dan keterlaluan juga kekanakan. Dia memang sedang marah saat ini. Dia marah karena cemburu. Dia juga merasa terhina karena ucapan Nayla tadi.


"Udah ayo, kita masuk ke mobil. Aku anter kamu pulang." Ucap Rendy dengan lembut dan meraih tangan Kirana lalu mengajaknya masuk ke mobil.


Rendy membukakan pintu untuk Kirana dan memakaikan sabuk pengaman. Dia menutup kembali pintu mobilnya dan masuk disisi lain dibagian kemudi.


Kirana masih terdiam setelah mobil melaju.


Rendy menggenggam tangan Kirana dengan sebelah tangannya. "Nggak seharusnya kamu cemburu sama Nayla, Ki." Ucap Rendy memecah keheningan sekaligus membuat Kirana langsung menatapnya tanpa kata. "Dia itu calon adek ipar kamu." Lanjut Rendy dengan menoleh menatap Kirana sekilas dan tersenyum.


Sebenarnya, dia masih merasa trauma untuk mengendarai mobil sendiri. Tapi, dia tidak bisa membiarkan Kirana pergi begitu saja sendirian. Apalagi ini sudah malam.


Dia pun menyuruh Beni mengantar Nayla dan dirinya segera mengejar Kirana.


Mendengar ucapan Rendy, Kirana kembali merasa sangat terkejut sekaligus malu karena sudah cemburu dan marah-marah tidak jelas. "Calon adek ipar? A-apa maksud kamu Mas?" Tanya Kirana dengan gugup dan masih dengan perasaan malunya.


"Nayla itu adek aku." Jawab Rendy sambil melirik dan tersenyum pada Kirana.


"Jadi..dia..dia itu adek kamu Mas? Adek kandung atau..."


"Adek kandung satu-satunya dan kesayanganku." Sahut Rendy memotong ucapan Kirana.


"Ya ampun, malu banget deh aku udah marah-marah karena cemburu." Gumam Kirana dengan suara pelan dan menunduk.


Rendy kembali terkekeh geli. "Ya udah, kita makan dulu. Aku laper belum makan. Kamu juga belum makan kan?"


Kirana hanya mengangguk dan tersenyum manis sebagai jawaban dari pertanyaan Rendy.


Rendy melajukan mobilnya menuju sebuah restoran yang biasa dia datangi bersama Kirana.


Dalam hati, Kirana begitu merasa bahagia. Akhirnya, Rendy kembali dan sekarang dia bisa bersama lagi dengannya.


Senyum manis yang telah lama meredup diwajahnya, kini terlihat bersinar kembali.


................