
Joe tidak dapat lagi menahan diri kali ini, rasa benci, dendam, marah, cemas, takut, gelisah, seakan semua bersatu untuk mendorongnya menjadi sosok yang keluar dari sisi baiknya.
Dia masih berusaha tetap tenang memasuku ruangan kembali. Beberapa kali ia menarik nafas dalam dan di hembuskan perlahan.
"Ehm... Teman-teman, aku minta maaf pada kalian." Ujar Joe tiba-tiba.
"Eh, minta maaf? Ada apa? Apa kau berbuat salah Joe?" Tanya Lisa heran.
"Ti,tidak. Tapi aku hanya ingin meminta maaf atas semua sikap ku selama bergabung dengan kalian. Aku sudah membuat kalian sempat kecewa padaku karena telah menyakiti hati Pelangi."
"Cih, sudah masa lalu. Untuk apa kau membahasnya lagi?" Ujar Jeni cetus.
Lucas mengangguk mengiyakan ucapan Jeni.
"Aku.. Aku berjanji akan menjadi lebih baik, tidak akan pernah menyakitinya dan membuatnya kecewa lagi. Aku akan melindunginya aku akan menjaganya selalu sampai akhirnya kita menikah nanti."
"Pffftt... Hei, bicaramu itu seperti orang tua saja." Ujar Lisa tertawa geli.
"Sa, aku serius. Apakah kalian tidak mendukungku lagi untuk bersama Pelangi?"
"Hah, Joe. Kau tahu jawabannya, sebagai sahabat Pelangi kita hanya akan mendukungnya apa yang menurut dia terbaik. Karena apapun yang orang bilang baik, tapi baginya tidak. Itu sama saja, kami bukan team pemaksa." Jawab Jeni dengan tegas.
"A,aku... Hahaha, pangeran ku yang tampan. Aku, aku akan selalu berdoa yang terbaik. Hanya itu yang bisa aku lakukan."
"Lucas, You are the best friend." Jawab Jeni mengacungkan jempol.
Hah, sial Jeni. Sejak awal dia memang selalu peka dan menakutkan, selalu serba awas dan tanggap.
"Jika aku meminta kalian jujur, siapa yang kalian pilih, aku atau Exelle?"
Tampak semua terdiam menatap Joe heran.
"Hahaha, ayolah jangan menatapku begitu. Ini, ini... Hanya pikiranku saja."
"Apakah kalian percaya jika Exelle itu sungguh orang yang baik?"
"Yaaah... Semua orang punya sisi buruk, tapi yang ku lihat selama ini Princess cold nyaman berteman dengannya. Bahkan selama ujian mereka sering belajar bersama ketika pulang sekolah." Ujar Lisa keceplosan. Seketika dia menyadari kesalahannya karena Jeni mencubit pahanya.
"Ups... E,eh.. Maksudku, mereka kadang tanpa sengaja bertemu lalu belajar bersama. Dan, dan kita... Kita juga ikutan kok. Iya kan Jen?" Lisa melempar kesalahannya pada Jeni.
Jeni hanya menghela nafas panjang dan melirik Joe ragu. Sementara Lisa menepuk-nepuk kedua bibirnya karena merasa telah melakukan kesalahan, sudah pasti Joe terbakar api cemburu kali ini.
Aaaaaarght... Brengsek kau Ex, diam-diam kau sudah lebih dulu menantangku sebelum aku mengajakmu berperang. Apa ini yang kau bilang tidak ingin menjadikan Pelangi bahan taruhan? Nyatanya kau lebih gesit bertindak.
Tak berapa lama kemudian, Pelangi kembali memasuki ruangan. Hening seketika, Joe mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat.
"Ayo, kita pulang. Ini sudah larut, aku sudah sangat ngantuk." Ajak Pelangi kemudian sembari merapikan dresnya.
"Ah, ya. Aku juga sudah lelah, suaraku hampir habis." Jawab Lisa meraih tasnya.
"Tunggu. Tunggu, aku masih punya sesuatu untuk kalian." Bantah Joe menahan mereka lalu beranjak berdiri.
"Apa lagi sih, Joe?" Tanya Jeni cetus.
Lalu Joe menghampiri Pelangi dan menyuruhnya duduk di tempatnya kembali. Pelangi menurut dengan kebingungan.
"Tunggu disini. Kalian santai saja disini sejenak, aku akan mengambil sesuatu itu. Ini khusus untuk kalian, hem.." Titah Joe penuh semangat.
"Iiih, pangeranku selalu penuh kejutan. Apakah itu sesuatu yang special untuk ku?" Ujar Lucas dengan manja.
"Tepat sekali. Hihi, oke. Aku akan segera kembali, kalian bersenang-senanglah dulu."
"Aaah, baiklah baiklah. Kita tunggu kejutan dari Joe. Lagipula, kapan lagi kita akan menghabiskan malam berkumpul bersama begini." Ujar Pelangi. Mendengar titah dari sang Princess cold, ketiga sahabatnya menuruti lalu Joe beranjak keluar dengan tawa puas.