Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 185



Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa kini Pelangi sudah berusia 16 tahun. Saat ini dia duduk di bangku kelas dua SMA kesehatan Favorite dan ter elit di kota kami tinggal. Dia tumbuh sebagai gadis remaja yang sangat cantik, dengan rambut lurus hitam sebahu, dengan postur tubuh nya yang tinggi bak model, kulitnya yang putih bersih, dengan kedua bola mata yang lebar tajam bila memandang, membuatnya terlihat semakin elok. Dan dia pun selalu tampil trandy dan modis, sepertinya itu sudah menjadi hal permanen dari gaya ku saat masa remaja dulu.


Banyak yang tidak percaya jika aku berjalan dengannya, kerap kali kami disebut sebagai kakak dan adik. Meski kini usia ku telah melewati kepala tiga, sekaligus memiliki tiga anak. Aku selalu berusaha untuk merawat dan menjaga tubuhku untuk tetap tampil cantik dan seksi, agar kelak aku tetap bisa menjaga keutuhan rumah tangga ku dengan Irgy. Laki-laki yang selalu setia menemaniku hingga kini, meski begitu banyak godaan yang silih berganti menghampiri.


Namun satu hal yang tidak pernah terlihat dan berubah dari diri Pelangi. Meski dia selalu berhasil menjuarai serta menjadi bintang kelas, dan penurut, namun sejak hari itu. Sejak dia harus terpisah kembali dari sosok teman masa kecilnya yang membuatnya selalu menangis diam-diam, Pelangi tidak pernah lagi tersenyum ceria dan selalu memilih untuk menghindari sebuah pertemanan dengan lawan jenis. Dia pun selalu berhati-hati dalam memilih teman wanitanya.


Tapi semenjak lahir kedua adik kembarnya, Pelangi sedikit terlihat berubah. Terkadang dia terhibur dan tersenyum melihat tingkah adik-adik kembarnya, walau itu hanya sesekali terjadi. Itu sudah membuatku sedikit lega, dan saat pergi ke sekolah pun dia selalu menolak untuk kami antar dengan supir pribadi yang sengaja Irgy pekerjakan untuk nya.


"Ma, Pa, Pelangi pergi ke sekolah dulu." Ucapnya pagi ini, mencium punggung tangan ku dan Irgy bergantian tanpa senyuman keceriaan di wajahnya. Kemudian mengecup pipi ku dan hendak berlalu pergi.


"Pelangi, jangan lupa pergi dengan pak supir. Dia sudah menunggu mu di luar," Ujar Irgy.


"Ya ya ya, baiklah. Lakukan apa saja yang papa dan mama inginkan," Jawab Pelangi dengan helaan nafas panjang.


Aku tidak bisa lagi memberinya jawaban lain apabila dia sudah mengeluarkan kata tersebut sebagai senjata ampuhnya selama ini. Ucapan itu selalu membuatku dan Irgy membatu, bagai tercekik di tenggorokan kami.


"Mama, mau nambah mamam." Jawab kedua putra kembar ku. Rafa dan Rafi, Kini mereka sudah tumbuh menjadi anak-anak yang tak kalah menggemaskan juga pintar,


"Anak pintar, setelah ini mama akan antar kalian ke sekolah ya." Jawab ku. Mereka membalas dengan senyuman nyengir padaku.


🌻🌻🌻


Di sekolah Pelangi, di balik sikapnya yang cuek pada teman lelaki di sekolahnya banyak pula teman-teman lelakinya yang mengejarnya untuk menjadikan Pelangi sebagai pacar. Namun Pelangi selalu menemukan alasan untuk menolaknya tanpa menyakiti hati mereka sedikitpun, itu sebabnya.. Ada sebagian gadis dari kelas lain yang membencinya karena merasa tersaingi.


Sementara Pelangi juga memiliki tiga orang teman, dua gadis yang juga terkenal cantik dan sedikit tomboy, dan satu laki-laki namun berlagak layaknya seorang wanita, itu sebabnya Pelangi mau menerimanya sebagai teman baik yang terbentuk dalam satu geng di kelasnya. Jeni yang sedikit tomboy, Lisa yang memiliki gaya modis dan halu tinggi, pecinta oppa-oppa korea, dan Lucas. Laki-laki yang berparas wanita, yang selalu menjadi penghibur Pelangi selama di sekolah.


Mereka saling mengenal dan dekat ketika awal masa orientasi siswa, mereka tergabung dalam satu kelompok hingga kini menjadi sebuah bentuk geng dalam pertemanan yang begitu erat dan saling setia. Pelangi sempat tidak melihat paras Lucas yang demikian, namun dia selalu mendapat nilai bagus setiap kali tugas sebagai calon perawat yanh di cita-citakannya.


Saat Pelangi turun dari mobil mewah yang mengantarnya ke sekolah, dua orang sahabatnya itu, Lisa dan Jeni sudah menunggunya di depan pintu gerbang yang baru saja turun juga dari mobil.


"Oh my God, my Cold Princess. Pantas saja, ponsel ku pagi ini sepi tanpa titah dari mu. Ternyata sudah memakai kandidat pribadi nih, iya gak Jen?" Sapa Lisa dengan bibirnya yang tipis dan sedikit lebar, melirik ke arah Jeni di sampingnya.


"Hem, bener tuh." Jawab Jeni mengiyakan.


"Tsk... Apaan sih? Aku hanya malas terus menerus mendengar mama dan papa ku memaksa untuk diantar oleh pak supir yang sengaja mereka pekerjaan untuk ku dengan alasan..."


"Aah, kalian bahkan sudah menghafalnya." Ujar Pelangi yang kemudian berjalan melewati mereka memasuki halaman sekolah.


"Hahaha, bagaimana tidak? Kita sudah bersama sejak awal masuk di sekolah ini, bahkan kami juga tahu jika kau masih saja diam-diam menangisi nama teman masa kecilmu itu bukan?" Ucap Lisa dengan terus berjalan di belakang Pelangi. Langkah Pelangi terhenti dan menoleh ke belakang seketika menatap Lisa.


Dengan cepat Jeni menutup mulut Lisa dengan sedikit ketakutan akan tatap dari kedua mata Pelangi yang begitu tajam mematikan.


"Hahaha, maksud Lisa.. Eh, ah.." Jeni kebingungan untuk memberikan alasan akan ucapan Lisa tadi. Sejak awal Pelangi selalu marah dan tersinggung jika seseorang mengetahuinya sedang menangis diam-diam dan tetap membahasnya sebagai bahan olok-olokan.


"Aw !!! Ah," Jeni memekik saat Lisa menggigit tangannya yang membungkam mulut Lisa.


"Tuan puteri, aku tidak bermaksud menyinggung mu. Jangan marah, aku hanya tidak sengaja mengucapkannya." Ucap Lisa dengan panik.


Tampak Pelangi menghela nafas panjang menggelengkan kepalanya menatap Lisa dan Jeni bergantian.


"Kalian sudah seperti saudara bagi ku. jadi pliss.. Jangan menjadikan itu bahan candaan untuk menggoda ku. Kalian mengerti?"


"Siap tuan puteri. Aku tidak akan mengulanginya," Jawab Lisa dengan memberikan sikap seolah dia mematuhi titah seorang puteri kerajaan. Pelangi membelalakkan kedua matanya melihat tingkah Lisa, sahabatnya itu.


"Lisa, bisakah kau berhenti untuk bersikap seolah ini sedang berada dalam gedung kerajaan? Tingkah mu ini menyakitiku." Ucap Pelangi dengan kesal lalu kemudian pergi dari hadapan Lisa dan Jeni.


"Pelangi, hey tunggu. Aaah, dasar gunung es. Apakah hari ini jadwalnya mendapat tamu bulanan? Kenapa dia mudah tersinggung dan marah?" Ucap Lisa pada Jeni.


"Haduuh, apa kau lupa. jika Pelangi memang tidak pernah suka kita menggodanya seperti tadi. Entah apa alasannya, dia tidak pernah membuka mulut dan bercerita pada kita." Jawab Jeni dengan tarikan nafas dalam-dalam.


"Apakah dia tidak lelah selama satu tahun ini. Dia jarang tertawa atau tersenyum lepas, bahkan nyaris tidak pernah sekalipun. Hanya Lucas yang saat itu berhasil membuatnya tertawa bukan?"


"Kau benar Lisa, tapi setelah itu dia kembali diam-diam menitikkan air mata."


"Ya, kau benar Jeni. Apakah sahabat kita ini memiliki kisah masa lalu yang pahit atau masalah dalam keluarganya?" Ucap Lisa kembali.


"Ku pikir tidak, siapa yang tidak kenal dengan kedua orang tua Pelangi. Papa nya terkenal pebisnis handal dan toko-toko perhiasan yang di kelola nya mulai membuka cabang dimana-mana. Pelangi pasti sangat bahagia dengan di kelilingi kemewahan."


"Hah, entah lah. Sepertinya begitu, ayo kita masuk kelas menyusulnya." Ajak Lisa yang kemudian merangkul leher Jeni menuju kelas mereka menyusul Pelangi yany lebih dulu sampai di kelas.