
Irgy sudah kembali tiba dirumah, dengan banyak hadiah mainan yang dia sengaja beli untuk Pelangi. Pagi ini Pelangi sudah siap pergi ke sekolah seperti biasa. Kemudian Irgy memberinya kejutan, karena saat tiba dirumah malam tadi Pelangi sudah tertidur lelap.
"Pagi tuan puteri.." Sapa Irgy pada Pelangi.
"Kyaaa... Papaaaa," Teriak Pelangi dengan berlari memeluknya erat.
"Houp, wah... Baru saja papa tidak melihatmu sejak kemarin tapi sepertinya anak papa ini sudah semakin besar. Hehe," Ucap Irgy sembari menggendongnya.
"Papa, Pelangi kangen." Ujarnya dengan mengecup pipi Irgy kemudian.
"Ehm, papa juga merindukan mu sayang. Papa punya sesuatu untuk mu," Ucap Irgy dengan menurunkan Pelangi setelah berada di bawah tangga.
"Ini..."
Irgy mengeluarkan sebuh kotak mainan edukasi anak tentang profesi seorang dokter. Lengkap dengan seragam nya, Pelangi begitu terperangah melihatnya.
"Apa kau menyukainya sayang?"
"Sangat suka pa, makasih.."
"Papa senang jika kau menyukainya, dan ini untuk Lucky."
"Ah, Lucky?" Tanya Pelangi dengan heran.
"Iya, ini hadiah dari papa untuk teman mu Lucky."
"Yeay yeay, makasih pa. Aku saayang papa, mmuach." Pelangi sangat riang menerima hadiah itu untuk Lucky.
"Sayang, ayo kita berangkat. Nanti kita kesiangan," Ucap ku pada Pelangi. Yang kemudian dia menurut turun dari dekapan Irgy sejak tadi.
Lalu Pelangi menatapku sejenak, dengan heran melihat ke arah bagian leherku yang tanpa sengaja rambut ku terkibas ke belakang.
"Mama, apa itu?"
Aku berbalik menatapnya heran.
"Itu ma, di leher nama ada apa?"
Astaga !!!
Aku terhentak, dengan cepat merapikan rambutku untuk menutupinya. Ku lihat Irgy cekikikan sendiri mengerti lebih dulu yang di tanyakan oleh Pelangi.
"Semalam mama tergores kuku, karena kuku mama begitu panjang. Nah, jadi Pelangi rajin-rajin potong kuku ya." Jawab Irgy mengambil alih menjelaskan lebih dulu.
Tampak Pelangi mengecek kuku-kuku di jemarinya yang mungil.
"Kuku Pelangi sudah bersih Pa," Jawab Pelangi dengan polosnya.
"Bagus. Ayo berangkat kesekolah,"
"Yeay, sekolah." Teriak Pelangi kembali. Berlari lebih dulu menuju halaman depan, aku dan Irgy menyusulnya. Sejak tadi Irgy masih cekikikan, aku menatapnya tajam.
"Berhenti menertawaiku. Ini semua karena mu, huh."
"Maafkan aku, sebab aku terlalu rindu dan gemas melihatmu. Ehm, sayang. Tunggu, untuk beberapa hari ke depan mungkin aku akan sangat sibuk di kantor. Penjualan perhiasan kita mengalami penurunan beberapa minggu ini. Aku harus segera menyelesaikannya agar normal kembali.
"Baiklah, tak apa. Asal kau ingat untuk pulang kerumah aku tidak masalah," Jawab ku jelas.
"Terimakasih atas pengertian mu sayang."
Aku tersenyum menanggapinya yang memeluk dan mengecup keningku.
🌻🌻🌻
Tiba di sekolah, Pelangi tak kunjung memasuki sekolah. Masih berdiri di halaman dengan tolah toleh seolah mencari seseorang. Aku tahu, dia menunggu dan mencari teman yang baru saja di akrab-inya.
Sesaat kemudian Lucky datang dari arah belakang ku di temani oleh pengasuhnya seperti biasa. Dia melempar senyum lebih dulu padaku tanpa sepengetahuan Pelangi, aku mengernyitkan alisku memberikan isyarat pada Lucky.
"Ehhem."
Lucky berdehem di sampingku. Pelangi menoleh seketika, dengan wajah sumringah Pelangi menghampiri.
"Lucky," Panggilnya dengan riang.
"Hem, aku punya hadiah. Ini dari papa ku, untuk mu. Papa ku baik kan?" Ucap Pelangi memberikan kotak hadiah yang di berikan papa nya tadi untuk Lucky.
Lucky begitu senang, tanpak jelas di wajahnya penuh keharuan. Aku berpikir, mungkin kah dia baru pertama kali mendapat hadiah dari orang lain? Ekspresinya berkata demikian.
"Eh tunggu sebentar," Ucap Pelangi kembali menghentikan kedua tangan Lucky yang hendak meraihnya.
Lucky kebingungan. Lalu Pelangi menyentuh kedua tangannya, membuatku semakin heran. Apa yang akan dilakukannya pada Lucky.
"Oh, kuku mu bersih. Bagus..." Ucap Pelangi meniru gaya Irgy berbicara.
Oh Tuhan, haruskah aku tertawa dalam hal ini???
"Kuku ku selalu bersih, karena bibi ku ini selalu rajin membersihkannya. Lalu, apakah aku sudah boleh menerima hadiah itu?"
"Upz, ini." Pelangi memberikan hadiah itu kembali.
Aku dibuat gemas dengan tingkah mereka, sesekali aku melirik pada pengasuh Lucky. Dia menatap nya dengan senyuman bahagia akan ekspresi Lucky yang senang.
"Wow, miniatur mobil sport berlapis perak. Ini sangat menakjubkan, aku suka." Ucap Lucky dengan kedua bola matanya terbelalak melebar.
Pelangi menatapnya dengan heran.
"Upz.. Maafkan aku," Ucap Lucky dengan wajah merona.
Dia semakin cute dengan sikap malunya ini. Anak manis, kau harus tetap menjadi teman baik Pelangi.
Ucapku dalam hati.
"Permisi nona, bagaimana aku harus mengucapkan terimakasih untuk anda dan suami anda yang telah memberikan hadiah begitu bagus untuk tuan muda kami."
Tiba-tiba wanita pengasuh itu menyapaku.
"E,eh.. Tidak usah, jangan sungkan. Ini hanya hadiah kecil untuk Lucky karena berteman baik dengan Pelangi, kami sangat berterimakasih Lucky selalu menjaga Pelangi selama di kelas."
"Tapi nona, kami harus membalasnya. Itu sudah aturan dari keluarga tuan muda."
Ya Tuhan, apa segitunya?
"Hey, sudah lah. Jangan begitu, lupakan. Kami ikhlas memberinya hadiah itu."
"Kami tahu hadiah ini cukup mahal, terimakasih banyak nona."
"Oh, eh. Hahaha, ah sudah lah jangan sungkan begitu." Ucapannya itu berkali-kali membuatku merasa tidak nyaman dan salah tingkah.
Entah lah, seperti apa kehidupan sehari-hari mereka itu. Sikap merekatl terkadang kaku dan sangat disiplin, bak kehidupan dalam kastil kerajaan. Apakah Lucky anak dari seorang raja inggris? haha, aku tertawa geli dalam hati.
"Bi, simpan ini dengan baik di kamar ku. Jangan sampai lecet ya bi.."
"Baik tuan muda, akan saya jaga baik-baik dengan jiwa raga bibi sekalipun." Ucap wanita itu menanggapi ucapan Lucky.
Pfftt... Hahaha, coba lihat. Adegan ini, aaarght... Aku ingin teriak rasanya.
"Langi, ayo kita masuk." Ucap Lucky kemudian ada Pelangi.
"Aayo, Eh tunggu. Bye mama, muach." Jawab Pelangi dengan memberikan kecupan di pipi ku.
Kemudian Pelangi berjalan menyusuri halaman sekolah yang begitu luas, beriringan dengan Lucky saling melempar senyuman ceria. Meski Lucky selalu terlihat kaku dan menjaga sikapnya, tapi sungguh ini pemandangan yang menggemaskan.
Karena pada akhirnya Pelangi kembali mau berteman dengan lain jenis, dia kembali ceria, dia kembali terbuka dengan teman lawan jenisnya. Sejak perpisahannya dengan Tama saat itu, aku sempat dibuatnya khawatir.
Pelangi lebih banyak diam, cuek, meski sesekali dia manja padaku dan Irgy. Namun keceriaan nya lebih banyak diam ketika kami bertanya sesuatu hal lainnya, saat itu bagi Pelangi Tama adalah teman pertama kali yang sangat dekat dengannya.
Tama selalu mampu menandingi sikap Pelangi yang kadang egois dalam bermain. Itu karena Tama lebih dewasa usianya, tapi tidak bagi ku. Mereka adalah anak-anak yang bisa saling mengisi kebersamaan, mengerti satu sama lain.
Begitu pula Lucky saat ini, aku tidak tahu siapa sosok yang melahirkan anak begitu menakjubkan dan pandai penuh santun sepertinya. Sejak pertemuan di mall hari itu, terkadang aku menganggap jika dia adalah anak Kevin. Sikap lembutnya terkadang membuatku benar-benar meyakini jika dia adalah anak dari Kevin.
Aaaarght... Entah lah, anak itu begitu misterius. Aku baru saja hendak mencoba untuk berbicara kembali pada wanita pengasuh Lucky ini, setelah ku sadar dari lamunan ku akan sosok anak itu, wanita pengasuh tadi sudah menghilang dari hadapan ku.
Ya ampun Tuhan...