Because, I Love You

Because, I Love You
#7



Malam harinya.


Di rumah sederhana yang ditempati Kirana, Kirana merasa cemas.


Lamaran kerjanya di perusahaan yang menjadi impiannya juga semua teman-temannya tidak diterima.


Kirana merasa gagal. Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada Ibunya nanti.


Dia ingin tetap tinggal di ibu kota, tetapi dia bingung harus mencari pekerjaan di mana lagi sedangkan dia masih belum hafal kota ini.


Tok, Tok, Tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah.


Kirana tersadar dari lamunannya. "Siapa ya?" Gumamnya kemudian segera berjalan dengan tertatih keluar kamar menuju ruang tamu dan membuka pintu.


"Malam, Kirana." Ucap seorang pria tampan dengan senyum ramahnya ketika Kirana membuka pintunya.


"Kak Haris? Malam, kak. Ada apa ya?" Balas Kirana dengan ramah.


"Aku cuma mau nganter ini, disuruh Bunda." Ucap pria yang bernama Haris, anak sulung Bunda Siti, tetangga seberang rumah Kirana.


Haris mengantarkan makanan bikinan Bundanya untuk Kirana. Setengahnya karena memang disuruh Bundanya. Setengahnya lagi karena dia ingin melihat Kirana.


"Oh, ya ampun...makasih banyak ya, kak. Bunda kenapa repot-repot segala sih?" Ucap Kirana sambil menerima tempat makan yang berisi masakan buatan Bunda Siti.


"Sama sekali enggak repot kok. Bunda tadi cerita kalau kamu lagi sakit. Terus, gimana sakitmu?" Tanya Haris dengan menatap lengan dan kaki Kirana yang masih dibalut perban.


"Eum...aku baik-baik aja kok, kak. Makasih ya." Jawab Kirana dengan tersenyum.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik aja." Haris kemudian segera pamit pergi karena malam ini sudah ada janji dengan temannya. "Ya udah, kalau gitu aku pergi dulu ya, Ki."


"Iya, Kak. Sampaikan terima kasihku ke Bunda Siti ya."


"Beres."


Setelah Haris pergi, Kirana menutup pintunya dan melangkah masuk menuju meja makan. Meletakkan tempat makan yang berisi makanan lalu duduk di sana.


Kirana membuka tempat makan itu dan mencium aroma masakan yang seketika membuat perutnya berbunyi krucuk-krucuk.


Kirana pun segera melahap semua makanan itu.


...


Di kediaman Pradipda.


Selesai makan malam, Rendy ingin keluar sekedar melihat suasana kota metropolitan di malam hari. Ia sudah belasan tahun tidak tinggal di sini, jadi ingin sekali tahu perkembangan kota kelahirannya yang sekarang menjadi semakin ramai dan padat penduduk.


"Bos, mau pergi sekarang?" Tanya Beni yang selalu siap mengantar sang Bos kemana saja.


"Hmm." Jawab Rendy sambil berjalan keluar.


Rendy segera masuk kedalam mobilnya dan pergi dengan diantar Beni.


Dia merasa senang bisa kembali ke tanah air dan tinggal di kota kelahirannya lagi. Meski jalanan di kota ini selalu ramai dan sering macet, Rendy tetap lebih merasa nyaman tinggal di sini.


"Mau ke mana, Bos?" Tanya Beni sambil melirik ke kaca spion melihat Rendy.


"Cari Club yang bagus." Jawab Rendy.


"Baik,Bos."


Beni melajukan mobilnya sambil sesekali melirik MAP ke tempat yang ingin di tuju sang Bos.


Tak lama, mobil yang dikendarainya berhenti di Club malam terbaik yang ada di kota ini.


Kehidupan Rendy selama hampir delapan belas tahun di London, membuatnya terpengaruh dalam pergaulan bebas dan sering sekali mengunjungi Club malam bersama teman-temannya di sana.


Dentuman suara elektronic dance music langsung memekakkan telinga begitu masuk ke dalam Club.


Rendy dan Beni sampai menyipitkan matanya ketika sorot lampu diskotik yang berganti-ganti warna dan sorotnya mengarah kesana kemari dalam ruangan yang remang-remang ini.


Tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang begitu tampan, membuat banyak pasang mata wanita langsung mengarah ke mereka berdua.


Diskotik ini memang cukup luas, tetapi terasa begitu sempit karena banyak sekali orang yang berkumpul di sini. Entah itu hanya sekedar minum, menikmati musik, atau menggunakan waktu untuk bercumbu di sini.


Rendy dan Beni duduk di kursi yang ada di meja bartender dan memesan minuman. "Martell cordon Bleu!"


Rendy kemudian melirik Beni. "Temani aku minum."


"Kalau gitu, samakan aja." Beni pun ikut memesan minuman yang sama dengan Rendy.


"Oke, mau berapa gelas?" Tanya sang bartender dengan ramah.


"Satu dulu." Jawab Rendy.


Bartender segera menyiapkan minuman pesanan mereka berdua sambil mengajak mereka berbincang.


"Banyak cewek cantik yang pasti mau nemenin kalian." Ucap bartender itu sambil melirik ke segerombolan wanita yang juga sedang menatapnya juga menatap Rendy dan Beni.


Rendy mengikuti arah pandang bartender itu kemudian mendengus geli. Sedangkan Beni yang pada dasarnya berwajah datar dan dingin tidak terlalu mempedulikan perkataan bartender tersebut.


Rendy maupun Beni sudah tahu tentang seluk beluk dunia malam. Bukan hanya pria yang membayar seorang wanita untuk kepuasan waktu semata, namun beberapa wanita juga melakukan hal yang sama.


Rendy dan Beni kemudian meminum alkohol yang sudah ada di depan mata. Mereka mengernyit ketika merasakan rasa pahit dan manisnya alkohol itu yang membakar tenggorokannya.


Beni selalu menjaga kesadarannya saat menemani Rendy minum. Dia tidak pernah menolak ajakan sang Bos, namun dia juga tidak berani minum banyak agar tetap sadar.


Rendy terdiam sejenak, kemudian menyesapnya lagi. Mereka berdua hanya diam dan menikmati minumannya hingga ada seorang wanita yang menarik kursi tepat di samping kiri Rendy. Namun, Rendy tidak ambil pusing. Dia tetap diam sambil meneguk minumannya kembali.


"Mau pesan apa?" Tanya bartender tersebut kepada wanita cantik dan seksi di depannya.


"Samakan aja dengan dia." Jawab wanita itu yang menimbulkan lirikan tak kentara dari Rendy.


Wanita itu kemudian tersenyum manis menatap bartender itu dengan penuh percaya diri karena merasa sudah berhasil menarik perhatian dari laki-laki tampan yang ada di sampingnya ini.


"Martell cordon bleu?" Bartender itu memastikan. "Serius mau pesan itu? Kamu udah pernah minum sebelumnya?"


"Belum sih, tapi aku mau mencobanya, hehe." Jawab wanita itu masih dengan kepercayaan dirinya yang sama. "Aku mau coba minuman yang baru. Aku juga kuat minum kok."


Rendy yang mendengar itu hanya tersenyum kecil dan memilih tidak menghiraukannya. Sampai minuman yang sama dengannya disajikan di depan wanita itu dan wanita itu langsung meneguknya dengan cepat.


"Uhuk...uhuk!" Wanita itu langsung terbatuk dan tenggorokannya benar-benar langsung terasa terbakar. Bahkan kepalanya langsung pening dan perutnya mulas.


Rendy hanya mengernyit dan menggelengkan kepalanya masih tidak menghiraukannya. Dia baru bicara saat mendengar wanita itu memesan minuman itu lagi. "Sebaiknya jangan minum terlalu banyak."


Wanita itu langsung tersenyum tipis dan menyesap minumannya. "Emang kenapa?"


"Bahaya kalau seorang wanita mabuk sendirian." Jawab Rendy.


"Bisa dibungkus oleh laki-laki hidung belang maksudmu?"


Rendy hanya tersenyum kecil dan mengedikkan bahunya. "Kamu harus bisa menjaga diri sendiri."


"Kamu tenang aja." Ucap wanita itu kemudian menatap Rendy.


Dia memperhatikan penampilan Rendy yang terlihat keren. Lelaki ini tentu saja sangat tampan dalam sekali lihat. "Kamu hanya berdua saja?"


"Seperti yang kamu lihat." Jawab Rendy dengan ramah. "Apa kamu sendirian?"


"Seperti yang kamu lihat juga, hehe." Jawab wanita itu mengembalikan ucapan Rendy kemudian tertawa. "Kenalin, aku Lena."


Lena mengulurkan tangannya dan Rendy membalas jabatan tangannya. "Rendy."


Lena dengan sengaja mengusap genggaman tangan Rendy dan berharap bisa mengenal lebih dekat lagi dengan lelaki tampan seperti Rendy ini.


Namun, dengan cepat Rendy menarik kembali tangannya karena dia sudah langsung bisa membaca pikiran Lena.


Sikap ramahnya memang sering sekali membuat setiap wanita salah arti. Mereka mengira jika Rendy tertarik kepadanya.


Beni yang sejak tadi hanya diam, dia melirik ke arah Rendy dan Lena lalu menghela nafas. 'Gimana Olivia nggak cemburuan kalau melihat Bos mudah akrab dengan wanita, huh! Untung Olivia jauh, jadi aku nggak harus dibuat pusing untuk memberi penjelasan padanya.'


................