Because, I Love You

Because, I Love You
#57



Rendy tersenyum merasa dirinya menang karena akhirnya Kirana memilih untuk ikut dengannya ke apartment dengan syarat setelah lukanya diobati, ia akan langsung pulang. Tidak mau berlama-lama bersama Rendy.


Bukannya tidak mau, sebenarnya hatinya senang jika bersama Rendy. Hanya saja, ia masih trauma saja dan tidak ingin terjadi sesuatu lagi yang membuatnya semakin kecewa dan benar-benar akan membenci Rendy.


Kirana belum mengenal bagaimana Rendy. Begitu juga sebaliknya.


"Ayo masuk." Rendy mempersilahkan Kirana masuk kedalam apartmentnya tapi Kirana merasa ragu untuk masuk.


Merasa tidak sabar, Rendy pun menarik tangan Kirana dan membawanya masuk lalu menutup pintunya.


"Eeeh Mas! Kamu jangan macem-macem ya!" Pekik Kirana begitu Rendy menariknya masuk kedalam apartmentnya.


Rendy hanya diam lalu mendorong Kirana hingga terduduk disofa ruang tengah. Kirana semakin panik dan takut karena disini hanya ada mereka berdua saja.


"Aku mau pulang!" Seru Kirana sambil bangkit berdiri tapi Rendy yang berdiri didepannya menekan pundaknya agar Kirana tetap duduk.


"Kamu ini kenapa sih? Duduk dulu!" Tegas Rendy.


"Kamu yang kenapa?! Kamu mau ngapain?" Tanya Kirana sambil mendongak menatap Rendy dengan wajah paniknya.


Rendy membungkuk mendekatkan wajahnya pada Kirana dan Kirana langsung mundur hingga punggungnya bersandar pada sofa. "Mas! Jangan macem-macem ya?!" Pekik Kirana sambil mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya.


Rendy pun terkekeh geli melihat kapanikan Kirana. "Kamu pikir aku mau ngapain? Nggak usah GR!" Ucap Rendy sambil menegakkan tubuh tingginya lagi. "Udah duduk diem disini! Jangan coba-coba kabur!" Lanjutnya dengan menatap serius Kirana lalu berbalik dan berjalan masuk kedalam kamarnya.


Kirana terpaku dan terdiam lalu ia menoleh melihat punggung tegap Rendy yang baru saja masuk kedalam kamar.


"Mau ngapain sih dia?" Gumamnya merasa heran dan ia semakin waspada.


Tak lama, Rendy keluar dari kamarnya sambil membawa kotak P3K juga handuk kecil ditangannya dan berjalan menghampiri Kirana yang sedang memperhatikannya juga memperhatikan apa yang dibawa Rendy.


Rendy duduk disampingnya, membuka kotak P3Knya dan meletakkannya dimeja. "Pegang ini!" Ucapnya sambil menyodorkan handuk kecil yang dibawanya kepada Kirana.


Kirana masih terdiam dan memperhatikan Rendy yang kembali bangkit berdiri lalu berjalan menuju dapur. Tak lama, Rendy kembali dengan membawa baskom kecil berisi air hangat. Ia meletakkannya dimeja disamping kotak P3K lalu kembali duduk disamping Kirana.


Rendy merebut handuk kecilnya kembali membuat Kirana menatap bingung tapi ia hanya diam terus memperhatikan Rendy.


Rendy membasahi handuk dengan air hangat dan memerasnya. Ia menoleh menatap Kirana yang masih memperhatikannya.


Rendy menyerongkan posisi duduknya dan menghadap Kirana. Ia meraih dagunya membuat Kirana sigap dan menangkis tangan Rendy. "Eeh mau ngapain?" Tanyanya dengan masa melebar.


"Astaga Kirana! Bisa nggak? Buang jauh dulu pikiran kotor kamu ini!" Ucap Rendy menjadi kesal dengan sikap Kirana. Seketika Kirana terbelalak menatap Rendy. "Aku cuma mau ngompres lukamu!" Lanjutnya dengan menatap Kirana.


Kirana menelan ludahnya dan tiba-tiba wajahnya merona karena sangat malu sudah berpikiran buruk terhadap Rendy. "Sini, biar aku sendiri aja." Ucapnya sambil sedikit menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan wajah malunya.


"Udah kamu diem! Biar aku yang obati!" Tegas Rendy sambil kembali meraih dagu Kirana dan Kirana terdiam membiarkan Rendy mengompres luka dibibirnya akibat perbuatannya tadi.


Duuuh, kenapa aku jadi mikir yang enggak-enggak sih? Dia kan cuma mau ngobatin aku aja.


Gumam Kirana dalam hati merasa malu dan bersalah.


Setelah mengompres luka dibibir Kirana, Rendy meletakan handuknya kedalam baskom. Ia mengambil obat didalam kotak P3K untuk dioleskan dibibir Kirana yang terluka akibat gigitannya tadi.


Rendy mengoleskan obat tersebut di bibir Kirana dengan pelan dan hati-hati. Kirana sedikit meringis dan mendesis karena merasakan perih saat Rendy mengoleskan obatnya.


"Sakit ya?" Tanyanya dengan perasaan sangat bersalah.


"Aku minta maaf." Ucap Rendy dengan pelan dan penuh penyesalan telah menyakiti Kirana.


Kirana hanya diam tidak menghiraukan permintaan maaf Rendy.


"Aku terlalu banyak minum sampai nggak bisa mengendalikan diri dan nyakitin kamu. Maaf." Ucap Rendy lagi dengan menatap lekat Kirana yang juga menatapnya.


Kirana sedikit mengerjapkan matanya. Hatinya seketika menjadi luluh melihat ketulusan Rendy dan wajah Rendy yang terlihat menyesal.


Kirana kemudian memalingkan wajahnya dan menatap kearah lain. Hatinya kembali merasa kacau hingga ia bingung harus mengatakan apa kepada Rendy.


Rendy meletakkan obat olesnya kedalam kotak P3K kembali lalu meraih tangan Kirana dan menggenggamnya. "Dimaafin nggak nih?" Tanya Rendy dengan menatap dan menggenggam tangan Kirana.


Kirana kembali menoleh dan menatap Rendy. "Aku nggak tau harus maafin kamu atau enggak. Menurutku, kamu udah sangat keterlaluan." Ucap Kirana dengan serius menatap Rendy. "Mungkin itu udah jadi hal yang biasa buat kamu. Tapi buat aku..ini pertama kalinya." Lanjut Kirana lalu menundukkan wajahnya dikalimat terkhirnya membuat Rendy mengernyit menatapnya.


"Maksudmu?" Tanya Rendy ingin memastikan apa jawaban dari Kirana sama dengan apa yang sedang dipikirkannya?


Tapi Kirana hanya diam dan enggan menjawab. Ia semakin malu.


"Kirana, apa maksudmu itu aku laki-laki pertama yang udah cium kamu?" Tanya Rendy kembali membuat Kirana semakin merasa malu harus mengakuinya.


Ia masih diam dan tidak mau menjawab.


Rendy tersenyum sumringah lalu menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Kirana. "Hey! Kenapa diem? Aku tanya kamu."


"Apaan sih Mas!" Kirana mendorong pundak Rendy untuk menjauh dan tidak melihat wajah malunya.


Tapi Rendy sudah melihatnya lalu terkekeh geli. "Jadi bener? Aku yang pertama?" tanya Rendy dengan perasaan bangga.


"Udah ah, aku mau pulang!" Ucap Kirana sambil bangkit berdiri yang mencoba menghindari Rendy dan pertanyaannya. Karena ini pasti sangat memalukan.


"Kirana tunggu! Kamu jawab dulu!" Seru Rendy sambil mengikuti Kirana lalu menarik tangannya hingga langkahnya terhenti dan berbalik menatapnya.


"Kamu apaan sih?! Aku mau pulang!" Pekik Kirana sambil menghempaskan tangan Rendy.


"Oke, aku anter kamu!" Ucap Rendy kembali meraih tangan Kirana dan menggenggamnya mengajaknya keluar dari apartemennya.


Kirana tidak menolak dan mengikuti langkah Rendy hingga sampai ke basement parkiran mobilnya. Rendy membukakan pintu mobil dibagian samping kemudi untuk Kirana dan Kirana langsung masuk lalu duduk.


Rendy menutup pintunya lalu ia berjalan mengitari mobilnya dan masuk dibagian kemudi.


Beni sudah pergi ke apartemennya setelah tadi mengantar Rendy dan Kirana. Apartemen Beni juga berada disini. Hanya beda lantai saja.


Rendy mendekati Kirana membuat Kirana kembali sigap dan waspada.


"Kamu ini aneh!" Ucap Rendy sambil meraih seatbelt dan dengan cepat memakaikan pada Kirana.


Kirana hanya mendengus kesal dengan wajah cemberut. "Itu karena aku masih trauma dan kamu nambahin rasa trauma aku!" Seru Kirana lalu memalingkan wajahnya dengan kesal dan menatap kearah kaca jendela mobil.


Rendy terpaku dan terdiam sejenak. Hatinya kembali merasa sangat bersalah terhadap Kirana. Kenapa ia sampai lupa dengan kejadian saat Kirana hampir dilecehkan oleh Bima?


"Aku bener-bener nyesel. Maafin aku." Ucap Rendy dengan pelan lalu ia memakai seatbeltnya dan menyalakan mesin mobilnya.


................