
Tiba di sekolah, aku keluar lebih dulu dari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Pelangi. Dengan senyuman ceria dan semangat Pelangi keluar dari mobil.
"Ma, hari ini jangan tunggu Pelangi lama-lama disekolah." ucapnya sembari mendongakkan kepalanya padaku.
"Kenapa begitu?"
"Pelangi malu, semua teman-teman Pelangi tidak ada yang di tungguin mama nya." Jawabnya dengan suara lirih.
Ya Tuhan, kadang aku sedih saat dia begitu mandiri dalam hal apapun. Aku masih ingin puteri ku selalu berpangku tangan padaku. Tapi...
"Mama, jawab." Ucap Pelangi lagi,
"A,ah.. Huhft, baiklah. Mama tidak akan menunggu mu lama-lama disini. Tapi janji ya, jangan nakal dan jangan cengeng. Jadilah penurut pada guru mu."
"Siap ma. Laksanakan, hehe." Jawab Pelangi tersenyum sumringah padaku.
"Morning Pelangi."
Terdengar suara anak kecil dari arah sampingku, yang tak lain adalah lagi-lagi anak laki-laki yang pernah menyapa dengan senyuman lembut dan ramah pada Pelangi. Kali ini pun sama, dia menyapa Pelangi dengan lembut dan ramah.
Pelangi hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Bibi, ambilkan yang ku siapkan tadi pagi." Perintahnya pada seorang wanita di sisinya.
"Baik tuan muda." Jawabnya sembari mengambil sesuatu di dalam tas yang di bawanya.
"Ini, untuk mu. Aku yang merangkainya sendiri pagi tadi." Ucapnya sembari memberikan sebuah cokelat yang dihiasi pita berbentuk bunga di atasnya. Aku pernah mendapatkan cokelat itu dari Kevin dan kak Rendy dulu, dan sudah bisa ku tebak. Tentu cokelat itu sangat mahal.
"Cokelat? Untuk ku?" Tanya Pelangi.
"Ya, untuk mu. Lalu untuk siapa lagi, disini hanya ada kau." Jawabnya penuh sopan santun dan lembut. Gaya anak kecil ini sungguh rapi dan begitu wangi.
Eh tunggu, apa dia tidak tahu siapa aku?
"Tapi, Pelangi tidak suka cokelat. Nanti gigi Pelangi rusak, itu buatmu saja." Jawab Pelangi menolak. Tampak terlihat anak laki-laki itu menahan kecewanya.
"Pelangi, tidak boleh menolak rejeki. Ayo ambil, ehm.. Siapa nama mu nak?" Ucapku mencoba membuatnya meredakan rasa kecewanya.
"Namaku Lucky," Jawab nya spontan dan sedikit kikuk.
"Nama yang bagus, sini tante yang ambil cokelat nya. Makasih ya, nanti Pelangi pasti akan memakannya. Kenalin, tante mama nya Pelangi."
"What? Ma-ma? Oh my God. Ku pikir kakak, eh maksud ku tan..te. Adalah kakak dari Pelangi,"
"Hah? Kakak? Hahaha apakah tante terlihat usia 15 tahun? Kau pintar melawak nak."
"Maafkan aku tante, sudah lancang." Jawab nya dengan membungkukkan tubuhnya dengan tangan memegang dadanya bak seorang pangeran memberikan sambutan pada seorang puteri bangsawan.
Anak ini, pasti sudah terdidik secara baik dan disiplin. Dia begitu sopan dan santun.
"Eh, tidak apa Nak. Kenapa kau meminta maaf, terimakasih cokelatnya ya." Jawabku sembari meraih cokelat di tangannya. Sementara Pelangi terdiam saja menyaksikan kami.
"Ma, Pelangi masuk kelas dulu." Ucapnya kemudian dengan mencium punggung tangan ku, dan aku mengecup pipinya kanan dan kiri. Lalu Pelangi berlari tanpa mempedulikan atau mengajak anak lelaki yang masih berdiri di depanku.
"Eh, hey.. Pelangi," Panggil ku namun Pelangi sudah semakin jauh.
"Hehe, maafkan sifat Pelangi ya." Ucapku lagi pada anak laki-laki itu.
"Tidak apa tante, baik lah. Saya masuk dulu menyusul Pelangi." Jawab anak itu dengan santun.
Aku kembali di buat menganga akan sikapnya yang santun itu. Sembari bertanya-tanya siapa dia, kenapa dia begitu baik dan santun. Ah, semoga dia bisa menjadi teman yang baik untuk untuk Pelangi. Aku bergumam dalam hati.
Di dalam kelas, Pelangi asyik bermain dengan teman yang lainnya. Kemudian Lucky menghampiri Pelangi yang tengah asyik menyusun sebuah puzle dengan serius.
"Boleh aku ikut bergabung." Ucapnya dengan lembut.
"Ikut saja. Tuh, masih banyak mainan lainnya." Tunjuk Pelangi pada salah satu mainan lainnya. Lucky meraihnya lalu kembali duduk di hadapan Pelangi.
"Kau suka permainan ini?"
"Ya, sepertinya sekolah ini memang sudah menyiapkan segala mainan yang terbaik untuk kita. Itu sebabnya, ayah angkat ku mengirimkan ku untuk bersekolah disini."
Pelangi menghentikan aktifitasnya, lalu menatap Lucky dengan heran.
"Apa itu ayah angkat? Aku tidak mengerti."
"Aku juga tidak mengerti apa itu ayah angkat. Aku mendengarnya dari nenek besar, tapi ayah angkat sangat menyayangiku."
"Papa dan mama ku juga sangat menyayangiku."
Lucky tersenyum tipis mendengar ucapan Pelangi lalu melanjutkan menyusun puzzle dengan benar. Lalu Pelangi tampak kebingungan melihat susunan puzzle nya yang sedikit berantakan.
"Aku akan membantumu melengkapinya."
"Tidak, aku bisa mengulangnya lagi." Jawab Pelangi cetus .
"Pelangi, bisakah kita menjadi teman baik? Ku lihat disini hanya kau yang terlihat santai dan sederhana. Tidak seperti mereka," Jawab Lucky lirih lalu menunjuk ke arah beberapa anak konglomerat lainnya yang begitu angkuh saling memamerkan apa yang mereka miliki. Bahkan ada yang secara diam-diam membawa ponsel mahal.
Pelangi kembali menatap Lucky lalu ke arah anak-anak lainnya yang di tunjuk Lucky tadi.
"Oh, mereka. Biarkan saja, memangnya kenapa?"
Tampak Lucky mengeluhkan nafas panjang di hadapan Pelangi.
"Jadi, apakah kau mau berteman dengan ku?"
"Berteman ya berteman saja," ucap Pelangi cuek.
"Baik lah, kita berteman mulai sekarang. Dan aku pastikan aku akan selalu membantumu," Ucap Lucky dengan senang.
"Tapi mama bilang aku harus mandiri, tidak boleh mengharap bantuan orang lain."
"Upz, baik lah."
"Hei kau Lucky kan," Tiba-tiba datang anak perempuan dari belakang Pelangi. Lucky dan Pelangi menolehnya kemudian Lucky mengangguk pelan.
"Ku dengar kau bukan dari kota ini. Dimana kau tinggal?" Ucap anak perempuan itu.
Lucky diam tanpa jawaban. Sementara Pelangi menatapnya sedikit terkejut, Lucky tersenyum tipis pada Pelangi.
"Ih, sombong. Aku sedang bertanya padamu, apa kau bisu?"
"Hei kau kasar sekali." Jawab Pelangi membantahnya.
"Biar saja. Dia memang bisu, kau Pelangi kan, anak pemilik toko perhiasan terkenal itu?" Jawab nya dengan congkak.
Pelangi hanya mengangguk tanpa kata, melanjutkan menyusun puzzle kembali.
"Ih. Kalian memang cocok, sama-sama bisu." Jawab anak itu dengan cetus lalu pergi dari hadapan Pelangi.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Lucky kemudian.
"Memangnya aku kenapa?" Ucap Pelangi melempar tanya.
"Anak tadi sedang mengataimu kan?"
"Oh, biarkan saja."
"Kau memang berbeda dari anak lainnya disini. Orang tua mu pasti sangat baik. Boleh kah aku berkunjung kerumah mu?"
"Tidak boleh." Jawab Pelangi cetus.
"Oh, maafkan aku." Jawab Lucky dengan lirih.
Dalam hati Lucky bergumam..
Dia gadis yang cuek dan galak. Tapi dia manis dan tidak sombong. Aku suka sifatnya itu, meski sedikit galak.