
Sejak itu, Pelangi dan Lucky mulai menjauh. Hanya sesekali saja mereka saling menyapa singkat saat bertemu tanpa di sengaja. Justru kian hari Lisa dan Lucky semakin dekat, bahkan sudah ada yang berubah dari kebiasaan Lucky. Lebih terbuka dan murah senyum, perlahan pun sikap kaku nya sedikit berkurang. Entah bagaimana Lisa merubahnya, itu yang terlihat dan dipikirkan oleh Pelangi.
"Mau sampai kapan, aku menahan kesal ini sendiri? Apakah aku cemburu melihat Lucky dengan Lisa? Aku dan Lucky berteman sejak kecil. Hanya sebatas teman, lalu apa hak ku?" ujar Pelangi menggerutu sendiri di kelas.
Sesaat kemudian Lisa datang, dia belum juga menyadari bagaimana sahabatnya itu selalu berusaha menghindari Lisa untuk menyembunyikan raut wajah dan bahasa tubuhnya yang tidak bisa Pelangi kendalikan setiap kali melihat Lisa bermanja pada Lucky, meskipun Lucky tidak pernah menanggapinya.
"Princess cold, ayo ke kantin. Hari ini aku yang traktir," ajak Lisa merangkul leher Pelangi.
"Aduh, Sa. Kamu pergi bareng dia aja deh, aku lagi malas gerak. Aku ke perpustakaan aja." Pelangi menolak ajakan Lisa dengan senyuman paksa.
"Ih, gak mau ah. Ayolah, aku juga rindu kita makan bareng di kantin. Sejak Lucky dekat dengan ku, kau berubah!"
Pelangi sedikit terkejut mendengar ucapan Lisa begitu.
Apakah Lisa mulai menyadarinya? Ya ampun, ku harap tidak!
"A,apaan sih, Sa? Berubah apaan?" tanya Pelangi meninggikan suaranya. Lisa mengernyit, dia semakin heran akan sikap Pelangi yang berubah mudah sensitif akhir-akhir ini.
"Ya ampun, My Princess Cold. Aku hanya sekedar menyampaikan apa yang ku rasa, kenapa kau marah begitu?" tanya Lisa dengan berdiri dihadapan Pelangi saat ini.
"Ups, maaf, Sa. Aku hanya…."
"Ada apa denganmu, jika kau sedang menghadapi masalah ceritakan padaku, berbagi padaku, Princess cold. Kita sahabat bukan? Akhir-akhir ini kau selalu menjauh dariku, kau juga sangat sensitif, apa terjadi sesuatu? Iya? Katakan padaku apa itu, aku akan membantumu, aku pasti akan melindungimu."
"Aduuuh, Lisa. Bisa gak sih, jangan bawel! Aku jengah, aku capek, tolong! Jangan bicara atau menceramahiku lagi," jawab Pelangi seraya menutup kedua telinganya. Lisa pun terdiam merapatkan kedua bibirnya ke dalam, ia mengatupkan nya serapat mungkin.
Dalam hati Lisa bertanya-tanya dan mulai merasa jika Pelangi yang saat ini berubah total, sempat dalam hati Lisa berpikir jika Pelangi tidak menyukai hubungannya dengan Lucky. Tapi itu tidak mungkin, kata Lisa. Dia menepis jauh-jauh dugaan buruk itu.
"Maaf, aku tidak bermaksud marah lagi padamu, Sa. Akhir-akhir ini aku hanya ingin sendiri, tidak semua hal yang ku alami harus ku bagi padamu kan, Sa?"
Lisa terdiam menatapnya yang kini seolah terburu-buru hendak pergi dari hadapan Lisa.
"Tapi, Princess…."
"Ya udah, Sa. Aku ke perpustakaan aja, kau pergilah ke kantin dengan nya, ok. Aku gapapa, kok. Tenang aja," jawab Pelangi yang kemudian berlalu pergi setelah merangkul dan mengecup pipi Lisa. Sementara Lisa hanya bisa meneruskan apa yang akan dia sampaikan di dalam hatinya saja.
Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Princess cold? Kau seperti orang asing bagiku.
***
"Huh, menjijikkan sekali mereka." umpat Pelangi pelan.
Sudah setengah jam Pelangi masih terduduk di pojok perpustakaan membolak balik setiap halaman buku dan menelaahnya dengan baik-baik. Kebetulan sekali jam kedua jadwal di kelas sedang kosong, sehingga Pelangi bisa bebas berlama-lama di perpustakaan.
Tak berapa lama kemudian, dia dikejutkan oleh sebotol minuman bersoda yang mendarat tepat di hadapan hidungnya. Dengan cepat dia mendongakkan kepalanya, menatap sosok yang kini berdiri di hadapannya dengan senyuman manis sekali. Dengan cepat dia melepas kedua earphone yang dia pakai untuk menutupi kedua telinga nya tadi setelah melihat siapa sosok itu. Dia Lucky, yang secara tak terduga mendatangi Pelangi.
"Special for you!" ujarnya seraya mendorong tangannya lagi kedepanku untuk segera kuambil sebotol minuman yang dia genggam itu.
"Cih, apaan sih? Untuk apa kau disini? Dimana Lisa?"
"Ini, di kantong celanaku. Mau ku ambilkan?" jawab Lucky dengan senyum cengengesan.
"Gak lucu!" cetus Pelangi.
"Emang engga lucu, yang lucu kan aku? Hehe," jawabnya lagi menggoda Pelangi.
"Jadi gak mau nih, nerima minuman pemberian aku? Aku belinya pake uang lo," ujar Lucky kembali.
"Dih, siapa yang menyuruhmu membeli minuman itu? Aku gak haus. Minum aja sendiri!" Suara Pelangi masih saja cetus. Tapi justru Lucky kian nekat duduk di sebelahnya, sontak Pelangi sedikit menjauh karena terkejut.
"Langi…." panggil Lucky dengan lembut saat ini.
"Apaan?" jawab Pelangi sembari membolak balik halaman buku di depannya.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu seakan begitu jelas menjauhiku, begitupun Lisa. Dia bilang kau mudah sensitif dan selalu menghindarinya, jadi itu membuatku semakin yakin satu hal." Tanpa menunggu aba-aba lagi Lucky langsung membahas perubahan Pelangi saat ini.
"Jadi kamu datang hanya karena Lisa?" Pelangi menolehnya dengan tatapan marah.
Lucky tersenyum membalasnya, "Dugaan mu semakin dalam, kau cemburu aku dekat dengannya."
"Jangan memulainya lagi, Lucky. Aku sudah pernah mengatakannya padamu, jika aku…."
"Karena bagiku kau lebih dari sekedar teman biasa, Langi!" jawab Lucky tegas memotong bicara Pelangi. Kini mereka saling bertatapan penuh makna.
💋Hai, mulai ke depannya kisah ini akan saya lanjut disaat tertentu saja. Karena banyak kesibukan di lain tempat, jangan lupa follow IG author yak. MICHELLA, karena nanti akan mengabarinya melalui IG author. Tolong jangan menuntut banyak, karena author sendiri sedang aktif di N*v*l*e dan W*b*O*l. Salam MERDEKA untuk semua !!!💋