Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 192



Pagi ini alarm ponsel ku terus berdering hingga sedikit mengganggu tidur ku yang masih ingin merajut mimpi. Tak lama kemudian ponsel Irgy pun berdering menyusul nada alarm ponsel ku. Kemudian Irgy beranjak bangun lebih dulu lalu meraih ponsel nya.


"Ya Tuhan, eh sayang.. Bangun, bangun lah." Irgy menyeru kemudian menepuk-nepuk lembut bahu ku yang sedang menelungkup dalam selimut.


"Heem... Aku masih ngantuk,"


"Buka ponsel mu, cepat."


"Aaduh, aku masih ngantuk." Jawab ku dengan merengek kesal.


"Anak kita akan segera menginjak usia sweet-seventeen." Bisik Irgy di telinga dengan intonasi nada mengeja. Itu membuatku seketika membelalakkan kedua mata ku.


"Astaga !!!"


"Hihihi... Tenanglah, masih ada waktu tiga hari lagi untuk menyiapkan segalanya." Ujar Irgy mendekap hangat tubuhku lalu di kecupnya keningku dengan lembut.


Tanpa sadar, aku menitikkan air mata dan memeluk Irgy begitu erat.


"Hey, ssstt... Ada apa kau menangis, istriku?"


"Aku bahagia, tapi aku juga sedih. waktu begitu cepat, anak kita sudah menginjak usia 17 tahun. Dimana masa itu seharusnya akan menjadi masa yang paling indah dan di nanti oleh setiap anak gadis. Tapi sepertinya Pelangi kita tidak demikian, selama ini dia belum mengatakan sesuatu hal apapun atau setidaknya mencurahkan isi hatinya selama di sekolah atau mungkin... Ah, entah lah. Dia berubah menjadi pribadi yang tertutup,"


"Hah, kau benar sayang. Tapi, mari kita tunggu saja. Mungkin setelah dia menyadari usianya telah menginjak usia yang begitu manis, dia akan berubah semakin manis juga. Dan kali ini kita harus menyiapkan pesta besar untuk nya, dan aku sudah memikirkan sejak lama hadiah apa yang pantas untuk nya."


"Apa itu? Jangan berlebihan. Aku tidak ingin anak kita berubah menjadi manja dan hidup nya selalu serba kemewahan."


"Sayang, sudah lah. Jangan berkata seperti itu, bukan kah ucapan itu adalah doa? Pelangi kita akan tetap menjadi sosok yang manis dan sederhana."


"Ayo, aku harus segera pergi berbelanja, setelah mengantar si kembar ke sekolah aku harus pergi untuk menyiapkan segalanya."


"Hem.. Aku akan menemanimu, urusan kantor tidak begitu sibuk."


"Uuh, suami ku. Baik lah, kau juga sudah lama bukan tidak pernah menemani ku shopping keperluan anak-anak. Hihi,"


"Dasar, nyonya besar. Baiklah, ayo kita mandi dulu."


"Kita? Ih, kau saja mandi lebih dulu." Jawab ku mendorongnya untuk segera turun dari kasur.


"Hey, kau bilang aku sudah lama tidak menemanimu shopping. Tapi bagi ku, kau juga sudah lama tidak pernah menemaniku mandi. Ayo lah, mandikan aku sayang." Dengan sigap Irgy menggendong tubuh ku hingga di kamar mandi. Tanpa mendengarkan ku lagi, Irgy membasahi tubuhku dengan air hangat.


"Aakh, sayang. Hentikan, kau menyebalkan. Kau masih seperti anak-anak, bahkan kau sudah menjadi ayah dari tiga anak sekaligus. Ah, hentikan jangan terus menyirami ku."


"Hahaha, biarkan saja kau terus meledekku. Memangnya kenapa jika aku sudah menjadi ayah dari tiga anak sekaligus, bahkan sebelas anak pun aku tidak peduli. Itu justru akan membuatku semakin semangat, hahaha." Ujar Irgy yang kemudian menghampiriku.


"Kau..." Ucapanku terhenti ketika dengan tajam menatapnya, namun Irgy menyerang ku dengan ciuman di bibir.


Dan tanpa memberinya perlawanan kesal, kami seolah kembali pada masa awal pernikahan kami. Melakukannya dengan penuh gairah dan kenikmatan yang tiada tara.


🌻🌻🌻


Beberapa jam kemudian, aku bersiap-siap untuk segera keluar dari kamar. Irgy tersenyum melihatku dari arah cermin.


"Cih, kau puas sudah membuatku hampir pingsan tadi?"


"Hahaha, maafkan aku sayang. Aku terlalu gemas, sebab kau selalu memasang wajah dan suara yang membuatku tidak bisa mengontrol diri. Hihihi," Ujar Irgy menghampiriku dan memeluk ku dari belakang, ia letakkan dagu nya tepat di atas kepala ku.


"Huh, berhenti menggodaku. Ayo, kita sarapan dulu. Diluar sudah terdengar suara keributan si kembar yang mengomel sejak tadi pada Pelangi."


"Hemm... Baik lah," Jawab Irgy.


Lalu kemudian kami beranjak keluar dari kamar dan menuruni anak tangga, benar saja. Ku lihat si kembar dan Pelangi sudah duduk manis meja makan dengan seragam sekolah nya yang rapi. Asisten rumah tangga kami memang selalu mengesankan sejak awal dia mengurus rumah ini juga membantu ku mengurus anak-anak ku. Selalu siaga dan aku sudah menganggapnya seperti ibu ku sendiri, yang kini usianya pun sudah mulai menua.


"Good morning mama, papa." Sapa si kembar.


"Duh, manisnya. Kembaranya mama dan papa, mmuach. Selamat pagi juga sayang," Balas ku dengan menciumi pipi mereka.


"Good morning too, jagoan-jagoan papa."


"Ehhem, selamat pagi Ma..Pa," Sapa Pelangi dengan berdehem, wajahnya seperti biasa. Tanpa di hiasi senyuman, kemudian dengan menegak segelas susu di tangannya.


"Pagi ini, papa dan mama akan mengantar kalian ke sekolah kalian masing-masing."


"Yeay yeay.. Papa dan mama akan mengantar kita," Jawab si kembar dengan riang.


Setelah menghabiskan sarapan kami, kami segera bersiap-siap memasuki mobil kemudian. Kami mengantar si kembar lebih dulu untuk sampai di sekolah, baru kemudian kami menuju sekolah Pelangi. Aku menoleh ke arahnya yang duduk di kursi belakang saat di perjalanan menuju sekolahnya.


"Hah, lakukan saja apa yang mama dan papa mau. Meski aku menolak nya mama dan papa tidak akan pernah mendengar ku bukan?"


"Pelangi... Jangan begitu pada mama mu, Nak." Ujar Irgy menegurnya dengan lembut.


"Mau sampai kapan, Nak. Kau akan bersikap dingin begitu hah?" Aku sudah tidak bisa lagi menahan diri melihatnya selalu demikian.


".........."


Pelangi terdiam mengabaikan ucapan ku dan Irgy.


"Pelangi !!!" Panggil ku dengan nada marah, membuat Irgy terkejut dan membanting setirnya untuk berhenti sejenak di sisi jalan.


"Sayang, kau..." Ucapan Irgy terhenti ketika melihat ku menitikkan air mata dengan menundukkan wajah.


"Maafkan mama, Pelangi. Mama tahu, kau masih belum menerima kenyataan akan semua yang sudah berlalu. Kau selalu terpisah dengan paksa, bersama orang-orang yang kau sukai. Tapi percaya lah Nak, ini semua demi kebaikan mu. Suatu hari kau akan mengerti, kau akan memahami hati mama." Aku menangis sesunggukan.


"Lalu aku harus apa, Ma? Mama pikir bagaimana aku selama ini hah? Aku bahkan takut untuk memulai berteman dengan banyak orang. Bahkan aku pun takut mengenal akrab dan dekat dengan banyak orang, Aku takut akan perpisahan itu kembali, Ma. Aku takut !!!" Pelangi keluar dari mobil setelah ku rasa dia berhasil mengeluarkan segala unek-unek nya selama ini.


Ini pertama kali nya aku mendengarnya berkata panjang kali lebar seperti itu. Irgy dan aku kebingungan dan mengejarnya keluar dari mobil, dia berjalan di atas trotoar jalan.


"Pelangi, tunggu Nak." Panggil Irgy yang berhasil meraih tangan Pelangi, ku lihat dia menundukkan wajah nya dan menangis dengan sesunggukan.


Ya ampun Tuhan, kali ini aku kembali melihat puteri ku menangis di depan ku setelah aku menyaksikannya terpisah dari Lucky beberapa tahun lalu. Kali ini dia, kembali menitikkan air matanya dengan isakan.


Kemudian aku berlari mengehampirinya dan memeluknya dengan sangat erat. Dia semakin menangis dengan isakannya yang tertahan, Irgy memeluk kami kemudian. Mungkin semua orang yang menyaksikan kami akan menganggap kami sedang bermain sinetron atau sedang akting.


"Maafkan kami, Nak. Kau belum mengerti, itu sebabnya kami selalu meminta waktu senggang mu berkumpul dengan kami, berbicara dari hati ke hati. Agar kau tidak lagi berpikir kami dengan sengaja melakukan itu."


"Pelangi lelah, Ma. Pa, lelah dengan semuanya. Aku sudah melatih diri dan memaksa untuk selalu ceria seperti yang kalian ingin kan, tapi aku tidak mampu. Aku justru menangis diam-diam, aku tidak tahu kenapa dengan ku ini."


"Kau hanya perlu waktu untuk memahami ini semua perlahan, puteri ku. Percaya lah kepada kami, ini hanya perlu waktu lebih sedikit lagi. Kau akan mengerti, mama dan papa akan menceritakan semua alasan kami pada mu, Nak. Percaya lah pada kami, jangan lagi bersikap begini. Kasihanilah mama mu sayang, sudah bertahun-tahun mama mu selalu menyalahkan dirinya sendiri akan sikap mu yang berubah cuek, dingin dan pendiam. Seolah kau tidak lagi menganggap adanya kami," Ujar Irgy menjelaskan dengan mengecup kepala Pelangi.


"Tidak, Pa. Ma, aku tidak pernah mengaggap kalian tidak ada di dunia ini. Aku hanya tidak bisa lagi mengatakan semua nya, aku merasa percuma. Mama dan papa hanya akan kembali memaksaku diam, aku takut Pa. Ma, maafkan aku."


"Tidak Nak, jangan lagi meminta maaf. Semua ini adalah salah mama, salah mama. Mama hanya berpikir, belum saatnya kau mengetahui semuanya. Dan betapa mama sangat rindu akan sosok puteri mama yang dulu selalu ceria dan manja, juga periang. Kau begitu berisik, tapi..."


"Beri Pelangi waktu, Ma." jawabnya kemudian dengan lirih. Kembali kami memelukknya dan mengajaknya memasuki mobil lagi, dia menurut. Di sepanjang jalan aku memeluknya dalam dekapan ku, di kursi belakang. Sementara Irgy hanya melirik kami sesekali di balik kaca yang menggantung tepat di atas kepalanya.


Beberapa saat kemudian, tiba di depan pintu gerbang sekolah Pelangi. Ku perhatikan dari jauh, disitu sudah berdiri ketiga sahabat Pelangi yang sudah sangat ku kenal. Namun, ada sosok laki-laki yang belum pernah ku lihat dan ku ketahui sebelumnya itu. Dia tampak akrab bercanda dengan ketiga sahabat Pelangi.


"Wow, Princess cold. Ada apa dengan wajah mu? Matamu begitu sembab beb..." Ujar Lisa menghampiri Pelangi dengan cemas. Kemudian ia terkejut melihat ku dan Irgy turun dari mobil.


"Upz. Tante, om. Apa kabar kalian?" Seketika Lisa di susul oleh kedua sahabat Pelangi yang Jeni dan Lucas menghampiri kami bergantian menjabat tangan kami dengan sopan.


"Kabar kami baik, kalian anak-anak yang manis dan pintar." Jawab Irgy dengan ramah pada mereka.


Lalu pandangan ku tertuju pada sosok laki-laki yang sejak tadi berdiri menatap kami dengan senyuman manis dan hangat.


"E,eh..." Ketiga sahabat Pelangi tampak ragu. Ketika anak itu menghampiri kami lalu menjabat tangan kami pula dengan santun dan ramah sekali.


"Hai, om. Tante, apa kabar kalian?"


"E,eh... Nak, Kau..."


"Aku Joe, nama ku Joe tante." Jawab nya dengan senyuman ramah. Dia sungguh manis dengan kumis tipis di atas bibirnya itu. Senyumnya sedikit mengingatkan ku pada seseorang, tapi... Ah, aku tidak akan mudab berasumsi lagi. Hanya akan menambah luka lama nantinya.


"Tante, Om. Tumben nih, tuan puteri Pelangi di kawal? Apakah dia sedang merajuk? Hahaha." Tanya Lisa kemudian, menyadarkan ku dari lamunan.


"Eh, ehm.. Hahaha, tidak. Kami sengaja mengantarnya ke sekolah karena ingin menyampaikan sesuatu ada kalian."


"Apa itu, tante?" tanya Jeni dengan nada serius.


"Tiga hari lagi kami akan mengadakan pesta khusus yang sangat mewah untuk merayakan ulang tahun puteri kami, Pelangi yang ke 17. Kalian datang lah, dan sampaikan pada semua teman kelas kalian. Atau jika kalian ingin mengundang lainnya lagi siapapun itu bebas." Jawab ku.


Sontak ketiga sahabat Pelangi begitu riang dan gembira melompat dan menari kemudian memeluk Pelangi. Namun Pelangi hanya diam dan tersenyum tipis tanpa kata.


"Wow, ini pasti akan menjadi pesta yang seru nanti nya." Ujar Joe berseru dengan antusias. Membuat kami tercengang sejenak.


"O,owh.. Maaf, maafkan aku."


"Ehm, tidak apa-apa Nak. Jangan lupa kau juga ikut hadir nanti ya, hem.." Ujar ku kemudian.


"Tentu tante, tentu. Aku akan hadir, aku pasti hadir." Jawab nya dengan antusias.