
"Jadi bagaimana? Apa Mas Rendy bersedia untuk menikahi mbak Kirana?" Tanya Pak RT dengan serius.
"Maaf! Saya tidak bersedia!" Tegas Kirana dengan tubuh bergetar karena menahan segala rasa didalam hatinya.
"Mbak Kirana sudah tau konsekuensinya kalau menolak pernikahan ini kan?" Tanya Pak RT.
"Saya bersedia menikahi Kirana!" Tegas Rendy tanpa ragu.
"Mas!" Bentak Kirana sambil menoleh menatap Rendy dengan mata yang sudah memerah karena menahan tangisnya.
Rendy tidak mungkin membiarkan Kirana pergi dari kampung ini dan mungkin saja Kirana akan pergi meninggalkan kota ini juga dirinya kalau tidak bersedia untuk menikah agar tidak menjadi omongan para warga terutama para ibu-ibu dikampung ini yang akan terus menerus mencemoohnya dan memandang buruk Kirana. Dan mungkin saja Kirana akan dikucilkan dikampung kelahirannya ini.
"Kami bersedia Pak!" Rendy mengulangi ucapannya lebih tegas lagi dari sebelumnya.
"Baiklah, syukur kalau kalian bersedia. Jadi, silahkan Mas Rendy pulang karena sudah lewat tengah malam. Tidak baik laki-laki bermalam dirumah seorang gadis, apalagi mbak Kirana tinggal sendirian. Dan jangan lupa beri tau keluarga Mas Rendy karena besok pagi kalian akan melakukan akad nikah di KUA." Ucap Pak RT dengan tersenyum ramah namun membuat hati Rendy terasa tersentil.
Rendy menahan emosinya dan mengangguk pelan lalu menghela nafasnya panjang. Meski untuk menikah masih jauh dalam pikirannya, bagaimana pun juga dia sebagai laki-laki harus berani bertanggung jawab atas kesalahan yang tanpa sadar telah dia lakukan.
Mungkin karena sejak kecil Rendy tinggal di luar negeri dengan kehidupannya yang terlalu bebas. Meski begitu, Rendy tetap tau batasannya.
"Tunggu! Saya perlu bicara dulu dengan Mas Rendy sebelum dia pulang. Apa bisa saya bicara empat mata dengan Mas Rendy?" Tanya Kirana saat Rendy bangkit berdiri hendak pergi.
"Silahkan. Kalau begitu kami sekalian pamit. Sampai bertemu lagi di KUA ya Mbak Kirana dan Mas Rendy." Ucap Pak RT yang selalu ramah dan tegas.
Kirana hanya mengangguk dan Rendy masih berdiri hanya diam saja.
"Mari bapak-bapak, biarkan mereka bicara. Kita tidak perlu lagi mencemaskan mereka." Ucap pak RT sambil berdiri lalu mengajak para warga pergi meninggalkan rumah Kirana.
Pak Doni hanya menghela nafasnya dengan berat melihat Kirana sekilas kemudian pergi. Dia merasa kecewa karena sebelumnya, dia dan istrinya sudah berencana ingin menjodohkan Kirana dengan Haris. Tapi mungkin memang Kirana bukan jodohnya Haris. Jadi, Pak Doni hanya bisa pasrah merelakan Kirana. Dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk semuanya.
"Mas, kamu apa-apaan sih?! Aku nggak mau nikah!" Bentak Kirana dengan penuh emosi.
"Jadi kamu nggak mau nikah sama aku?" Tanya Rendy dengan wajah tampak kecewa.
"Bukan gitu Mas. Aku masih belum siap buat nikah. Tolong kamu ngertiin aku dong. Aku masih pengen kerja ngumpulin uang buat bahagiain Ibu aku. Aku masih belum siap menikah apa lagi punya anak." Ucap Kirana dengan lemah dan suara bergetar.
Air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya menetes begitu saja membasahi pipinya. Dia langsung mengusapnya dengan cepat.
"Kamu nglakuin ini pasti karena terpaksa kan Mas? Kamu nggak perlu ngelakuin ini Mas. Aku udah selalu nyusahin kamu. Aku juga belum beri tau Ibuku tentang kamu dan tentang hubungan kita. Ibu pasti akan marah besar dan aku --"
"Cukup Ki!" Seru Rendy membuat Kirana terdiam tidak melanjutkan ucapannya. "Aku sama sekali nggak terpaksa nikahin kamu. Ini semua salah aku dan aku akan bertanggung jawab memperbaiki semuanya. Kalau memang dengan cara menikahi kamu solusi terbaiknya, ya udah kita lakuin aja. Aku cuma mau kamu tetap akan selalu dipandang baik oleh mereka, Ki. Karena kamu memang gadis yang terbaik dimataku." Lanjut Rendy dengan lembut sambil mengusap air mata Kirana yang membasahi wajah cantiknya.
Kirana masih diam mendengarkan namun air matanya semakin mengalir deras. Dia sangat mencintai Rendy. Tapi, untuk menikah, dia masih belum kepikiran tentang itu. Ibunya terus berpesan kepada Kiranamenariknya kedalam pelukannya. "Udah dong, jangan nangis. Sebaiknya kamu hubungi Ibu kamu. Gimanapun juga Ibu kamu harus tau." Ucap Rendy lagi sambil mengusap usap punggung Kirana.
Kirana melepaskan pelukannya dan menatap Rendy dengan tatapan yang terlihat takut. "Aku takut Mas. Aku takut Ibu akan marah dan dia nggak restuin kita."
Rendy menghela nafasnya. "Kalau gitu kita temui Ibu kamu setelah acara akad nikah selesai untuk minta restu. Aku yakin Ibu kamu bakal nerima aku." Ucap Rendy dengan tersenyum.
"Kamu belum tau gimana Ibu aku sih Mas." Ucap Kirana dengan cemas.
"Ya makanya besok kita temui ibu kamu dan kenalin ke aku." Ucap Rendy yang membuat Kirana tidak tau harus bicara apa lagi. Karena laki-laki tampan didepannya ini selalu punya cara untuk membuat lawannya bungkam. "Udah, kamu nggak usah khawatir soal gimana ibu kamu nantinya." Lanjut Rendy saat melihat Kirana hanya diam dengan wajah gelisah. "Sekarang sebaiknya aku anter kamu kekamar. Kamu harus istirahat. Karena besok pagi kamu harus dandan secantik mungkin buat ketemu calon suamimu yang kata orang-orang gantengnya minta ampun ini." Ucap Rendy berusaha untuk membuat hati Kirana merasa tenang dan itu berhasil.
Kirana tersenyum dan tertawa kecil sambil memukul dada bidangnya. "Dasar lebay, sok kePDan banget sih kamu."
Rendy pun terkekeh kemudian membawa Kirana masuk kedalam kamar membantunya berbaring dan menyelimutinya. "Bobok yang nyenyak ya sayang. Nggak usah mikir yang nggak nggak. Aku pulang dulu." Ucap Rendy dengan tersenyum lalu mengecup kening Kirana.
"Iya Mas. Kamu hati-hati dijalan ya." Ucap Kirana dengan tersipu malu.
...
"Malu-maluin aja kamu ini! Papa juga nggak mungkin bisa datang karena terlalu mendadak, Ren! Kamu minta aja Beni buat bantu kamu urus semuanya!" Ucap Bagas-Papa Rendy memarahi putra kesayangannya ketika Rendy menelpon memberitau mengenai masalah yang terjadi dirumah Kirana tadi.
Meski dalam hati, Bagas merasa bahagia akhirnya Kirana akan segera menjadi menantunya. Gadis kecil Putri dari almarhum teman baiknya yang selama ini dia cari, tanpa diduga malah bertemu dengan putranya dan menjalin hubungan dengannya. Mingkin ini yang dinamakan jodoh.
"Ok Pa. Papa tenang aja. Kali ini aku nggak salah pilih calon istri. Aku yakin, Papa sama Mama pasti akan sayang banget sama Kirana." Ucap Rendy dengan penuh keyakinan.
Dia tidak tau saja kalau diseberang telepon Papa dan Mamanya sedang berpelukan merasa begitu bahagia hingga meneteskan air matanya.
Bagas sengaja memarahi Rendy agar putranya tidak lagi bertindak sembrono dan membuat malu keluarganya.
................