Because, I Love You

Because, I Love You
#59



Dikantin pun mereka masih membicarakan Pak Presdir tampan mereka. Tak hanya mereka saja, seluruh karyawan terutama karyawan wanita juga sedang membahas berita tentang Rendy dan Olivia.


"Aku masih nggak nyangka banget ternyata Pak Presdir ganteng kita pacarnya Olivia Alexandria."


"Aku pikir, Pak Rendy masih jomblo. Ternyata udah punya pacar. Artis terkenal pula. Duuuh aku jadi patah hati deh."


Kirana hanya diam sambil memaksakan dirinya untuk makan dan mendengarkan mereka semua yang terus membicarakan tentang hubungan Rendy dan Olivia.


"Ya wajar aja sih kalo Pak Rendy punya pacar. Apalagi pacarnya model cantik sekaligus pemain film yang lagi naik daun. Pak Rendy super duper ganteng dan Olivia cantik sempurna. Mereka cocok banget." Ucap Yolanda yang ikut membicarakan Pak Presdir tampannya yang menjadi idola seluruh karyawan wanita diperusahaan.


"Padahal aku tuh ngarep banget kalo Pak Rendy jadi jodohku loh. Ini belum apa-apa udah ngerasain patah hati. Hiks!" Sambung Rossa dengan dramatis dan langsung dijitak oleh Yolanda.


"Dasar lebay banget sih kamu!"


"Aduh Yol! Sakit tau!"


Kirana yang sejak tadi terdiam, ia pun merasa bukan apa-apa setelah mendengar semua orang yang terus membucarakan hubungan Rendy dengan Olivia dan memuji kecantikan Olivia.


Mereka bener. Olivia memang sangat cantik dan terlihat sempurna. Pantes aja kalo Pak Rendy cinta banget sama dia dan belum bisa move on. Apalagi sekarang ini berita tentang hubungan mereka lagi viral dan banyak yang dukung.


Gumam Kirana dalam hati merasa bahwa dirinya bukan siapa-siapa dan tidak mungkin menggapai cinta Rendy.


Rendy putra dari pemilik Pradipta Group sekaligus penerus perusahaan terbesar dikota ini. Selain itu, Rendy juga sangat tampan dan sempurna. Sudah sewajarnya kalau dia mendapat pendamping yang juga sempurna.


Olivia sangatlah cantik dan terlihat begitu sempurna. Lelaki manapun akan terpesona setiap melihatnya. Apalagi dia seorang model dan pemain film yang namanya sedang melambung. Penggemar dan pengagumnya juga tidak sedikit.


Jika dibandingkan dengan Kirana, Kirana merasa dirinya bukanlah apa-apa. Kirana hanya anak kampung yang memiliki cita-cita ingin bekerja dikantoran, diperusahaan besar seperti sekarang ini.


Sebagai seorang wanita, Kirana juga memimpikan ingin memiliki pasangan hidup yang tampan, mapan Yang sangat ia cintai dan juga mencintainya.


Ia tidak menyanka dipertemukan dengan bisa kenal dengan sosok tampan seperti Rendy hingga saat ini ia bisa menjadi kekasih Rendy meski baginya hubungan ini hanyalah sandirwara saja. Hanya untuk mengelabui media agar berhenti menayangkan berita-berita tentang hubungan Rendy dan Olivia yang ternyata sudah hampir empat tahun berpacaran.


"Ki! Malah ngelamun. Mikirin apa sih?"


Kirana terkejut dan seketika ia tersadar dari lamunannya ketika Rossa menepuk lengannya.


"Eh iya Ros. Aku udah kenyang. Aku duluan ya?" Kirana pun langsung bangkit berdiri.


"Ki, tapi kamu baru makan dikit loh ini." Sahut Yolanda yang merasa heran dengan sikap Kirana sejak kemarin.


"Aku lagi sariawan dan udah kenyang juga. Kalian lanjutin aja. Aku duluan ya." Jawab Kirana lalu berbalik dan pergi meninggalkan kantin.


Kirana kembali ke ruangan kantornya. Tapi, sebelum keruangannya ia pergi ketoilet lebih dulu ingin membasuh wajahnya agar terasa segar dan tidak mengantuk.


Saat sampai didepan pintu toilet, tiba-tiba ada yang mendorongnya masuk dari belakang dengan keras hingga tubuh kecilnya jatuh tersungkur dilantai dalam toilet.


"Aawh!" Pekik Kirana ketika terjatuh.


'BRAKKK!'


Pintu toilet ditutup dengan dibanting oleh seseorang dengan mantap sengit pada Kirana.


"Bu Siska?"


Kirana mendongak dan terbelalak ternyata Siska sekertaris Rendy yang baru saja mendorongnya keras hingga ia jatuh tersungkur.


"Kenapa? Kaget ya?" Tanya Siska sambil bersedekap sedikit membungkuk menatap Kirana yang masih terduduk dilantai dengan tatapan sengit.


Kirana pun merasa geram dan ia langsung bangkit berdiri menatap tajam Siska. "Apa Bu Siska ada masalah dengan saya sampai dorong saya seperti barusan?" Tanya Kirana dengan kesal menatap Siska.


Kirana terpaku dan terdiam sejenak. "Dasar nenek lampir!" Gumamnya dengan pelan lalu memejamkan matanya menghela nafasnya dalam-dalam sambil mengepalkan kedua tangannya untuk meredam segala emosinya. Kemudian ia segera membasuh wajahnya dan pergi menuju ruangan kantornya.


Untung saja didalam toilet tidak ada orang. Bisa heboh kalau saja ada yang melihat kejadian barusan.


Saat berjalan menuju lift, ia memghentikan langkahnya karena melihat Rendy yang berjalan masuk sepertinya juga sedang menuju lift.


Kirana merasa sedikit gugup. Ia pura-pura tidak melihat Rendy dan melanjutkan langkahnya menuju lift.


Rendy sekilas melirik kearah Kirana tapi ia seolah tidak peduli dengannya. Terlihat cuek dan dingin. Ia juga melangkah menuju lift eksklusif bersama Beni.


"Selamat siang Pak Rendy, Pak Beni!" Seru beberapa karyawan manyapa Pak Presdir tampannya beserta asisten probadinya sekaligus bodyguard Rendy.


"Siang." Balas Rendy dan Beni hanya mengangguk saja kemudian masuk kedalam lift.


Dia memang nyebelin! Kenapa pimpinan perusahaan ini harus dia sih? Hufff!


Gumam Kirana merasa sangat kesal sambil menghembuskan nafasnya kemudian masuk kedalam lift bersama beberapa teman kerjanya.


Rendy merasa tidak semangat hari ini. Ia juga terlihat kurang baik. Mungkin karena semalam ia terlalu banyak minum dan kurang tidur. Kepalanya juga masih terasa sakit.


Tapi pekerjaannya masih menumpuk dan ia harus segera menyelesaikannya.


'Tok Tok Tok!'


Terdengar suara ketuka pintu dari luar dan Siska masuk.


"Pak Rendy, ini daftar semua karyawan yang anda inginkan." Ucap Siska sambil menyerahkan berkas berisi nama-nama karyawan yang berprestasi yang akan diberangkatkan keluar negeri untuk liburan secara gratis setiap setahun sekali.


Siapa saja yang kerjanya bagus dan disiplin juga berprestasi, akan mendapat liburan gratis dan juga bonus tahunan dari perusahaan.


Semua biaya akan ditanggung perusahaan. Mulai dari tempat untuk menginap, makan, dan tempat-tempat yang akan dikunjungi selama tiga hari. Mereka juga akan mendapat bonus uang untuk dipakai untuk berbelanja atau apapun terserah mereka.


Rendy mengernyit setelah dua kali membaca daftar nama-nama karyawan yang akan berlibur bulan depan. Ia berharap nama Kirana ada didalam daftar ini. Tapi ternyata tidak ada.


Rendy tidak berurusan dalam memilih karyawan yang disiplin dan berprestasi. Ia hanya memberi perintah saja dan memeriksanya.


"Kalau Pak Rendy ada rekomendasi untuk karyawan lainnya, nanti akan saya tambahkan ke daftar." Ucap Siska yang memperhatikan raut wajah Rendy seperti tidak puas melihat daftar nama-nama karyawan tersebut.


"Kamu tambahkan karyawan bernama Kirana." Ucap Rendy sambil menyerahkan berkasnya kepada Siska kembali.


"Kirana?" Tanya Siska dengan berlagak bingung.


"Apa masih kurang jelas?" Tanya balik Rendy dengan menatap Siska.


"Emm..tapi Pak. Bukannya dia masih baru ya? Takutnya, nanti akan membuat karyawan yang lain merasa iri." Jawab Siska.


Rendy yang baru saja membuka dokumennya ia tutup kembali dan menatap Siska dengan tatapan dingin. "Kamu nggak berhak ngatur-ngatur saya! Lakukan aja apa yang saya suruh!"


"Ba baik Pak. Kalau begitu saya permisi." Ucap Siska dengan tergagap.


"Hmm." Jawab Rendy dengan wajah dinginnya lalu kembali membuka dokumen yang akan ia periksa.


Siska segera pergi keluarga dari ruangan Rendy.


................