
POV II
Abel masih tertegun menatap wanita itu. Begitupun sebaliknya, mereka saling menatap satu sama lain, saling mendetail satu sama lain dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Apa kau juga menginginkannya?" Tanya Abel dengan nada sombong. Menyumbingkan bibirnya dengan sengit.
"Ehm, aku suka motif celana dalam ini. Imut, maaf. Aku harus merebutnya jika kau juga menginginkannya." Jawabnya dengan tersenyum tipis.
"Bisa ku lihat bandrol harganya berapa?" Dengan cepat Abel meraih celana dalam yang di genggam oleh wanita itu.
"Huh, aku sudah punya ribuan dirumah dengan model yang sama. Harganya pun jauh lebih mahal." Ucap Abel kembali dengan melempar celana dalam itu.
"Hei, kau sombong sekali." Ujar wanita itu setelah mendapat perlakuan Abel demikian.
"Cih, dasar wanita gila." Umpat Abel dengan berlalu pergi. Seakan tak mau mengalah, wanita tadi mengejar Abel lalu menarik tangan Abel dengan kasar.
"Awh!!!" Abel sedikit memekik.
"Beraninya kau mengataiku gila, siapa kau hah? Hanya karena celana dalam murahan seperti ini kau mengumpatku." Ucap wanita itu dengan melempar celana dalam yang di genggamnya ke wajah Abel. Sontak membuat Abel naik pitam, ia menjambak rambut wanita itu yang tertata cantik dan rapi.
"Awh, sakit. Lepaskan, jangan menarik rambutku."
"Siapa kau hah? Berani melempar celana dalam ke wajah ku, itu sama saja kau menghina ku." Balas Abel dengan berusaha menahan perlawanan wanita tersebut.
Hingga kini mereka di kelilingi oleh beberapa pengunjung yang menjadikan mereka bahan tertawaan dan tontonan seru.
Priiiiittt...
Seorang security tiba dengan membunyikan peluitnya untuk menghentikan pergulatan mereka. Namun tak satupun dari mereka menggubrisnya, meskipun sudah berulang kali mereka mendengar bunyi peluit dengan sangat nyaring untuk menghentikan mereka, kemudian datang lagi satu pengawas keamanan dari mall untuk melerai mereka yang pada akhirnya baru terhenti setelah salah satu karyawan di mall itu menyiram mereka dengan air hingga basah kuyup.
"Aaaakh, brengsek. Baju ku, iih jadi basah kuyup begini jadinya." Umpat mereka hampir bersamaan setelah merasa dirinya kini berantakan serta basah kuyup. Kemudian saling menatap tajam kembali.
"Mohon maaf, kami tidak bermaksud merusak pakaian kalian hingga basah kuyup. Tapi mohon pengertiannya, karena kalian telah membuat keributan di mall ini. Jika kalian memiliki masalah pribadi silahkan lanjutkan diluar saja. Terimakasih." Ujar salah seorang laki-laki dengan pakaian yang rapi, terlihat di name tag tertulis nama 'manager'.
Seolah tak mau tau, Abel dan wanita itu justru berbalik memarahi Manager itu dengan kata umpatan. Sontak dua security datang dan menggiring paksa mereka hingga keluar dari pintu mall.
Tiba di halaman mall, Abel masih saja keras kepala dan mendorong tubuh wanita itu hingga sedikit tersungkur.
"Hei, kau. Urusan kita belum selesai, semua karena kau. Aku sampai di permalukan seperti ini, dasar kau wanita gila."
"Hei, jaga bicaramu! Kau yang memulai lebih dulu menyombongkan dirimu itu. Lihat saja riasan diwajahmu itu, setelah kau terguyur air tadi, wajahmu langsung kacau. Penuh kerutan dan begitu kering, hahaha. Oh astaga, aku sungguh ingin tertawa sepuasnya."
"Kyaaaaaaa..." Abel meneriakinya. Membuat wanita itu sedikit terkejut. Dan seketika Abel mengamuk dan menarik-narik pakaian serta menjambak rambut wanita itu.
"Hei, kau. Ah, sakit. Hentikan, jangan menarik rambutku. Hei, aaakh... Kau, wanita gila." Wanita tersebut tiada hentinya memekik menahan cengkraman dan jambakan demi jambakan kuat dari tangan Abel.
"Rasakan saja, aku tidak akan mengampunimu. Kau berani-beraninya mengataiku keriput dan kulitku kering. Lihat kau ini, kau hanya pintar memoles wajahmu dengan cream wajah murahan." Kini Abel sudah berhasil merusak riasan wanita itu di wajahnya. Terlihat bagaikan badut saat ini.
"Astaga, ada apa ini?" Tiba seseorang melerai mereka, dan menarik wanita yang sudah menjadi bulan-bulanan Abel.
Abel meregangkan cengkramannya dari wanita tadi, lalu berdiri mematung, menatap seseorang itu tanpa berkedip sedikitpun.
Wanita itu mengadu dengan rengekan manja.
"Apakah aku bermimpi kali ini?" Tanya Abel dalam hatinya. Sementara sudah saling menatap tertegun dengan seseorang yang kini berdiri di hadapannya.
"Tuan, iih... Lihat aaku, kenapa kau justru menatap wanita psyko itu."
"Heh, apa itu sungguh kau? Sepertinya dunia memang sudah sempit. Kita kembali di pertemukan dengan kondisi yang, hah.. Sayangnya aku sangat terlihat buruk, itu karena wanita gila di sampingmu itu." Ujar Abel dengan helaan nafas panjang. Ia sungguh tidak mengira sosok yang berdiri di hadapannya saat ini, adalah bagian dari masa lalu kelamnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya nya pada Abel. Ya, dia Ammar. Dia kembali menginjakkan kaki nya di Indonesia, di kota besar ini.
"Tu,tuan.. Apa ini? Kau mengenalnya?"
"Dia, dia teman baik ku. Hana,"
"So what???"
"Cih, teman baik. Kau yakin kita teman baik, Tama?"
"Ta-ma? Oh my God, sangat tidak sopan. Memanggil mu dengan sebutan nama belakang mu, bagaimana mungkin dia kau sebut teman baik?"
"Hei, kau. Apa kau baby sisternya? Kau begitu cerewet sejak tadi." Abel kembali menyerbunya dengan sinis.
"Hahaha, oh Tuhan. Bagaimana mungkin dia tidak tahu siapa aku, Aku istrinya. Hana Billyantama, kau dengar itu?"
"Ah? Istri? Pfftt... Hahaha, woah... Kau sudah menikah lagi rupanya, sejak dulu kau memang selalu menang dalam hal ini, Tama."
"Abel, aku minta maaf atas sikap Hana. Tolong jangan di ambil hati, jika perkataannya sejak tadi menyinggungmu. Tapi apa yang terjadi hingga kalian basah kuyup seperti ini?"
Degh!!!
Abel merasa jantungnya sedikit berdetak, mendengar tutur kata Ammar yang berubah lembut dan santun. Dia hampir tidak percaya ini, apakah karena sudah menikah? Benarkah wanuta itu begitu special dan hebat sehingga bisa merubah kehidupan Ammar? Dalam hati Abel begitu banyak di hujani berbagai tanya dan penuh keheranan.
"Abel... Kau mendengarku?" Panggil Ammar kembali dengan suara lembut.
"Tuan, untuk apa kau meminta maaf pada nya? Sejak tadi dia lah yang begitu kasar dan sombong. Apa dia sungguh teman baik mu?"
Abel terhentak mendengar celotehan Hana lalu menyumbingkan bibir sinis.
"Aku bukan hanya teman baik suamimu, aku juga teman baik di ranjang suamimu."
Hana tercengang sesaat. Kedua matanya berkaca-kaca menatap tajam ke arah Ammar.
"Abel, ku mohon jangan memperburuk keadaan lagi. Jangan membahas masa lalu kita yang sudah terkubur lama,"
"Hahaha, ooh... Sejak kapan bahasamu begitu bijak terdengar?"
"Tuan, jawab aku. Apa sungguh benar yang dia katakan itu? Kau dan dia pernah satu ranjang???" Hana bertanya dengan menitikkan air matanya.