
Keesokan paginya.
Bunda Siti tampak senyum-senyum sendiri saat membayangkan kedekatan Haris dengan Kirana.
"Bun, kenapa senyum-senyum sendiri? Kesambet ya?" Tanya Pak Deni dengan mengernyit menatap istrinya.
"Iiih, Ayah bikin kaget aja deh!" Bunda Siti kesal karena kaget.
Pak Deni menaikkan sebelah alisnya. "Lah itu barusan Bunda ngapain senyum-senyum sendiri? Bikin Ayah ngeri liatnya." Pak Deni menatap serius sang istri.
"Sini, Yah!" Bunda Siti menarik tangan Pak Deni mengajaknya duduk di kursi yang ada di depan teras rumahnya.
"Ada apa sih, Bun?" Tanya Pak Deni menatap bingung.
"Umur Haris kan sudah cukup untuk punya istri, Yah." Bunda Siti menatap serius suaminya.
"Lalu?" Pak Deni masih belum mengerti maksud dari istrinya.
"Ayah ini bagaimana sih? Tentu saja kita sebagai orang tuanya mengingatkan Haris untuk segera menikah, Yah!" Jawab Bunda Siti sambil menepuk lengan Pak Deni.
"Iya, Ayah tau. Tapi masalahnya, sampai saat ini Haris belum juga punya pacar, Bun. Memangnya, mau dinikahkan dengan siapa? Bunda ini ada-ada saja. Pagi-pagi sudah senyum-senyum sendiri dan bicara ngelantur." Pak Deni menggelengkan kepalanya merasa heran dengan sikap istrinya pagi ini.
"Idih, Bapak ini bagaimana sih? Apa Bapak nggak pernah perhatiin anak sendiri? Semenjak Kirana kembali, Haris sering senyum-senyum sendiri dan semangat sekali kalau Bunda suruh mengantar makanan untuk Kirana." Ucap Bunda Siti dengan antusias.
"Oh, ayah ngerti sekarang. Jadi, maksud Bunda, Bunda mau Haris menikah dengan Kirana, begitu?" Ucap Pak Deni yang langsung dijawab dengan anggukan kepala dan senyuman oleh Bunda Siti.
"Bun, sebaiknya Bunda jangan memikirkan itu dulu. Kita kan nggak tahu bagaimana perasaan Kirana terhadap Haris. Kalaupun Haris menyukai Kirana, belum tentu Haris mau menikah dengannya. Begitu juga dengan Kirana. Siapa tahu dia sudah punya pacar. Jadi, sebaiknya Bunda jangan terlalu berharap dulu dengan hubungan Haris dan Kirana yang terlihat dekat. Mereka dekat bukan berarti saling menyukai, kan? Sejak kecil juga mereka sudah berteman baik." Ucap Pak Deni panjang lebar mengingatkan istrinya.
"Tapi Yah, Bunda yakin kalau Haris mencintai Kirana dan Kirana terlihat senang saat bersama Haris." Ucap Bunda Siti dengan penuh keyakinan.
Pak Deni menghela nafasnya panjang. "Bun, sudah ya. Jangan dibahas lagi. Kalau memang Bunda berpikiran seperti itu ya sudah biarkan saja dulu mereka terlihat dekat. Kalau memang mereka berjodoh, mereka juga akan dipersatukan. Sudah ya, Ayah pergi dulu." Ucap Pak Deni sambil bangkit berdiri lalu berpamitan pada sang istri.
Pak Deni tidak keberatan memiliki menantu seperti Kirana. Justru ia merasa senang dan berharap jika Haris bisa menikah dengan Kirana, karena ia juga sudah menyayangi Kirana seperti anaknya sendiri.
Kirana dan Haris memang sudah terlihat begitu dekat, namun belum tentu juga mereka akan berjodoh seperti yang diharapkan olehnya dan istrinya.
Kirana gadis yang baik bahkan sangat baik di mata Pak Deni dan Bunda Siti. Kirana juga selalu ramah kepada siapa saja.
"Yah, pokoknya Bunda mau Kirana jadi mantu kita! Gimana kalau kita langsung lamar saja, Yah?" Pinta Bunda Siti dengan penuh harap membuat Pak Deni kembali berbalik melihatnya.
"Ya ampun Bun. Ayah sih tidak keberatan. Ayah juga berharap kalau Haris punya istri seperti Kirana. Tapi Bun, kalau Bunda tiba-tiba melamar Kirana, apa ini tidak akan membuat Kirana menjadi merasa tidak nyaman, lalu Kirana menolak lamaran Bunda dan hubungan Kirana dengan Haris malah menjadi tidak dekat lagi?" Pak Deni merasa istrinya ini terlalu ingin memaksakan kehendaknya sendiri tanpa berpikir panjang.
"Sudah ya, Bun. Ayah berangkat dulu." Lanjut Pak Deni dan Bunda Siti hanya diam lalu mencium punggung tangan sang suami dan Pak Deni segera pergi.
...
Hari berikutnya adalah hari sabtu.
Weekend ini, Haris dan Kirana sudah janjian untuk jalan-jalan. Haris menghampiri Kirana ke rumahnya dan ternyata Kirana sudah siap untuk diajak jalan-jalan olehnya.
"Kamu cantik malam ini, Ki." Haris memberi pujian pada Kirana.
"Jadi cuma malam ini aja nih cantiknya?" Gurau Kirana.
"Ya enggak dong, Ki. Maksud aku, malam ini kamu terlihat lebih cantik." Jawab Haris sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Gombal! Ya sudah, ayo kak berangkat. Keburu malem." Ajak Kirana sambil melangkah keluar lalu menutup pintunya dan menguncinya.
"Aku serius, Ki. Aku bukan pria yang suka menggombal." Keukeuh Haris.
"Iya deh iya." Ucap Kirana lalu mereka tertawa bersama.
"O ya, kak. Kita mau jalan-jalan ke mana?" Tanya Kirana sambil menaiki motor dan duduk di belakang Haris.
"Bagaimana kalau kita ke taman kota?" Tanya Haris sambil melajukan motornya.
"Boleh, kak." Jawab Kirana dengan riang.
Kirana merasa sangat senang diajak ke taman kota, karena dulu saat dia masih kecil, dia sering diajak mendiang ayahnya jalan-jalan ke sana.
Kurang lebih tiga puluh menit, Haris menghentikan motornya di parkiran sebuah taman kota yang terlihat ramai pengunjung.
"Wah, taman ini semakin bagus dan juga ramai ya, kak?" Ucap Kirana setelah turun dari motor sambil melepaskan helmnya.
"Iya. Di sini selalu ramai dan akan semakin ramai kalau malam. Apalagi, malam minggu begini. Ayo!" Jawab Haris kemudian mengajak Kirana untuk berjalan.
Mereka berjalan bersama di pinggiran taman, terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan. Haris merasa sangat senang karena bisa mengajak Kirana jalan-jalan menikmati suasana taman kota yang indah dipenuhi dengan banyak sekali pasangan kekasih di taman ini yang juga sedang menikmati malam minggunya.
Kirana juga terlihat selalu tersenyum, sepertinya sangat senang.
'Aku harap, nanti kamu mau menerimaku jadi pacar kamu, Kirana! Syukur-syukur kamu bisa jadi pendamping hidupku untuk selamanya.'
Ucap Haris dalam hati sambil menoleh memandangi wajah cantik dan manis Kirana yang berjalan di sampingnya.
'PENG!!!'
"Aawh...ssshh!" Haris mengaduh dan mendesis ketika tiba-tiba menabrak tiang lampu taman.
Keningnya terbentur tiang lampu taman cukup keras, karena dia tidak memperhatikan jalan di depannya, malah terus memandangi wajah Kirana dari samping.
"Kak Haris! Astaga kak! Kenapa bisa nabrak? Sakit ya, kak?" Tanya Kirana dengan polos yang seketika menghentikan langkahnya dan melihat Haris sedang mendesis kesakitan.
Haris mengusap-usap keningnya sambil meringis karena keningnya terasa senud-senud akibat terbentur tiang lampu taman cukup keras. "Hemm, sedikit nyut-nyutan sih." Jawabnya dengan memaksakan senyumnya menahan rasa malu.
'Sakitnya sih enggak seberapa, tapi malunya minta ampun...' Gumam Haris dalam hati.
"Coba sini aku lihat, kak!" Kirana mendongak sambil menangkup wajah Haris dan melihat kening Haris yang tampak benjol.
Haris hanya diam tidak menolak perlakuan Kirana. Justru dalam hati ia merasa bersyukur mengalami kejadian yang memalukan seperti barusan ini. Karena dengan ini, ia dapat melihat wajah Kirana yang begitu dekat, bahkan merasakan kelembutan tangan Kirana yang sedang menyentuh keningnya.
'Kenapa kamu cantik banget sih, Ki?' Batinnya.
"Ya ampun, kak. Sampai benjol begini." Ucap Kirana sambil sedikit menekan kening Haris yang benjol.
"Aduh...awwh!" Haris meringis merasa sakit.
"Aduh, maaf maaf. Ayo kak, kita duduk dulu di sana!" Kirana menarik tangan Haris dan mengajaknya duduk di bangku taman yang kosong.
Kirana merogoh isi dalam tasnya dan mengambil saleb juga plester yang selalu ia taruh di dalam tasnya untuk berjaga-jaga.
Kirana menyentuh wajah Haris dan melihat kembali benjolan di keningnya. Haris dapat merasakan begitu halus dan lembut tangan Kirana yang sedang menangkup wajahnya. Ia menatap lekat wajah Kirana yang begitu dekat di depannya.
'Ki, please! Jangan bikin aku mati gaya!' Batin Haris.
Kirana membuka salepnya lalu dengan hati-hati mengoleskannya di kening Haris yang benjol. Kemudian membuka plesternya dan menempelkan plester itu di kening Haris yang benjol.
"Nah, begini kan jadi nggak kelihatan benjolnya." Ucap Kirana diselingi kekehan kecil terlihat menggemaskan dimata Haris.
Ingin sekali Haris menariknya dan menciumnya. Namun, ia tidak memiliki keberanian untuk itu. Haris memalingkan pandangannya ke arah lain lalu menghela nafasnya, mengatur detak jantungnya yang berdebar-debar saat ini.
'Apa ini yang dinamakan jatuh cinta yang sesungguhnya?' Ucap Haris dalam hati sambil menormalkan rasa yang tiba-tiba bergejolak dalam hatinya.
"Kak Haris? Kakak baik-baik saja kan?" Tanya Kirana yang memperhatikan perubahan wajah Haris.
"Emm, i-ya...aku, baik-baik aja. Ayo, kita jalan lagi!" Jawab Haris dengan sedikit gugup dan mengajak Kirana berjalan lagi untuk menutupi kegugupannya.
"Ayo!"
Kirana dan Haris beranjak dari tempat duduknya dan berjalan di tepian taman kota menikmati suasana malam hari di taman kota yang semakin indah ini.
......................