
Tidak mungkin Kirana berbalik lagi dan menghampiri Rendy. Ia merasa sangat kesal, marah juga kecewa dengan sikap Rendy malam ini.
Ia sangat peduli dan mengkhawatirkan Rendy ketika Beni mengatakan kalau Rendy pingsan. Tapi apa? Ternyata Beni menipunya agar ia mau datang dan hanya untuk membujuk Rendy supaya berhenti minum dan pulang. Ini sangat keterlaluan. Rendy kan bukan anak kecil lagi. Bahkan dia seorang pimpinan perusahaan besar ternama, sudah pasti dia bisa mengurus dirinya sendiri bukan?
"Ternyata dia nyebelin banget! Jangan harap aku bakal peduli dan khawatir lagi sama dia!" Gumamnya dengan sangat kesal dan marah.
Kirana menghela nafasnya panjang dan meremas tali selempang tasnya lalu kembali melangkah. Meski merasa ragu dan takut, ia harus tetap terus berjalan melewati dance floor.
Baru saja menginjakkan kakinya dilantai dansa, ada segerombolan pria yang menggodanya.
"Hallo cantik! Ayo menari dengan kami!" Seru salah satu laki-laki dengan menyeringai dan bau alkohol yang menyengat dari mulutnya lalu menarik tangan Kirana begitu saja untuk berjoget ditengah-tengah mereka.
"Eeeh lepasin! Aku mau pulang!" Pekik Kirana sambil memberontak.
Beni yang masih berdiri memperhatikan Kirana pun langsung menepuk pundak Rendy yang sudah kembali duduk dikursinya melanjutkan minumnya bersama Lena dan Berta.
"Bos!"
"Apaan lagi sih Ben?" Tanya Rendy dengan kesal.
"Itu mbak Kirana, dia..."
"Udah biarain aja dia pulang! Tempat ini nggak cocok buat dia!" Sahut Rendy memotong ucapan Beni.
"Bos, ada yang gangguin mbak Kirana!" Ucap Beni dengan cepat kemudian segera pergi ingin menolong Kirana.
Seketika Rendy menoleh dan bangkit berdiri dengan mengepalkan kedua tengannya saat melihat beberapa pria disana sedang mengepung Kirana dan terus menggodanya. Dengan cepat, Rendy melangkah menuju lantai dansa mengejar Beni yang sudah lebih dulu berjalan kesana.
"Iiiih lepasin! Sakiiit!" Pekik Kirana yang terus berusaha menarik tangannya yang digenggam erat oleh laki-laki tadi tapi sepertinya laki-laki itu tidak peduli dan masih memegang erat tangan Kirana sambil berjoget dikelilingi oleh teman-temannya sambil bersorak.
"Ayo sayang menarilah!" Seru laki-laki tadi dengan tertawa dan tangan satunya melingkar dipinggang Kirana lalu menariknya agar menempel dengan tubuhnya.
'BUGH!'
"Woy! Apa-apaan ini?!" Bentak laki-laki itu yang tiba-tiba mendapat bogeman dari Rendy dan seketika suasana menjadi panas karena langsung terjadi perkelahian disana.
Semuanya langsung menyingkir dan terdengar suara teriakan dari para wanita yang melihat perkelahian disebelah mereka.
"Aaah Mas Rendy!" Teriak Kirana saat Rendy hampir kena pukul tapi meleset karena Rendy langsung menghindar lalu ia menarik Kirana untuk berada dibelakangnya.
"Ben! Kamu bawa Kirana keluar! Cepat!" Teriak Rendy menyuruh Beni.
"Bos, sebaiknya kamu aja yang bawa mbak Kirana keluar! Biar aku yang mengurus semua ini!" Jawab Beni dengan menatap segerombolan laki-laki didepannya dengan waspada.
"O ****!" Umpat Rendy karena ia merasa bingung. Tidak mungkin ia membiarkan Beni berkelahi sendirian melawan mereka. Tapi, ia juga tidak bisa membiarkan Kirana berada disini melihatnya berkelahi.
Beni melawan mereka seorang diri dan Rendy masih berdiri diam bersama Kirana yang berada dibelakangnya dan terlihat sangat ketakutan. Setelah sejenak melihat bagaimana Beni melawan mereka, Rendy menarik tangan Kirana dan membawanya keluar.
Rendy melihat bagaimana Beni berkelahi melawan segerombolan laki-laki yang tadi mengganggu Kirana merasa tidak perlu khawatir. Karena ilmu bela diri Beni patut diacungi jempol dan mampu mengalahkan mereka.
"Lepas!" Pekik Kirana sambil menarik paksa tangannya yang digenggam oleh Rendy setelah berhasil keluar dari Club tersebut.
Rendy menoleh dan menatapnya. "Lain kali, jangan pernah lagi masuk ketampat seperti ini sekalipun ada yang bilang kalau aku yang nyuruh kamu, ngerti?!" Ucap Rendy dengan marah membentak Kirana.
Kirana memalingkan wajahnya dan mengerjapakan matanya menahan agar air matanya tidak keluar.
Rendy yang masih memperhatikan Kirana, ia menyadari kalau sikapnya sudah sangat keterlaluan terhadap Kirana. "Kirana? Aku.." Ucap Randy sambil meraih tangan Kirana.
Namun dengan cepat Kirana menepis tangannya dan menatapnya. "Sebaiknya Pak Rendy masuk dan bantuin Pak Beni didalam. Nggak usah peduliin saya. Saya mau pulang." Ucap Kirana dengan pelan dan terdengar sedikit bergetar karena menahan tangisnya lalu berbalik dan melangkah pergi.
Tapi dengan cepat, Rendy meraih tangannya dan menariknya dengan paksa, membawanya ke parkiran dimana mobilnya berada.
"Lepasin!" Pekik Kirana sambil memberontak tapi Rendy tidak akan membiarkannya lepas.
"Sakit! Lepasin!" Pekiknya lagi dan Rendy menghempaskan tangan Kirana hingga Kirana menubruk sisi mobilnya.
Rendy menatapnya dengan mata yang memerah karena menahan kemarahannya. Kirana mengusap pergelangan tangannya yang merah sedikit memar dan terasa perih karena tadi ia sudah dipegang sangat erat oleh laki-laki kurang ajar yang menggodanya dan barusan Rendy juga memegangnya dengan sangat erat.
"Aku mau pulang." Ucap Kirana dengan nada bergetar sambil menunduk mengusap pergelangan tangannya lalu berjalan kesamping ingin menghindari Rendy.
Tapi lagi-lagi Rendy menghentikannya dengan menarik lengan Kirana dan mendorongnya hingga tubuh Kirana membentur sisi mobil lalu Rendy mengungkungnya.
"Jangan coba-coba kabur lagi dari aku!" Ucap Rendy dengan penuh penekanan disetiap kata-katanya dan menatap Kirana dengan marah.
"Pak Rendy, saya mohon lepasin sayahmm.."
Belum selesai berucap, tiba-tiba Rendy membungkam bibir Kirana dengan bibirnya.
Kirana terbelalak merasa sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Rendy kepadanya.
Rendy menciumnya begitu saja dengan penuh emosional. Tidak ada kelembutan dan sangat kasar bahkan Rendy menggigit bibir Kirana hingga berdarah.
Dengan sekuat tenaga, Kirana mendorong tubuh tinggi Rendy hingga Rendy melepaskan bibirnya dan melangkah mundur dengan nafas yang memburu.
'PLAKKK!'
Kirana menampar Rendy dengan keras dan menatapnya penuh emosi dengan air matanya yang sudah mengalir dipipinya. Tubuh Kirana gemetar karena ia sangat marah, kecewa dan sakit sekaligus merasa takut.
Rendy hanya diam menatapnya lurus.
"Bos!" Seru Beni yang berjalan cepat menghampiri mereka berdua. "Mbak Kirana? Kenapa kamu menangis? Dan bibirmu?" Lanjutnya saat melihat Kirana menangis dalam diam dan ada luka dibibirnya.
"Kamu tanya aja..ke laki-laki brengsek ini!" Jawab Kirana dengan menangis lalu berteriak diakhir ucapannya sambil menuding Rendy yang masih terdiam menatapnya.
Beni menoleh menatap Rendy yang terlibat hanya diam dengan sorot mata penuh kemarahan lalu menatap Kirana kembali.
"Aku benci sama kamu!!" Teriak Kirana sambil memukul dada bidang Rendy dengan kuat lalu berbalik dan berlari pergi sambil menangis.
"Mbak Kirana?!" Teriak Beni yang melihat Kirana juga sangat marah kepada Rendy.
"Bos, apa yang terjadi?" Tanya Beni yang tidak tau menau apa yang terjadi diantara Rendy dengan Kirana karena ia juga baru saja keluar dari Club setelah memberi pelajaran kepada segerombol laki-laki yang telah menggoda Kirana tadi.
................