
"Kau sudah mengantuk?" Tanya ku pada Irgy saat kami sudah berada di kamar. Sementara Pelangi masih tetap meminta untuk tidur bersama ibu ku.
Irgy beranjak dari posisi yang sedah merebahkan diri di ranjang, kemudian meraih tubuhku ke dalam pelukannya.
"Sayang, kau membuatku penasaran." Jawab Irgy dengan bibir setengah manyun.
Aku mengerutkan kedua alisku tanpa bertanya maksud ucapan Irgy padaku kali ini.
"Tentang Nia, istri Kevin." Jawab Irgy kembali.
"E,eh.. Tidak apa, hanya salah paham kecil saja yank. Tapi aku yakin bisa menyelesaikannya sendiri nanti, ini hanya butuh waktu sedikit lagi." Jelasku menuturkan pada Irgy.
"Apakah itu.. Tentang hubungan mu dengan Kevin hingga kini?"
"Apa yang kau maksud hingga kini sayang? Apa kau masih berpikir aku dan Kevin berhubungan lebih dari sekedar teman biasa saat ini?" Jawab ku sedikit kesal.
"Hey, bukan seperti itu istriku. Duh, sensitif sekali sih.. Sini ku cium. Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti yang kau pikirkan sayang." Ujar Irgy sembari mengecup mesra keningku.
"Aku juga minta maaf yank, habisnya.. Kau berkata seolah aku dengan Kevin mengkhianatimu. Ini bukan tentang nya, melainkan... Tentang Ammar."
"Oh ya? Ammar?"
Tampak Irgy begitu terkejut mendengar ucapanku.
"Hemm.. Kau terkejut bukan? Haha, aku lebih tidak mengerti. Nia menganggapku merebut Ammar dari mendiang istrinya, entah darimana dia mendapat informasi sekonyol itu. Dia begitu ngotot dan terus menyalahkan ku hingga sempat mengancamku di malan pesta ulang tahun puteri kita."
"Astaga, jadi malam itu.. Kalian..."
"Ya, kami sempat beradu argument kecil. Walau sebenarnya dalam hati, aku ingin sekali menjambaknya saja. Dia begitu mengagungkan Ammar beserta keluarganya, nyebelin gak sih yank? Ih seenaknya saja, aku disebut sebagai perebut kekasih orang."
"Hahaha, hahaha, oh Tuhan."
Aku semakin kesal melihat Irgy kembali mengejekku dengan tertawaan. Tak peduli aku sudah menatapnya dengan tajam dan kesal. Aku mendecak kesal lalu melepaskan pelukan nya dari tubuhku. Tapi dengan cepat Irgy kembali menarik tubuhku hingga terjatuh di atas tubuh Irgy yang dengan sengaja terlentang kembali di ranjang.
"Kau..."
Aku memukul dengan keras bagian dadanya yang bidang. Dia meringis menahan tawa gelinya akan tingkahku.
"Huhft.. Betapa istriku ini sungguh sangat special, bukan hanya laki-laki bahkan perempuan pun cemburu padamu."
"Cih, apaan sih yank." Ujarku dengan menekuk wajahku dan tersipu malu, menyembunyikan wajahku dalam pelukannya.
"Kau memang special, tak heran semua mantan kekasihmu begitu masih mengharapkan dan menyesal telah menyakitimu, khususnya Ammar. Dan jika pun Nia menganggapmu wanita penggoda, ya biarkan saja. Itu suatu penghargaan bagi mu sayang,"
"Penghargaan? Bagaimana bisa?" Tanya ku dengan heran.
"Dia hanya belum mengenalmu lebih jauh, dia belum mengenal dekat betapa specialnya wanitaku ini. Ketulusan dan keikhlasanmu yang selalu mudah memaafkan membuat mereka geram dan berbalik kembali ingin memenangkan hatimu." Jawab Irgy dengan lembut, menatap wajahku dengan tatapan penuh makna.
"Tapi aku wanita bodoh yank, saat dulu. Aku selalu dengan mudah percaya dan terhanyut akan semua kata-kata manis dari setiap laki-kaki yang mendekatiku."
Ah, entah kenapa aku jadi ingin menangis mengatakannya.
"Sudah lah, jangan lagi menyesali semua masa lalu mu. Itu juga membuatky sedih, andai saja saat itu aku lah laki-laki pertama yang mengenal dan bertemu dengan mu. Aku pasti akan menjaga dengan baik kehormatanmu."
Ya, air mataku sudah merembes dengan sendirinya setelah Irgy mengatakan hal ini. Aku semakin merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini.
"Mengapa kau menangis? Oh Tuhan, maafkan aku sayang."
"Aku selalu merasa buruk setiap kali kau mengatakan itu."
"Aku mencintaimu," Ucap Irgy. Jawaban yang selalu membuatku luluh dan bergetar di hati.
"Aku juga mencintaimu Irgy. Selalu mencintaimu," Jawabku dengan mengecup singkat bibirnya. Dan ketika aku hendak melepaskan diri Irgy semakin mempererat pelukannya.
"Sayang, aku rindu." Ucap Irgy menyentuh nakal bagian tubuhku.
"Jangan sekarang. Aku..."
"Tidak bisa, aku sudah sangat ingin." Bantah Irgy.
"Sayang, malam ini tamu bulanan ku datang. Jadi kita tidak bisa...."
"Uh sayang, jangan seperti anak kecil begitu. Kau terlihat kekanak-kanakan."
"Biar saja, aku sangat rindu. Bagaimana aku melampiaskannya, aaah apa kau sengaja sayang?"
"Cih, dasar suami mesum."
Aku menggodanya dengan cubitan manja di kedua pipinya.
Seketika Irgy memagut bibirku dengan lembut, aku mulai memberikan perlawanan. Meski perlakuannya kali ini sangat terlihat dia begitu bergairah di penuhi nafsu.
Kami bercumbu mesra saling memadu kasih hanya dengan serangan ciuman dan pelukan yang begitu bergairah hampir semalaman suntuk.
Hingga pagi pun tiba...
Irgy tak kunjung juga bangun, sepertinya dia begitu lelah karena memaksakan diri semalaman bertarung memadu kasih meluapkan segala nafsu rindunya padaku.
Dia begitu menggemaskan ketika tidur lelap seperti ini, bulu matanya begitu lentik dan panjang. Kulitnya yang putih, dan nafasnya yang selalu menderu lembut.
Dengan perlahan aku mengecup keningnya saat masih memakai piyama handuk dan air yang masih membasahi wajahku terjatuh tepat di matanya. Hingga membuat Irgy sedikit mengernyit, aku terkejut. Takut dia semakin terbangun, dan dengan cepat aku membangunkan diri dari posisi ku yang setengah membungkuk.
Namun lagi lagi aku tertangkap oleh Irgy dan terjatuh dalam pelukannya. Dia tersenyum puas dengan posisi mata masih terpejam.
"Kau, sudah bangun?" Tanya ku gelagapan.
"Apa kau mencoba menggodaku pagi-pagi? Baik lah, aku juga belum puas semalaman bermain dengan mu."
Jawab nya menggodaku.
Aku tersipu malu dibuatnya.
"Kau nakal, selalu menggodaku. Cepat bangun, mandi."
Ucap ku sembari melepaskan diri dari dekapannya.
Kemudian Irgy beranjak bangun, dengan mata masih setengah terpejam. Menggaruk-garuk kepalanya dengan tingkah lucunya.
"Sayang, jadi kapan kau kembali kerumah?"
"Ehm, kau tanyakan saja pada peri kecilmu. Bukankah dia yang lebih menginginkan untuk menetap disini bersama oma nya?"
"Fiuht.. Kita memang harus segera memberinya adik, jadi dia akan puas berada dirumah ini sedangkan kita tidak akan kesepian nantinya."
"Aah, sayang. Kau ini, ih cepat mandi sana. Jangan terus berbicara konyol," Jawab ku mendorongnya menuju ke kamar mandi.
Lalu aku kembali menyiapkan diri untuk segera mengganti pakaian. Ku lihat beberapa kissmark bekas gigitan mesra Irgy memenuhi seluruh bagian dada dan leherku.
"Ah, ini menyebalkan."
Aku berseru sendiri di hadapan cermin. Tak berapa lama kemudian, Irgy keluar dari kamar mandi. Aku sudah menyiapkan baju pengganti untuknya, dia tersenyum nakal melihatku memakai baju yang tertutup di musim kemarau ini.
"Kau sedikit lucu dengan baju itu sayang." Ujarnya mengejekku.
Aku menyeringai mendengarnya. Semakin membuatnya tertawa cekikikan menggodaku.
"Kau puas sudah menggodaku dari malam tadi?"
"Belum, karena jatahku masih ku tabung." Jawabnya tanpa rasa malu.
"Oh ya ampun Tuhan. Terserah kau saja, cepat pakai baju mu. Lalu keluar kamar, aku keluar lebih dulu. Sepertinya Abel sudah bangun lebih dulu, suaranya terdengar begitu lantang dari luar."
"Baiklah, berikan aku satu kecupan dulu." Ucap Irgy menahan tangan ku.
"Sayang, kau ini."
"Kenapa? Hanya satu kecupan saja. Karena saat diluar nanti aku tidak mungkin mengecupmu di hadapan ibu dan Abel bukan?"
Dia mulai jago mengancam. Huh...
Dengan cepat aku mencium pipinya singkat. Irgy tersenyum puas dengan wajah memerah, membuatmu gemas ingin kembali menggodanya dan bercinta hingga puas.