
Kala senja di sore hari, aku dan Irgy berbincang santai sejenak di dekat kolam renang. Kami saling mengabari pada keluarga kami, Irgy ingin semua hadir. Irgy begitu antusias akan pesta ini dan Dia terlalu ingin membanggakan Pelangi kami.
"Nyonya, ada tamu." Bibi asisten menghampiri kami.
"Siapa, Bi?" Tanya ku heran lalu melirik ke arah Irgy.
"Katanya tamu dari jauh nyonya."
"Aah, itu pasti Abel. Ya, Abel berjanji akan datang berkunjung dan membawa Tama." Ujar ku pada Irgy lalu kemudian beranjak bangun hendak menuju ruang tamu.
Langkah ku setengah berlari tanpa memikirkan apapun lagi, aku sudah sangat ingin bertemu dengan Tama kecil. Karena itu akan membantu membuat Pelangi kembali ceria. Dan setelah tiba diruang tamu...
Degh !!!
Kedua bola mata ku rasanya sudah hampir mencuat keluar dengan apa yang ku lihat detik ini.
"Akhirnya kita bisa bertemu kembali, Fanny." Ujarnya menghampiriku, aku masih mematung. Ku lihat kedua matanya sudah berkaca-kaca, kemudian dia memelukku dengan erat dan lembut.
"Nia... Kau,"
"Kenapa? Kau terkejut dengan kedatangan ku atau kau tidak menyukai kejutan ini?"
"Ini, ini sungguh kejutan yang luar biasa." Jawab ku menatap ke arah Kevin kemudian, dan mulai lagi. Kebiasaan burukku hanya bisa menangis saat mendapatakan sesuatu hal yang tak terduga.
"Astaga, kenapa kau menangis?"
"Cih, kau yang lebih dulu menangis kan?" Jawab ku membalas ledekan Nia. Lalu kami kembali berpelukan layaknya seorang sahabat yang telah lama tidak bertemu.
"Astaga, hai. Apa ini? Apakah ini mimpi?" Ujar Irgy dari arah belakang. Dia melewatiku lalu kemudian saling merangkul hangat dengan Kevin.
"Apa kabar, Irgy? Kau begitu awet muda meski sudah memiliki 3 anak sekaligus." Ujar Kevin dengan meninju pelan ke arah dada bidang Irgy.
"Hahaha, kau mulai lagi. Tentu aku harus tetap menjaga kebugaran ku, jika tidak.. Fanny sudah pasti meninggalkan ku, hahaha. Kau juga tidak pernah berubah, kau awet muda. Kau masih tampan dan gagah, hahaha."
Aku tersenyum melihat tingkah mereka. Kevin memang masih tetap sama ku lihat, dia tetap tampan penuh karismatik. Bedanya, saat ini dia menghiasi wajahnya dengan kaca mata minus. Membuatnya semakin terlihat penuh kewibawaan. Sesekali mata kami bertemu diam-diam, dia melempar senyuman tipis namun tetap hangat padaku.
"Aah, suami ku. Bagaimana jika kita kembali saja ke hotel, aku datang kesini hanya untuk menemani Fanny berdiri saja sejak tadi." Ujar Nia kemudian mrngejutkan ku.
"E,eh.. Ah, ya ampun aku sampai lupa. Maafkan aku Nia, aku... Aku terlalu shock dan juga bahagia akan kedatangan kalian yang tiba-tiba." Jawab ku sembari mengajaknya untuk kembali duduk di sofa. Di susul oleh Irgy dan Kevin kemudian.
Lalu bibi asisten datang membawakan beberapa minuman dan cemilan untuk kami di ruang tamu. Kami mulai berbincang-bincang santai, saling bertukar cerita kehidupan sehari-hari kami selama ini hingga pembahasan kami sampai pada program kehamilan yang Nia dan Kevin jalani.
"Sayang sekali, rasanya aku sudah benar-benar menyerah Fanny. Pada akhirnya selalu gagal untuk menghadirkan bayi dalam rahimku ini," Ujar Nia dengan wajah sedih.
"Eh, Nia.. Jangan menyerah begitu saja. Mungkin Tuhan masih ingin menguji kalian, percayalah suatu hari bayi mungil itu akan hadir di tengah-tengah kalian."
"Rasanya sudah tidak mungkin, itu karena faktor usia kami yang sudah melewati batas kata dokter." Jawab Kevin kemudian.
Rasanya aku tidak mampu untuk memberikan dukungan dan kata-kata untuk menguatkan hati mereka. Mendadak hening dari perbincangan kami, Irgy menatapku seolah mengisyaratkan kata, dan aku hanya menggelengkan kepala.
"Ehm, kalian pasti sangat terkejut akan kedatangan kami yang tiba-tiba." Ujar Nia memecah keheningan diantara kami lebih dulu.
"Maafkan aku, Fanny. Tapi kedatangan kami disini, itu adalah ide dari suami ku, Kevin. Hihi,"
Aku mengernyit akan ucapan Nia, lalu menoleh ke arah Kevin. Irgy pun tampak bertanya-tanya, sangat jelas terbaca dari raut wajah nya.
"Setiap tahun aku selalu menghitung usia peri kecil ku, Pelangi. Dan aku sudah mengatur ini semua sejak lama, dan bahagia ku lagi. Nia lebih antusias saat aku mengajaknya ke indonesia untuk bertemu dengan mu."
Kembali aku terdiam menahan haru ku, rasanya bergidik di sekujur tubuh ini. Kevin yang ku kenal, ini diluar dugaan ku. Dia begitu peduli dan menyayangi Pelangi, rasanya sesak bercampur aduk dalam hati dan pikiran ku saat ini.
"Mama, papa.. Tolooong, Aaaaargh..."
Tiba-tiba terdengar suara teriakan canda tawa dari si kembar yang berlarian menuruni tangga. Membuat kami terkejut melihat ke arah tangga. Pelangi menyusul mengejar para adik-adiknya dari belakang.
"Upz..." Mereka tampak gelagapan berhenti begitu saja setelah menyadari kehadiran Kevin dan Nia diruang tamu bersama kami.
"Eh, om?" Ujar Pelangi dengan ekspresi terkejut ketika bertatapan dengan Kevin. Aku kebingungan melihat ke adah mereka bergantian.
"Eh, kau lagi Nak?" Kevin beranjak dari posisi duduknya.
"Kalian.. Sudah pernah saling bertemu?" Tanya Irgy kemudian.
"Tunggu, sayang. Apakah dia gadis mungil yang kau ceritakan di pertokoan accessories tadi?" Ujar Nia pada Kevin.
"Oh Tuhan, jangan bilang jika dia peri kecil ku, Pelangi." Ucap Kevin kemudian dengan berjalan menghampiri Pelangi yang berdiri kebingungan.
"Ehm, benar Vin. Dia Pelangi kita, kau terkejut bukan?" Irgy menjawab pertanyaan Kevin dengan tersenyum ke arah ku.
Pelangi semakin terkejut dan kikuk setelah Kevin langsung memeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang hingga menitikkan air mata begitu deras membasahi pipinya. Kemudian Nia beranjak menghampiri Pelangi dan memeluk nya juga.
"Peri kecil ku, kau sudah tumbuh besar sayang. Kau, hah.. sejak awal aku melihatmu tadi, aku merasa jika kau seperti bagian dari orang terdekat ku." Ujar Kevin dengan menyentuh kedua pipi Pelangi.
"Kau begitu cantik, Nak. Parasmu sangat lembut, pantas saja Kevin selalu memuji dan menantikan hari ini untuk bertemu dengan mu kembali. Walau sudah bertahun-tahun lamanya, namun suami ku tetap setiap menghitung tiap hari, minggu, bulan dan tahun." Jawab Nia dengan mengusap lembut kepala Pelangi.
Tampak Pelangi masih terdiam mematung dengan ekspresi yang sangat kaku juga sedikit risih saat Kevin berulang kali memeluknya.
"Om, tante. Disini juga ada kami yang tak kalah menggemaskan dari kakak Pelangi," Ujar si kembar menyela.
"Oh ya ampun, Fanny. Kalian, kami sampai lupa jika ada dua jagoan yang tampan juga disini." Jawab Nia yang kemudian memeluk putra kembar ku dengan hangat dan penuh kasih sayang.
"Kalian si kembar yang lucu dan pintar. Kemari, peluk om juga." Kemudian Kevin juga memeluk si kembar bergantian.
"Pelangi, dia om yang selalu kau panggil uncle baik kecil dulu. Apa kau ingat, Nak?" Ucap Irgy menjawab kebingungan Pelangi yang menghiasi ekspresi wajahnya sejak tadi.
Pelangi menggelengkan kepalanya dengan ragu menatapa wajah Kevin kembali.
"Hmm.. Kau membuat uncle baik mu ini jadi sedih, peri kecil."
"Maaf om, Pelangi..."
"Tak apa, Nak. Kau masih kecil saat itu," Jawab Kevin dengan mengusap kepala Pelangi dengan lembut.