
Pukul 19.00 malam.
Pelangi sudah siap dengan penampilannya yang begitu cantik dan imut. Dress berwarna pink muda dengan sepatu flat warna senada, rambut nya yang kini panjang dan lurus dia warnai cokelat, di tata rapi sedikit curly lalu di kuncir ponytail ala korea. Penampilannya malam ini sangat kontras terlihat di bawah sinar lampu di dalam kamarnya. Dia sedikit menonjol, tentu kecantikannya akan semakin terlihat.
"Ma, aku berangkat dulu. Aku hampir terlambat, sudah sangat berisik di grup sejak tadi. Huh..." Pamit Pelangi padaku.
"Pulang jangan terlalu larut, Nak. Jaga kesehatan, jaga diri baik-baik. Ingat, kau akan segera menjadi mahasiswa terbaik nantinya."
Ah entah kenapa aku begitu ragu mengizinkannya pergi untuk mengadakan party dengan teman-temannya kali ini.
"Ma, pa. Tenang aja, kita hanya berempat. Aku, Lucas, Jeni, Lisa, dan Joe. Itu saja, kami hanya merayakan kelulusan kami saja."
"Puteriku, ingat. Jaga pola makan, jangan sembarangan meminum atau makan makanan dari luar." Ujar Irgy kemudian.
Ah lagi-lagi aku semakin resah. Entah apa yang akan terjadi, ku harap bukan sesuatu yang buruk.
"Siap, pa." Jawab Pelangi dengan posisi siap seperti sedang upacara bendera.
Aku dan Irgy tersenyum melihatnya, puteriku kini sudah beranjak dewasa. Ya, dia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa.
.
.
.
.
.
Tiba di kafe yang sudah di tentukan dan dikirim alamatnya melalui Grup oleh Lucas, sehingga Pelangi lansung menuju ke lokasi. Dengan langkah santai Pelangi berjalan di koridor yang tampak sepi, hanya beberapa pelayan berlalu lalang melewati Pelangi yang berjalan dengan ekspresi ragu.
Mungkin karena ini ruang khusus VIP, jadi sangat sepi, Lucas bilang tempat ini juga privasi.
Gumam Pelangi dalam hati seraya terus berjalan hingga langkahnya terhenti saat melihat sosok yang di kenalinya membuka pintu satu ruangan.
"Oh, Joe. Kau sudah disini?"
"Waow, La..Langi, kau.. Cantik sekali." Joe terpaku berdiri akan kecantikan Pelangi malam ini.
"Dih. Mulai gombal kan, dasar." Balas Pelangi acuh.
"E,eh.. Sory, barusan aku hanya... Aku terkesima." Jawab Joe lagi.
"Mereka di dalam, masuk lah." Jelas Joe kemudian.
"Hem, aku akan masuk kalau begitu." Ujar Pelangi hendak masuk ke dalam ruangan, namun Joe masih saja berdiri terpaku di tengah pintu masuk, dia tercengang bahkan sampai terdengar jelas suaranya menelan ludah paksa.
"Joee..." Panggil Pelangi, karena merasa terhalangi saat hendak masuk ruangan.
"Eh, oh.. Maaf. Hehe, aku.. Aku ke toilet sebentar." Ujar Joe dengan wajah terkejut, ia tersadar dari lamunannya lalu kemudian pergi dari hadapan Pelangi.
Saat memasuki ruangan pun, ketiga sahabat Pelangi tercengang melihat penampilan Pelangi yang berbeda bagi mereka. Malam ini dia memang sangat jauh dari penampilannya yang sedikit tomboy saat bepergian atau menghadiri acara.
26"Oh my God. Apakah dia Princess cold kita???" Lisa terperangah dengan mulut menganga hingga satu French fries yang dia kunyah sejak tadi terjatuh karena mulutnya menganga.
"Aaah, ayolah. Mengapa kalian sampai begitu menatapku, apakah penampilan ku terlalu dewasa?"
"PERFECT!!!" jawab ketiganya dengan serempak sembari mengacungkan jempol.
"Kalian emang paling baik." Jawab Pelangi dengan senyuman nyengir lalu memilih posisi untuk duduk di sofa.
Sementara di luar sana...
Joe mondar mandir di toilet. Toilet di kafe itu sangat mewah, tak heran jika ini jadi kafe termahal. Toiletnya pun luas, oleh sebab itu Joe sangat leluasa mondar mandir sendiri di satu ruangan.
"Gila. Hah, jantungku hampir saja copot. Pelangi sangat cantik, aku sampai gemetaran." Ujar Joe dengan perasaan gelisah.
Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari saku celana levis yang di kenakannya. Dia peroleh secara ilegal dari salah satu teman yang baru dia kenal dia ketika dia dan Pelangi baru saja putus saat itu.
"Hah, rasanya aku sangat jahat jika terpaksa melakukan ini. Tapi, aku.. Aku tidak bisa berpikir jernih, aku sungguh takut." Ujar Joe kembali.
"Ah, sudahlah. Lebih baik ini aku simpan saja lagi, mungkin suatu hari ini akan sangat membantuku." Ujarnya lagi. Kemudian dia pergi keluar toilet, melangkah dengan ragu dan bimbang.
"Hai, Joe. Kau lama sekali di toilet, apa kau baik-baik saja?" Tanya Lisa tanpa rasa curiga.
"Eh, ya. Aku baik-baik saja, aku hanya.. Sedikit terperangah dengan toilet di kafe ini, begitu luas dan mewah. Seperti di hotel saja, hehe." Joe masih sedikit gugup dan berusaha menyembunyikannya. Hanya Jeni yang menatapnya seakan penuh curiga.
Prok prok prok !!!
Lucas bertepuk tangan dan beranjak berdiri. Mereka terdiam sejenak.
"Mari kita mulai party ini, guys...!!!" Teriak Lucas dengan lantang.
"Yeaaaaay..." Jawab mereka serempak dengan gelak tawa. Tak akan ada yang mendengar keributan mereka. Karena setiap dinding tembok di ruangan tersebut sengaja dibuat kedap suara.