
Dan pada akhirnya, dengan bermodal nekat. Setelah mendapat informasi alamat dimana Exelle, putera Ammar menempuh pendidikan SMA. Abel datang dan menunggunya di halaman pintu gerbang sekolah itu.
"Wah, sekolah ini tak kalah megahnya dengan sekolah Joe saat ini. Hanya saja, disini terlihat perkumpulan orang-orang kaya saja. Huh, andai saja Joe... Kau mau menuruti mami, untuk menjadi pengusaha saja." Ujar Abel menyeru setelah menatap gedung sekolah bertingkat yang begitu megah.
Tak lama kemudian beberapa murid berhamburan keluar karena ini sudah jam pulang, Abel sengaja datang lebih awal sebelum waktu pulang jam sekolah.
"Ah, aku sedikit lupa dengan wajah anak itu." Ucap Abel kembali dengan kepala mendongak sudah lebih mirip dengan seekor angsa.
"Ha,hai... Halo. Permisi, nak. Apa kau mengenal murid yang bernama Exelle?" Tanya Abel pada salah satu murid perempuan yang berparas manis nan cantik.
"Oh, Ex. Tentu, siapa yang tidak mengenalnya di sekolah ini."
Aah, dia sangat di kenali di sekolah ini ternyata.
"Apa kau melihatnya? Dimana dia?"
Murid itu menatapku sejenak, dengan penuh tanda tanya.
"E,eh.. Aku tante dari gadis yang di sukainya. Aku ada sedikit urusan dengan nya, bisakah kau membantuku untuk bertemu dengan nya?"
"What??? Ex menyukai gadis dari luar sekolah ini? Siapa dia? Secantik apa dia?"
Ya ampun, kenapa anak ini jadi berubah garang? Apakah aku salah bicara?
"Hahaha, anak manis. Kenapa kau langsung menebaknya, jika keponakan tante ini dari luar sekolah kalian?"
"Heh, jika gadis itu satu sekolah dengan kami. Kau tidak akan bertanya lagi siapa Ex di sekolah ini."
Gila. Apakah dia sungguh berpengaruh sebesar ini?
Kembali hati Abel bertanya-tanya.
"O,oh.. Begitu, tapi aku sedikit ada urusan penting. Bisakah kau mempertemukan ku dengan nya?" Jawab Abel dengan mendesaknya kembali untuk bertemu dengan Exelle.
Gadis itu tidak menjawab, hanya mengeluarkan sebuah ponsel dan saku seragamnya. Abel sedikit terbelalak, melihat anak itu menggunakan ponsel yang termahal dan keluaran terbaru bulan ini.
"Halo, Ex. Ada yang mencarimu, cepat sedikit." Titah gadis itu setelah menempelkan ponselnya di telinga kanannya. Ternyata dia menelpon Ex untuk Abel.
"Ehm, terimakasih Nak. Kau baik sekali,"
"Jangan berterimakasih dulu. Aku menelpon Ex juga karena aku pun membutuhkannya agar segera keluar. Hari ini kami akan makan siang bersama."
"Wow. Siapa kau? Pacarnya? Sejak tadi kau terus saja nyolot berbicara dengan ku." Abel mulai kesal dibuat oleh nada bicara murid itu yang berubah sedikit cetus.
"Aku memang bukan pacarnya saat ini, tapi calon pacarnya. Jadi, jika ada salah seorang yang berusaha mendekati Ex aku harus mendekatinya lebih dulu dan menjauhkan Ex dari orang itu."
"Hahaha, hai Nak. Kau baru mengenalku, kau belum tahu siapa aku. Dan lagi pula... Wah, penampilan mu sangat jauh untuk menandingi keponakan ku yang saat ini Exelle sukai."
"Aduh, tante. Kau pikir aku akan merasa minder dan akan mundur? Jangan mimpi di siang bolong, tante. Bangun woey, bangun."
"Eeeeh, kurangajar ya kamu. Tidak sopan, jamgan sampai aku merobek mulutmu itu." Abel mulai hilang kendali.
"Eh, tante."
Tiba-tiba Exelle sudah sampai di hadapan Abel yang sudah mulai akan berseteru dengan murid perempuan tadi. Abel tercengang menatap wajah Exelle secara dekat.
"Apakah tante yang mencariku?" Tanya Exelle kembali.
"E,eh... Kau... Ingat siapa aku, Nak?" Abel kikuk melempar tanya kembali pada Exelle.
"Tentu, tante. Kau yang saat itu di mall bersama pacar Pelangi bukan? Ups, mantan. Hehe, saat ini sudah mantan." Jawab Exelle dengan nada mengejek.
"Jadi dia siapa, Ex?" Tanya gadis tadi menyela diantara kami.
"Ehm... Kau pulanglah dulu. Lain waktu saja aku akan mentraktirmu makan siang, oke!" Ujar Exelle pada gadis itu.
"Tapi, Ex. Ah, kau payah sekali. Aku sudah menunggumu sejak tadi, lagi pula aku sudah mendapar izin dari kedua orang tua ku. Kau ingkar janji," Jawab gadis itu dengan terus saja merengek manja.
Exelle menatap Abel kembali, seakan dia ingin menyerbunya dengan tanya. Tapi berharap Abel akan mengerti posisi dia saat ini. Rasanya bukan diri Abel jika Abel akan menyerah begitu saja setelah berhasil bertemu dengan Exelle demi kepentingan pribadinya.
"Nak, tante ingin berbicara dengan mu. Ini masalah Pelangi dan anak tante, Joe."
Ya ampun, aku terpaksa memakai alasan ini. Maafkan mami, Joe. Maafkan tante, Pelangi ku yang cantik jelita. Ini juga demi kebaikan semuanya bukan?
"Oh. Pelangi? Baiklah, ayo kita cari tempat santai dulu tante. Supaya obrolan kita lebih nyaman, gimana?"
"Ex, iih... Jadi karena cewek itu. Kau akan membatalkan makan siang kita bersama?" Kembali gadis yang sejak tadi berdiri di sisi Exelle mendecak sebal.
"Lia, ayo lah.. Masih ada hari esok. Kau bisa pulang dulu hari ini, kita batalkan makan siang kita, hem." Jawab Exelle dengan lembut. Meski ekspresinya sudah sangat ingin marah pada gadis itu.
"Tapi, Ex..."
"Abelia!!! Jangan memaksa dan terus mengaturku. Aku tidak suka itu, kau mengerti?"
Abel terkejut ketika mendengar Exelle menaikkan nada bicaranya pada gadis itu. Dan lebih terkejutnya lagi, mengapa nama gadis itu harus menyerupai nama Abel? Dalam hati Abel mengumpatnya. Sayang sekali, namanya harus sama dengan nama Abel. Hihi
"Ih. baiklah. Terserah kau saja," Jawab nya lalu kemudian pergi dari hadapan Exelle dengan wajah di tekuk.
"Akh... Sungguh menyebalkan." Ucap Exelle menepuk keningnya.
"Maafkan aku ya, Tante." Ucapnya lagi pada Abel.
"Oh, tidak apa. Nak, tante lah yang harus meminta maaf padamu. Karena harus menyita waktu kalian hari ini, apakah dia pacarmu?"
"Hahaha. Bukan tante, kami hanya teman akrab saja. Tidak lebih, dia memang sedikit pemarah dan manja. Aku tidak suka sifat cewek yang seperti itu, ups... Maaf tante, jadi curhat. Hehe," Exelle tertawa nyengir pada Abel.
Iya, dia memang gadis yang menyebalkan. Terlebih lagi, namanya itu... Merusak kebangsaan nama Abelia saja, tidak bisakah dia bersifat manis dan lemah lembut sedikit?
Gumam Abel dalam hati, dia sedikit kesal mengetahui nama gadis tadi yang memiliki nama sama dengan nya. Bedanya hanya panggilan namanya menggunakan kata terakhir.
"Tante, halo..."
Abel terkejut setelah Exelle melambaikan tangannya di hadapan Abel yang sedang terhanyut sesaat.
"Ah, ya. Hahaha, maaf Na. Hemm, syukurlah jika dia bukan pacarmu. Akan sangat menyakiti Pelangi nantinya jika dia tahu hal ini, bukan?
Exelle seolah terkejut dan menatap Abel dengan heran mendengar kata Abel barusan.