
Diperusahaan Pradipta Grup, Kirana merasa gelisah.
Sejak empat hari ini, dia tidak melihat sosok tampan Presdir yang dikagumi semua perempuan didalam perusahaan ini karena Pak Presdir tampannya sedang keluar negeri.
Dia juga sama sekali tidak mendapat kabar atau pesan singkat yang biasa Rendy kirim kepadanya hanya menanyakannya "Lagi apa?" "Udah makan belum?"
Perhatian kecil yang diberikan Rendy membuat hati Kirana selalu merasa berbunga-bunga. Tapi, bagi Kirana, itu hanya sebuah basa basi saja. Kirana masih tidak ingin berharap lebih pada hubungannya ini dengan Rendy karena Rendy sendiri juga masih belum jelas. Masih sering bertemu Lena dan saat ini, Kirana sama sekali tidak tau kalau Rendy pergi ke New York meninggalkan pekerjaannya hanya demi ingin menolong Olivia.
Kirana menghela nafasnya kemudian merapikan mejanya karena pekerjaannya telah selesai dan dia bersiap ingin pulang. Padahal masih belum jam pulang kerja. Karena dia merasakan tidak enak badan sejak tadi pagi.
"Yola, Rossa, aku duluan pulang ya?" Ucap Kirana sambil bangkit berdiri meraih tasnya.
"Hmm. Tiati." Jawab Rossa tanpa menoleh masih fokus pada layar komputernya.
"Kamu makin pucet banget Ki? Kamu tunggu aku bentar deh ya, aku anter kamu pulang." Ucap Yolanda dengan penuh perhatian sebagai teman baiknya.
Sejak pagi tadi, Kirana memang merasa kurang enak badan dan kini dia semakin merasa lemas dengan wajahnya yang semakin pucat.
"Makasih banget Yola. Tapi, nggak usah deh. Kau sekalian mau mampir ke apotek beli obat." Jawab Kirana dengan tersenyum manis meski merasakan tubuhnya semakin lemas. Dia berusaha untuk tetap kuat. "Ya udah ya, aku duluan." Imbuhnya kemudian beranjak pergi.
"Kamu hati-hati ya Ki!" Seru Yolanda yang melihat Kirana sudah berjalan keluar ruangan.
Kirana hanya menoleh dan menunjukkan jempolnya pada Yolanda.
Kirana merasa pusing dan dia ingin segera sampai dirumahnya untuk berbaring. Dia menolak Yolanda untuk mengantarnya karena tidak ingin merepotkan temannya yang sudah terlalu sering membantunya.
Haris juga sedang ada urusan pekerjaan keluar kota. Jadi, Kirana dua hari ini tidak berangkat dan pulang bersama Haris.
Kirana ingin memesan ojek online melalui aplikasi di ponselnya. Baru saja mengambil ponselnya didalam tas, dia merasakan ada banyak kunang-kunang di pandangannya. Tapi pandangannya menjadi semakin gelap. Kirana memegangi kepalanya dan "BRUGH!" Dia jatuh pingsan di trotoar, di samping gerbang perusahaan Pradita.
...
Kurang lebih dua jam kemudian, Kirana tersadar dan dia masih merasakan kepalanya yang berdenyut sangat pusing.
Perlahan dia membuka matanya sambil memegangi kepalanya. Begitu matanya terbuka, dia mengerjap dan menyipitkan matanya untuk menyesuaikan pandangannya yang terkena cahaya lampu yang terasa begitu terang dimatanya.
Setelah matanya sudah terbuka dengan sempurna. Dia melihat sekeliling ruangan ini. "Loh, kenapa aku bisa ada disini?" Gumamnya saat menyadari kalau dirinya saat ini sedang ada di rumah sakit.
Kirana bangkit duduk dan dia merasakan sebelah tangannya nyeri. Ternyata ada selang infus yang menempel ditangannya.
'Ceklek'
Kirana menoleh menatap kearah pintu dan jantungnya kembali berdebar-debar saat melihat sosok tinggi tegap dengan wajahnya yang selalu terlihat tampan sedang berjalan mendekatinya. "Mas..Rendy?"
Rendy hanya diam, terus berjalan mendekat lalu duduk disampingnya. "Kalo emang sakit, nggak usah berangkat kerja! Bikin khawatir aja tau nggak?!" Ucap Rendy dengan wajah galaknya. Namun, dalam hati dia memang sangat mengkhawatirkan Kirana.
"Kamu..khawatir sama aku Mas?" Tanya Kirana dengan gugup dan menatap lebar Rendy merasa tidak percaya.
"Tentu aja aku khawatir sama kamu! Pake nanya lagi!" Jawabnya sambil mencubit hidung Kirana dengan gemas.
"Aduh! Iiiih sakit Mas!" Kirana kemudian mendengus kesal sambil menepis tangan Rendy dan mengerucutkan bibirnya.
Kemudian menyengir senyum-senyum sendiri. Hatinya berbunga-bunga dan sangat senang karena Rendy mengkhawatirkannya.
'Pletak!'
"Aduh! Aawh! Pak Rendy apa-apaan sih? Sakit ih!" Pekik Kirana sambil mengusap-usap keningnya karena Rendy menyentilnya cukup keras dan memanggil Rendy dengan sebutan Pak lagi.
Kirana seketika membungkam mulutnya dan menggeleng cepat. "Aku bisa laporin Pak Rendy karena udah menganiaya pasien yang tidak berdaya loh!" Ucap Kirana yang masih berani memanggilnya Pak karena dia merasa begitu kesal dengan Rendy.
Rendy menghela nafasnya dan memilih untuk mengalah. Meskipun ancaman Kirana hanya sebuah candaannya saja. Kalau pun serius, Rendy juga tidak akan takut. Tapi, melihat Kirana yang masih pucat, dia merasa kasihan dan khawatir.
"Ya udah, sekarang kamu makan dulu, terus minum obat!" Rendy meraih makanan yang ada diatas laci samping tempat tidur Kirana. "Aku suapin." Imbuhnya.
"Nggak usah. Aku..bisa sendiri." Tolak Kirana kerena dia merasa malu kalau harus disuapi oleh Rendy. Dia juga merasa sangat gugup. Namun, hatinya berbunga-bunga dengan sikap Rendy yang begitu perhatian kepadanya seperti ini.
Rendy menyodorkan tempat makan yang berisi makanan yang tadi diberikan oleh petugas rumah sakit kepada Kirana dan membiarkan Kirana makan sendiri.
Flashback On!
Kebetulan tadi, setelah Rendy menemani Olivia periksa. Dia melihat perempuan yang dibopong oleh dua orang. Yang satu masih muda dan satunya lagi paruh baya.
Rendy menyipitkan matanya saat melihat perempuan yang baru saja dibaringkan di brankar kemudian segera didorong menuju IGD. "Kirana?" Gumamnya sangat lirih.
Olivia yang menyadari kalau Rendy sedang memperhatikan sesuatu. Dia mengikuti arah pandang Rendy yang mengarah ke ruang IGD. "Ada apa Ren?"
Andreas baru saja selesai mengurus biaya administrasi dan mengambil obat untuk Olivia. "Ini obatmu. Hasil pemeriksaan, nanti akan langsung dikirim ke alamatmu."
"Makasih ya. Kalian udah nemenin aku. Maaf, udah bikin repot kalian." Ucap Olivia dengan wajah sendu dan merasakan perasaan yang sangat bersalah kepada dua laki-laki tampan ini.
"Udah nggak usah mellow deh! Ayo pulang. Dokter menyarankan kamu untuk bed rest dan nggak boleh banyak pikiran apalagi melamun!" Tegas Andreas dan Olivia hanya tersenyum tipis.
"Kalian duluan aja. Aku ada urusan." Sahut Rendy yang membuat Olivia menoleh menatapnya.
"Apa perlu bantuan dariku?" Tanya Andreas menunjukkan sikap sebagai teman yang baik.
"Makasih. Tapi nggak perlu. Kamu anter aja Oliv pulang." Jawab Rendy yang seketika membuat senyum diwajah Olivia sirna.
"It's ok. Don't worry. Aku bakal jagain dia." Ucap Andreas dengan tersenyum.
Olivia merasa begitu senang saat Rendy bisa kembali memberi perhatian kepadanya. Tapi tiba-tiba, Rendy mengatakan kalau ada urusan dan meminta Andreas mengantarnya pulang. Ada rasa kecewa didalam hatinya yang tidak bisa dia ungkapkan. Hanya bisa diam dan mengikuti langkah Andreas keluar menuju parkiran rumah sakit.
Setelah melihat Andreas membawa pergi Olivia, Rendy segera berjalan dengan cepat menuju ruang IGD untuk memastikan apa yang tadi dilihatnya memang benar. Bahwa itu Kirana.
Flashback Off!
"Mas, gimana ceritanya kamu bawa aku kesini? Seingatku, tadi aku lagi mau pesen ojek online, tapi tiba-tiba semuanya gelap dan aku nggak inget apa-apa lagi. Nggak ada yang liat kamu bawa aku kan mas?" Tanya Kirana yang merasa cemas sedikit panik. Kalau sampai ada yang melihat terutama karyawan Pradipta Grup yang melihat Rendy membawa Kirana pergi, sudah dipastikan esok harinya semua orang disana akan menghujatnya habis-habisan.
"Pertanyaanmu itu udah melebihi wartawan tau nggak! Udah, habisin dulu makanannya!"
Kirana pun terdiam dengan wajah yang cemberut dan segera melahap makanannya seperti orang kelaparan tanpa peduli Rendy yang terus memperhatikannya. Bodo amat kalau seandainya laki-laki tampan didepannya ini menjadi ilfeel kepadanya. Itu sangat Bagus bagi Kirana. Malahan Kirana berharap kalau Rendy merasa ilfeel dan segera memutuskan hubungan dengannya.
Tapi nyatanya, Rendy malah tersenyum tipis melihat gadis polosnya ini.
Dia ini bener-bener deh! Nggak bisa apa jaim dikit didepan pacarnya?
Batin Rendy lalu menggelengkan kepalanya.
Bukan merasa ilfeel, malah dia semakin tertarik kepada Kirana yang selalu bersikap apa adanya. Tidak pernah dibuat-buat.
................