Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 136



"Nak Abel, apakah suamimu baik-baik saja selama kalian berjauhan seperti ini?" Tanya ibu ku padanya, di tengah asyiknya perbincangan kami.


"Tak apa tante, lagipula suamiku orang yang sibuk. Bahkan kami bisa terhitung bertemu hanya sekali dua kali saja dalam seminggu. Oleh sebab itu dia tidak pernah melarang ku pergi kemanapun yang aku suka asal Tama bersamaku."


"Lagi pula, Abel mana bisa diatur bunda. Dia punya dunia nya sendiri, haha. Iya kan Bel?" Jawab ku menyela menggoda Abel. Yang kemudian di susul gelak tawa oleh Ibu dan Abel mendecak kecal akan candaan ku.


Telepon rumah berdering. Bibi Asri bergegas menerima sebuah panggilan itu, lalu menoleh ke arahku.


"Nona muda, Tuan Irgy ingin bicara dengan nona." Ucap bibi Asri sembari memberikan telepon rumah padaku.


Aku segera menerima nya.


"Halo sayang, dimana ponselmu? Aku sudah menelponmu berkali-kali sejak tadi."


Aku terkejut dengan ucapan Irgy yang terdengar membentakku. Ada apa dengan nya?


"Maafkan aku sayang, ponselku di kamar. Aku diruang tamu sedang berbincang bersama Abel dan ibu. Ada apa? Kenapa kau terdengar begitu cemas?"


"Maafkan aku. Aku hanya terlalu panik," Jawab Irgy di ujung ponselnya. Ia terhenti sejenak tanpa suara membuatku semakin bertanya-tanya.


"Pergilah temui Kevin dirumah sakit. Dia membutuhkan kita saat ini."


"Kevin? Ada apa dengan Kevin?" Aku berdiri dari posisi duduk ku seketika, terasa bergetar di sekujur tubuhku mendengar ucapan Irgy. Tanpa sadar air mataku menetes setelah Irgy menuturkan apa yang Kevin sampaikan padanya pagi ini.


"Pergila lebih dulu, aku akan menyusul. Mungkin sedikit terlambat, karena aku sedang diluar kantor rapat penting dengan clien."


"Ba..baik, aku akan segera menemui Kevin."


Panggilan telepon terhenti. Abel dan ibu masih menatap ku penuh kecemasan.


"Ada apa Nak?"


"Bunda, Fanny harus segera ke kota A sekarang juga. Nia sedang dirumah sakit, kondisinya sangat buruk. Kevin memberitahu Irgy kabar buruk ini."


"Aku ikut." Ucap Abel menyela. Aku mengabaikan ucapan Abel dengan terus menjelaskan apa yang terjadi kepada ibu ku.


"Bagaiman kau pergi kesana hanya seorang diri?" Tanya ibu menahan ku.


"Tante, Abel akan menemani dan menjaga Fanny. Tante jangan khawatir ya," Jawab Abel kembali.


"Irgy akan menyusul kesana bunda, percayalah... Fanny akan baik-baik saja." Jelasku meyakinkan ibu untuk tidak mencemaskan ku.


Ibu mengangguk dengan cepat.


"Mama, Pelangi ikut jayan-jayan ya." Celoteh Pelangi tiba-tiba memeluk ku dari arah samping.


"Ehm, nak. Mama bukan ingin pergi jalan-jalan, tapi mama akan menjenguk tante Nia dirumah sakit. Pelangi anak baik dan pintar, tinggal dirumah dulu dengan oma baik ya." Jawab ku dengan lembut mencoba menahannya.


Aku tidak mungkin membawa Pelangi disaat genting seperti ini bukan?


"Tapi kakak Tama..."


"Kakak akan menemanimu adik kecil, rumah sakit itu tidak nyaman. Tidak ada tempat bermain untuk kita, sangat bau. Apa kau mau?" Jawab Tama kecil dengan pintar. Aku tersenyum puas menanggapinya.


Pelangi mengangguk walau dengan wajah sedih.


"Tama putera ku, mami janji. Sepulang nanti, mami akan membawa ice cream yang banyak buat kalian, ok."


"Yes !! Mami terbaik." Jawab Tama dengan sumringah.


Kemudian aku bergegas menuju kamar untuk meraih tas ku. Dengan secepat kilat mengganti pakaian santaiku tadi. Lalu dengan tergesa-gesa aku keluar kamar, Abel sudah menunggu ku di ruang tamu dengan sigap.


🌻🌻🌻


Tiba dirumah sakit yang Irgy kirimkan alamatnya melalui pesan singkat. Aku mulai gugup, langkahku terasa berat. Aku tidak sanggup melihat betapa pilunya wajah Kevin yang sudah bisa ku bayangkan. Dia akan terlihat begitu sedih tentunya...


"Fan, hati-hati lah berjalan. Kau hampir terjatuh," Ucap Abel menegurku ketika langkah kaki ku tersandung. Menyadari aku sudah di papah oleh Abel sembari berjalan.


"Terimakasih Abel. Aku hanya sedikit gelisah, pikiran ku kacau." Jawab ku sembari terus berjalan lebih cepat.


Tak lama kemudian tiba di sebuah ruang VIP dengan nomor yang tertera di pesan singkat Irgy tadi. Langkahku terhenti sejenak si depan pintu ruangan tersebut, mengingat sikap Nia yang selalu dingin padaku. Entah apakah saat ini dia akan tetap berprilaku yang sama?


"Fanny, ayo..." Ucap Abel mengejutkan ku kembali. Lalu tanpa berpikir lagi aku membuka pintu ruangan tersebut.


Tampak Kevin yang sedang duduk sembari menggenggam tangan Nia. Hatiku sudah semakin pilu melihatnya demikian. Pasti saat ini Kevin sangat khawatir.


Mendengar suara pintu yang tertutup begitu saja, Kevin menoleh ke arah belakang dimana posisi ku sudah berdiri saat ini di dalam ruangan yang sama.


"Fanny, kau.. Sudah datang? Dimana Irgy?" Sapanya dengan lembut. Kedua matanya di hiasi kantung gelap, wajahnya begitu pucat dan rambut yang selalu dia tata rapi begitu acak. Sangat jelas terlihat, dia begitu cemas dan melewatkan jam istirahatnya semalaman.


"Irgy, ehm.. Sebentar lagi dia akan menyusul, bagaimana kondisi Nia?" Jawabku lirih sembari melangkah maju menghampirinya. Sedang Abel hanya diam tanpa bersuara, dengan setia di sisiku menemani.


"Nia... Nia mengalami sindrom pasca traumatic. Saat ini, hanya obat penenang yang bisa membuatnya berhenti menggila. Dia tidak mengenalku, dia selalu mengumpat padaku, bahkan aku tidak boleh menyentuhnya lagi. Dia seperti ketakutan, dia terus berteriak, aku... Dan aku..."


Oh Tuhan, aku tidak mampu melihatnya demikian.


Tanpa berkata sesuatu apapun aku memeluk tubuh Kevin, layaknya aku memeluk tubuh anak kecil yang sedang kehilangan mainan yang di sayanginya. Dan ini entah yang keberapa kali aku melihat serta mendengar tangisan pilu dari sosok seorang Kevin.


"Tenang lah, menangislah sepuasmu jika itu membuatmu lega. Nia akan baik-baik saja, percaya padaku. Nia pasti akan pulih kembali Kevin," Jawab ku mencoba menenangkannya.


"Kau tahu Fanny, malaikat kecil yang tak ku duga hadir di rahim nya juga pergi. Belum sempat aku menyapanya, belum sempat kami berkenalan melalui suara." Ujarnya dengan isakan tangis.


"Oh my God. Kenapa tragis sekali hidupmu Tuan tampan." Ucap Abel spontan.


Bukan terkejut lagi dalam hati ini, sekujur tubuh terasa panas dingin. Bagai tersengat aliran listrik saja, sehingga membuat mulutku terkunci untuk memberikan beberpaa kata suport untuk Kevin.


Perlahan ku lepaskan pelukan nya, lalu ku tengadahkan wajahnya dengan kedua tangan ku menyentuh pipinya.


"Kau adalah laki-laki yang kuat. Aku yakin kau bisa melewati ini semua, istrimu Nia akan kembali pulih. Dan malaikat kecil itu pasti akan hadir kembali di tengah-tengah kalian."


Kevin mengangguk tanpa kata. Aku menyeka air mata yang terus saja mengalir deras membasahi pipinya. Hatiku sakit melihatnya terpuruk demikian, dia menjadi sosok yang lemah. Dia laki-laki baik, bagaimana mungkin Tuhan mengujinya demikian sadisnya?


Di tengah kepiluan ini, Abel menepuk bahuku. Memberikan isyarat jika tanpa kami sadari Nia mulai membuka matanya. Kevin terkejut dan menghampiri Nia.


Namun lagi-lagi Nia seperti ketakutan dan berteriak meminta tolong. Kevin berusaha meyakinkan jika dia adalah suaminya, tidak akan ada orang yang menyakitinya. Amukan Nia begitu kuat, sehingga Kevin tak mampu mendekapnya dalam pelukan.


"Tolong panggilkan dokter." Perintah Kevin dengan terengah-engah.


"Ba,baik. Aku saja yang memanggilnya," Jawab Abel dengan sigap. Sementara aku pun panik dan ketakutan, kondisi mental Nia sungguh menakutiku.


Ketika tatapan Nia menyadari keberadaan ku, dia mengumpat kasar. Dan berucap jika ini karena ku, aku terkejut akan ucapan nya itu. Aku ragu untuk melangkah maju membantu Kevin menenangkannya. Segala benda di sekitar Nia di lemparnya ke seluruh ruangan.


"Nia, Nia. Ku mohon tenanglah, ini aku Fanny. Aku tidak akan menyakitimu, dan dia.. Dia Kevin suamimu, kau pasti mengenalinya. Dia suamimu,"


Aku masih berusaha berkata demikian untuk menenangkannya. Walau Kevin sudah berusaha menahan amukan demi amukan Nia, dan satu gigitan yang begitu keras Nia berikan tepat di lengan Kevin hingga meninggalkan bekas luka.


"Kevin, kau tak apa?" Tanya ku dengan panik.


Dan sebuah gelas kaca melayang tepat mengenai keningku hingga pecah. Entah kapan Nia meraihnya dan melemparnya padaku.


"Ah !!!"


Sangat perih ku rasa. Dan kedua mata ku terbelalak ketika telapak tangan ku di lumuri darah segar. Sepertinya keningku terluka parah akibat pecahan gelas tadi.


"Fanny !!!"


Teriak Kevin menghampiriku. Lalu merobek baju kaus yang di gunakannya, aku kebingungan ketika dia mencoba menghentikan darah yang terus mengalir di keningku.


Dan aku tersadar ketika Nia mencoba meraih sebuah guci pot bunga untuk melemparkannya kepada Kevin yang menghampiriku.


"Kevin, awas..."


Aku mendorong Kevin pergi dari hadapanku. Sehingga guci tersebut mengenai bahu ku, dalam sekejap aku merasakan pening di kepala ku. Seluruh ruangan terasa berkeliling dan kemudian gelap, aku tidak bisa lagi merasakan sekujur tubuhku bergerak.


Sayup ku dengar suara Kevin yang terus memanggil namaku, namun aku tidak bisa membuka mata ku kembali. Dan perlahan aku tidak lagi mendengar suara nya. Semua terasa sepi, menghilang pergi.