
"Ehm, aku toilet sebentar. Kalian lanjutkan saja dulu kehaluan kalian itu. Hihi," Pelangi beranjak pergi sembari meledek para sahabatnya. Lalu Joe menyusul Pelangi dari belakang tanpa izin pergi dahulu pada yang lainnya.
"Langi!" Panggilnya dari belakang. Langkah Pelangi terhenti lalu menoleh ke belakang.
"Eh, Joe. Ada apa?"
"Aku, ingin bicara sebentar."
Pelangi mengangguk.
"Ehm.. Bolehkah aku bertanya satu hal yang konyol?"
"Apa itu, Joe?"
"Langi, apa kau percaya jika aku bisa ikut bersamamu masuk di universitas Harvard?"
"Cih, kau ini bicara apa? Tentu aku percaya Joe." Jawab Pelangi melempar senyum.
"Jika aku gagal?"
Pelangi menarik nafasnya dalam-dalam.
"Joe, satu hal yang harus kamu ingat. Jika kau memulai sesuatu dengan ragu di awal, maka kau akan gagal. Karena hati dan pikiran buruk sudah menguasaimu sejak awal."
"Apakah kau begitu ingin masuk universitas itu?" Tanya Joe kembali mengalihkan.
"Apa kau lupa itu kampus yang dimintai banyak orang sampai detik ini? Tentu aku sangat ingin. Oleh karena itu aku sangat berusaha keras dan beruntung beasiswa itu menjadi milikku."
"Jika kau gagal tes nantinya bagaimana?"
"Tidak. Aku akan berusaha, aku pasti akan lulus." Jawab Pelangi lagi dengan mantap.
"Kau bilang, kau benci saat berada di LN."
"Eh, benarkah aku berkata demikian Joe?"
"Atau.. Ini karena Exelle yang memaksamu?"
Pelangi memelototinya ketika Joe bertanya demikian.
"Joe, kenapa kau terus saja menuduh apa yang ku lakukan itu untuk dan karena Exelle. Aku dan Exelle hanya bersahabat, sama seperti kita saat ini."
"Tidak, Langi. Kita berbeda, aku mencintaimu. Masih mencintaimu, aku masih menganggapmu pacarku."
"Heh, aku sudah menegaskannya padamu Joe. Sebaiknya kita bersahabat saja, aku ingin fokus belajar dan mendapat gelar kedokteranku. Aku sudah tidak ingin mengenal pacaran dulu, aju belum siap sakit hati."
"Apa sikapku saat itu terlalu menyinggung mu sehingga kau begini padaku, Langi?"
Pelangi terdiam sejenak. Saat itu dia memang sangat kecewa pada sikap Joe yang lebih mengedepankan keberadaan Maria.
"Hah, sudah lah. Aku tidak ingin membahasnya, lagi pula kita masih bisa bersahabat bukan? Sejak awal aku tidak bisa menjalani hubungan lebib dari ini padamu Joe. Kita sudah bersahabat sejak kecil, jadi mungkin sikapku padamu hanya terlebih pada seorang kakak. Maafkan aku Joe..."
Tubuh Joe seakan bergetar mendengar pernyataan gadis di depannya itu, selama ini dia masih berharap dan terlalu percaya diri jika Pelangi masih memiliki perasaan lebih padanya.
"Mungkin keduanya. Sebagai sahabat, apakah aku tidak berhak memiliki rasa takut kehilangan mu, Joe?"
"Kenapa kau tidak membiarkan ku mati saja, itu lebih menenangkan."
"Joe!!!" Bentak Pelangi.
"Hah... Ingin rasanya aku menangis sata ini." Ujar Joe dengan membawa bola matanya menghadap keatas untuk membuatnya tidak menjatuhkan air mata.
"Joe... Tolong jangan membebaniku dengan perasaan itu. Lebih baik lupakan semua itu, kita bersahabat seperti dulu lagi. Tanpa ikatan yang akan membuat kita kehilangan keduanya, cinta dan sahabat."
"Apa kau sungguh membenci Maria dan tidak mempercayaiku?"
Sontak Pelangi menarik nafas kesal, karena Joe kembali menyebut nama Maria di depannya. Karena kenyataannya rasa kecewa itu masih ada, jadi.. Mendengar nama Maria cukup membuat Pelangi panas.
"Mungkin detik itu. Tapi jika saat ini pun kau akan menjadikannya pacar, aku akan mendukungmu. Karena kenyataannya, persahabatan kalian jauh lebih dulu terjalin bukan?"
"Tapi perasaan cintaku padamu jauh lebih dulu jadir meski aku dan Maria sudah bersama."
"Joe, aku tidak ingin di cap sebagai perebut kekasih orang lain lagi. Sudah lah, tak apa. Aku akan mendukungmu dengan cewek manapun nanti. Hem.." Jawab Pelangi masih berusaha menasehatinya dengan lembut. Menahan rasa kesalnya karena menyadari sifat Joe saat ini terkesan pemaksa. Dan dia tidak suka itu.
"Aku.. Aku ke toilet dulu." Pamitnya lagi utuk menghindari pertanyaan dan pikiran konyol apa lagi yang akan Joe berikan.
"Jika begitu, jauhi Exelle. Demi persahabatan kita, Langi."
Langkah Pelangi kembali terhenti saat Joe menyuruhnya demikian.
"Apa, apa alasan mu menyuruhku demikian? ini tidak ada hubungannya dengan Exelle."
"Aku tidak suka padanya." Teriak Joe.
"Berhenti mencemburuinya, Joe. Kau tidak lagi berhak melarangku berteman dengan siapa bukan?"
"Kau bilang aku ini seperti kakak bagimu, lalu kenapa kau masih membantahku?"
"Apa yang salah dengan Exelle, hah? Selama ini dia baik sama aku, Joe. Dia tidak pernah berbuat macam-macam. Pertemanan kami murni secara sehat."
"Oh, jadi kau mulai membandingkan dan menyindirku dengan sikap Exelle yang begitu?"
"Astaga. Kau salah paham lagi, ah sudahlah. Terserah apa saja yang kau pikirkan. Aku tidak peduli itu, tapi yang ku lihat kau justru begitu berambisi. Merasa seakan Exelle menjadi lawanmu dalam suatu pertandingan."
Joe mulai geram mengepalkan kedua tangannya.
Ex, enyahlah kau kali ini. Beraninya kau membuat wanitaku berpikir kau adalah yang terbaik. Kau selangkah maju dariku, maka aku akan 1000 langkah lebih maju. Kau tidak akan pernah mendapat ruang sedikitpun di hati Pelangi.
"Joe, Joe. Ah, kau melamun lagi. Terserahlah, aku harus ke toilet. Ehm, ku mohon kau bisa menerima keputusan ku ini. Kita tidak bisa bersama lagi dalam ikatan diluar persahabatan kita."
"Apa sedikit pun hatimu tidak bergetar ketika kita beberapa kali berciuman selama ini, Langi? Aku bahkan belum melupakan manisnya bibirmu saat itu hingga kini."
"Ya Tuhan, Joe. Kau makin ngelantur saja bicaranya, aakh terserah kau saja." Pelangi pergi dengan perasaan kesal tanpa memberikan Joe kesempatan untuk berbicara lagi atau sekedar meminta maaf atas ucapannya barusan.