
POV
Hari mulai beranjak malam, sudah saatnya melepas lelah. Begitupun Exelle dan Lucky, tinggal bersama dalam satu atap yang baru saja mereka di pertemukan sebagai saudara. Ada asisten khusus untuk mengatur segala hal yang menyangkut mereka di dalam rumah itu. Dan untuk diluar rumah, ada beberapa penjaga yang bertugas untuk menjaga keamaan mereka.
Rumah yang sengaja Ammar siapkan untuk mereka tak besar, rumah mungil dengan satu lantai, sebuah dua mobil sekaligus, rumah itu sudah tentu bernuansa luar. Layaknya perumahan di sisi kanan dan kirinya. Namun di dalamnya, jangan di tanya lagi. Ammar sudah menyiapkan segalanya, dari ruang bermain game, ruang olahraga, ruang santai pribadi, dan banyak lainnya lagi, membuat Exelle merasa betah layaknya rumah sendiri.
Exelle sedang berbaring santai di sebuah sofa depan TV, sembari mengutak atik ponselnya. Lucky yang melihatnya sedang senyam senyum sendiri, menghampiri dengan membawa sebotol minuman segar.
"Kau mau?" tanya Lucky seraya melempar botol minuman tersebut. Dengan sigap Exelle menangkapnya.
"Houp!!!" ujarnya setelah berhasil menangkap lalu memutar tutup botol yang masih tersegel, setelah ia menegaknya beberapa tegukan. Lucky hanya menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Lagi-lagi dengan sigap Exelle megutak atik ponselnya, senyam senyum sendiri hingga wajahnya terlihat sampai memerah.
"Ex..." Panggil Lucky lirih.
"Hem, ya? Kenapa?" jawab Exelle sembari masih terus menatap layar ponselnya.
"Apakah, gadis itu pacarmu?"
Exelle menolehnya seketika, mengangkat kedua alisnya menatap pada Lucky.
"Maksudmu si cewek galak?"
Lucky mengangguk.
"Hahaha, bukan. Kami masih dalam ikatan sebagai teman dekat, eh mungkin bisa dibilang sebagai sahabat dekat."
"Apakah dia memang galak?"
"Tidak, dia justru sangat manis dan manja. Aku menjulukinya demikian karena pertama kali kami bertemu, dia begitu dingin dan jutek. Aku suka, dia tidak banyak bicara, sederhana apa adanya dan simpel."
Lucky masih terdiam dengan tatapan datar pada Exelle yang memuja muji Pelangi dengan senyuman bibir merekah.
"Ah, aku jadi membayangkannya lagi. Jantungku berdegub cepat, huh." ujanya lagi dengan menarik nafas dalam-dalam.
"Apakah namanya, sungguh Pe-la-ngi?" tanya Lucky lagi dengan ragu-ragu menyebut nama Pelangi.
"Ya, cantik bukan? Sesuai dengan parasnya. Dia sangat periang dan terkadang juga cerewet. Sangat menggemaskan, maka itu aku sangat suka menggodanya setiap kali kita bertemu."
Lucky kembali terdiam, menundukkan wajah, menatap sebotol minuman yang hanya tinggal satu tegukan di genggaman tangannya.
"Hei, lalu bagaimana dengan mu dan Lisa si ratu berisik itu? Apakah kalian pernah dekat satu sama lainnya?" Exelle kembali beranjak dari posisinya, lalu duduk menatap wajah Lucky.
"Eh, aku tidak merasa kenal dengan nya. Mungkin pernah bertemu tapi aku.. Aku lupa."
"Hah, astaga. Mengapa kau begitu kaku dalam hal mendekati seorang wanita, apakah perlu ku ajari?"
"Woah, jadi kau sudah memiliki tambatan hati nih? Apakah papa yang menjodohkan kalian? Huuh, papa."
"Oh, tidak. Tidak, bukan begitu Ex. Justru, papa yang membuatku harus mengalah dan melupakannya. Tapi aku tidak menyalahkan papa, aku mengerti. Mungkin papa ingin aku tidak fokus dengan hal lainnya dulu saat itu."
"Ah, aku lupa. Papa bilang kau pernah tinggal di Indonesia bukan? Wah, jangan bilang jika wanita itu ada di Indonesia?"
Lucky mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat lalu menundukkan wajah, sedikit meremas botol yang ada di genggamannya saat ini.
"Hah, sudah ku duga. Hahaha, sangat lucu sekali. Apakah kau menyukai anak gadis itu sejak masa kecil? Tentu saja papa akan melarangmu. Karena kau masih ingusan, jika kau tetap di Indonesia bersamanya apakah kau yakin saat berpisah kau tidak akan menyakitinya?" Exelle mulai mengoceh dengan merebahkan badannya kembali di sofa.
"Aku.. Aku tahu itu, Ex. Saat itu, aku tidak memiliki teman di sekolah. Karena sikapku yang kaku ini dianggap aneh, dan hanya dia yany mau berteman denganku."
"Lalu, apakah kau tidak pernah berniat mencari kabar tentangnya lagi? Barangkali dia juga masih mencarimu, masih mengingatmu atau mungkin juga menunggumu." Jawab Exelle dengan santai.
"Ehm, itu tidak mungkin. Sepertinya kami tidak akan pernah bertemu lagi, Ex." ujar Lucky dengan wajah yang murung.
"Ah, kau ini. Bodoh sekali, kau bisa mencarinya di akun sosial media, kau hanya tinggal mengklik namanya bukan? Mudah saja, bro."
Lucky hanya menggelengkan kepalanya mendengar ocehan Lucky.
"Tidak, aku tidak ingin memakai cara seperti itu. Biarlah, aku akan berpasrah diri pada keadaan dan waktu, sampai akhirnya semua itu akan berpihak padaku."
Exelle terdiam sejenak, menatap lekat sosok yang kini di ketahui sebagai saudaranya.
"Kau ingin aku membantuku?"
"Eh, tidak. Ti,tidak perlu, Ex. Aku masih belum siap jika nantinya kami harus bertemu. Aku belum siap untuk mengakui inilah aku, yang dulu pernah menyerah lalu pergi meninggalkannya begitu saja dari persahabatan kami."
"Aakh, rasanya ikut sedih mendengar kisahmu itu."
Lucky tersenyum tipis melihat ke arah Exelle.
"Sudah lah, aku akan tidur lebih dulu. Aku sangat lelah, dan selamat tidur Ex." ujar Lucky beranjak berdiri lalu pergi menuju kamarnya.
"Hem, selamat tidur juga bro. Semoga kau bertemu dengannya di alam mimpi, hahaha." jawab Exelle menggodanya, lalu kemudian dia mencoba untuk menelpon Pelangi hanya untuk mengucapkan kata selamat tidur.
Sementara di dalam kamarnya, Lucky mencuci kedua tangan dan kakinya, lalu membersihkan wajahnya. Begitu kebiasaannya selama ini, menggosok giginya dengan bersih, lalu sejenak berdiri menatap kaca di dekat wastafel tempatnya membersihkan wajah barusan.
Terbayang sosok Pelangi yang shock ketika dia meminta maaf dan membungkukkan setengah badannya di depan Pelangi. Hingga Pelangi sampai menitikkan air mata, walau dengan alasan konyol karena flu dan cuaca dingin menerpa. Lucky bisa membaca nya dari kedua bola mata Pelangi yang sedang berbohong.
"Pe-la-ngi... Hah, kenapa sampai saat ini aku masih merasa sakit jika mendengar nama itu. Meski mungkin, itu hanya nama yang sama. Dia memang cantik, dia juga lucu. Cih..."
Lucky tersenyum membayangkan sosok Pelangi yang masih belum juga di sadarinya. Jika dia adalah orang yang sama, namun dengan cepat Lucky menghentikan senyumannya yang selama ini dia rasa tak pernah setulus ini menebar senyumannya sendiri.
"Oh Tuhan, tidak seharusnya aku tersenyum seperti ini. Membayangkan wajah seorang gadis yang saat ini sudah menjadi milik Exelle, saudaraku. Aku, aku tidak mungkin menjadi seorang laki-laki perebut kekasih saudaranya sendiri. Maafkan aku, Ex. Aku sedikit lancang."