
Satu minggu sudah berlalu. Sejak hari itu, kegilaan dan sikap nekat Exelle yang mendatangi sekolah Pelangi menempuh pendidikan. Hingga kini Exelle masih mengusik Pelangi, namun sikap kegilaan Exelle justru membuat Joe dan Pelangi semakin menunjukkan kemesraan. Hubungan mereka sudah berjalan 3 bulan lamanya, tidak hanya itu. Pelangi mulai terbiasa dengan segala sikap mesra Joe yang seperti biasa, sesekali masih saja suka memberi kecupan mesra di bibir Pelangi.
Malam ini, Pelangi di undang makan malam oleh Abel dan suaminya. Sudah berulang kali Abel meminta Joe untuk membawa Pelangi berkunjung kerumah nya. namun baru kali ini Pelangi bersedia menerima undangan tersebut.
"Puteriku, Pelangi. Ayo makan yang banyak, Nak. Joe bilang ini makanan favorite mu. Tante dan si mbok sudah bela-belain loh masak ini semua untuk mu."
Pelangi sedikit menahan rasa malu dan salah tingkah akan perlakuan Abel serta suaminya selaku orang tua Joe, yang kini bukan lagi sebagai sahabatnya, melainkan pacar.
"Udah dong, Mi. Pelangi jangan disuruh makan banyak mulu daritadi, nanti dia gendut."
"Memangnya kenapa, Joe. Jika Pelangi mu gendut? Apakah kau keberatan?" Tanya Papa Joe menggoda nya kemudian.
"Ah, Daddy. Itu justru membuatku akan semakin mencintainya karena dia tentu akan sangat menggemaskan."
"Hahaha... Sepertinya anak kita sudah mulai dewasa, Mi."
"Tentu dong, sayang. Mereka juga sangat cocok ya, duh gemas."
Pelangi hanya bisa tersenyum dengan wajah tersipu malu. Diam-diam dia mencoba membalas perlakuan Joe, mencubit pahanya di bawah meja. Joe yang mendapatkan cubitan manja dari Pelangi cekikikan menahan gelak tawa.
Seusai makan malam, Pelangi dan Joe berbincang santai di dekat kolam. Tempat Joe biasa menghabiskan waktu santainya di malam hari. Mereka duduk di sebuah sofa empuk, di temani dengan dua gelas jus jeruk hangat dan beberapa cemilan di atas meja yang melingkar di depan mereka.
"Kau tahu, Langi. Setiap malam, disini selalu menjadi tempat terfavorite ku semenjak tiba di Indonesia dan tinggal di rumah ini."
"Tempat ini sangat nyaman, aku juga berpikir demikian. Saat malam kau bisa memandangi ribuan bintang selain menatap ketenangan air di kolam ini,"
"Ku rasa bukan begitu, alasan ku menjadikan tempat ini sebagai favorite."
"Lalu?" Tanya Pelangi menoleh nya kemudian.
Joe tersenyum manis menatapnya, lalu menyentuh pipi Pelangi. Menyibakkan rambutnya yang menutupi sebagian wajah mungilnya.
"Saat itu, ketika kau belum mengenaliku.. Tempat ini selalu menjadi saksi dan teman curhat ku, setiap kali aku termenung membayangkan mu, mengingat masa-masa kecil kita dulu, meski tidak seluruhnya aku mengingatnya."
"Cih, mulai gombal deh." Pelangi tersenyum dengan mengerutkan batang hidungnya. Membuatnya terlihat imut di mata Joe.
Ya ampun, kenapa dia imut sekali sih malam ini. Aku jadi tidak tahan ingin terus menggodanya.
Bathin Joe bergumam.
"Hahaha, aku serius. Saat itu kau sangat menakutkan, Langi. Aku hampir tidak percaya itu, bagaimana mungkin kau yang ku kenal saat kecil dulu, begitu ceria, periang, cerewet, manja, bahkan sangat jahil. Lalu kemudian berubah menjadi sangat dingin."
"Hah, kau membahasnya lagi Joe. Itu membuatku malu dan tidak ingin mengingatnya lagi, lagi pula itu juga salahmu. Kau mengerjaiku, kau sengaja menggodaku dahulu."
"Hahaha, aku pikir kau akan langsung mengingatku setelah aku menggodamu dan mengerjaimu dengan semua yang pernah aku lakukan saat kecil dulu."
"Itu sudah berlalu bertahun-tahun, Joe. Bagaimana mungkin aku mengingatnya,"
"Sungguh? Ah, hatiku sakit mendengarnya. Ku pikir namaku tak tergantikan oleh yang lainnya, eh tunggu.. Apakah sebelum kau sudah memiliki pacar, Langi?"
"Iih. Apaan sih, apakah aku terlihat sudah berpengalaman dalam berpacaran?"
"Hahaha. Ayo lah, jangan bercanda."
"Dih, siapa yang bercanda sih? Aku serius. Aku tidak pernah berpikiran akan memiliki pacar sebelumnya, karena..."
"Karena apa, Langi?" Joe segera memutus ucapan Pelangi.
"Karena.. Ya karena tidak ingin saja. Aku belum siap untuk merasakan sakit lagi setelah dua kali aku di paksa berpisah dengan orang-orang terdekatku."
"Terpisah? Tunggu, apakah setelah aku pindah ke LN kau dekat dengan seseorang selain diriku?"
Pelangi terdiam sejenak, mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia tidak ingin membahas ini, tapi sepertinya tanpa sadar dia pun membahasnya secara tidak langsung di hadapan Joe.
"Ti,tidak. Ti-dak Joe, tidak ada. Kau yang pertama, semua nya yang telah kita lakukan selama berpacaran itu hal yang baru pertama ku jalani. Itu sebabnya, Joe. Aku selalu merasa kaku dan sedikit canggung karena aku belum terbiasa, berdekatan ataupun bersentuhan dengan lain jenis. Karena rasanya bagiku itu..."
Cup!!!
Satu kecupan singkat Joe berikan di bibir Pelangi karena dia sungguh sangat gemas melihat kekasihnya itu mulai berceloteh tanpa jeda.
"Joe... Ih, kau.. Nanti tante dan om melihatnya, mereka akan berpikir hubungan kita terlalu jauh."
"Hah? Apaan, jauh apanya? Hahaha. Astaga, Dasar bodoh, memangnya apa yang aku lakukan barusan?"
"Tsk.. Kau selalu mencuri ciuman ku. Dasar pencuri, nyebelin ih."
"Hei. Jangan marah,"
Joe memeluk tubuh Pelangi dengan hangat, tubuh Pelangi serasa tenggelam dalam dekapan Joe tertutupi oleh kedua bahunya yang tegak lebar.
"Hah, rasanya aku semakin hari semakin dibuat jatuh cinta dengan sikap lugu mu ini, Baby."
"Huh, jangan coba gombal lagi."
"Aku tidak gombal, lagi pula hingga kini kau selalu menyebutku pencuri ciuman mu. Yang barusan aku lakukan adalah kecupan tanda sayang."
"Apa bedanya? Bagiku itu sama saja." Bantah Pelangi dengan menengadahkan wajahnya menatap manja pada Joe. Kemudian Joe pun menatapnya dengan senyuman lembut sembari masih memeluk hangat tubuh Pelangi.
Lama mereka saling memandang satu sama lain, kedua mata mereka bertemu, seakan mengajak mereka mencoba menikmati malam ini dengan penuh cinta. Walau di dalam sana, jantung mereka seakan saling menabuh genderang mau perang.
Perlahan Joe semakin mendekatkan wajahnya, Pelangi sedikit memundurkan wajahnya. Menahan rasa takut, malu, salah tingkah, dan bingung harus berbuat apa.
"Langi..." Panggil Joe dengan suara lirih.
"Ehm?" Jawab Pelangi kebingungan.
"Boleh kah aku, ehm.. Hah, sudah lah. Lupakan!!!" Joe mengurungkan niatnya untuk memberikan ciuman manis di bibir Pelangi. Dia tidak ingin membuat Pelangi marah dan menganggapnya cowok mesum.
"Kau mau ini?"
Cup!!!
Kini giliran Pelangi yang menyentuh bibir Joe dengan sangat lembut. Joe membelalakkan kedua matanya, dia tersipu malu kemudian. Menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hah, Langi. Bagaimana ini?"
"Hahaha, apaan sih? Jangan konyol dan mengerjaiku begitu, aku malu."
"Tidak, aku hanya berusaha menahan diri. Ini kali pertama kau menciumku lebih dulu, dan itupun tepat di bibirku. Aku ingin membalasnya, tapi..."
"Dih, gak boleh. Kau bahkan sudah membalasnya lebih dulu tadi,"
"Tidak, itu hanya kecupan singkat saja. Semua orang yang bisa memberikannya untuk siapa saja, tidak harus untuk pacar kita."
"Apa? Coba kau ulang lagi, ucapan mu barusan. Jadi kau bisa mencium semua cewek siapapun itu selain aku, begitu?"
"Yah, salah lagi kan."
"Tau akh, silahkan saja jika kau berani mencium siapapun itu cewek diluar sana. Kau bebas, dasar. Semua cowok memang menyebalkan, mereka selalu semaunya sendiri tanpa..."
Joe tidak lagi mampu mengontrol dirinya, untuk berdiam saja mendengar ocehan Pelangi yang menunjukkan kecemburuannya. Ini sangat lucu bagi Joe, semakin dia ingin menggodanya.
Dengan cepat dan tanpa menunggu Pelangi menghentikan omelannya, dia meraih dagu Pelangi lalu menciumi bibir nya agar menghentikan ocehannya sejak tadi. Pelangi sedikit meronta setelah Joe mencoba ******* bibirnya, kali ini Joe sungguh memberinya ciuman hangat dan mesra. Sekujur tubuh Pelangi terasa bagai di sengat listrik, jantungnya berdebar kian semakin kencang. Joe pun merasakan hal yang sama, namun dia berusaha menetralisir perasaan yang begitu unik di rasakannya.
Hingga perlahan Pelangi melemahkan kedua tangannya yang mencoba melepaskan diri. Joe semakin menarik leher Pelangi untuk memberikan kenyamanan yang lebih manis, Pelangi mulai memejamkan kedua matanya dan perlahan membalas ciuman Joe yang begitu lembut dan hangat serta terasa manis tentunya. Ya, ini ciuman pertama mereka setelah hubungan pacaran mereka berjalan tiga bulan lamanya.