Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 224



Malam ini Pelangi ingin segera lelap dalam tidur setelah selesai berbincang sebentar dengan Joe melalui panggilan telepon. Namun tanpa sengaja sebuah panggilan masuk lain dia terima setelah mematikan panggilan telepon dari Joe, kekasihnya.


"Aha, akhirnya kau menerima panggilan ku. Cewek galak, hihi."


Sontak Pelangi menarik nafasnya dalam-dalam, mulai kesal. Menyesali keteledoran jemarinya menerima panggilan telepon tersebut.


"Halloha, hei cewek galak. Ngomong dong, masih saja diam tanpa kata. Aku dengar desah nafas mu loh, seksi."


"Cowok gila. Mau apa lagi sih?"


"Mau ku, kenal lebih dekat lagi dengan mu. Hehe,"


"Dasar gak waras!"


Klik!!!


Pelangi langsung mematikan panggilan dari telepon tersebut dan mulai menggerutu.


"Ya ampun, dosa apa sih aku ini bisa ketemu cowok lebih gila dari yang sebelumnya pernah mengejarku. Apaan coba, pemaksa, kasar, ediot." Pelangi membanting ponselnya diatas kasur. Lalu berbaring memeluk boneka bantal kepala minnie mouse.


Pandangannya tertuju pada satu miniatur karakter minnie mouse pemberian Lucky yang hingga kini masih dia simpan diam-diam. Pelangi tersenyum tipis, menarik nafasnya dalam-dalam dengan memejamkan kedua matanya.


"Tidak tidak. Aku tidak boleh mikir masa lalu lagi, itu masa kecil yang buruk dan hanya akan menyakitiku nantinya." Ujarnya kemudian.


Lalu beberapa menit kemudian kembali ponselnya berdering. Panggilan telepon tetap dari nomor yang sama tadi, membuatnya mendecak kesal di kasur.


"Apa lagi sih, jangan menggangguku. Ini sudah jam tidur, apa kau sungguh sengaja melakukannya untuk balas dendam hah?"


"Hahaha, apa aku terlihat pendendam cewek galak? Eh bukan, siapa tadi.. Julukan mu, Ehm.. Prin-cess Cold, ah ya. Sangat unik, itu sesuai dengan mu."


"Ku mohon, jangan selalu menelpon ku, ok. Aku sangat lelah, aku mengantuk, besok harus sekolah. Aku yakin kau juga seorang murid bukan?"


"Hemm.. Aku memang seorang murid, bagaimana jika aku datang berkunjung ke sekolah mu besok."


"Jangan gila ya. Lagi pula kau tidak tahu dimana aku sekolah, dan jangan macam-macam kau berulah. Atau tidak... Aku akan meminta pacar ku menghajarmu."


"Oh ya? Pacar? Woah, aku jadi semakin tertarik nih.. Baru pacar kan? Bukan suami? Hihi."


"Apa aku terlihat sudah bersuami? Dasar ediot."


"Terserah apa saja yang kau katakan untuk memaki ku, aku suka mendengarnya. Kau pikir hal yang sulit menemukan dimana kau sekolah? Sampai jumpa besok, cewek galak."


"He,hei.. Hei, Tung.."


Bip bip bip...


Panggilan selesai.


"Aaaaarrrgth... Nyebeliiin, makhluk darimana sih dia itu? Beraninya mengancam ku demikian. Tapi, bagaimana jika dia benar-benar datang ke sekolah besok? Joe pasti akan marah besar. Aaaaaakh, aku izin absen saja besok."


Pelangi mendecakkan kedua kaki nya di kasur, menenggelamkan wajahnya di balik bantal. Mencoba menghindar dari bayangan buruk yang terlintas di pikirannya saat ini, mengingat ancaman cowok yang meneleponnya barusan.


🌻🌻🌻


POV Exelle


"Woy, Ex. Elu baik-baik aja kan? Geger otak gak lu tuh?" Tanya salah satu teman nya.


"Hem, sepertinya. Cewek tadi membuat otak dan hatiku tidak berfungsi dengan benar. Hahaha,"


"Gila lu ya, cewek yang manaan? Mereka cewek barbar tahu gak? Gila, galak bener mereka. Cerewet bukan main, ampun gue."


"Hahaha, oh ya? Gue rasa enggak tuh, yang satu ini beda brow. Dia lebih manis, dan dua temannya itu justru lebih cocok buat kalian. Hahaha,"


"Dih, ogah gue."


"Eh tapi si tomboy itu manis sih, gagah berani."


"Yang berhasil menyisakan kesan manis di tubuh boss kita ini?" Tanya salah satu temannya lagi.


"Yo'i bro. Hahaha, selama ini belum pernah ada cewek yang berani menghinanya seperti itu."


"Gue gak peduli, yang penting saat ini gue udah punya nomor ponsel si cewek galak itu bro."


"Cih, dasar lu bos. Cewek-cewek yang ngejar lu banyak yang jauh lebih cantik, di banding si cewek galak tadi."


"Enggak, gue lihat dia beda dari yang lain. Entah kenapa tatapan matanya itu bikin gue tenang. Biarpun dia galak tapi tetap menggemaskan."


Sesampainya dirumah Exelle. Yang sejak kecil dia tinggal bersama kakek dan neneknya, namun selalu di kelilingi harta yang berlimpah ruah, di manja, penuh kasih sayang dan perhatian, bahkan diam-diam dia selalu di ikuti dengan beberapa orang penjagaan khusus.


"Oma..." Panggilnya setelah sampai di sebuah taman luas di belakang rumah megah nya, dilihatnya sang nenek sedang duduk menikmati teh bersama sang kakek.


"Haduh, tidak bisakah opa saja yang lebih dulu kau panggil?" Protes sang kakek.


"Hahaha, ayolah opa. Jangan selalu cemburu," Exelle merangkul manja di leher sang kakek.


"Eh tunggu dulu, ada apa ini? Tidak biasanya langsung main peluk opa. Pasti ada maunya, iya kan?" Sambut sang kakek menengadah melihat wajah cucu tunggal kesayangannya itu.


"Ups, ketahuan deh. Opa emang paling bisa nih, jago banget soal begini."


"Hmm.. Dasar, katakan nak. Apa yang kau pinta kali ini?" Ujar sang nenek kemudian.


"Ehm.. Oma, opa. Ex boleh minta bantuan orang-orang suruhan opa gak, untuk mencarikan alamat sekolah teman ku."


Mendengar hal itu, sang kakek dan nenek Exelle menatapnya heran. Berusaha menelusuri kebohongan Exelle yang sudah terbaca oleh mereka.


"Huhft.. Kali ini bukan untuk mengerjai anak gadis lagi ya, opa dan oma tidak mau sampai di buat malu lagi dengan ulah kejahilan mu itu."


"Hahaha, ampun oma. Opa, kali ini tidak akan mempermalukan kalian kok, tenang aja."


"Baiklah sayang, malam ini sudah akan dapat alamat teman gadismu itu. Sebutkan saja data dirinya,"


"Cih, opa membuatku malu saja. Gadis apaan, dia sungguh teman baru ku. Dia sangat baik, kali ini bukan gadis gila yang hanya akan menguras kantong ku lagi opa. Percayalah,"


Lalu Exelle menyebutkan segala ciri-ciri termasuk nama dan panggilan khas Pelangi yang ingin dia dekati saat ini. Saat tiba malam hari, betapa Exelle sungguh puas setelah berhasil mendapat alamat sekolah Pelangi menempuh pendidikan.


"Sudah ku duga, mencari alamat sekolah cewek unik sepertimu ini akan mudah. Aku bisa melihatnya dari wajah mu yang cantik itu, kau tidak mungkin berada di sekolah menengah biasa. Calon dokter rupanya, tapi... Aaah, kenapa harus dokter? Aku benci itu. Rasanya tidak mungkin jika aku harus pindah ke sekolah itu, itu hanya akan membuatku tersiksa dengan segala alat dan proses praktek nya nanti. Menyebalkan, menjijikkan, ah tidaaaaak!!!"


Exelle menghempaskan tubuhnya berbaring di atas kasur empuk nan mewah dan selalu bersih serta wangi, yang tersedia di kamarnya selama ini. Dia termenung menatap langit kamarnya. Kembali membayangkan sosok Pelangi yang baru di temuinya.