
Seminggu berlalu, aku berhasil dalam peragaan busana yang aku ikuti sebagai model. Beruntung, itu busana setelan yang akan launching kala musim dingin. Dan itu tidak sedikitpun menunjukkan lekuk tubuhku.
Walau awalnya aku kesulitan dalam hal berjalan yang melenggak lenggok bak model handal, karena dasarnya sejak gadis aku sedikit tomboy.
Hari ini, aku mendapatkan banyak pujian dan ucapan dari berbagai wali murid dan beberapa guru termasuk kepala sekolah Pelangi. Ada juga beberapa yang seolah menatapku bagai pendengki. Aku tidak peduli itu, yang ku tahu.. Hidup di bumi bersama banyak orang tidak semua dari mereka akan menyukai profesi kita. Iya bukan???
"Mama Pelangi, apa anda juga tahu jika nama anda juga masuk dalam urutan pencarian paling banyak di sosmed. Semua memuji dan mengagumi anda, anda menjadi artis." Ujar ibu guru Pelangi.
"Ehm, terimakasih bu. Tapi aku jadi sedikit tidak nyaman, karena aku sendiri bukan seorang artis atau model. Jadi aku ingin tetap memiliki privasi sendiri, tanpa campur tangan dari para komentar dan pujian mereka."
"Eh, maafkan aku mama Pelangi. Jika ini sedikit mengganggu anda,"
"Tak apa, semua akan berlalu dengan sendirinya bukan?" Jawab ku berusaha santai.
"Dan papa ku sungguh sangat berterimakasih pada anda, dia sangat bangga dan tiada hentinya memuji anda. Hari ini bayaran anda akan segera di transfer, aku sudah memberikan nomor rekening yang anda kirim semalam." Jelasnya dengan mata berbinar-binar.
Tak berapa lama kemudian, aku terkejut bukan main akan angka nominal yang di berikan. Ini terlalu banyak, wah.. Pantas saja, seorang model atau artis hidupnya selalu bergelimangan harta. Pikiran ku sejenak melambung tinggi dengan khayalan konyol.
Tiba-tiba muncul pikiran yang entah darimana datangnya, seolah mendorongku untuk kembali membuka akun sosial media lama ku. Hanya untuk sekedar menghibur, hmm... Bagaimana kabar teman-teman kampus seangkatanku nanti jika mereka tahu aku menjadi seorang model. Yah, meski amatiran.
Aku bergumam dan tersenyum sendiri, kemudian melangkah pergi setelah ibu guru tadi kembali masuk kelas. Aku hendak memasuki mobil, namun ponsel ku terus bergetar. Hanya dalam waktu 5 menit, segala notif like dan komentar memenuhi berandaku.
Aku mengabaikannya, hingga aku sudah memasuki mobil ku. Ponsel ku kembali bergetar dengan adanya notif pesan di akun email ku. Aku mengernyit, ketika melihat seorang lelaki yang begitu tampan dan terlihat gaya serta style nya di foto bak seorang model profesional.
"Sejak kapan, gadis tomboy menjadi seorang model yang begitu cute"
Komentarnya dalam pesan yang dia kirimkan secara pribadi.
"Terimakasih."
Balas ku dengan singkat.
"Terimakasih saja? tanpa bertanya kabar ku. Kau memang jutek sejak dulu."
"Cih, apaan sih dia ini. Untuk apa pula aku mengetahui kabar mu yang tidak ku kenal, buang waktu saja." Ucap ku menggerutu seraya menyalakan mobil kemudian melaju pergi dari sekolah Pelangi.
Tiba dirumah, aku duduk santai sejenak diruang TV. Melepas penat sejenak dari pikiran yang sedikit menggangguku. Ternyata memang tidak nyaman menjadi orang yang di kenal, segala komentar aneh diantara pujian membuatku sedikit terhentak.
"Bi, buatkan Fanny just jeruk." Teriak ku pada bibi asisten.
Beberapa menit kemudian bibi asisten datang membawa nampan yang berisikan segelas jus jeruk dingin untuk ku. Kemudian aku langsung meneguknya tanpa menunggu lama.
"Makasih ya bi, apa yang bibi lakukan sejak tadi?" Tanya mu mengajak bicara bibi asisten.
"Ehm, anu nyonya. Bibi membuat kue kering cokelat almond kesukaan nona kecil juga nyonya."
"Oh ya, biar ku bantu."
"Tidak usah non, sebentar lagi selesai." Jawab nya dengan santun.
"Tak apa, aku akan membantu agar cepat selesai. Aku akan mencicipinya segera Bi, itu pasti sangat enak. Aah, aku jadi rindu bunda." Ucap ku beranjak dari duduk ku tadi menuju ruang dapur di susul kemudian oleh bibi asisten.
"Beb, aku Dudut. Apa kau masih mengingatku?"
Degh !!!
Ya ampun, dia Dudut? Pacar dunia maya ku saat aku masih duduk di bangku SMP dulu. Bagaimana mungkin dia masih aktif di beranda sosmed ku. Aku bertanya-tanya dalam hati.
"Hey, ternyata kau. Ehm, maaf. Aku hampir tidak mengenalmu, karena kini kau seperti seorang model saja."
Balas ku.
"***Itu memang pekerjaan ku saat ini. Apa kau sudah menikah?"
"Hmm.. Ya, aku sudah menikah. Dan sudah memiliki satu anak, saat ini dia sedang duduk di bangku TK."
"Sayang sekali, aku selalu menunggu kabar mu. Aku ingin bertemu dengan mu langsung, sampai saat ini aku masih terus memikirkan mu beb***."
Aku terhenti sejenak, tanpa membalasnya lagi. Senyuman dan rasa senang ku sejak tadi karena nya, berubah seketika. Dia masih saja memanggilku dengan sebutan sayang itu, sementara dulu kami hanyalah mengikuti permainan dunia sosmed saja untuk menjalin hubungan pacaran.
Dulu, dia memang sudah lah terkenal di dunia maya. Di setiap akun sosial media lainnya dia selalu menjadi perbincangan hangat dan pujian gila di antara semua wanita. Ku pikir dia sudah hidup normal tanpa sosmed lagi, ternyata...
"Loha, beb... Kenapa tidak membalas? Aku menunggumu."
Kembali dia mengirimkan pesan pribadi. Entah kenapa aku masih suka mendengar kata panggilan itu, aku jadi terhanyut dan flashback masa SMP ku dulu. Dimana aku juga selalu menjadi pusat perhatian banyak orang saat aku aktif di sosmed. Hingga hal konyol aku lakukan, dengan jatuh cinta dari hati secara nyata pada seseorang yang tidak pernah aku temui di dunia nyata.
"Ah, ya. Maaf, aku sedikit sibuk. Bagaimana dengan mu? Istrimu pasti seorang model juga, berapa banyak kau berhasil memiliki seorang anak? Hehe,"
Aku berusaha menahan diri dan mengalihkan setiap perkataan nya sejak tadi.
"Ayo lah beb, kau tahu aku bukan typikal laki-laki yang mudah mengajak wanita menikah dengan ku. Aku masih single di usia ku yang sudah berkepala tiga."
Bagaimana mungkin? Aku bergumam dalam hati.
"***Hahaha, oh ya? Kau memang pemilih sejak dulu. Cepat lah menikah, hidupmu akan jauh lebih indah nantinya."
"Apa kau sudah bahagia beb?"
"Ya, aku sangat bahagia. Suami ku sangat baik dan sangat mencintaiku pula."
"Kau melukaiku dengan jawaban itu***."
Kembali aku terhenti dan membaca ulang balasan darinya. Mengetahui hal itu, membuatku bergidik. Aku pasti hanya terbawa suasana mengingat masa SMP dulu, ini tidak baik jika aku teruskan.
Fiuht... Menyesal ku buka akun lama ku. Ini hanya akan membawa ku kembali pada lingkaran masa lalu ku di kala itu.
Kembali aku menggerutu dalam hati, mengomel tanpa jelas, menyalahkan sikapku sendiri.
π΅Author akan kembali usahakan up setiap hari minimal 2-3 episode ya. Akan di usahakan, mohon dukungan dan semangatnya. Author disini juga berusaha demi kalian di sela kesibukan Author. Jadi jika ada komentar yang tidak mengenakkan atau memaksa kehendak, mohon maaf jika auto Author laporkan ke pihak admin. Saat ini, bukan hanya lidah yang mampu mematikan mental seseorang. Jujur Author sendiri masih mudah down dengan sikap netizen yang maunya di mengerti tapi tidak balik mengerti. Makasih sebelumnya ππππ΅