Because, I Love You

Because, I Love You
#116



"Kak, kenapa cuma diliatin aja? Buruan dimakan ih! Apa perlu aku suapin?" Seru seorang gadis cantik kepada Rendy dengan kesal karena Rendy dari tadi hanya diam dan terus menatap makanannya saja, sedikitpun tidak dia sentuh.


"Aku nggak laper. Aku mau istirahat aja dikamar." Jawab Rendy dengan acuh kemudian memutar roda kursi rodanya dan beranjak pergi. "Kamu lanjutin makannya. Aku bisa sendiri." Lanjut Rendy saat Nayla berdiri ingin membantunya.


"Tapi kakak dari siang tadi belum makan!" Teriak Nayla kemudian mendengus kesal karena Rendy sama sekali tidak menghiraukannya. "Hufff! Kenapa jadi gini sih?" Imbuhnya menggerutu dan kembali duduk untuk melanjutkan makannya dan membiarkan Rendy pergi kekamar sendiri.


"Yang sabar ya Non. Bibi yakin kalau Den Rendy akan segera pulih seperti sedia kala. Kita palan-pelan bantu Den Rendy." Sahut Bi Sumi dengan tersenyum meski hatinya juga ikut sedih dengan kondisi Rendy sekarang ini.


"Iya Bi. Mungkin akunya yang nggak sabaran. Tapi, aku kesel aja kak Rendy jadi kaya orang asing gitu lihat aku." Nayla merasa kesal juga sangat sedih dengan kakaknya yang mengalami hilang ingatan. Dia merasa Rendy seperti orang asing yang baru dikenalnya begitu juga dengan Rendy.


"Makanya kita harus sabar. Pelan-pelan untuk membantu Den Rendy supaya ingatannya kembali. Bibi juga sedih Non, Den Rendy nggak inget sama Bibi. Biasanya suka ngajak becanda Bibi. Sekarang, Den Rendy cuma diem aja kaya patung." Ucap Bi Sumi sambil mengusap air matanya sendiri.


Nayla pun berdiri dan mendekati Bi Sumi. "Kalau Bibi aja sedih sampai nangis gini, gimana dengan Mama Bi? Mama jauh lebih sedih lihat Kak Rendy seperti ini." Ucap Nayla sambil merangkul Bi Sumi dan mengusap-usap lengannya.


...


Didalam kamar, Rendy terlihat sedang memikirkan sesuatu. Perempuan itu? Siapa dia? Kenapa saat aku lihat dia, perasaanku jadi aneh? Gumam Rendy dalam hati.


Saat dirumah sakit tadi, Rendy melihat sosok perempuan yang dia sendiri juga tidak tau siapa perempuan itu. Karena kejadian kecelakaan waktu itu, Rendy mengalami koma hampir dua bulan lamanya.


Begitu dia terbangun dari tidur panjangnya, dia sudah tidak ingat apa-apa bahkan dirinya sendiri pun dia tidak tau. Kemudian seminggu setelah Rendy terbangun, dia dibawa kembali ke Jakarta ditemani Nayla-adiknya.


Tiba-tiba bayangan masa lalunya ketika bersama dengan kekasihnya muncul dipikirannya kemudian kebepalanya terasa begitu sakit. Dia memegangi kepalanya sambil mengerang kesakitan.


'Ceklek'


Pintu terbuka dan Nayla masuk kedalam kamar Rendy. Melihat kakaknya yang memegangi kepala sambil mengerang kesakitan, tentu saja membuat Nayla panik.


"O my God! Kak! Kakak kenapa?" Pekiknya sambil berlari mendekati Rendy.


Rendy pun pingsan dan tubuhnya jatuh kelantai. Nayla semakin panik. "Kak! Astaga!"


Nayla tidak kuat kalau harus mengangkat tubuh kakaknya yang tinggi dan besar ini. Dia pergi keluar kamar untuk meminta bantuan.


"Toloooong! Siapa aja tolong aku cepat!"


Kebetulan saat itu ada Beni yang berjalan masuk mendengar suara Nayla berteriak. Dia segera berlari naik keatas disusul Bi Sumi.


"Non, ada apa?" Tanya Bi Sumi dengan cemas.


"Cepet kamu bantu aku angkat kak Rendy!" Pekik Nayla dengan histeris pada Beni tanpa menjawab pertanyaan Bi Sumi lebih dulu.


Tanpa bertanya, Beni langsung masuk kedalam kamar Rendy.


"Non, Den Rendy kenapa?" Tanya Bi Sumi lagi.


"Tadi waktu aku masuk, aku lihat kak Rendy pegang kepala seperti kesakitan gitu Bi. Terus tiba-tiba, kak Rendy pingsan dan jatuh dari kursi rodanya." Jawab Nayla kemudian berbalik dan masuk kembali kedalam kamar kakaknya diikuti oleh Bi Sumi.


"Non, apa perlu kita panggil dokter atau kita bawa kakakmu kerumah sakit?" Tanya Beni setelah membaringkan Rendy diatas tempat tidurnya.


"Panggil dokter dulu aja Ben!" Jawab Nayla dengan cepat dan Beni segera menghubungi dokter pribadi Rendy.


Tapi, belum sempat Beni menelpon dokter, Rendy sudah sadar kembali.


"Kak!"


"Den!"


"Ben! Kenapa kamu belum juga menelpon dokter?! Cepat telepon dokternya!" Pekik Nayla dengan marah.


"Nggak perlu!" Tegas Rendy kemudian bangkit dan duduk.


"Biar Bibi bantu Den." Bi Sumi pun membantu meletakkan bantal dipunggung Rendy untuk bersandar.


"Makasih Bi." Ucap Rendy.


"Kak, tadi kakak kesakitan kan? Biar dokter periksa kakak! Kalau kenapa-kenap ......"


"Brisik banget sih kamu Dek! Bikin aku makin pusing tau nggak?!" Sahut Rendy dengan kesal memarahi Nayla hingga Nayla terhenti berucap kemudian mulutnya ternganga Dan matanya membola.


"Kak...kamu...kamu udah sembuh? Kamu...kamu udah inget siapa aku?!" Teriak Nayla membuat Rendy mengernyit menatapnya.


"Bisa nggak sih nggak usah pake teriak ngomongnya? Kamu pikir aku budek apa?"


"Aaaaaa! My brother kesayangan aku udah kembali lagi!" Bukannya mengecilkan suaranya malah Nayla semakin berteriak histeris lalu menubruk kakaknya.


Bi Sumi hanya tersenyum dengan penuh rasa haru melihat pemandangan ini. Alhamdulillah akhirnya ingatan Den Rendy sudah kembali.


Sedangkan Beni hanya tersenyum kecil. Dia juga merasa senang melihat Bosnya yang selalu baik kepadanya sudah ingat kembali dengan adik kesayangannya. Meskipun mereka sering sekali ribut kalau bertemu.


Rendy langsung mendorong Nayla dengan paksa. "Kamu ini apa-apaan sih?" Rendy kembali memegangi kepelanya sambil meringis merasakan kepalanya sakit lagi.


"Kak..maaf. Aku cuma happy aja kakak udah in get aku lagi." Ucap Nayla dengan wajah bersalah.


"Bos, sebaiknya biar aku panggil dokter aja." Sahut Beni yang masih berdiri memperhatikan Rendy.


"Iya Den, biar diperiksa sama dokter ya Den?" Sambung Bi Sumi.


"Nggak nggak. Aku baik-baik aja. Aku mau istirahat aja. Kalian nggak perlu khawatir." Jawab Rendy dengan tersenyum tipis.


Mereka pun tidak ingin mengganggu Rendy lagi dan beranjak pergi dari kamar Rendy.


"Ben!" Seru Rendy memanggil Beni ketika Beni sudah berjalan sampai pintu ingin keluar.


Beni berhenti dan berbalik. "Ya Bos? Kamu perlu sesuatu?"


"Apa kamu bawa handphone aku?" Tanya Rendy.


"Oh iya Bos. Tapi, HP mu rusak saat kecelakaan itu. Aku belum sempat membawanya ke tempat service." Jawab Beni. "Apa kamu mau menelpon seseorang?" Pancing Beni yang merasa kalau Rendy masih belum ingat semuanya.


"Iya. Pinjami aku handphone kamu bentar." Jawab Rendy.


Beni segera mengelurkan ponsel miliknya dari saku jaketnya dan menyodorkan ke Rendy. "Ini Bos."


Rendy menerimanya dan segera mencari nama seseorang dikontak ponsel Beni. Rendy mengernyit lalu menatap Beni. "Papa bilang kamu asisten pribadi kepercayaan aku?" Tanyanya.


Beni terpaku sepersekian detik mendengar pertanyaan Rendy yang membuat tebakannya yakin kalau Rendy memang masih belum mengingat semuanya. "Benar Bos." Jawab Beni sambil sedikit mengangguk.


"Harusnya kamu save nomor orang-orang terdekat aku kan?" Beni kambali mengiyakan dan mengangguk meski dia merasa sedikit bingung dengan maksud pertanyaan dari Rendy. "Kenapa nggak ada nama Olivia di kontak handphone kamu?"


................