Because, I Love You

Because, I Love You
#48



"Ben, kamu siapkan persyaratan untuk Kirana sesuai dengan apa yang udah aku beri tau ke kamu!" Titah Rendy pada Beni begitu Kirana keluar dari ruangannya.


"Siap Bos!" Jawab Beni lalu beranjak pergi untuk mengerjakan perintah sang Bos.


Rendy menyunggingkan senyumnya kembali lalu berbalik dan duduk dikursi kebesarannya lagi. Ia kembali fokus dengan pekerjaannya.


Sedangkan Kirana masih merasa gelisah setelah menerima Rendy menjadi pacarnya. Ia hanya khawatir kalau ada yang tau tentang hubungan mereka lalu menyebar ke semua orang disini. Sudah pasti Kirana akan mendapat hujatan dari semua karyawan diperusahaan ini terutama karyawan wanita.


Kirana yang selalu menyadari siapa dirinya, yang selalu merasa bahwa dirinya tidak pantas mencintai Rendy apalagi menjadi pacarnya? Kirana hanya seorang gadis biasa yang datang dari kampung dengan membawa harapan ingin bekerja di kantoran, diperusahaan terbesar dikota metropolitan ini.


Tidak menyangka akan bertemu dengan seorang laki-laki setampan Rendy yang membuatnya merasa kagum. Siapa yang tidak mengagumi sosok tampan setampan Rendy? Kirana tidak munafiq dan hatinya mengakui kalau telah mengagumi ketampanan Rendy.


Terlebih setelah beberapa kali mendapat pertolongan tak terduga dari Rendy dan melihat sikapnya yang begitu ramah juga lembut. Membuat Kirana diam-diam jatuh cinta.


Dan kini, Kirana juga merasa tidak menyangka kalau laki-laki tampan yang dikaguminya dan telah membuatnya sering mengalami senam jantung menjadi pacarnya. Meski hanya sekedar pacar untuk mengelabui media saja. Kirana tetap masih menganggap kalau hubungan mereka hanya sandiwara saja. Tidak mungkin seorang Rendy akan jatuh cinta kepadanya yang hanya gadis kampung dan karyawan biasa yang bekerja diperusahaannya.


Tak terasa suara alarm yang menandakan bahwa jam kerja telah usai pun berbunyi.


Kirana yang belum menyelesaikan pekerjaannya tidak menghiraukan suara alarm tersebut dan masih tetap fokus pada pekerjaannya.


"Ki, kamu belum selesai?" Tanya Yolanda sambil merapikan mejanya.


"Belum Yol. Kamu sama Rossa duluan aja." Jawab Kirana tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer didepannya.


"Sini biar aku bantu." Yolanda meraih berkas yang ada diatas meja Kirana yang belum dikerjakan oleh Kirana.


"Makasih ya Yola." Ucap Kirana dengan tersenyum sambil sekilas menoleh pada Yolanda.


"Nggak perlu sungkan kali Ki!" Balas Yolanda dan segera fokus pada berkas tersebut.


"Ada yang bisa aku bantu nggak nih?" Seru Rossa.


"Udah sama Yola kok Ros, makasih banget ya? Kalian memang yang terbaik." Jawab Kirana dengan tersenyum merasa sangat terharu dengan kebaikan teman-temannya ini.


"Ya udah kalau gitu aku tunggu kalian aja." Ucap Rossa sambil meraih ponselnya.


Tak lama Kirana dan Yola telah menyelesaikan pekerjaannya. Kirana merapikan mejanya dan menumpuk rapi berkas-berkas yang sudah selesai dikerjakan.


"Sekali lagi makasih banget ya Yola. Jadi cepet selesai deh." Ucap Kirana diselingi kekehannya.


"Iya iya Kirana, sama-sama!" Balas Yolanda dengan gemas karena ia dengan senang hati dan tulus membantu Kirana, tapi Kirana masih saja merasa sungkan kepadanya.


Ponsel Kirana bergetar. Ada panggilan masuk. Yolanda dan Rossa yang berdiri disamping meja Kirana melirik pada ponsel. Kirana yang diletakkan diatas meja.


"Cieee. Cowok kamu tuh kayaknya udah nungguin kamu didepan." Ucap Rossa menggoda Kirana.


"Apaan sih kamu Ros. Aku udah bilang kalau kak Haris itu bukan cowok aku." Ucap Kirana dengan tersenyum sambil meraih ponselnya.


Ia merasa lega karena yang menelpon bukanlah Rendy. Bisa gawat kalau Rossa dan Yolanda melihat nama Rendy dilayar ponselnya sedang menelponnya.


"Ya udah kamu jawab dulu gih, kita sambil jalan pelan-pelan." Sahut Yolanda sambil merangkul Rossa. "Ayo Ros!"


Yolanda dan Rossa pun membiarkan Kirana menjawab telepon dari Haris. Meski mereka selalu ingin tau tentang apa yang terjadi diantara mereka, tapi mereka tetap saling bisa menghormati privasi masing-masing dan tidak akan ikut campur selama mereka tidak ingin memberitau atau meminta bantuan.


"Kirana, apa kamu lembur? Aku udah nungguin kamu setengah jam lebih dan udah kirim chat ke kamu tapi kamu nggak jawab."


Tanya Haris ditelepon.


"Maaf banget kak, aku nggak sempet buka chat. Aku ada lembur hari ini kak." Jawab Kirana dengan berbohong kepada Haris.


Maaf kak, aku bohong sama kamu!


Lanjutnya dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.


"Oh ya udah kalau gitu. Kamu pulang jam berapa? Nanti aku jemput kamu."


Tanya Haris membuat Kirana merasa sangat bersalah karena harus membohongi orang sebaik Haris.


"Emm..aku..belum tau kak. Tapi, kak Haris nggak usah repot-repot jemput aku. Nanti aku pesen ojek online aja. Kak Haris pasti capek kan?" Jawab Kirana dengan hati yang gelisah dan merasa bersalah.


"Kamu ini. Ya udah kalau gitu aku balik dulu. Nanti kamu kabarin aja kalau udah mau pulang ya!"


Ucap Haris kemudian langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Kirana.


"Eh kak? Hallo kak Haris!"


Kirana menghembuskan nafas kasarnya karena Haris sudah menutup teleponnya. "Terserah deh!" Gumamnya sambil mendengus.


Ia kemudian mengirim chat kepada Yolanda dan Rossa untuk duluan pulang dengan alasan ia sedang ketoilet dan setelah ini akan mampir ke supermarket terdekat membeli bahan makanan.


Yolanda dan Rossa pun mengiyakan Kirana karena mereka juga harus buru-buru pulang.


Kirana menghela nafasnya lega dan setelah suasana sepi, ia segera manuju lantai atas untuk menemui Pak Presdir kembali. Sebenarnya, Kirana merasa enggan untuk menemui Rendy kembali. Tapi mengingat bahwa Rendy pimpinan perusahaan tempatnya bekerja, ia terpaksa menurutinya karena ia masih ingin bekerja diperusahaan ini. Apalagi, ia masih karyawan baru disini.


"Ngapain kamu datang lagi kesini hah?!" Seru Siska dengan waspada yang melihat Kirana sudah berjalan mendekati pintu ruangan Pak Presdir.


"Eh Bu Siska. Selamat sora Bu." Ucap Kirana dengan tersenyum ramah tidak menghiraukan pertanyaan Siska.


"Saya tanya, ngapain kamu datang lagi kesini?!" Tanya Siska dengan menaikkan intonasinya dan melotot pada Kirana.


"Saya yang menyuruhnya! Apa ada masalah dengan kamu?" Seru Rendy yang baru saja keluar dari ruangnanya dan mendengar pertanyaan Siska yang terdengar sangat tidak enak ditelinga.


Seketika Siska terdiam dan salah tingkah. "Oh..emm..maaf Pak. Saya tidak tau kalau Pak Rendy yang menyuruh dia datang lagi." Ucap Siska dengan tergagap dan Kirana hanya mengulum senyumnya saja merasa menang karena Rendy keluar dan mewakilinya menjawab pertanyaan dari Siska.


"Kirana, ayo masuk!" Ucap Rendy pada Kirana.


"Baik Pak." Ucap Kirana dengan mengangguk. "Permisi ya Bu Siska." Lanjutnya dengan tersenyum pada Siska sambil berjalan melewatinya membuat Siska semakin kesal dibuatnya.


Kirana masuk dan Rendy menutup pintunya.


Awas kamu cewek kampungan!


Ucap Siska dalam hati dengan menatap sinis penuh benci pada Kirana yang sudah masuk kedalam ruangan Pak Presdir tampannya.


................