
"Pergi..pergi! Jangan pukul aku..ampun..ampun!"
"Oliv, aku mohon tenanglah. Ini aku Andreas!" Ucap Andreas dengan keras dan berusaha ingin memeluk Olivia untuk menenangkannya.
Tapi, rasa trauma yang setelah sekian lama dia rasakan, baru saja dia merasakannya kembali dan itu benar-benar membuatnya merasa sangat tersika karena terus terbayang akan kekejaman Axel yang sering menyiksanya.
'Ting Tong Ting Tong'
Andreas seketika menghela nafas lega saat mendengar suara bel apartemen berbunyi. Dia segera melangkah cepat keluar dari kamar Olivia menuju pintu dan melihat pada layar intercom terlebih dulu meskipun sudah tau siapa yang datang. Dia segera membuka pintunya.
"Lama banget sih kamu? Aku udah kualahan buat nenangin Oliv!" Kesal Andreas sekaligus mengeluh pada Rendy yang baru saja datang.
"Kamu pikir jalanan dikota ini punya nenek kamu apa?!" Balas Rendy sambil berdecak kemudian segera melangkah masuk menuju kamar Olivia.
Setelah mengantar Kirana yang berujung dengan rasa kecewa, Rendy langsung pulang untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya dibawah guyuran air dingin dari shower.
Setelah itu, baru dia pergi ke apartemen Olivia atas permintaan Andreas juga dia masih merasa khawatir dengan keadaan Olivia yang seperti ini.
Rendy berdiri diambang pintu kamar Olivia dan menatap lurus kepada sang mantan yang sedang duduk samping tempat tidur dengan memeluk kedua lututnya menyembunyikan wajah cantiknya.
Tubuhnya tampak bergetar karena dia terus menangis dan terus mengatakan "Jangan pukul aku..jangan pukul aku..ampun..ampun.."
Andreas yang berdiri dibelakang Rendy menepuk pundaknya dari belakang. "Mungkin, kamu bisa bikin dia lebih tenang."
"Tadi bukannya dia masih baik-baik aja? Kamu apain dia?" Tanya Rendy dengan menatap tajam Andreas.
"Woy! Kamu pikir aku mau ngapain dia? Gila kamu Rend!" Sewot Andreas. "Ini semua gara-gara kamu!" Imbuhnya.
"Kenapa jadi nyalahin aku?" Protes Rendy merasa tidak terima.
"Tadi sebelum kita pergi dari rumah sakit, Oliv tiba-tiba balik masuk lagi. Dia liat kamu lagi sama perempuan lain. Sampai apartemen, dia langsung masuk kekamar terus melamun dan dia jadi histeris sendiri." Jawab Andreas memberitau Rendy.
Rendy hanya bisa menghela nafasnya berat. Dia dan Olivia sudah berakhir. Tidak seharusnya dia memberikan perhatian lebih kepada wanita ini. Dia lebih memilih untuk memberikan perhatiannya kepada Kirana yang jelas-jelas sudah menjadi kekasihnya. Meskipun hubungan mereka masih belum jelas seperti apa.
Dan terhadap Olivia, Rendy memang masih mengkhawatirkan keadaannya. Apalagi dengan keadaan Olivia yang biasanya terlihat selalu ceria dan berani, kini wanita yang sudah menjadi mantannya ini terlihat begitu terpuruk dan depresi akibat rasa trauma yang dialaminya.
Dokter menyarankan agar Olivia istirahat total dan tidak banyak pikiran dulu. Harus sering diajak mengobrol jangan sampai melamun karena pasti akan teringat kejadian saat dia disekap dan disiksa, dijadikan budak *** oleh Axel hingga dia akan kembali histeris ketakutan seperti sekarang ini.
Rendy kemudian melangkah masuk dan berjongkok didepan Olivia. Dia mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap pelan kepala Olivia.
Seketika tubuh Olivia menegang dan terperanjat karena sangat terkejut hingga menggeser mundur tubuhnya. "Jangan! Jangan pukul aku! Ampun!"
"Oliv, tenanglah! Ini aku!" Rendy memegangi kedua tangan Olivia dan memaksanya untuk menatapnya.
Dia bisa merasakan tangan Olivia yang bergetar hebat karena sangat ketakutan.
Olivia perlahan mengangkat wajahnya dan menatap wajah tampan seseorang yang selama ini masih sangat dicintainya. "Rendy.." Panggilnya dengan lirih.
"Iya ini aku."
Kemudian Olivia langsung memeluk Rendy dan menangis.
Perlahan, Rendy mengangkat kedua tangannya. Dia mengepalkan sebentar kedua tangannya kemudian membalas pelukan Olivia.
Andreas yang masih berdiri diambang pintu hanya bisa menatap dengan tersenyum tipis. Ada rasa cemburu dan iri didalam hatinya.
Tapi, sebagai lelaki sejati yang begitu mencintainya, Andreas akan merasa bahagia jika melihat Olivia bisa kembali merasa bahagia.
Meskipun diawal, dia berusaha untuk memisahkan mereka dengan cara yang licik, nyatanya wanita yang dicintainya sejak dulu masih belum membuka hati untuknya.
Andreas menghela nafasnya panjang kemudian meraih knop pintu dan menutup pintunya dengan pelan. Membiarkan Rendy membuat Olivia merasa tenang.
Andreas berjalan menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil empat bir dalam kemasan kaleng kemudian membawanya keruang tengah.
Dia meletakkan birnya diatas meja dan membuka macbook dan satu kaleng birnya. Ada pekerjaan yang tertunda dan dia baru bisa mengeceknya.
Setidaknya, dia merasa bersyukur dengan kedatangan Rendy untuk menenangkan Olivia. Dengan begitu, dia menjadi bisa mengecek pekerjaannya.
................