Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 187



Hari demi hari Pelangi semakin merasa terusik akan kehadiran Joe yang setiap harinya selalu berusaha mendekati Pelangi, tiada hentinya menggoda dan mengerjainya dengan segala hal konyol. Sementara Joe sudah kian semakin dekat pula dengan ke tiga sahabat dekat Pelangi.


"Jo, kamu enggak bosan nih.. Bersikap konyol terus menerus di depan my Pricess Cold?" Tanya Lisa, ketika di ketahuinya Pelangi sedang pergi ke toilet di jam pelajaran masih berlangsung.


"Ehm, aku? Bosan? Enggak lah, justru semakin tertantang sampai dia sadar." Jawab Joe dengan senyuman sembari mengedipkan salah satu matanya.


"Aaah, jangan menggodaku dengan senyuman manismu itu Joe. Tapi beneran deh, kamu sabar banget. Beda dengan cowok-cowok sebelumnya, udah kabur jauh."


"Langi bukan cewek yang seperti itu kok, dia baik dan hangat. Tapi entah lah apa yang membuatnya jadi dingin seperti itu,"


"Tunggu, elu panggil my Princess Cold barusan apa? Langi? Pffft... Hahaha, lucu banget."


"Hemm, lucu?" Tanya Joe mengerutkan kedua alisnya.


"Aduh Joe, jangan sembarangan deh manggil nama Princess Cold kita. Belum pernah kena sentuhan tangan dia yang dingin itu kan?" Ucap Jeni kemudian.


"Oh ya, hmm.. Aku tidak takut, hehe." Jawab Joe dengan senyuman nyengir.


"Hust... My Princes Cold datang." Bisik Lisa yang kemudian berpura-pura mengalihkan perbincangan dengan Joe.


"My princes Cold, nanti malam kan malam minggu. Seperti biasa kita nongkrong yuk di kafe Papa aku," Ucap Lucas dengan logat wanitanya itu.


"Oh. Nanti malam minggu? Cepat banget ya, hari berlalu."


"Astaga Princes Cold, sejak kapan kau lupa pada hari? Apa yang kau sibukkan dalam satu minggu ini?" Ucap Lisa dengan comelnya.


"Huhft.. Ya udah lah, ketemu di kafe Lucas jam 7 malam." Jawab Pelangi.


"Aku, boleh ikutan gabung?"


"Enggak." Jawab Pelangi dengan tegas akan pertanyaan Joe.


"Pelangi..." Ucap Lisa dengan memelas.


"Eh.. Pelangi, ayo lah. Biarin aja Joe gabung dengan kita kali ini, dia belum punya teman akrab seperti kita. Boleh ya?" Ujar Jeni.


"Iya nih, my Princes Cold. Cantik ku, sayang ku cinta ku, boleh ya si kumis tipis bergabung. Okey," Ujar Lucas merengek.


"Tidak perlu Lucas, jangan memaksanya jika Pelangi tidak mengizinkannya. Selamat berkumpul kalian, nikmati satnite kalian." Jawab Joe yang kemudian beranjak pergi lebih dulu membuat ke tiga teman Pelangi terdiam sesaat, dan Pelangi melanjutkan aktifitasnya menegak sebotol minuman.


"Haaahft..." Pelangi menghela nafas.


"Pelaaangiii..." Panggil ke tiga sahabat Pelangi dengan kompak.


"Astaga, apaan sih? Ngagetin aja." Ucap Pelangi terhentak karena terkejut dengan panggilan para sahabatnya tadi begitu lantang terdengar kompak.


"Kasihan tahuu, si Joe. Kenapa sih kau begitu dingin sama Joe? Apa karena dia sering memanggilmu dengan sebutan La.."


Ucapan Lisa terhenti saat Pelangi menatapnya tajam. Lalu beralih menatap pada yang lainnya, Lucas dan Jeni ikut terdiam mengatupkan kedua bibirnya.


"Ada apa dengan kalian hah? Bukannya sejak awal aku memang tidak suka berteman dengan lawan jenis?"


"Lalu aku, aku kan laki-laki Princess Cold.. Ih," Jawab Lucas mencubit lengan Pelangi dengan gemas.


"Kecuali kau Lucas, kau meragukan."


"Iih aku laki-laki tulen ya, aku hanya berkepribadian lembut saja. Aku tidak suka kasar pada orang," Bantah Lucas dengan memainkan bibirnya.


"Hem? Oh ya? Jika begitu, cari pacar sana. Kau boleh juga mencoba pacaran dengan Jeni," Jawab Pelangi menggoda Lucas.


"Cih, bisa ikutan gemulai gue pacaran sama cowok melambai seperti dia."


"Hahaha. Ah sudah lah, ayo masuk kelas saja. Sebentar lagi jam masuk kelas," Ajak Pelangi kemudian, di susul oleh ke tiga sahabatnya yang masih merayunya agar Joe bisa ikut serta bergabung dalam perkumpulan mereka. Namun Pelangi tetap bersikeras menolak permohonan dan rayuan mereka.


🌻🌻🌻


Hari mulai petang, ku lirik jam sudah menunjukkan 18.45 Wita. Ku lihat Pelangi menuruni tangga dengan penampilannya yang selalu mengingatkan ku akan masa remaja ku. Dress mini berwarna pink dusty selutut, di padukan dengan sepatu kets berwarna putih, itu kebiasaan ku yang dulu kerap lebih suka memadukan sepatu kets dengan penampilan ku, yang ternyata dia ambil alih saat ini, rambutnya yang sebahu dia kuncir bak kuda. Ini sederhana, tapi manis sekali. Dia tampak girly dan energik.


Oh Tuhan, puteriku Pelangi sudah sebesar ini? Dia tampak cantik dan anggun, meski sikapnya di masa kecil kini berubah menjadi dingin. Aku tahu, ini salah ku. Tapi...


"Ma, Pelangi pergi dulu. Teman-teman sudah menunggu ku di Kafe Lucas," Ucap Pelangi sembari mengecup ke dua pipi ku.


"Hey, bibi sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Papa mu sebentar lagi sampai dirumah,"


"Ma, ini malam minggu. Mama lupa? Sejak awal aku hanya meminta waktu luang keluar di malam hari hanya di malam minggu saja."


"Baiklah, baiklah. Pergi saja, peri cantik papa. Tapi dengan syarat, pak supir tetap harus mengantar dan menunggu mu sampai batas waktu yang di janjikan sejak awal." Tiba-tiba Irgy sudah memasuki ruangan dan mengizinkan Pelangi untuk pergi.


"Baik pa, aku akan sampai dirumah tepat waktu." Jawab Pelangi dengan sikap cuek nya.


"Baik lah, hati-hati ya Nak. Jangan pulang larut malam, kalau terjadi apa-apa kabari kami segera." Ucap ku sembari menyentuh pipinya dengan hangat.


"Hemm, makasih. Ma, Pa. Pelangi pergi dulu," Jawab nya yang kemudian berlalu pergi dari ruangan.


"Sayang, sudah lah jangan menatapnya terus dengan penuh kecemasan begitu. Pelangi kita sudah remaja, aku yakin dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Lagi pula teman-temannya adalah anak baik-baik pula kan?" Ucap Irgy yang kemudian memelukku, melangkah menaiki anak tangga.


"Bukan seperti itu sayang, aku hanya sedikit... Bertanya-tanya, anak kita gadis bukan? Dia sangat cantik dan juga pintar, ku dengar dari Lisa sahabatnya, Pelangi kita juga populer di sekolahnya. Tapi apakah tidak ada satupun laki-laki yang berhasil memenangkan hatinya?"


"Hahaha, astaga Tuhan. Kau ini, apa yang kau pikirkan istriku?"


"Cih, apa terdengar konyol? Aku seorang ibu, wajar jika aku khawatir. Bagaimana jika selamanya dia tidak pernah membuka hati pada seorang lelaki? Itu tidak baik. Dia harus menikah dengan pria baik seperti papa nya nantinya."


"Huuhft, percayalah. Suatu hari puteri kita akan bertemu dengan laki-laki baik yang akan menikahinya, saat ini.. Biarkan saja dia berperilaku semaunya, asal itu membuatnya nyaman dan bahagia dengan hari-harinya. Kita sudah terlalu membuatnya terluka oleh masa lalu kita bukan?"


"Hemm.. Hingga detik ini aku masih merasa bersalah akan semua itu sayang." Jawab ku menundukkan wajah.


Cup !!!


Irgy mengecup keningku dengan penuh kehangatan. Lalu kemudian kami di kejutkan oleh teriakan Rafa dan Rafi yang keluar dari kamar Pelangi dan berlarian memeluk tubuh Irgy yang masih lengkap mengenakan setelam jas kantor.


"Waktunya makan malam, ayo kita tunggu papa di bawah." Ajak ku pada mereka.


"Kak Pelangi dimana, Ma? Di kamar nya gak ada." Tanya Rafi.


"Ehm, kakak sedang ada acara diluar sayang." Jawab Irgy dengan mengusap kepalanya.


"Yah, kami ingin bermain dengan kak Pelangi." Ujar Rafa dengan menyembikkan bibirnya.


"Besok kan hari minggu, kalian akan puas bermain seharian dengan kakak kalian. Ayo sekarang makan malam dulu, oke."


"Rumah ini semakin ramai dengan hadirnya mereka berdua. Hmm, aku bahagia melihat anak-anak ku tumbuh sehat dan penurut. Kau selalu berhasil mendidik anak-anak kita dengan baik sayang." Ucap Irgy pada ku.


"Itu sudah ke wajiban ku sebagai istri dan ibu mereka sayang, tidak perlu berterimakasih demikian. Aku pun bahagia, sebagai suami kau selalu melakukan hal terbaik untuk kami." Jawab ku dengan memberinya kecupan singkat di bibir.


"Jika begitu. Kita bisa menambah teman lagi untuk mereka bukan?"


Ucapan Irgy membuat kedua mata ku melotot padanya.


"Iiih, dasar. Dasar laki-laki, kau tidak tahu betapa sulitnya menjaga dan mendidik juga merawat tiga anak sekaligus." Jawab ku yang kemudian memukulinya sembari melangkah menuju dalam kamar.


"Hahaha, aku hanya bercanda. Aw, hentikan sayang." Irgy memekik dengan tertawa lepas akan pukulan ku yang terus menyerangnya.


🌻🌻🌻


Di kafe Lucas...


Ketiga sahabat Pelangi sudah hadir lebih dulu, duduk santai di sebuah sofa khusus yang di sediakan oleh para staff karyawan di kafe milik papa Lucas, yang sengaja di perintah oleh Lucas sendiri. Dengan berbagai minuman dan snack ringan tersedia di atas meja.


Pelangi hadir, kemudian menghempaskan tubuhnya duduk di sofa. Di sisi Lisa yang sejak tadi sibuk selfie di depan kamera ponsel baru nya.


"Princess Cold, lihat ke kamera dong. Kita Selfie, yu huuu... Peace..." Ucap Lisa dengan riang gembira, memanyunkan bibirnya yang dia hiasi dengan liptint berwarna merah menyala.


"Daebak !!! Princess Cold, lihat. Kau sangat cantik di foto ini, meski tersenyum tipis begitu. Aaah, suka. Aku post ah," Ujar Lisa dengan gesit memainkan jari jemarinya.


"Cih, dasar." Ujar Pelangi yang kemudian mencicipi snack di depan nya. Sementara Jeni dan Lucas seolah seperti sedang menunggu kehadiran seseorang, membuat Pelangi menatap mereka dengan heran. Sesekali juga ikut melihat ke balik pintu Kafe itu.


"Ada yang mau datang?" Tanya Pelangi, membuat Jeni dan Lucas terkejut seketika lalu gelagapan.


"Ah, tidak. Kami hanya, ehm..."


"Pelangi, ku mohon jangan marah. Maafkan aku, pliss jangan marah ya setelah ini." Ucap Lisa kemudian, memegangi dan menggosok-gosok lengan Pelangi.


"Kalian tetap mengundang Joe untuk bergabung?" Tanya Pelangi dengan tegas.


Ketiga sahabatnya terdiam dan hanya mengedipkan kedua mata nya berulang kali, seolah mereka memohon dan memelas dengan tampang sedih.


"Hah, sudah ku duga. Terserah kalian saja, lakukan apa yang membuat kalian bahagia." Jawab Pelangi kemudian, dengan helaan nafas panjang. Ia menyandarkan diri pada dinding sofa.


Beberapa menit kemudian, Lisa berteriak dan melambaikan tangan ke arah pintu.


"Joe, disini."


Joe datang dengan penampilan yang berbeda, dengan celana jins panjang sedikit borju. Baju kaos yang di padukan dengan kemeja panjang, yang ia lipat bagian pergelangan tangannya. Joe terlihat lebih energik malam ini, senyumnya begitu manis membuat ketiga sahabat Pelangi melongo menatapnya.


"Luar biasa manisnya, ya gak siiih. Aduh, hatiku bergetar." Ucap Lisa memegangi bagian dadanya.


"Hai kalian, ehm.. Terimakasih sudah mengizinkan ku bergabung." Ujar Joe dengan melempar tatapannya pada Pelangi yang mengabaikan kehadirannya.


"Langi, kau.. Sangat sweet malam ini." Ucap Joe memberikan pujian pada Pelangi.


Pelangi hanya diam mengabaikannya dengan terus mencicipi snack tanpa peduli dengan keadaan diantara mereka yang mulai hening. Namun Joe tetap melempar senyumnya melihat tingkah Pelangi yang mengabaikannya.


Kemudian mereka mulai berbincang-bincang santai dengan gelak tawa dan sikap konyol Lucas yang kian makin menjadi, tak peduli seberapa ramai nya pengunjung di kafe milik papa nya tersebut.


"Aku ke toilet sebentar ya," Ujar Pelangi beranjak bangun lalu pergi menuju toilet. Lalu Joe ikut beranjak menyusulnya, Lisa hendak mengikuti mereka.


"Eeh, kau mau kemana?" Cegah Jeni menarik tangan Lisa.


"Aduh, aku takut Joe memaksa mendekati Princess Cold kita dan mengajaknya berbicara banyak hal. Pelangi pasti akan semakin membencinya, kasihan Joe." Ucap Lisa dengan cemas.


"Aaah, ayo lah. Joe itu baik, ku lihat dia berbeda dengan semua cowok yang mengejar sahabat kita. Joe tidak akan melewati batasnya, lagi pula. Siapa yang akan menang melawan sangarnya Princess cold kita hah?"


"Duuh, gue jadi khawatir juga nih. Si kumis tipis cakep banget malam ini, jadi cemas jika kena tamparan dingin dari tangan princess cold kita." Ujar Lucas dengan sesekali melihat ke lorong depan yang menuju ruang toilet.


"Udah deh, jangan pada lebay. Kita tunggu saja bagaimana mereka nanti saat keluar dari toilet." Jawab Jeni menegaskan.


Dan benar saja, Joe mengikuti langkah Pelangi yang hendak menuju ruang toilet dan menghentikan langkah Pelangi sebelum memasuki ruangan di depannya.


"Langi, tunggu !!!" Panggil Joe menghentikan langkah Pelangi yang menolehnya ke belakang.


"Kau sungguh menolakku untuk berteman dengan mu?"


"Berapa kali aku sudah memberikan jawaban pada mu Joe, aku tidak suka berteman dengan lawan jenis kecuali Lucas."


"Cih, apa sungguh begitu? Coba berikan alasan yang tepat pada ku, Langi." Jawab Joe memaksa.


"Joe, pliss. Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, aku membencinya." Bantah Pelangi dengan tegas.


Joe tersenyum menatapnya, membuat Pelangi semakin kesal karena sikap Joe sungguh berbeda. Dia sedikit memaksa namun selalu melempar senyum akan sikap Pelangi yang selalu dingin dan mengabaikannya.


"Kenapa? Apakah panggilan itu sudah di miliki oleh orang lain kecuali aku?"


Pelangi terhentak akan pertanyaan Joe.


"Kau.. Siapa kau sebenarnya hah? Kau selalu bertingkah seolah mengenalku lebih dekat."


"Hahaha, aku? Aku... Aku Joe, kau pikir siapa lagi? Atau kau melihatku mirip dengan seseorang yang kau kenali sebelumnya?"


Pelangi menatapnya dengan menggigit bibirnya sendiri, ada kegelisahan yang membuat pikirannya mulai kacau, dan hatinya terasa sesak.


"Bukan siapa-siapa dan bukan urusan mu."


"Langi..."


"PELANGI. Panggil namaku dengen lengkap, kau paham joe?"


"Hahaha, ok ok. Baiklah, Pe-la-ngi. Jadi bagaimana? Bisakah kita berteman? Upz, kau jangan GR dulu. Aku tahu banyak teman-teman di sekolah termasuk para kakak kelas kita yang menginginkan mu untuk menjadi pacarnya. Tapi aku hanya ingin kita berteman, jikapun kita cocok satu sama lain. Ya, gapapa juga dong. Lanjut pacaran, hehe." Ujar Joe dengan mengulurkan tangan pada Pelangi.


"Dasar gila." Jawab Pelangi menepis tangan Joe begitu saja lalu kembali melangkah memasuki ruangan toilet. Dalam hatinya ia begitu kesal dan berkata sendiri di depan cermin.


"Dia sungguh bermuka tembok, dasar tidak tahu malu, pemaksa, aku tidak suka dia memanggilku dengan sebutan lain. La-ngi, itu terdengar menyakitiku."


Dan diluar toilet, Joe masih berdiri dengan senyuman nya menatap punggung Pelangi yang menghilang memasuki ruangan toilet.


"Kau tetap galak dan menggemaskan Langi... Apakah kau sungguh tidak menyadari siapa aku? Lalu sampai kapan aku akan terus terpaksa mengerjaimu begini? Tapi ini sungguh menyenangkan."