
*
*
*
Yura pov
tok tok tok
"Nona yura sudah siap belum ? Kakak nona sudah menunggu untuk sarapan" panggil salah satu maid dirumahku. Aku hanya mengangguk dan memberi tanda bahwa aku akan segera turun. Maid tersebut pamit lalu menutup kembali pintu kamarku.
Aku meneliti penampilanku lagi. 'Tidak terlalu buruk' gumamku. Namaku min yura. Aku 2 bersaudara. Aku punya seorang kakak laki* yang umurnya selisih 2 tahun dariku. Dia laki* yang cukup tampan, namanya min yoongi. Tapi kuperingatkan jangan jatuh cinta padanya, karna dia sangat dingin dan tak punya ekspresi. Tapi jangan salah, dia kakak terbaik di dunia. Walau agak over protektif jika sudah menyangkut tentangku.
Aku dan kak yoongi tidak tumbuh bersama, orang tua kami bercerai, dan setelah perceraian itu aku ikut mama pindah ke jepang. perceraian itu terjadi saat aku masih kelas 4 SD dan kak yoongi kelas 5 SD. Kenapa kak yoongi hanya satu tingkat diatasku ? Jawabannya karna Dulu dia tak mau sekolah dan meninggalkanku sendirian dirumah. Dia takut aku kesepian, bukankah sudah kubilang kalau kakakku itu sangat menyayangiku.
Aku tak seperti anak* lain yang bisa menikmati masa kecilnya bermain diluar rumah dan punya banyak teman. Karna sejak kecil aku pesakitan. Kata dokter aku terlahir dengan jantung yang lebih lemah dari kebanyakan orang. aku selalu terkurung didalam rumah karna alasan itu, mungkin karna itu juga lah kakakku selalu over protektif padaku.
Aku berjalan kearah balkon, menikmati udara pagi dan pemandangan yang indah dari balkonku, menghembuskan nafasku panjang. Aku baru sampai kemarin, jadi wajarkan kalau aku masih ingin bernostalgia dengan balkonku. Aku tersenyum menginggat satu nama yang menjadi salah satu alasanku kembali ke korea. Jeon jungkook, dia cinta pertamaku. Atau cinta monyetku mungkin. Entahlah apa sebutannya, tapi yang jelas dia orang pertama yang membuatku ingin tumbuh menjadi manusia yang lebih kuat.
Aku meraih tas ku berjalan keluar kamar. Dari lantai atas aku bisa melihat kakakku yang duduk dengan wajah bosannya sedang menyantap sarapan. Aku berlari menuruni tangga. Kakakku menatap dengan mata tajam.
"Jangan bersikap seperti bocah yura-ya kau 17 tahun sekarang" aku mengambil kursi di depan kakaku
"Hmm dan oppa sudah 19 tahun sekarang" kakakku memutar bola matanya malas. Ah aku rindu sekali melihat ekspresi itu. Kami menyelesaikan sarapan dengan cepat dan berangkat ke sekolah.
Yura pov end
____
Pintu kelas 2-1 terbuka choi saem masuk membuat semua siswa duduk di tempatnya masing*
"Ehem perhatian sebentar semuanya, kelas kita kedatangan siswi baru, dia murid pertukaran pelajar dari jepang. jadi untuk 6 bulan kedepan bapak harap kalian berteman baik, silahkan masuk" siswi yang dimaksud berjalan masuk ke kelas, lalu choi saem memintanya untuk memperkenalkan diri
Yura melempar pandangannya ke seluruh kelas, mencari sosok yang sangat ia rindukan beberapa tahun belakangan. Ah i got you, itu jeon jungkook duduk di barisan kedua dibangku paling kiri. Wah dia benar* tumbuh jadi makin tampan sekarang, batin yura memuja.
Saem meminta yura untuk duduk dibangku kosong dideretan paling belakang. Ngomong* dikelas itu hanya berisi 16 siswa termasuk yura. Dan menurut info yura dapat dari kakak laki*nya, kelas 2-1 adalah kelas tempat berkumpulnya siswa berprestasi sekaligus prince dan primadona sekolah. Hah sekali lihatpun yura juga tau karna kelas itu lebih mirip tempat trainer idol daripada kelas.
_________
Jam istirahat, di kantin yura risih karna seisi kantin melirik dan berbisik setelah melihat kearahnya. Yura itu tipikal orang yang peka terhadap keadaan dan orang*di sekitarnya. Hidup berdua dengan sang ibu yang berprofesi sebagai psikolog juga berperan besar terhadap pribadi yura.
Yura bukan orang bodoh, dariawal dia tau duduk satu meja dengan oppa dan sahabat* oppa nya yang bisa dibilang anak populer pasti akan mencuri perhatian. Tapi mau bagaimana lagi min yoongi memaksa adik tercintanya itu untuk duduk semeja dengannya dan anak* bangtan (bangtan\=nama geng yoongi) sampai yura dapat teman dekat. Yura tau yoongi hanya khawatir padanya tapi sumpah dia sangat risih sekarang.
Di meja itu perempuan bukan hanya yura sebenarnya, ada rose pacar hoseok, lisa pacar taehyung, dan jiso pacar jin. Meja kantin disini berbentuk meja panjang yang muat sekitar 12 orang. Posisi duduk mereka disisi kiri Yura, yoongi, jimin, namjoon, jiso dan jin duduk berjajar, sedangkan di depan mereka ada jungkook, lisa, taehyung, rose, dan hoseok.
"Yura-ya kenapa tidak dimakan makanannya ?" tanya lisa, lisa juga siswa kelas 2-1. Di meja ini siswa kelas 2-1 ada yura, lisa, rose, jimin, jungkook, dan taehyung.
"Bagaimana aku bisa menelan makanan saat semua orang melirik kearahku" jawab yura dengan nada sebal sambil melirik kearah yoongi, tapi kakaknya itu sama sekali tidak menanggapi.
"Abaikan saja mereka" jawaban ogah ogahan dari kakaknya itu benar* membuatnya mendengus. Cukup. Yura malas berdebat. Toh sejak kapan dia bisa menang berdebat dengan kakak tercintanya itu.
Meja bangtan cukup ramai, karna mereka akan saling melempar candaan,Atau melempar ejekan satu sama lain. Sampai lisa tak sengaja menumpahkan minuman jungkook sampai membasahi celana jungkook di bagian dengkul. Alih* marah jungkook justru sibuk menenangkan lisa yang kebinggunggan karna membuat celana jungkook basah.
Semua orang di meja itu abai dengan interaksi liskook tersebut, karna bagi mereka interaksi itu biasa. Tapi ada sepasang mata yang tak bisa melepaskan pandangannya dari mereka berdua. Kalian pasti tau sepasang mata milik siapa itu. Ya itu milik yura. Yura merasa dadanya sesak melihat betapa teduh tatapan jungkook yang terarah untuk lisa.
Yura menunduk tersenyum miris. Bahkan dalam sekali kedip pun yura tau jungkook menatap lisa dengan penuh cinta. Yura menghela nafas pelan. 'Jangan lemah yura, jangan lemah, kau sudah berjanji hanya untuk melihatnya dari jauh. Bukan mengusik hidupnya. Sadar yura sadar dia bahkan tidak menginggatmu' jerit yura dalam hati.
*
*
*