Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 258



Sudah seminggu berlalu, setiap hari yang di lalui berjalan seperti biasanya. Namun tidak dengan Exelle, dia mulai menyadari jika selama ini tengah di awasi oleh banyak bodyguard. Dan saat ini kian semakin merasa sulit baginya melangkah yang mengundang curiga.


"Akh... Bagaimana aku harus menelpon dan bertemu tante Abel?" Exelle tampak kebingungan. Lalu kemudian dia memijit-mijit batang hidungnya di kamar sendirian. Ini hari minggu, hari libur sekolah.


Drrrttt... Drrrttt...


Ponselnya bergetar, sebuah panggilan masuk dari salah satu temannya. Dengan cepat dia menerima panggilan itu.


"Hmm... Kenapa?" Jawabnya dengan suara malas.


"Hei, ayo kira nongkrong. Ini weekend bro, kita tunggu di tempat biasa ya." Ujar temannya di ujung ponselnya itu. Yang kini sudah lebih dulu berada di tempat tongkrongan mereka seperti biasa.


"Aaah, aku sedang malas pergi. Kau tahu sudah seminggu ini aku selalu di awasi, membuatku tidak nyaman saja. Apa kalian tidak risih?"


"Hahaha, astaga. Sejak kapan kau memiliki pikiran konyol seperti itu bos? Ayolah, kita sahabat. Untuk apa merasa tidak nyaman seperti itu."


Exelle terhenti sejenak dan berpikir. Mungkin ini juga bisa menjadi kesempatan agar bisa ketemu Abel dan bertanya tentang ayahnya.


"Hmm.. Baiklah, aku segera pergi kesana." Jawab Exelle menyanggupi sembari mematikan panggilannya lebih dulu.


Lalu kemudian dia menelpon Abel untuk mengajak nya bertemu dan membuat sebuah alasan layak nya tanpa di sengaja untuk menghindari sebuah kecurigaan bagi para bodyguard yang mengawasinya. Namun tidak ada respon dari Abel.


"Ah, sudah lah. Nanti saja ku telepon lagi." Ujarnya dengan tergesa-gesa meraih jaket favorite nya sambil berlalu keluar kamar.


.


.


.


.


.


Tiba di tempat biasa ia dan dua temannya nongkrong, Exelle sudah di sambut dengan satu kali tepukan tangan oleh temannya. Yang berarti mereka meminta Exelle datang menghampiri.


"Maaf, aku terlambat." Ucap Exelle sembari tolah toleh ke kanan ke kiri, ke depan dan ke belakang memutar kepalanya.


"Hei, tenanglah. Jangan gelisah begitu, nanti kau semakin di curigai. Aku akan membantumu jika membutuhkan pertolongan." Ujar salah satu teman Exelle.


"Hah, syukurlah. Mereka tidak mengikutiku sampai disini, aku benar-benar sangat tidak nyaman selalu di awasi." Jawab Exelle dengan menghela nafas lega.


"Ada apa sebenarnya?"


"Ehm, aku tidak bisa menceritakan nya pada kalian." Jawab Exelle dengan wajah sendu. Ia terlihat sedih kembali.


"Baiklah, bro. Ayo lah, happy. Jangan sedih begitu, apapun masalah yang kau hadapi saat ini kau pasti akan bisa melewatinya."


Exelle mengangguk pelan dan tersenyum ceria setelah mendapat dukungan dari dua teman dekatnya saat ini. Lalu kemudian seperti biasa, mereka saling bersenda gurau, berbincang banyak cerita serta sesekali dua temannya itu meledeknya karena telah gagal menjadikan Pelangi sebagai pacarnya.


Sudah berjam-jam mereka berkumpul kemudian Exelle melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia menoleh kembali ke arah pintu dan sekeliling ruangan.


"Ayo, kita pulang." Ajak Exelle pada kedua temannya.


"Hah, kenapa sudah mengajak pulang? Ini masih pagi." Ujar salah satu temannya.


"Pagi pant** lu, ini sudah hampir jam 7 malam. Aku harus menemui seseorang, ada hal penting." Balas Exelle menanggapi.


"Ehm, sebenarnya aku memang butuh bantuan kalian. Tapi, apakah kalian bersedia?"


"Astaga Tuhan, ada apa dengan mu hari ini?"


"Bukan. Bukan seperti yang kalian pikirkan, aku hanya.. Ehm, aku takut kalian akan menjauhiku setelah tahu semuanya."


Kedua temannya mengerutkan kening menatap wajah Exelle. Lalu mereka mengangguk tegas dan mengelus lembut bahu Exelle. Kemudian mereka beranjak pergi berdampingan bersama menuju pintu keluar.


Bughk!!!


Tiba-tiba sebuah pukulan dari arah samping mengenai pelipis mata Exelle sehingga membuatnya terhuyung jatuh ke tanah. Sontak kedua teman Exelle menghampiri Exelle dengan terkejut bercampur panik.


"Brengsek lu, gue udah ngalah elu deketin Pelangi. Dan sekarang elu diam-diam masih mau menggoda mami gue, hah. Bangun lu, ********!"


Ya, Joe datang dengan wajah merah padam penuh amarah. Dia tidak bisa lagi menahan diri setelah tanpa sengaja dia melihat layar ponsel Abel berdering dengan nama Exelle memanggil. Sehingga Joe berpikir jika selama ini Exelle diam-diam berhubungan dengan maminya, Abel.


"Cih, apa-apaan ini hah?" Tanya Exelle setelah kembali berdiri di bantu oleh kedua temannya.


"Jangan pura-pura bodoh lu, gue tahu. Selama ini elu sengaja kan, diam-diam berhubungan dengan mami gue."


"Oh, astaga. Kau salah paham, bung. Aku dan tante Abel hanya..."


Ucapan Exelle terhenti, ia menatap wajah Joe yang kini tengah kalap. Exelle menyeringai, muncul pikiran licik untuk menjahilinya. Sebab, dia mengingat kembali perlakuannya pada Pelangi, wanita yang dia cintai namun menolak perasaannya hanya karena rasa trauma yang begitu besar dibuat oleh Joe.


Sepertinya menyenangkan untuk mengerjainya, kau sudah membuat hati gadis yang ku cintai menolakku. Hanya karena berpikir, aku dan kau sama saja.


"Kau tersenyum? Oh, sejak awal aku sudah tidak pernah menyukaimu. Kau ********, beraninya kau tersenyum dan mengejekku seperti itu hah." Joe mengumpatnya kembali dan hendak memberikan sebuah pukulan, namun berhasil di hadang oleh kedua teman Exelle.


"Ssst... Kalian minggir, ini masalah ku dengan nya. Aku tidak ingin melibatkan kalian berdua, aku tidak ingin terlihat curang. Sementara dia hanya sendiri datang menantangku." Ujar Exelle menahan kedua temannya.


"Banyak omong kau!!!" Joe menarik baju Exelle dan menariknya hingga mereka berada dekat di pinggir jalan.


"Astaga. Bagaimana ini, haruskah kita membiarkan mereka berdua begitu?" Kedua teman Exelle saling menatap satu sama lain.


"Kita tidak bisa menghalangi mereka seperti yang Exelle perintahkan tadi."


Lalu kemudian Exelle dan Joe masih saling melempar tatapan tajam, namun sesekali Exelle tersenyum picik menatap Joe. Membuat Joe berpikir jika Exelle menghinanya kembali.


"Apa kau merasa paling tampan hah? Beraninya kau menggoda mami ku. Jangan kau pikir aku akan diam saja setelah kau berhasil merebut Pelangi dari ku."


"Hei, apa aku terlihat penggoda tante-tante? Terlebih seperti mami mu, tapi dia begitu baik. Sedangkan kau... Pantas saja Pelangi meninggalkan mu, karena ini lah sifat burukmu. Mudah salah paham dan menuduh orang lain semaumu." Jawab Exelle dengan tegas.


"Heh, lalu bagaimana dengan mu hah? Menggoda istri orang, merebut kekasih orang, apa kau tidak pernah mendapat didikan moral dari kedua orang tua mu?"


Exelle menggertakkan giginya, dia merasa sakit mendengar Joe menyebut nama kedua orang tua nya seperti itu.


"Kau, berani-beraninya kau menyebut kedua orang tua ku demikian." Exelle hendak memukulnya, namun Joe berhasil menghindari pukulan itu. Exelle tak mau kalah, dia hendak memukul kembali. Joe menghindarinya untuk yang kedua kalinya, kemudian kakinya tergelincir hingga ia terjatuh ke tengah jalan.


"Joe, awas..." Exelle berteriak hendak menarik tangan Joe. Namun ter-lam-bat.


Bugh!!!


Joe terpental jauh tertabrak sebuah mobil jazz yang melaju dengan kecepatan tinggi. Exelle berdiri mematung tanpa berkedip mata sedikitpun melihat Joe terpental lalu terpapar di depannya dengan bersimbah darah.