
"Sayang, sayang. Hey, apa kau mendengarku?" Panggil Irgy berulang kali setelah aku berkutat dengan ponsel ku. Ini sudah waktu jam tidur, namun aku masih saja selalu diusik dengan pesan pribadi yang dikirimkan oleh Dudut padaku.
"Eh ya, maafkan aku sayang. Kau membicarakan apa tadi?"
"Istriku, ada apa dengan mu malam ini? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
"E,eh.. Tidak, aku hanya... Ehm, maafkan aku. Aku hanya sedikit terganggu oleh banyak komentar diluar sana semenjak aku menjadi model peragaan busana saat itu."
Irgy menyimpulkan senyum manisnya lalu meraihku dalam pelukan.
"Kenapa kau begitu terusik, bukan kah jauh sebelum kau menjadi model.. Istri ku ini sudah menjadi kejaran, tentu mereka akan takjub akan kecantikan mu ini."
"Sayang, kau meledekku bukan?" Jawab ku sembari mencubit dada bidang nya.
"Ceritakan padaku, bagaimana Pelangi selama di sekolah? Apakah dia mengalami banyak kesulitan dalam bergaul atau lainnya mungkin?"
"Kau tahu, aku jadi tertawa geli dan semakin merasa jika sebentar lagi aku akan sungguh-sungguh menjadi orang tua. Pelangi mempunyai banyak teman di sekolahnya, dan ada satu anak laki-laki yang begitu santun yang selalu berada di dekatnya."
"Oh ya, hahaha. Oh, puteri kita sepertinya akan menjadi primadona. Seperti mama nya dulu,"
"Ih, dengarkan dulu. Ehm, tapi sepertinya anak kita.. Enggan berdekatan dengannya sebagai teman bermain di sekolah. Aku takut, dia memiliki rasa trauma karena kebersamaannya dulu dengan Tama membuatnya harus terpisah."
"Bagaimana itu mungkin sayang?"
"Mungkin saja. Semua bisa terjadi begitu saja tanpa kita sadari, karena Pelangi dengan Tama saat itu begitu dekat bagai saudara kandung. Dan entah bagaimana kabar Abel sekeluarga saat ini."
"Kita harus melakukan sesuatu," Ucap Irgy memberikan ide.
"Ide, apa itu?"
"Aku tidak ingin puteri kita memiliki hati yang mudah rapuh seperti mamanya. Hihi,"
"Cih, gak lucu. Tapi bagaimana jika kita..."
Ponsel ku kembali bergetar menghentikan ucapan ku sejenak. Irgy mengernyit ketika aku reflek menoleh ke arah ponsel ku.
"E,eh sebaiknya kita mengundang anak laki-laki itu kemari." Jawab ku kemudian dengan kikuk.
"Ah, sayang. Sudah lah, jangan terlalu menganggap serius hal ini. Anak kita masih belum mengerti banyak hal, sebaiknya kita berikan saja dia kelonggaran apapun yang ingin dia lakukan dan dengan siapa dia akan berteman."
"Tapi aku menyukai anak itu, dia begitu manis dan lugu. Tapi sikapnya seperti sudah terdidik dengan santun dan disiplin juga penuh hormat."
"Ya ya, baiklah. Aku jadi ingin tahu juga bagaimana anak itu, sehingga membuat istriku ini jatuh hati pada pandangan pertama." Goda Irgy.
"Uh, sudah lah. Kau selalu menganggap hal semacam ini tersambung dengan suatu perasaan." Aku mendecak kesal.
"Jika kau menyukai anak laki-laki, kenapa kita tidak menghadirkannya di rumah kita ini?" Jawab Irgy dengan bisikan yang sengaja dia dekatkan tepat di telingaku. Membuatku merasa geli dengan deru nafasnya.
"Bukan kah kita sudah mencobanya hampir setiap malam sesuai keinginan mu itu, tapi sepertinya Tuhan masih ingin kita menikmati waktu lebih banyak dengan Pelangi."
Mendadak Irgy menghela nafas panjang lalu sedikit menjauh dariku. Aku menatapnya heran, wajahnya menampakkan ekspresi berbeda.
"Fanny, bagaimana jika hal itu terjadi lagi padaku?"
Dia menyebut namaku, apakah aku menyinggungnya? Apakah dia marah?
"Bagaimana jika aku tidak bisa memberikan mu keturunan lagi, apakah kau akan meninggalkan ku?" Tanya nya dengan wajah memelas.
"Ya ampun sayang, apa yang kau pikirkan hah? Selama ini aku tidak pernah memikirkan hal demikian rupa. Kau keterlaluan," Jawab ku tegas.
"Aku hanya bertanya saja. Jangan marah, aku hanya... Sudah rindu suara tangisan bayi, menambah keramaian dirumah ini."
Oh my God. Ada apa dengan nya malam ini? Kenapa dia begitu sensitif? Hanya karena aku menceritakan sosok Lucky padanya.
"Sayang..."
"Sudah malam, ayo tidur. Besok kau harus lelah dengan banyak kegiatan bukan?" Irgy menyela ucapan ku lebih dulu.
"Kegiatan apa, bahkan aku mulai bosan dirumah saja setelah Pelangi mulai bersekolah. Aku jadi sepi sendiri tanpa kegiatan, selain mengantar dan menjemput Pelangi."
"Maafkan aku, sebaiknya kau harus istrahat. Ayo,"
"Sayang.. Aku ingin..." Aku mencoba menggodanya untuk mencairkan suasana hatinya yang mungkin saat ini sedang di rundung kesedihan akan masa lalu. Ketika dia harus di vonis penyebab kami lama memiliki keturunan, karena nyatanya sampai usia Pelangi sudah menginjak 5 tahun kami belum juga di karuniai keturunan kembali.
Melihat sikapku yang agresif dan genit pada nya, wajah Irgy berubah seketika. Namun dia masih bersikap acuh seolah menolak akan kegilaan ku yang sengaja ku lakukan. Aku tahu, hanya ini satu-satunya yang akan membuatnya merasa puas dan kembali senang.
"Ukh, sayang. Hentikan," Ucap Irgy melenguh di hadapan ku.
"Kenapa? Kau tidak menyukainya?" Jawab ku dengan terus menggodanya lebin intens.
"Aku sangat menyukainya. Tapi kenapa harus ku pancing dulu emosimu baru kau akan memulai nya?" Jawab Irgy dengan terbata-bata.
Seketika aku menghentikan aktifitasku.
"Coba kau ulang ucapan mu itu,"
"Hehe, baiklah. Maafkan aku, aku hanya berusaha membangkitkan emosi dan hasratmu. Dan aku, sangat menyukai keagresifan mu ini."
"Iiiih, menyebalkan. Kau sengaja bukan, ingin membuatku malu dengan menggila seperti ini. Kau memang gila, kau mesum," Jawab ku dengan terus memukuli tubuhnya yang sudah bertelanjang dada di hadapan ku.
Kemudian Irgy menangkap kedua tangan ku yang sejak tadi memukulinya. Aku mengalihkan pandangan ku darinya.
"Maafkan aku, aku hanya rindu dan ingin mengganti suasana. Apa kau tahu, aku juga merasa malu karena selalu memaksamu melakukan nya setiap waktu untuk ku. Aku tidak pernah puas meski sudah berulang kali, kau membuatku gila. Dan terus menggila, kali ini aku ingin kau yang menyamai kegilaan ku dengan keagresifan mu."
"Cih, kau memang selalu menang dalam hal ini."
Dan aku baru saja hendak melanjutkan aktifitasku yang tertunda tadi, namun ponsel ku kembali bergetar. Entah ini sudah yang keberapa kali nya, membuat Irgy menatapku heran seolah menyimpulkan banyak tanya. Lalu aku meraih ponsel ku kemudian menonaktifkannya.
"Sayang, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
"E,eh? Ti,tidak. Untuk apa aku menyembunyikan sesuatu darimu. Itu hanya notif dari beberapa email tempatku memesan beberapa barang online."
"Tapi sejak kapan kau..."
Tanpa mendengarkan ucapan Irgy sampai selesai, aku sudah kembali melakukan aktifitasku lebih menggila untuk mengalihkan pikiran Irgy yang entah sudah mengarah kemana.
Malam ini terasa begitu cepat berlalu, ku lihat Irgy masih lelap dalam tidur sembari memeluk ku. Entah kenapa kali ini aku terbangun lebih dulu, walau sekujur tubuh ku terasa begitu remuk lebam. Sepertinya aku berada di masa pubertas, sehingga begitu penuh gairah yang meningkat.
Ya ampun Tuhan, dengan perlahan aku turun dari ranjang untuk melihat sebuah kalender diatas meja pot bunga. Aku sedikit gemetar, mengetahui jika ini sudah masa puncak kesuburan ku. Sejenak muncul sebuah harapan setelah ini Tuhan akan kembali memberiku bayi mungil nan lucu seperti Pelangi.