Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 167



Aku hampir tidak mampu berkata apa lagi melihat Irgy demikian, menangis tiada henti dan terus mengulang kata maaf bersimpuh di depan ku.


"Mau sampai kapan kau begitu. Tidak capek?" Tanya ku cetus.


"Bagaimana aku bisa merasakan capek jika aku menangis karena bahagia?"


"Huh, aku marah. Hanya saja aku menahan diri, karena aku tahu di dalam sana ada dua janin yang akan ikut merasa tidak nyaman jika aku terus marah padamu."


"Berapa kali aku harus berkata pada mu Fanny, aku dan Hana..."


"Aku benci kau menyebut namanya saja."


"Bba,baiklah. Aku tidak akan menyebutnya lagi, lalu apa lagi yang kau ingin dengar dariku?"


"Selama berhari-hari kau bilang sibuk hingga pulang selalu larut malam, apa kau sungguh di kantor?"


"Demi tuhan Fanny..."


"Sudah lah, aku malas mendengar dan mengingatnya lagi. Semua hanya akan membuatku kembali sakit, kau tidak akan pernah bisa merasakannya."


"Aku mengerti, aku mengerti Fanny. Aku tahu semuanya, aku bisa memahami semuanya. Maka dari itu aku sudah memutuskan untuk tidak akan pernah lagi datang di pesta reuni lagi."


"Lalu apa kau menyalahkan semua teman-teman mu atas masalah ini?"


"Tidak. Ini salah ku, Salah ku dan salah ku, aku yang memulainya, aku yang tidak pernah jujur."


"Bagus lah. Jika begitu," Jawab ku memalingkan wajah dari nya.


"Maka dari itu, pulanglah. Kembali lah kerumah kita lagi, jangan menyiksaku lagi sayang. Aku pun ingin selalu dekat dengan anak-anak kita ini, aku bahagia..."


Ku tatap wajahnya lagi yang mulai terlihat kusam, kedua matanya begitu sembab, dan di bagian bibir atasnya serta dagunya sudah mulai ditumbuhi rambut-rambut kecil yang halus.


Oh Tuhan. Apakah selama beberapa hari ini dia sungguh sangat sibuk hingga tidak sempat merawat dirinya sejenak?


Kemudian aku berdiri di hadapannya, dia masih bersimpuh di depanku.


"Bangun lah."


Irgy menurut dan berdiri tepat di hadapan ku. Aku menatapnya, dia tampak semakin merasa bersalah melihatku.


"Kau tahu betapa aku mencintaimu dan selalu jatuh cinta padamu setiap detik, saat berada di dekatmu hingga kini aku masih merasa bergetar dan bahagia. Tapi sejak malam itu, aku baru menyadarinya. Jika kau tidak pernah memiliki perasaan yang sama seperti ku, ku pikir kau tidak akan mudah goyah pada wanita cantik lainnya."


"Hati ku tidak pernah goyah sedikitpun sayang, aku hanya..."


"Hanya apa? Kau terkesima atau merasakan jatuh cinta lagi pada wanita itu? Kau lihat bukan, saat ini aku sedang hamil, aku tidak cantik lagi, tubuh ku sudah tidak seksi lagi, aku mulai makan banyak, dan aku sudah mulai gendut."


"Cih, kenapa kau berpikir begitu konyol sayang.. Kau membuatku gemas." Jawabnya sembari mencubit kedua pipi ku.


"Iiih, sakit tahu. Kau mencubitku begitu keras," Aku mendecak kesal kemudian Irgy meraih tubuhku dan mendekapnya begitu erat dalam pelukannya.


"Sayang, aku mencintaimu. Aku mencintaimu, jangan marah lagi, jangan menguji kesetiaan ku lagi. Itu semua hanya akan menyakitiku karena aku merasa kau meragukan ku lagi." Jawabnya lembut serta mendekapku semakin erat.


"Aku tahu itu, aku minta maaf. Bagaimana aku harus menebus semuanya agar kau benar-benar memaafkan ku sayang?"


"Aku tidak tahu, aku hanya ingin makan banyak dan baju-baju yang tidak membuatku sesak lagi karena merasa sempit."


"Hahaha, baiklah. Aku akan melakukan semua yang kau suruh, aku akan mengabulkan semua yang kau inginkan, aku akan memberikan semua yang kau minta apapun itu walau harus di bayar oleh nyawa dan hidupku."


"Cih, sejak kita menikah kau selalu berkata demikian tapi nyatanya kau begitu terperangah akan tubuh seksi Nana mu yang genit itu. Yang selalu tertawa seperti mak lampir, membuatku ingin sekali menjambak rambutnya yang selalu dia mainkan di depan semua pria termasuk kau." Jawab ku mendorong tubuhnya yang sejak tadi mendekapku. Namun dekapannya begitu erat, sepertinya dia sudah bisa menebaknya jika aku akan meronta dan melepaskan pelukannya.


"Hahaha, ya. Dia memang seperti mak lampir, dia memang genit, dia tidak cantik, dia tidak seksi, kau lebih segalanya. Tapi apa kau bisa meniru gayanya yang seperti ini?" Jawab Irgy dengan mengibas daun telinga nya seolah meniru gaya Hana saat di pesta reuni malam itu. Dan aku tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak tertawa melihatnya bertingkah konyol bak waria profesional.


"Hahaha, kau sungguh menyebalkan." Jawab ku tertawa lepas di hadapannya. Membuat Irgy semakin berlagak seperti waria yang sedang mencoba menggoda mangsanya.


"Hahahaha sayang, hentikan. Perut ku sakut tertawa terus, aku jadi lapar lagi."


"Astaga, sayang. Maafkan aku,"


Seketika Irgy berhenti dari tingkah konyolnya lalu kembali bersimpuh dan memeluk perut ku. Dia menciuminya lagi.


"Hemm... maafkan papa membuat kalian merasa lapar lagi, hahaha. Kalian sungguh jago menjahili mama kalian, tapi papa suka. Mama kalian akan semakin menggemaskan saat semakin gendut nantinya. Papa akan selalu mencubitinya, apa kalian setuju dengan papa?" Ujar Irgy seolah berbicara nyata dengan kedua janin ku di perut.


"Ih, apaan sih yank. Apa kau meledekku lagi?"


"Tidak, tidak sayang. Kau memang sangat menggemaskan terlihat gendut seperti ini, kau semakin cantik."


"Huh," Jawab ku cetus.


"Eh, sayang. Bagaimana dengan puteri kita Pelangi? Apakah dia sudah tahu jika akan segera memiliki adik kembar? Dia pasti akan sangat bahagia karena akan memiliki teman bermain dirumah."


"Ehm, aku belum memberitahunya sayang. Aku tidak bagaimana reaksinya nanti. Karena dia begitu manja, aku takut dia merasa tersisih nantinya."


"Tidak mungkin, dia pasti akan sangat bahagia mendengarnya nanti. Sama seperti ku sayang, aku bahagia. Aku bahagia... Aku sudah menanti ini sekian lamanya." Kembali Irgy begitu mengekspresikan kebahagiaan nya dengan suara lebih lantang.


"Tapi dia begitu sedih sejak tadi, dia bilang ingin bermain dengan Lucky. Haha, bukan kah itu sangat terdengar lucu?"


"Sungguh? Aaah..."


Tampak Irgy mengeluh panjang dan merebahkan tubuhnya bersandar di pundakku.


"Ada apa? Kenapa kau mengeluh begitu?"


"Apakah begini rasanya memiliki seorang anak perempuan? Mendengarnya ingin bertemu teman laki-lakinya meski mereka masih anak-anak, tapi aku cemburu. Aku tidak bisa membayangkannya jika nanti dia akan lebih memilih untuk bermain dengan teman laki-lakinya daripada aku papanya."


"Hahaha, itu sudah menjadi resiko mu sebagai papa dari anak perempuan kita. Lalu bagaimana jika janin kembar di perut ku ini terlahir sebagai dua perempuan juga?"


"Aaah, tidak. Jangan, itu akan membuatku bingung di kelilingi 4 wanita sekaligus di dalam rumah ku. Cukup kau saja satu dan juga Pelangi puteri kita, aku sudah merasa paling tampan diantara kalian."


"Sayaaaang, iih kau sungguh terlalu percaya diri."