
Lisa melipat wajahnya dan menunduk kesal, seperti apa cowok
yang di kejarnya itu, Tanya pelangi dalam hati.
Teeet… Teeet…
Tak berapa lama kemudian, bel masuk kelas kembali berbunyi.
Lisa bermalas-malasan beranjak berdiri, di susul oleh Pelangi dan Jeni.
Sementara Lucas berada di tempat lain dengan menemani Joe, Lisa berjalan dengan
langkah pelan sembari bersandar pada bahu Pelangi.
“Haah… Rasanya aku kehilangan semangat ku, ini semua karena
pangeran itu. Terkadang dia baik dan manis, terkadang dia berubah jadi cuek dan
acuh, pendiam tanpa kata, tersenyum tidak.”
“Sudah sabar, dia hanya belum mengenalmu dengan dekat saja.
Jika dia sudah tahu bagaimana Lisa kami ini, hmm… dia akan mudah kau
taklukkan.” Jawab Pelangi berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Ketika hendak memasuki ruang kelas, Joe berpapasan dengan
Pelangi secara dekat saling berhadapan. Membuat keduanya saling terhenti dan
menatap satu sama lain. Dengan cepat Pelangi memalingkan wajahnya. Sedangkan
Lisa dan Jeni sudah menyerangnya dengan tatapan buas.
“Apa lu, hah? Jangan coba berpikir kau akan menggoda
Princess cold lagi. Jangan sekalipun berharap!!!” Ujar Jeni dengan cetus
memberikan titah.
“Hum, betul. Jangan mengharap lagi deh, Lu.”
“Sa, Jen… Kenapa kalian selalu mencercaku demikian, apa
masalah kalian padaku hah?” Jawab Joe dengan cetus.
“Dasar tidak tahu malu, massih berani kau bertanya seperti
itu. Apa kau sudah tidak memiliki otak lagi, Joe?” Sahut Jeni dengan kasar.
“Hei, ayolah. Apa yang aku lakukan sih?”
“Diaaaam, kau!!! Cowok gak peka, cowok brengsek, cowok
munafik, cowok menyebalkan dan kau plinplan. Kau dengar itu???” Kali ini Lisa
berubah buas. Sehingga mengundang perhatian seluruh siswa di kelas. Sungguh
diluar dugaan, entah kenapa seolah dia sedang ingin meluapkan segala
kekesalannya sejak tadi.
“Wow, kau hebat Lisa.” Ucap Jeni menyeru memujinya.
“Sa, gue Cuma…”
“Ayo kita masuk, jangan buang tenaga kalian hanya untuk
Joe menarik lengan Pelangi, membuat
Pelangi sedikit terhuyung.
“Jangan melewati batasan mu, Joe.” Pelangi menepis kasar
tangan Joe.
“Aku merindukan mu, Langi. Bisakah sebentar saja kau
bersikap manis seperti dulu?”
Pelangi mengabaikan kembali ucapan Joe, dengan memutar kedua
bola matanya jengah.
“Huh, rasain!!! Minggir lu,” Bentak Lisa dan Jeni dengan
menubruk tubuh Joe.
“Uuh, pangeran ku. Sabar ya, mereka hanya masih marah saja
padamu saat ini. Nanti mereka pasti akan baik kembali. Dengan lembut Lucas mencoba meredakan hati Joe,
tampak Joe terlihat menggertakkan giginya dengan mengepalkan tangan.
“Lucas, kau tahu itu. Aku sangat merindukan hari-hari ku di
sekolah dengan Pelangi. Aku pun merindukan kebersamaan ketika bergabung bersama
kalian. Tidak bisakah aku tetap menjadi teman baik kalian?”
Lucas hanya menggelengkan kepalanya dengan ragu, merangkul
bahu Joe. Menepuknya perlahan, dan memapahnya untulk kembali masuk kelas.
************
POV
Abel sedang berjalan sendiri dengan mendorong troly di
tangannya. Ia sedang berbelanja beberapa kebutuhan bulanan untuk di dapurnya,
setelah puas dia berjalan menuju ke berbagai store butik pakaian dan
perlengkapan lainnya, memang sifat ini tidak pernah berubah dari dulu. Shopping
sampai berjam-jam hobynya.
Di sela keasyikannya memilih beberapa pakaian dalam,
seseorang merebut pakaian yang hendak di raihnya. Sontak membuat Abel menoleh
dengan tajam ke arah munculnya tangan itu di pakaian tersebut. Wanita cantik
dan anggun tersenyum padanya setelah saling menatap terkejut.
“Ups, sory. Kau juga menginginkan barang ini?” Tanya wanita
itu.
**Hai semua\,mohon maaf karena part kali ini jauh lebih pendek\, Author butuh istrahat dulu sebentar. Seja dua hari ini sangat sibuk. lanjut nanti lagi ya\, salam manis untuk kalian...**