Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 263



Dan pada akhirnya Exelle sudah mengetahui segalanya. Membuat Ammar merasa lega setelah mengungkapkan semuanya. Begitupun tentang hubungannya dengan Joe, namun Exelle masih sedikit ragu. Mengetahui jika Joe ternyata adalah saudara satu ayah dengannya, sementara kini menyukai gadis yang sama.


Sudah seminggu berlalu, Joe masih terbaring koma. Namun tugas Ammar yang saat ini juga sebagai CEO dari perusahaan ternama di LN, mengharuskannya segera kembali. Exelle mengantarnya ke bandara dengan tetap di temani oleh kedua temannya yang selalu setia.


"Nak, rasanya berat harus terpisah kembali dengan mu." Ujar Ammar sembari memeluk erat tubuh Exelle.


"Tak apa, Pa. Ini juga demi kebaikan semuanya bukan? Tapi papa harus janji, akan selalu ada untuk ku walau kita jauh."


"Tentu, sayang. Jadi kapan kau akan berkunjung ke LN?"


"Suatu hari, aku janji. Aku akan berkunjung kesana. Jaga kesehatan papa disana, sampaikan rasa rindu ku pada nenek disana. Jangan lupa, berikan foto kebersamaan kita selama disini, nenek pasti akan sangat bangga melihat cucunya saat ini tumbuh menjadi laki-laki yang tampan seperti papa. Hehe,"


"Kau memang anak papa yang baik." Ujar Ammar sembari mengacak rambut Exelle gemas.


Aku beruntung, walau dia tumbuh dan tinggal bersama kedua orang tua Eliez yang begitu arrogant. Namun dia tetap berhati mulia dan dewasa. Papa bangga padamu, Nak.


"Ehm... Pa, janji ya. Akan selalu ada untuk ku, dan bolehkah aku menyimpan nomor ponsel saudara ku disana? Aku ingin mengenalnya meski melalui jarak jauh."


"Oh tentu, Nak. Kemarin ponsel mu, papa kan menyimpan nomornya di ponselmu."


Exelle tersenyum sembari menyodorkan ponselnya. Lalu Ammar memainkan jemarinya di layar ponsel Exelle untuk menyimpan nomor Lucky.


"Terimakasih, Pa."


"Hei. Ayolah nak, jangan selalu mengucap kata terimakasih pada papa. Ini terlihat canggung, ini membuat papa tidak nyaman."


Kemudian Exelle tersenyum ngengir dan memeluk tubuh Ammar erat-erat.


Pa, terimakasih masih ada untuk ku.


Gumam nya dalam hati.


"Kau tidak mau memeluk mama mu juga?" Tanya Hana dengan senyuman.


"E,eh..."


Tanpa menunggu aba-aba lagi Hana langsung memeluk tubuh Exelle.


"Kami akan menunggu kedatangan mu di rumah kami, Ex."


"I,iya. Terimakasih." Jawab Exelle kikuk.


"Kalian, terimakasih selalu menjaga Exelle. Tetap lah menjadi teman baik untuk anak om, om akan sangat berterimakasih pada kalian." Ujar Ammar pada kedua teman Exelle kemudian.


"Siap om!!!" Jawab mereka serempak.


Lalu Ammar dan Hana melangkah pergi ketika sebuah pengumuman terdengar untuk urutan pesawat yang akan mereka tumpangi menuju tempat mereka tinggal diluar negeri. Exelle menangis tertahan, kedua teman Exelle mengelus dan menepuk-nepuk bahu Exelle untuk mengurangi kesedihannya.


Pa... Sejujurnya, aku masih merindukanmu.


Ucapnya dalam hati.


Setengah melangkah jauh, Ammar kembali menoleh ke belakang. Dia menatap hangat wajah puteranya, dia menyeka air matanya yang menetes berkali-kali.


"Tuan, kau baik-baik saja?" Tanya Hana.


"Aku tidak baik, sangat tidak baik." Jawab Ammar dengan kembali melempar senyuman dan melambaikan tangannya pada Exelle. Lalu kemudian Ammar berlalu menghilang dari pandangan Exelle.


"Hei, sudah lah. Jika ingin menangis, tak apa. Jangan di tahan, kami tidak akan mentertawakan mu, Ex." Ujar salah satu teman Exelle.


"Kami mengerti hatimu, ayo lah. Tetap semangat, suatu hari kau harus berkunjung kerumah papa mu disana. Dan tentu, kami akan ikut serta bersamamu. Oke!"


Exelle tertawa meledek kedua temannya kemudian. Lalu beranjak pergi menuju mobil mereka di parkiran.


"Kita akan kemana hari ini, bro?" Tanya salah satu teman Exelle ketika sudah di dalam mobil. Namun Exelle tak menjawab pertanyaan temannya itu, ia termenufng dengan tatapan kosong ke depan.


"Ex!!!" Panggil temannya lagi yang kini sedang menyetir di sebelahnya.


"Ah, ya?" Jawab Exelle dengan terkejut.


"Oh astaga. Ada apa dengan mu? Kau memikirkan hal buruk lagi?"


"Aku merasa bersalah pada Joe, hinggs kini dia belum sadarkan diri."


"Hei, itu bukan salahmu. Dia tergelincir, aku lihat itu dengan mata kepala ku sendiri." Jawab temannya lagi.


"Tapi itu karena aku, dia menghindari pukulan ku." suara Exelle terdengar semakin serak.


"Lalu bagaimana dengan si cewek galak? Kau dengannya masih berkomunikasi bukan?"


"Tidak... Aku terlalu sibuk dengan semua keadaan ini. Aku sampai tidak sempat membalas pesan dan menerima panggilan teleponnya."


"Aaah, kau payah." Satu temannya lagi meledeknya.


"Itu karena aku bingung harus berkata apa saat bertemu dengannya, bagaimana aku akan menjelaskan jika Joe dan aku sebenarnya saudara satu ayah?"


"Ya Tuhan, aku hampir lupa itu." Ujar temannya kembali.


Kemudian ponsel Exelle berdering, sebuah panggilan masuk dari Pelangi. Membuat Exelle terkejut hingga tangannya sedikit gemetar.


"Pelangi..."


"Terima saja!" Ujar temannya menyuruhnya.


"Ya, halo... Cewek galak, hai... Apa kabar?" Jawaban Exelle begitu kikuk setelah menerima panggilan Pelangi.


"Eh, ada apa? Kenapa kau kikuk begitu? Hemm.. Apa kau sedang jalan dengan cewek barumu? Oh, pantas saja kau menghilang beberapa hari ini. Dasar..." Pelangi mulai mengomelinya di ujung ponselnya itu.


"Aaah, tidak. Hahaha apa yang kau katakan itu? Woah, apa kau sungguh berpikir aku demikian? Hmm.. Kau cemburu?" Tanya Exelle menggodanya sembari melirik pada kedua teman Exelle yang sudah memasang telinga lebar-lebar untuk menguping pembicaraan mereka.


"Dih, konyol. Aku hanya sedikit heran, kau menghilang tanpa kabar. Dan Joe... Joe juga tidak hadir. Semua menanyakannya pada ku, apakah kalian bertengkar lagi?"


Exelle kebingungan untuk menjawabnya, kembali ia menoleh pada kedua temannya. Mereka menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar Exelle tidak mengakuinya.


"Joe... Joe dirumah sakit, Dia sedang koma."


"Aah, dasar bodoh." Ujar kedua temannya menepuk kening saat Exelle menjawab demikian.


"Apa??? A,apa kau bercanda? Bagaimana bisa? Dimana Joe di rawat saat ini. Antarkan aku kesana, jemput aku sekarang Ex!" Pelangi mulai panik mendengar kabar itu.


Lalu kemudian Pelangi mematikan ponselnya, dengan tangan gemetar dia masih memainkan ponsel nya untuk mengabari ketiga sahabatnya yang lain.


Sontak ketiga sahabatnya terkejut dan kebingungan, seolah tidak percaya hal ini terjadi pada Joe. Dengan tergesa-gesa mereka semua kompak dan beranjak pergi dari rumah masing-masing menuju kafe Lucas untuk menjemputnya.


Panik, gemetar, cemas, takut, gelisah, dan pikiran kacau melanda hati Pelangi saat ini. Ketiga temannya mencoba menenangkannya saat sudah tiba di Kafe Lucas. Mereka menunggu Exelle datang menjemput Pelangi.


Tak lama kemudian Exelle dan dua temannya datang memasuki Kafe Lucas. Dilihatnya Pelangi yang kini begitu panik terlihat dengan jelas di raut wajahnya. Matanya sedikit sembab menatap Exelle yang berjalan menghampirinya.