Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 164



Aku masih tidak percaya dengan apa yang dokter sampaikan. Aaakh, bagaimana aku bisa lupa kapan terakhir aku mendapati jadwal menstruasiku. Pantas saja, aku merasakan nafsu makan ku meningkat akhir-akhir ini. Dan mood ku begitu mudah sensitif, apakah ini karena peningkatan hormon ku semenjak hamil?


Lalu bagaimana, bagaimana aku mengekspresikan semua surprise yang tak terduga ini Tuhan???


Ku lihat ibu sudah menatapku penuh haru, hingga meneteskan air mata.


"Jaga baik-baik anugerah ini ya bu, hindari pekerjaan berat dan setres yang berlebihan." Ucap dokter muda itu dengan senyuman hangat menatap ku.


"Ta,tapi dok apa sungguh ada dua janin dalam rahimku ini? Bagaimana bisa? Sedangkan aku dan suami..."


"Nak, apakah kau tidak mensyukurinya? Ini anugerah terbesar dalam hidup kita. Kau harus berterimakasih pada Tuhan."


"Ma,maafkan Fanny bunda. Fanny hanya tidak percaya ini, Fanny merasa ini semua bagaikan mimpi."


Dokter muda itu tersenyum menggelengkan kepala mendengar keterkejutan ku. Kemudian dia mengambil alih obrolan dan menjelaskan dengan bijak juga penuh kelembutan, bagaimana kehamilan kembar terjadi di rahimku serta bagaimana aku harus menjalani prosesnya setelah ini.


Kemudian dokter kembali berkutat dengan sebuah pulpen dan kertas di sertai mengambil sebuah gambar hasil USG kandungan ku tadi.


"Bu, ini resep obat dan vitamin silahkan tebus di apotek nanti ya. Selamat sekali lagi," Ujar dokter itu kemudian.


"Baik dok, saya akan lebih memperhatikan puteri saya." Jawab Ibu mewakili ku yang masih tertegun menatap ke arah layar komputer.


"Ehm, mohon maaf. Dimana suami anak ibu ini? Ehm, karena peran seorang suami dalam hal ini sangat penting."


Aku terhentak akan pertanyaan dokter ini.


"Suami ku sedang tugas di luar kota, Dokter." Jawab ku dengan cepat, ibu melirik ku dengan tarikan nafas dalam-dalam dan menggelengkan kepalanya.


"Oh.." Jawab dokter singkat. Tampak jelas wajahnya menunda ucapannya yang ingin dia lontarkan kembali.


Setelah menebus resep obat di apotek, aku segera memasuki mobil di susul oleh ibu yang masih setia menggendong Pelangi. Dalam perjalanan pulang aku enggan mengeluarkan suara lebih dulu, tatapan ku hanya fokus ke depan dengan menyetir.


Tiba dirumah aku langsung menuju dapur untuk meneguk segelas air putih, bibi Asri menatapku heran melihatku yang berkali-kali menegak segelas air putih. Kemudian ibu menyuruh bibi Asri membuatkan ku jus jeruk dan menyiapkan ku berbagai macam kue kering.


"Mama, apa masih sakit?" Tanya Pelangi menyentuh perutku. Aku menatapnya dengan lekat, dia pun membalas menatapku dengan lugu.


Bagaimana aku mengatakannya jika sebentar lagi, dia akan memiliki seorang adik... Bagaimana jika dia tidak bisa menerima kenyataan ini.


"Mama baik-baik saja Nak, ayo main dulu. Mama mau istrahat." Jawab ku mengalihkan.


"Okkeh ma," Ucap Pelangi sembari mengecup pipi ku. Kemudian dia berlari menuju taman belakang di temani oleh bibi Asri. Tampak ibu masih berdiri menatapku tanpa satu kata.


"Nak, kau ingin sesuatu?"


"Tidak bunda, aku hanya... Sedikit shock, aku tidak tahu sejak kapan mereka hadir di rahim ku." Jawab ku dengan tersenyum sembari mengelus perutku dengan lembut.


"Bunda sangat bahagia dengan berita ini Nak, Tuhan mendengarkan doa-doa bunda. Dan bunda percaya, di balik semua masalah akan selalu ada hikmah yang indah."


Aku masih tersenyum melihat ke arah perut ku sembari mengelusnya. Aku sangat bahagia Tuhan, kau membuatku merasa tidak tahu lagi harus apa... Kau membuatku ingin menari dan bergembira ria.


"Lalu.." Tanya ibu ku kemudian, Aku menoleh nya dengan mengernyit.


"Kapan kau akan memberitahu berita bahagia ini kepada nak Irgy?"


"Hemm.. Entah lah bunda, aku juga bahagia akan hal ini. Tapi, Irgy.. Aku tidak tahu."


"Pikirkan baik-baik nak, kau juga harus menyadari ini semua sudah takdir yang sudah Tuhan tulis di scenario nya."


Aku hanya terdiam mencoba menelaan kembali apa yang ibu katakan. Aku ingin mengatakan pada Irgy, tapi haruskah aku yang memulainya berbicara? Bagaimana aku akan memulainya? Akh.. Entah lah.


🌻🌻🌻


POV IRGY


"Halo.."


"Apa, kenapa bibi tidak mencegahnya?" Jawab Irgy mulai cemas terdengar dari ujung ponselnya.


"Maaf tuan, saya sudah melarang. Tapi Nyonya bilang ada urusan penting dirumah ibu nya. Jadi mereka pergi dengan nyonya mengemudi mobilnya sendiri tuan."


"Baik lah bi, biar aku menelponnya."


Klik !!!


Irgy mematikan panggilan nya begitu saja dari bibi asisten.


Kemudian Irgy menelpon Fanny berulang kali namun tidak kunjung mendapat respon. Irgy mulai panik, dengan cepat dia menelpon ibunda Fanny untuk menjelaskan semuanya lebih dulu.


"Halo, ibu.. Ini Irgy." Ucap Irgy setelah mendengar jawaban dari teleponnya pada ibunda Fanny.


"Oh, ya nak Irgy. Ada apa Nak, kalian apa kabar?"


"Bu, Fanny..."


"Ada apa dengan Fanny? Kenapa? Apakah dia baik-baik saja? Kalian baik-baik saja kan?"


"Ehm, bu.. Bu, tenang lah dulu. Fanny baik-baik saja, hanya saja kami sedikit terjadi kesalah pahaman sehingga membuat Fanny begitu emosi dan meninggalkan rumah hari ini."


"Oh ya Tuhan, kenapa kau membiarkan istri mu pergi begitu saja dari rumah? Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu pada Fanny nak? Oh ya Tuhan, masalah apa lagi yang sedang menguji kalian sampai Fanny begitu nekat keluar rumah?"


Lalu Irgy menceritakan semua yang terjadi tentang masalah pemicu Fanny hingga nekat pergi tanpa seizinnya lebih dulu. Hingga Ia begitu nekat mengemudi sendiri menuju tempat tinggal ibu nya hanya di temani seorang anak kecil seusia Pelangi.


"Ya Tuhan, semoga istrimu baik-baik saja dalam perjalanan nya menuju kemari. Maafkan sikapnya yang begitu kekanakan Nak, kau pasti sangat mengkhawatirkannya saat ini."


"Bu, aku bukan hanya khawatir bu. Aku takut. aku sangat takut Fanny akan membenci dan meninggalkan ku selamanya dan menjauhkan ku dari puteri ku. Aku mohon buat Fanny tetap di sisi ku bu, maafkan aku. Aku tidak becus sebagai suami, aku telah membohonginya."


"Ibu mengerti nak, biarlah masalah ini ibu akan membantu menenangkan hati istrimu dulu. Ibu harap, kalian akan tetap saling menjaga keutuhan rumah tangga kalian. Apapaun yang ada di masa lalu, bisakah kalian menepis nya saja?"


"Aku mengerti bu, maafkan aku."


"Bukan kepada ibu kau meminta maaf Nak, melainkan benahi kesalahan yang sudah terjadi. Bukan kah kau hidup dan mengenal karakter istrimu bukan hanya saat ini saja? Sejak awal kau lebih tahu dan mengetahuinya bukan, masa lalu nya begitu suram. Dia butuh waktu yang begitu lama menata hatinya kembali. Belajar lah dari masalah ini, jangan pernah menutupi hal apapun lagi dari istrimu nak. Karena istri juga merupakan jantung dalam rumah tangga, semua akan kacau jika kau menyakitinya walau itu hanya sedikit goresan saja. "


"Baik bu, aku berjanji. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi bu, lalu bagaimana setelah ini aku menghadapinya bu? Fanny terlanjur kecewa pada ku."


"Boleh kah ibu meminta izin pada mu nak?"


"Apa bu?" Jawab Irgy dengan suara lirih.


"Berikan waktu sebentar untuk nya berpikir tenang dirumah ibu, ibu janji akan membantunya meredakan emosinya saat ini. Biarkan dia perlahan menyadari sikapnya yang salah ini."


"Baik lah bu, aku sangat mencintai Fanny. Sampai kapan pun itu, akan tetap mencintainya. Dan, aku butuh waktu 3 hari lagi bu."


"3 hari?" Tanya ibu kebingungan.


"Aku hanya butuh waktu 3 hari lagi untuk menormalkan kondisi perusahaan saat ini. Lalu setelah itu aku akan menjemput Fanny kerumah ibu, Irgy harap.. Fanny sudah tidak marah lagi pada ku dan mau kembali lagi kerumah kami bu."


"Percayalah nak, semua akan baik-baik saja. Fokus lah dulu pada pekerjaan mu, jangan lupa jaga kesehatan mu. Jangan sampai sakit,"


"Terimakasih bu, ehm.. Ku mohon, jangan beritahu Fanny aku menelpon ibu lebih dulu. Aku takut dia semakin membenciku Bu,"


"Astaga, baik lah. Jangan berpikiran terlalu jauh nak, ibu tahu kalian saling mencintai."


Klik !!!


Panggilan berakhir.


Irgy menghempaskan tubuhnya di sofa yang tersedia di ruangannya. Wajahnya menengadah ke atas dengan memejamkan kedua matanya, memijit-mijit pelan batang hidungnya. Nafasnya terasa sesak, air mata mulai mengalir dari kedua matanya.


"Fanny, aku tahu ini salah ku. Aku laki-laki bodoh, aku pernah terluka dan terhina di masa lalu hanya karena terlalu berani menyatakan perasaan ku pada seorang wanita yang pernah ku cintai. Dan aku tidak tahu, jika sikap ku ini justru menjadi boomerang bagi rumah tangga kita. Aku yang salah tidak pernah jujur pada mu, sementara kau selalu mempercayaiku dengan semua keburukan mu di masa lalu. Aku memang suami yang brengsek dan tidak berguna. Aku mencintaimu sayang,"