Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 230



Bagaikan tersulut api yang berkobar detik ini di hati Pelangi. Ia tidak pernah bermimpi sebelumnya, jika akan melihat gadis lain yang begitu manja dan genit bergelayutan tanpa rasa risih sedikitpun.


"Langi, ehm.. Dia maria, teman ku ketika di LN."


"Oh, teman.." Jawab Pelangi dengan acuh, menampilkan suara yang hambar.


Sedang Maria sedikit tercengang, kebingungan namun terlihat juga dia seolah terkejut dan tidak percaya itu.


"Joe, Daddy and mommy sedang mengobrol dengan Aunty and uncle. Come on, kita temui mereka."


"Ehm, aku..."


"Aduh, ayo lah.." Maria menarik paksa lengan Joe untuk di rangkulnya.


"Maria, tunggu. Disini ada pacar ku, Pelangi. Kau belum berkenalan,"


Maria sedikit mengenduskan nafasnya ketika Joe menolak untuk rangkulnya, namun justru kembali memperkenalkan Pelangi sebagai pacarnya.


"Maria," Ucap nya kemudian dengan cetus.


"Aku Pelangi, pacarnya Joe."


"Joe, ayo!" Ucapnya lagi memaksa.


"Ehm, Joe. Cepat lah, temui dulu orang tua Maria."


"Tapi Langi..."


Ucapan Joe di bantah dengan sebuah tatapan judes dari kedua mata Pelangi, membuatnya menurut dan meninggalkan Pelangi di taman. Melihat Joe berlalu di temani dan selalu di rangkul manja oleh Maria, Pelangi sedikit kesal.


Dia mulai menarik nafasnya dalam-dalam dan mendecak sebal, mencoba berpikir tenang dan bersikap tidak berlebihan. Menunjukkan kekesalannya saat ini.


"Hah, bukan kah cewek itu terlihat begitu dekat pada Joe? Hello... Apakah dia belum tahu, bagaimana rumitnya jika berurusan dengan ku."


Ujar Pelangi dengan mengepal-ngepalkan tangan nya.


Tak berapa lama kemudian, Pelangi kembali di kagetkan dengan sebuah pelukan di tubuhnya yang merangkul pinggangnya.


"Maafkan aku!"


"Ehm, kenapa meminta maaf?"


"Aku tahu kau marah dan ingin menghujaniku dengan berbagai pertanyaan."


"Sudah lah, Joe. Aku ingin pulang saja, aku sudah lelah."


"Tidak, jangan pulang dulu Langi."


"Joe, aku tidak..."


Dengan sigap Joe langsung mengecupi bibir Pelangi saat ini. Mencoba menghentikan ucapan Pelangi yang Joe pikir sejak tadi ia sedang marah namun berusaha menyembunyikannya.


Pelangi menyadari bahwa mereka sedang di halaman terbuka, ia takut jika Maria bisa saja kembali muncul seperti tadi menghampiri mereka.


"Joe, sebaiknya kau temani dulu Maria. Aku akan pulang,"


"Langi, dia teman ku saat di LN dulu. Orang tua kami saling memgenal akrab, oleh karena itu kami pun berteman baik."


Pelangi diam tak bergeming, tanpa kata untuk menjawab Penjelasan Joe saat ini. Joe mencoba menelusuri ekspresi sahabat sekaligus pacarnya itu. Di raihnya dagu Pelangi untuk di dektkan pada wajahnya.


"Joe, lepaskan. Nanti Maria lihat," Ujar Pelangi menepis tangan Joe.


"Pffttt... Kau cemburu padanya."


"Joe!!!"


Maria muncul kembali menghampiri, membuat Pelangi sedikit mundur satu langkah dari hadapan Joe. Namun Joe sudah dapat membaca dan menjag jika Pelangi akan berbuat demikian. Maka itu, dia menarik pinggul Pelangi untuk menempel pada tubuh Joe saat ini.


"Joe, jangan konyol!" Bisiknya dengan menekan nada bicaranya.


Langkah Maria terhenti mendengar Joe berkata demikian.


"What? Joe, pliss.. Aku ingin mau menemaniku jalan-jalan hari ini. Bisa kan?"


"Maria, kau bis mengajak om dan tante saja nanti. Ok, lagi pula. Aku tidak bisa pergi dengan orang lain tanpa ijin pacarku."


Joe melirik ke arah Pelangi. Seolah sedang menyiratkan kode isyarat, namun Pelangi sengaja mengabaikannya.


"Oh ya? Hei kau, bisakah kau membiarkan Joe menemaniku jalan hari ini?"


Dasar tidak sopan, bisakah kau memanggil nama ku saja?


"Ehm, baiklah. Aku izinkan dia menemanimu,"


"Tidak!!! Hari ini aku harus bersama pacarku." Jawab Joe tegas.


"Lagian aku sudah lelah, aku ingin pulang saja. Aku ingin tidur."


"Cih, pintar juga cara mu menarik perhatian Joe." Ucap Maria dengn lirih. Namun Pelangi sangat mendengarnya dengan jelas.


Bathinnya pun bergumam...


Dan kau begitu bodoh ingin bersaing dengan ku.


"Ehm, Joe. Bagaimana jika kita mengajak Maria berjalan-jalan sebentar, aku akan menemanimu." Jawab Pelangi, mencoba memenangkan dan menguasai keadaan saat ini.


"E,eh.. Langi, apa yang kau rencanakan?" Bisik Joe pada Pelangi, dia merasa sedikit curiga. Jika Pelangi akan melakukan aksi untuk membuat Joe merasa bersalah dan kebingungan nantinya.


"Joe, come on. Dia sudah mengizinkan kau menemaniku jalan-jalan,"


"Hahaha, aduh Maria. Kau ini mulai melawak, aku memang mengizinkan pacarku menemanimu. Tapi aku juga harus menemanimu bersamanya."


"So what?" Maria membelalakkan matanya.


"Hemm, aku akan menemani kalian juga tentunya. Akan sangat lucu bukan, jika aku membiarkan pacarku jalan dengan cewek lain?"


"Pffftt..."


Joe terkekeh menahan tawanya.


"Hah, baiklah." Jawabnya menghembuskan nafasnya, memutar bola matanya ke atas. Sepertinya dia sedang kesal. Dan berjalan lebih dekat menghampiri Joe, ia hendak merangkul lengan Joe kembali seperti tadi.


"Ehhem, sory Maria. Kali ini aku yang harus merangkulnya, bagian mu sudah tadi ku berikan secara khusus. Sekarang tidak lagi, ehm... Mau masih belum pernah memberikan lebih pada seseorang terlebih jika itu sudah menjadi hak ku."


Kembali Maria di buat gelapan tak berkutik. Tampak ada kepuasan dari wajah Joe saat ini. Lalu kemudian Pelangi menggenggam erat tangan Joe tepat di hadapan Maria, merek berjalan untuk segera keluar dari taman menuju mobil. Sesekali Joe meliriknya, karena merasa sungguh bahagia melihat ekspresi wajah pacarnya.


Setelah sampai di depan mobil Joe, dengan sangat percaya diri Maria hendak membuka pintu depan. Lalu Pelangi menahan pintu mobil tersebut.


"Aah, pliss..." Bantah Maria.


"Ini mobilku, Lagi pula hanya aku yang berhak duduk di sisi Joe saat menyetir mobil. Karena Joe harus ku temani agar dia fokus menyetir nantinya."


"Joe, pliss... Jangan begini."


"Aaah, maafkan aku Maria. Semua yang dia katakan benar, jika kau masih ingin jalan-jalan, ya ayo. Jangan banyak protes!" Titah Joe setelah meminta maaf. Maria kesal, Pelangi mendorongnya untuk segera memasuki mobil dan duduk di kursi belakang.


Sementara mereka sudah di dalam perjalanan, Maria terdengar jelas menghempaskan nafasnya dengan bersungut-sungut. Karena Joe selalu menggenggam tangan Pelangi yang sedang duduk di sisinya saat ini.


"Eh Maria, katakan kau ingin pergi kemana saja?" Tanya Joe kemudian.


"Aku, aku kemana saja boleh asal bersamamu." Jawab Maria dengan nada merayu.


"Ayolah, Maria. Jangan bercanda saja,"


"Hahaha, apa kau pikir ini candaan Joe?"


"Hemm.. Sayang, dia tidak bercanda. Dia memang ingin bersamamu, kemana pun itu. Dengan catatan kau pun membawaku bersama mu disisi mu." Jawab Pelangi memainkan intonasi nada bicaranya. Walau dalam hatinya dia pun merasa mual dan ingin muntah. Ini bukan sifat dari sikapnya yang berlagak manis di depan lain jenis.