
Ku lihat Pelangi begitu bahagia kali ini, terpancar jelas dari raut wajah nya yang selalu menebar senyuman. Kue tart indah yang menjulang tinggi di depannya kini sudah terpotong, kue special dia berikan pada ku dan Irgy kemudian kue special selanjutnya aku tidak menyangka jika dia akan menyuapi Kevin dan Nia.
"Aaah, aku sudah susah payah menyiapkan kado special ini. Ku pikir kau akan menyuapi ku dengan kue ini, huh.." Ujar Joe dengan wajah cemberut.
"Cih, dasar. Kakak Tama mau di suapin?"
"Eitz, panggil aku Joe ok. J-o-e, Tama terlalu norak." Jawabnya kemudian setengah berbisik saat menyebut nama Tama.
Pelangi tertawa lepas lalu mencolek hidung mancung Joe dengan cream kue tart di tangannya. Lalu mereka saling tertawa ria, aku sungguh bahagia melihat Pelangi kembali ceria demikian.
Para tamu undangan kembali menikmati setiap hidangan dan berbagai permainan seru untuk mengisi acara pesta ini agar tidak membosankan. Namun ku lihat sekali lagi, Jeni yang tak lain sahabat dekat puteri ku Pelangi. Dia selalu gelisah dan berusaha menghindari pandangannya yang mulai tidak fokus.
"Gue tahu Jen, elu kecewa kan. Joe itu ternyata teman masa kecil Princess Cold kita, atau mungkin bisa jadi saat masa kecil dulu mereka sudah di jodohkan. Kau bisa lihat orang tua mereka begitu akrab dan dekat, bahkan kau bisa melihat perubahan reaksi Princess Cold yang dalam sekejap berubah ceria." Ucap Lisa menghampiri Jeni yang sejak tadi menyendiri sembari meneguk segelas jus jeruk.
"Apaan sih, Sa. Aku hanya, eehm.. Aku hanya sedikit terkejut saja."
"Elu yakin?"
"Sa, udah deh. Jangan mancing emosi, mood gue lagi berantakan malam ini."
"Sejak tadi bukannya elu girang bener dan semangat, lalu kenapa sekarang berubah rusak?"
"Aaakh, terserah elu deh Sa." Jeni beranjak pergi dari hadapan Lisa dengan mendecak kesal.
Bathin Lisa bergumam,
Jeni, Jeni... Gue tahu banget elu, kita udah sahabatan lama. Saat ini elu hanya berusaha menyembunyikan kekecewaan elu, Jen. Maafin gue, gue cuma enggak mau elu terluka lebih dalam lagi Jen.
Sedangkan di tempat lain, ku perhatikan Pelangi tiada hentinya berbincang dengan asyik bersama Joe. Yang tak lain adalah Tama, aku menganggap ini masih seperti mimpi indah bagiku. Semua seolah begitu mengejutkan, mungkin kah Tuhan sudah menyiapkan kebahagiaan ini sejak awal? Dan akhirnya dia hadirkan tepat di ulang tahun Pelangi yang ke 17 tahun.
"Princes Cold, ehm... Kau lihat Jeni?" Tiba-tiba Lisa menghampirinya dan mengedipkan mata kanannya, seolah memberikan isyarat.
"E,eh.. Aku tidak melihatnya, bukannya tadi bersama kalian?"
"Ih Princess Cold, mentang-mentang sudah bertemu pangeran masa kecilnya jadi lupain kita deh. Hikzt, pupus lah harapan ku." Ujar Lucas dengan genit.
"Astaga. Kau tetap bersama ku kan sayang?" Jawab Joe menghampiri Lucas sembari mencolek dagu nya.
"Kyaaaaaaaa... Joe, kau membuatku merasakan terbang di awan biru." Ucap Lucas setelah memekik manja.
"Joe, aku juga mau dong di colek begitu.."
"Hahaha, Lisa. Kau ini manis sekali, tapi bisa gak aku minta bantuan kalian. Kali ini saja, plis..."
"Boleh, boleh banget. Berhubung saat ini kau sudah menjadi bagian terpenting kami setelah Princess cold, aku akan selalu membantu mu dalam hal apapun itu Joe." Ujar Lisa dengan menempelkan kedua tangannya di pipinya.
"Jiwa dan raga ku untuk mu, baby.." Jawab Lucas menambahkan.
"Ehm, bisakah kalian memberiku waktu khusus berdua saja dengan Langi. Aku sudah lama menantikan moment ini,"
"Upz, aku mengerti. Ayo Lucas kita cari Jeni,"
"Aaaah, ini tidak adil. Aku juga mau berduaan dengan Joe, aku juga sudah menantikan moment ini, Sa."
"Ikut gak lu, gue cabutin tu bulu dada lu ya." Lisa terus menarik paksa Lucas untuk segera pergi, membuat Lucas memekik manja dan meronta. Sesekali Ia menoleh kearah Joe dan Pelangi yang menertawainya.
"Hahaha, Lucas.. Lucas, dasar konyol."
"Seharusnya kau lebih konyol dari nya, Princess Cold." Tiba-tiba Joe mencubiti pipi lembut Pelangi dengan gemas.
"Ih, apaan sih kak. Make up ku nanti luntur, aku tidak cantik lagi."
"Huuuh, siapa bilang dengan di sulap seperti ini kau menjadi cantik? Kau tetap saja Pelangi yang cengeng dan cerewet tauk."
"Iih, apaan sih kak Tama. Nyebelin deh, aku kan emang cantik sejak lahir. Kau juga sering memuji ku manis saat kecil dulu, huh.." Pelangi mulai cemberut dan terus mengomel tanpa jelas.
"Kau memang manis, itu sebabnya aku menyukaimu, Langi.' Jawab Joe dengan suara lirih.
"Apa, Kak?"
"E,eh tidak. Bukan apa-apa, aku hanya ingin kau memanggilku dengan sebutan Joe saja. Jangan memanggilku kakak lagi, itu seolah membuat jarak diantara kita."
"Bukan kah sejak kecil aku memanggilmu kakak?"
"Saat ini kita berada dalam sekolah dan kelas yang sama bukan, apa kau ingin memperjelas jika aku sudah tua?"
"Hahaha, baiklah. Ehm, Joe. Joe yang menyebalkan,"
"Aduuh, sakit tauk. Berhenti mencubiti pipi ku ini,"
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan mencubitinya lagi, sebagai gantinya aku akan menarik hidung mu itu. Agar semakin hari kian memanjang seperti pinokio, hahaha."
"Joe, kau menyebalkan. Ehm, ceritakan padaku bagaimana kau selama tinggal di LN? Para cewek-cewek disana pasti sangat cantik dan seksi, hihi. Katakan apakah kau sudah memiliki pacar saat ini, Joe?
Joe terdiam sesaat menatap wajah Pelangi, hening seketika.
"Ehhem."
Seseorang berdehem mengejutkan mereka yang saling memandang satu sama lain.
"Hem, jadi ini yang elu nantikan sebelum pemotongan kue di mulai? Cakep juga sih, meski namanya sedikit aneh."
"Eh, kak Cantika."
"Hemm... Jadi kau sempat menunggu kehadiran ku tadi, Langi?" Ujar Joe dengan senyuman puas menggoda Pelangi.
"Cih, apaan sih. Jangan mulai deh," Sahut Pelangi dengan sedikit kikuk di depan Cantika.
"Oh ya ampun, pemandangan apa ini. Haha, jadi kau hanya akan asyik berdua. Tanpa memperkenalkan ku?"
"E,eh.. Joe, dia kakak sepupu ku. Cantika namanya,"
"Oh, halo. Nama ku Joe, Joe biliantama JR."
Pelangi menoleh seketika mendengar Joe menyebut nama panjang nya. Menyadari hal itu, Joe mengedipkan mata dengan nakal pada Pelangi.
"Wow, ternyata namamu keren juga. Aku Cantika, kakak sepupu Pelangi yang paling cantik sesuai nama ku." Balas Cantika dengan senyuman yang menyiratkan rayuan maut sembari mengulurkan tangannya. Joe menjabat tangannya lalu melepaskan tangannya kembali dengan paksa.
Ih gila nih cewek. Tangan gue di tahan kuat banget, kok bisa sih Pelangi punya kakak sepupu genit seperti ini. Beda jauh dengan Pelangi ku yang selalu ceria lembut tapi sangat santun.
"Ih, jadi begini doang cara berkenalan orang yang sudah pernah tinggal lama di luar negeri? Kenapa tidak memakai cara orang disana untuk berkenalan."
"Maksud mu?" Tanya Joe dengan heran.
Lalu dengan cepat tanpa terduga Cantika mendekatkan wajahnya dan menempelkan pipi kanan dan kirinya bergantian pada kedua pipi Joe, di hadapan Pelangi.
"Wey wey, apa-apaan ini?"
Joe mendorong Cantika dengan sedikit kasar, Cantika sedikit memekik tertahan lalu tersenyum menyeringai menatap Joe dan Pelangi yang mematung sejak tadi hingga mulutnya menganga. Beberapa teman Pelangi yang berada di sekitar mulai saling berbisik mencerca sikap Cantika tadi.
"Kenapa? Apaan lu semua? Gak usah norak deh, tradisi perkenalan di LN memang begini. Meskipun gue tinggal di Indonesia tapi gue tahu tradisi orang-orang LN seperti apa." Bantah Cantika dengan cetus melihat ke arah teman-teman Pelangi yang menyaksikan hal tadi.
"Iya kan, Joe?" Tanya nya kembali pada Joe.
"Ehm, Langi. Apa dia sungguh kakak sepupu mu?"
"Hey, kau. Jawab saja pertanyaan ku barusan,"
"E,eh.. Kakak, jangan galak begitu. Nanti cepat keriput loh,"
"Diam kamu, aku sedang mengajak Joe berbicara. Jangan songong deh," Bentak Cantika, membuat Pelangi terdiam tanpa berani melawannya. Sejak kecil mereka terlihat dekat dan akrab, entah apa yang membuat Cantika berubah semenjak mereka masing-masing mulai beranjak remaja.
"Sayang sekali, nama mu memang cantik. Tapi pribadimu tidak menunjukkan sesuai nama itu, dan aku memang sudah terbiasa hidup dengan tradisi di LN. Tapi aku orang Indonesia, aku bukan type cowok yang mudah menyentuh cewek sembarangan."
"Hahaha, kau GR sekali. Siapa yang ingin menyentuh mu hah? Bukan kah tadi hanya perkenalan biasa saja?"
"Hem,emang. Tapi cara mu yang terlihat konyol dan sedikit tidak waras, maaf."
"Hey, kau. Beraninya ya ngatain cewek yang lebih tua dari mu seperti itu?"
"Sepertinya kau seumuran dengan ku, tapi... Ehm..." Joe menghentikan ucapannya dengan memandangi tubuh Cantika dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
"Apa hah?"
"Kau memang terlihat lebih tua sih, dari penampilan mu ini."
"Pfffftttt..." Pelangi berusaha menahan tawanya.
"Iiih, mamaa... Hikzt, dasar cowok sinting. Tidak tahu di untung," Cantika pergi dengan merengek manja, mendecak sebal akan ucapan Joe barusan.
Sedangkan Joe dan Pelangi tertawa terbahak-bahak tanpa henti melihat Cantika pergi begitu saja dengan kesal.
🐝Hai hai hai. Mau kah kalian sudi meng-klik tombol like untuk setiap episode yang Author suguhkan? Dan jangan lupa vote juga ya, semoga kebaikan dan kebahagiaan selalu menyertai kalian. Terimakasih 😊🐝