Because, I Love You

Because, I Love You
#17



Sore harinya.


Olivia segera mengusir Andreas dari apartemennya setelah mereka puas bercinta sebelum Rendy datang kembali. Ia tidak mau jika Rendy sampai mengetahui perselingkuhannya.


Setelah Olivia mengusir Andreas, ia segera merapikan kamarnya yang berantakan lalu mandi dan berdandan secantik mungkin untuk menyambut kedatangan sang kekasih tercinta.


Tak lama setelah Olivia selesai berdandan, ia mendengar suara bel apartemennya berbunyi. Ia tersenyum lebar dan segera berlari membukakan pintu.


"Sudah datang?" Olivia tersenyum senang.


Rendy mengangguk dan tersenyum menatap Olivia yang terlihat sudah segar juga harum. Rambutnya yang masih basah terurai dan memakai lingerie seksinya berwarna merah, membuat Rendy tidak bisa untuk tidak langsung mendekap dan menciumnya.


"Ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Rendy setelah melepas ciumannya.


Mereka duduk di ruang tengah. Rendy mengedarkan pandangannya seperti merasa ada yang aneh.


"Ada apa?" Tanya Olivia ikut melihat sekeliling ruangannya.


"Apa ada yang datang ke sini selain aku?" Tanya Rendy dengan menatap serius Olivia.


Olivia sedikit gugup. 'Gawat! Apa Rendy sedang curiga padaku?'


Namun, Olivia dengan cepat bisa mengembalikan ekspresi wajahnya seperti semula. Tidak sia-sia selama ini dia sekolah di jurusan perfilman dan terjun ke dunia hiburan hingga menjadi pemain film yang sangat pandai berakting.


Olivia tersenyum. "Iya. Tadi asistenku datang kemari." Olivia kemudian mengusap lembut rahang Rendy dan menatapnya serius. "Apa kamu sedang mencurigai aku?"


Rendy menatap Olivia lalu tersenyum dan memegang tangan Olivia yang mengusap rahangnya lalu mengecupnya. "Aku percaya sama kamu."


"Tadi kamu ingin bicara apa?" Tanya Olivia mengingatkan Rendy.


"Ah...iya. Aku minta maaf karena malam ini tidak bisa menginap."


Seketika wajah Olivia terlihat kesal dan kecewa. Rendy menggenggam tangannya. "Kamu denger dulu penjelasan dariku."


Olivia mendengus kesal. "Aku sudah menduganya. Kamu selalu seperti ini, Rend."


Dia bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Rendy begitu saja dengan kesal.


Rendy menyusulnya untuk membujuknya. Dia tidak akan merasa tenang jika kekasihnya merajuk seperti ini. "Honey, kamu denger dulu penjelasan dariku."


"Sebaiknya kamu pergi saja. Tidak perlu memberi penjelasan dan tidak perlu lagi datang menemuiku." Ucap Olivia yang duduk di sofa dekat tempat tidurnya sambil meraih botol wine lalu menuangkan kedalam gelasnya dan meminumnya.


Rendy menghela nafasnya panjang lalu duduk di samping Olivia.


"Kamu tahu sendiri gimana orang tuaku." Rendy mengingatkan Olivia tentang sikap orang tuanya. "Bahkan Papaku menyuruh banyak orang untuk terus mengawasiku. Kalau sampai Papaku tahu aku masih berhubungan denganmu, apalagi menginap di apartemenmu, mungkin aku sudah tidak bisa lagi menemuimu, Oliv."


Rendy hampir saja melupakan bagaimana Papanya yang akan melakukan segala cara untuk selalu mengawasinya. Bahkan Papanya menyewa detektif handal untuk selalu memberikan informasi tentangnya jika saja Beni tidak mengingatkannya.


Rendy mengatakan kepada orang tuanya jika dia dan Olivia sudah putus dan tidak ada hubungan apa-apa lagi. Mungkin Nadine bisa percaya padanya, tetapi tidak dengan Bagas. Papanya tidak semudah itu dibohongi begitu saja olehnya.


Olivia terdiam sambil menggenggam gelas yang masih berisi wine di tangannya. Tentu saja ia tidak ingin hubungannya dengan Rendy berakhir.


Lagi-lagi dia harus menahan kekesalannya dan lebih bersabar lagi agar rencananya tetap berjalan lancar.


Sebelum Olivia berbicara, Rendy sudah berkata lagi. "Sudah ya. Jangan marah lagi. Waktuku nggak banyak. Sebaiknya kita gunakan waktu kita ini untuk bermesraan." Rendy meraih gelas yang berisi wine dari tangan Olivia dan meletakkannya di meja.


Dia begitu merindukan kekasihnya ini, dan sebentar lagi dia harus pergi ke Surabaya untuk beberapa hari mengurus masalah cabang perusahaannya di sana.


Tidak ingin menyia-nyiakan waktunya, Rendy langsung menarik tengkuk Olivia dan mencium bibirnya sebentar lalu melepaskannya kembali. "Apa kamu sudah makan?"


Olivia menggeleng. "Belum."


"Kalau begitu, aku akan pesan makanan untuk kita."


Rendy mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Beni untuk membawakan makanan kemari.


"Aku sedang tidak selera makan." Ucap Olivia membuat gerakan jari Rendy terhenti saat ingin menekan tombol memanggil Beni.


Rendy menoleh menatapnya. "Kenapa?"


"Kamu harus tetap makan, karena aku nggak mau kamu sakit di saat aku jauh darimu." Ucap Rendy penuh perhatian.


Olivia tersenyum sinis. "Kamu tidak perlu pedulikan aku."


Rendy menghela nafasnya, berusaha tetap sabar menghadapi kekasihnya ini. "Jangan mulai lagi deh."


"Kenapa?" Olivia menatap kesal Rendy. "Aku udah lelah dengan hubungan ini, Rend." Olivia mengeluh dengan wajah sedihnya merasakan hubungannya dengan Rendy selama ini yang begini-begini saja dan tidak ada kemajuan.


Rendy mengerti maksud ucapan Olivia. Dia meraih tangan Olivia dan menggenggamnya. "Kamu beri aku waktu untuk meyakinkan orang tuaku. Kamu masih mau bersabar, kan?"


"Sampai kapan aku harus bersabar, Rend?"


Rendy terdiam tampak berpikir.


Sudah hampir empat tahun mereka pacaran, tetapi Rendy masih belum juga mendapatkan restu dari orang tuanya. Bahkan Rendy juga belum pernah mengajaknya datang ke rumahnya untuk lebih mengenal keluarganya.


Bukan maksud Rendy tidak mau mengajak Olivia ke rumahnya. Hanya saja, dia mengingat saat Rendy mengajak Olivia datang ke acara makan malam keluarga di resort milik omanya, sikap Bagas dan Nadine begitu dingin seolah menunjukkan ketidak sukaannya kepada Olivia.


Namun, berbeda dengan sikap Nayla, adiknya dan Farah, Omanya. Mereka justru terlihat begitu baik dan dengan senang menerima Olivia.


Rendy hanya tidak ingin Olivia merasa tidak nyaman dan sakit hati dengan sikap orang tuanya.


Melihat Rendy yang hanya diam, Olivia kembali berbicara dengan tidak sabar. "Kalau kamu memang cinta sama aku, kamu buktiin dong! Lamar aku, nikahin aku! Tidak peduli orang tua kamu setuju atau tidak. Kamu ini sudah bukan lagi anak kecil yang masih selalu diawasi dalam menjalani kehidupanmu sendiri, Rend!"


Rendy mengerutkan keningnya mendengarkan ucapan Olivia yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


Rendy begitu menyayangi dan menghormati orang tuanya. Selama ini, orang tuanyalah yang telah membesarkannya penuh kasih sayang tanpa kurang sedikitpun hingga ia tumbuh dengan baik seperti ini. Bagaimana mungkin dia akan menikahi Olivia secara diam-diam?


"Kenapa kamu diam? Sepertinya, aku sudah mulai tidak yakin dengan perasaan kamu ke aku, Rend. Kamu tidak benar-benar cinta sama aku." Olivia tersenyum sinis dan meraih gelas yang berisi wine itu lagi lalu meneguknya hingga habis.


"Maksudmu, kamu mau kita kawin lari?" Tanya Rendy dengan mengernyit menatap heran Olivia.


"Kalau memang itu jalan satu-satunya untuk kita, why not? Keluargaku sudah setuju dengan hubungan kita. Oma Farah dan Nayla juga menyukaiku."


Rendy menggelengkan kepala. "Kamu gila, Oliv. Nggak mungkin aku melakukan hal semacam itu. Aku sangat menghormati orang tuaku."


"Tapi kamu juga cinta sama aku kan, Rend?" Tanya Olivia dengan mata yang sudah berkaca-kaca menatap Rendy.


Rendy menghela nafasnya panjang. "Kalau aku nggak cinta sama kamu, untuk apa aku mempertahankan kamu, Olive?"


Rendy benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Olivia yang semakin tidak masuk akal.


Olivia mendengus dingin. "Ya udah, terserah kamu saja, aku sudah lelah!"


Olivia menuangkan wine ke dalam gelasnya lagi hingga penuh dan meminumnya dengan perasaan kesal.


Rendy menahan tangannya. "Nggak gini caranya, Oliv. Aku nggak suka kamu terlalu banyak minum. Nggak baik buat kesehatan kamu."


Rendy meraih gelas yang berisi wine itu dari tangan Olive dan meletakkannya kembali di meja.


Rendy menangkup wajah cantik kekasihnya ini dan menatapnya.


Tiba-tiba air mata Olivia mengalir, Rendy segera mengusapnya. "Aku sangat mencintaimu, Oliv. Aku juga serius menjalani hubungan ini. Kalau nggak, untuk apa aku mempertahankan hubungan kita ini dan terus membohongi orang tuaku?" Rendy berkata dengan lembut sambil menatap lekat Olivia.


"Aku cuma takut kalau kamu ninggalin aku Rend. Bisa saja kan, orang tua kamu diam-diam sudah menyiapkan jodoh buat kamu." Olivia terlihat begitu putus asa.


"Udah cukup, Oliv! Kita jangan bahas lagi masalah ini. Yang jelas, aku cinta sama kamu dan aku cuma mau nikah sama kamu. Ngerti!" Rendy meyakinkan Olivia dan membuat wanita itu bersorak dalam hati.


'Yes! Aku tahu kamu sangat mencintaiku Rend. Sampai kapanpun, kamu akan tetap menjadi milikku. Dengan atau tanpa restu dari orang tuamu!'


Olivia sama sekali tidak memikirkan bagaimana jadinya jika suatu saat Rendy mengetahui kelakuan dirinya di belakangnya selama ini. Mungkin saja rasa cinta yang begitu besar dari Rendy akan berubah dalam sekejap menjadi rasa kecewa dan sakit hati yang begitu dalam.


Atau mungkin, Rendy akan membencinya seumur hidup!


Tetapi, Olivia tidak ingin memikirkan hal itu dulu. Yang dia pikirkan saat ini, bagaimana cara agar Rendy bisa segera menikahinya dan menjadikannya Nyonya Pradipta yang kaya Raya.


......................